Tafsir Surat : AL-A'RAAF

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

::Home:: | Indonesia | English | Dutch | Sejarah | Hadist | Al Qur'an? | Adab | Al-Ma'tsurat | TAJWID | Artikel | Free Mobile Aplications | Sms Quran & Hadist
Radio-FajriFm | Pendidikan | Menyimak & Mengkaji | The Noble Quran | Memahami Quran | eBooks | Kisah Muallaf | *HadistWeb* | Tanda2 Bagi yg Ber-Akal
Tafsir Al-Azhar | Ponsel Quran | Belajar Baca | Qr.Recitation | Qr.Explorer | QuranTools | Qur’an Flash | Qurany.net | {Radio Dakwah/TV} | QuranTV-Mp3

Gunakan browser internet explorer untuk dapat mendengarkan Murotal (Audio)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-A'RAAF
Ayat [206]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:9/11
 
161 Dan (ingatlah), ketika dikatakan kepada mereka (Bani Israil):` Diamlah di negeri ini saja (Baitul Maqdis) dan makanlah dari (hasil bumi) nya di mana saja kamu kehendaki `. Dan katakanlah:` Bebaskanlah kami dari dosa kami dan masukilah pintu gerbangnya sambil membungkuk, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu `. Kelak akan Kami tambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.(QS. 7:161)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 161 - 162
وَإِذْ قِيلَ لَهُمُ اسْكُنُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ وَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ وَقُولُوا حِطَّةٌ وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا نَغْفِرْ لَكُمْ خَطِيئَاتِكُمْ سَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (161) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَظْلِمُونَ (162)
Ayat 161 dan 162 surah Al-A`raf ini pada hakikatnya merupakan kelanjutan dari ayat 58 dan 59 surah Al-Baqarah serta menjelaskannya. Pada ayat 58 dan 59 surah Al-Baqarah Allah memerintahkan agar Bani Israil memasuki Baitul Makdis dengan menundukkan diri sebagai tanda ketaatan dan tanda bersyukur kepada Allah, karena mereka telah selamat dari pengejaran musuh, dan selamat pula dalam perjalanan yang amat berat dan sulit itu, dan selanjutnya memohonkan ampunan kepada Allah dari segala dosa yang telah mereka perbuat. Jika mereka melakukan semua perintah itu, Allah akan mengampuni segala dosa dan kesalahan mereka dan akan memberikan tambahan karunia dan pahala kepada mereka.
Pada ayat 161 dan 162 surah Al-A`raf ini dipahami bahwa Bani Israil telah memasuki Baitul Makdis sebagaimana yang diperintahkan Allah itu. Juga mereka diperintahkan Allah supaya berdiam dan menetap di negeri itu. Akan tetapi orang-orang zalim di antara mereka tidak melaksanakan perintah-perintah Allah dengan sempurna, bahkan mereka telah melakukan perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan perintah itu, walaupun perintah itu datangnya dari Penolong Yang membebaskan mereka dari kesengsaraan dan kesulitan. Mereka dengan mudah memutarbalikkan perintah-perintah itu. Mereka memasuki Baitul Makdis tidak dengan merendahkan diri, dan mereka tidak memohon agar dibebaskan dari dosa. Akibat keingkaran dan pembangkangan mereka itu mereka ditimpa azab yang sangat. Menurut sebagian ahli tafsir, azab yang ditimpakan kepada mereka itu ialah berupa wabah penyakit kolera yang menular di antara mereka.


162 Maka orang-orang yang zalim di antara mereka itu mengganti (perkataan itu) dengan perkataan yang tidak dikatakan kepada mereka, maka Kami timpakan kepada mereka azab dari langit disebabkan kezaliman mereka.(QS. 7:162)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


163 Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.(QS. 7:163)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 163
وَاسْأَلْهُمْ عَنِ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ حَاضِرَةَ الْبَحْرِ إِذْ يَعْدُونَ فِي السَّبْتِ إِذْ تَأْتِيهِمْ حِيتَانُهُمْ يَوْمَ سَبْتِهِمْ شُرَّعًا وَيَوْمَ لَا يَسْبِتُونَ لَا تَأْتِيهِمْ كَذَلِكَ نَبْلُوهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (163)

Ayat ini diturunkan di Mekah di saat agama Islam mulai disiarkan dan disampaikan Nabi Muhammad saw. yang waktu beliau belum pernah berhubungan langsung dengan ulama-ulama Yahudi, dan beliau adalah seorang yang tidak tahu menulis dan membaca sebagaimana firman Allah swt.:
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ
Artinya:
Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Alquran) sesuatu kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari(mu).
(Q.S Al Ankabut: 48)
Oleh karena itu ayat ini menunjukkan kemukjizatan Alquran yang menerangkan berita, peristiwa-peristiwa, atau kejadian yang telah terjadi pada masa yang lalu, tanpa seorang pun yang memberikan beritanya selain dari Tuhan Yang Maha Tahu.
Ayat ini diterangkan dan ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. agar beliau menerangkan kepada orang-orang Yahudi di Madinah pada waktu itu tentang tindakan-tindakan yang telah dilakukan oleh nenek moyang mereka dahulu, yang selalu mengingkari seruan para nabi, walau bukti-bukti apa pun yang telah dikemukakan kepada mereka. Yang menyatakan tentang tindakan dan sikap nenek moyang mereka itu adalah Nabi Muhammad saw. seorang nabi yang buta huruf, belum pernah berhubungan dengan orang-orang Yahudi di waktu menerima ayat ini. Apakah hal ini tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa Muhammad benar-benar utusan Allah?
Pada masa dahulu nenek moyang Bani Israil yang berdiam di Aylah, yaitu suatu kota pantai laut Merah antara kota Madyan dan Sinai yang bermata pencaharian menangkap ikan, pernah diuji dan dicoba Allah untuk menguji keimanan dan ketaatan mereka. Mereka diperintahkan melakukan ibadat-ibadat pada tiap-tiap hari Sabtu, dan dilarang menangkap ikan pada hari itu. Maka pada saat ketika banyak ikan bermunculan di permukaan air (laut) pada hari Sabtu yang nampak jinak dan mudah ditangkap. Karena itu mereka melanggar larangan Allah pada hari tersebut untuk menangkap ikan dengan tidak melaksanakan perintah Allah, yaitu melakukan ibadat sebagaimana yang diperintahkan Allah pada hari itu.
Demikianlah Allah swt. memberi ujian dan cobaan kepada Bani Israil. Mereka tidak tahan dan tidak tabah menghadapinya, bahkan mereka melanggar larangan Allah dan tidak melaksanakan perintah-Nya. Karena sikap dan tindakan mereka, maka bagi mereka berlaku sunah Allah (ketentuan Allah), yaitu barang siapa yang menaati perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya akan dianugerahi kenikmatan hidup di dunia dan di akhirat. Sebaliknya barang siapa yang ingkar kepada-Nya akan sengsara hidupnya di dunia, sedangkan di akhirat mereka mendapat azab yang pedih. Tentu sunatullah ini berlaku pula terhadap orang-orang yang fasik dan orang-orang Yahudi yang berada di Madinah, sebagaimana yang telah berlaku pada nenek moyang mereka.


164 Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata:` Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras? `Mereka menjawab:` Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa `.(QS. 7:164)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 164
وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللَّهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (164)
Pada ayat ini Allah swt. menerangkan pula kepada Nabi Muhammad saw. sikap segolongan nenek moyang Bani Israil yang mencela segolongan Bani Israil yang lain, yaitu memperingatkan Bani Israil yang telah mengingkari perintah-perintah Allah dan tidak menghentikan larangan-Nya. Dalam ayat ini dipahami pula bahwa tidak semua nenek moyang Bani Israil mengabaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya pada hari Sabtu itu, ada di antara mereka yang melaksanakannya.
Dari ayat ini juga dapat diketahui bahwa dalam sikap terhadap perintah dan larangan Allah itu mereka terbagi atas tiga kelompok, yaitu:
1. Kelompok yang mengabaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya pada hari Sabtu itu.
2. Kelompok yang memberi nasihat pada kelompok yang mengabaikan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya.
3. Kelompok yang membantah tindakan kelompok yang memberi nasihat itu.
Kelompok kedua mengatakan kepada kelompok ketiga: "Kami memberi pelajaran kepada mereka itu adalah untuk membebaskan diri dari perbuatan dosa dan untuk melaksanakan tugas kami, yaitu mencegah perbuatan yang mungkar. Dalam pada itu juga kami mengharapkan agar orang-orang yang durhaka itu sadar dan kembali ke jalan yang benar dan lurus.
Tatkala Bani Israil yang membangkang itu tidak mau kembali ke jalan Allah dan tetap mengabaikan nasihat-nasihat yang telah diberikan, maka Allah menimpakan azab yang berat kepada mereka dan menyelamatkan orang-orang yang memberi nasihat tersebut.
Sebagian ulama berpendapat bahwa azab Allah tidak menimpa golongan ketiga, sedang sebagian ulama lagi berpendapat bahwa azab itu juga menimpa golongan ketiga, karena yang taat itu hanyalah golongan kedua saja, sedangkan golongan ketiga tidak melarang dari mengerjakan perbuatan yang mungkar, bahkan membantah orang yang melarang mengerjakan perbuatan yang mungkar itu.


165 Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.(QS. 7:165)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 165
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (165)
Dalam ayat ini orang-orang yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah pada hari Sabtu itu disebut orang-orang yang melupakan peringatan. Maksudnya ialah orang-orang yang tidak menghiraukan ancaman-ancaman Allah yang ditujukan kepada orang-orang yang ingkar kepada-Nya, tidak mengindahkan nasihat dan peringatan-Nya, dan tidak melaksanakan ajaran-ajaran-Nya bahkan telah berpaling dari ajaran itu. Seolah-olah mereka telah melupakannya dan tidak ada bekas sedikit pun dalam diri mereka tentang peringatan yang telah diberikan itu.
Karena itu, Allah swt. menegaskan bagi mereka berlaku sunnatullah, yaitu Allah menyelamatkan orang-orang yang taat kepada-Nya, dan mengazab orang-orang yang fasik dan durhaka. Allah menerangkan bahwa Bani Israil itu diazab bukanlah semata-mata karena kefasikan mereka yang melanggar ketentuan-ketentuan Allah pada hari Sabtu itu, tetapi juga perbuatan-perbuatan fasik yang selalu mereka kerjakan. Dan menurut sunnah Allah pula bahwa Dia mengazab orang-orang yang durhaka secara langsung di dunia, karena perbuatan dosa yang telah mereka lakukan sebagaimana firman Allah swt.:

وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ
Artinya:
Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluk yang melata.
(Q.S An Nahl: 61)
Dan Allah memaafkan sebagian besar kesalahan-kesalahan hamba-hamba-Nya, seperti dalam firman-Nya:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Artinya:
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).
(Q.S Asy Syura: 30)
Dalam ayat ini Allah swt. akan langsung mengazab sesuatu umat atau sesuatu bangsa di dunia sebelum mereka menerima azab di akhirat, jika kezaliman umat atau bangsa itu besar pengaruhnya dan sukar menghilangkannya pada kehidupan manusia dan kemanusiaan, sebagaimana dinyatakan Allah dalam firman-Nya:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya:
Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.
(Q.S Al Anfal: 25)
Azab yang dimaksud telah ditimpakan kepada umat-umat yang terdahulu yang mengingkari seruan nabi-nabi yang diutus kepada mereka.


166 Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya:` Jadilah kamu kera yang hina `.(QS. 7:166)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 166
فَلَمَّا عَتَوْا عَنْ مَا نُهُوا عَنْهُ قُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (166)
Tatkala Bani Israil bertambah-tambah kezalimannya tidak mengindahkan nasihat-nasihat saudaranya lagi, maka Allah mengazab mereka dengan menjadikan mereka sebagai kera yang hina. Menurut para mufassirin merupakan tafsiran dari perkataan "azab yang sangat pedih" yang terdapat pada ayat di atas. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa hal ini merupakan azab yang lain yang ditimpakan Allah di samping azab yang pedih itu.
Para mufassir berbeda pendapatnya tentang: Apakah Bani Israil itu dijadikan kera yang sebenarnya atau hanya sifat dan watak mereka saja yang seperti kera, sedang badan mereka seperti badan manusia biasa. Jumhur ulama berpendapat: bahwa mereka benar-benar menjadi kera, seperti kera yang sebenar-benarnya. Akan tetapi tidak makan, tidak minum, dan tidak dapat hidup lebih dari tiga hari. Menurut Mujahid dan Ibnu Jarir: Rupa mereka tidak ditukar menjadi kera tetapi hati, jiwa dan sifat merekalah yang diubah menjadi kera. Oleh sebab itu mereka tidak dapat menerima pengajaran dan tidak dapat memahami sesuatu dengan benar. Pada ayat ini Allah swt. menggambarkan mereka seperti kera, sedang pada ayat yang lain mereka diserupakan dengan keledai sebagaimana firman Allah swt.:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا
Artinya:
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.
(Q.S Al Jumuah: 5)
Menurut Ibnu Kasir dalam tafsirnya waktu menafsirkan ayat ini: Pendapat yang benar dalam ayat ini ialah perubahan maknawi, sebagai pendapat Mujahid. Jadi bukan perubahan bentuk (wujud) rupa, seperti yang dikemukakan oleh Jumhur.
Demikian pula menurut penafsiran Al-Manar: Pendapat Jumhur menafsirkan bahwa mereka melanggar ketentuan dari Sabtu itu benar-benar menjadi kera dan babi sukarlah diterima, walaupun Allah kuasa berbuat demikian. Mengubah manusia menjadi hewan, sebagaimana hukuman bagi orang-orang yang berbuat maksiat tidaklah sesuai dengan sunnatullah terhadap makhluk-Nya, terutama manusia makhluk yang dimuliakan Allah. Pendapat Mujahid adalah lebih tepat, bahwa yang berubah itu adalah mental mereka menjadi mental hewan karena nafsu duniawi yang besar pada mereka menjadikan mereka lupa dan jauh dari nilai-nilai moral kemanusiaan.


167 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 7:167)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 167
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (167)
Nabi Muhammad saw. dalam ayat ini diingatkan oleh Allah swt. tentang pemberitahuan-Nya kepada orang-orang Yahudi bahwa Dia akan mengirimkan manusia lain yang lebih perkasa dari mereka untuk menjajah dan menyiksa mereka. Mereka selalu akan hidup dalam kehinaan dan penderitaan sampai akhir zaman disebabkan tindakan mereka yang bertentangan dengan hukum-hukum Tuhan. Dalam dunia, baik pada zaman dahulu, zaman pertengahan hingga zaman modern ini telah terbukti dengan jelas ancaman Allah swt. tersebut. Sesudah zaman Nabi Sulaiman, bangsa Yahudi diperangi oleh bangsa Babilonia di bawah Raja Nebukadnezar. Mereka hancur, laki-laki mereka banyak yang dibunuh dan wanita-wanitanya banyak yang dijadikan budak sahaya. Banyak pula di antara mereka yang dibawa ke Babilonia sebagai tawanan, sesudah itu dijajah berganti-ganti oleh bermacam-macam kerajaan, karena itu mereka mengalami penderitaan berabad-abad lamanya akibat peperangan yang tak henti-hentinya. Akhirnya mereka jatuh ke tangan bangsa Romawi sampai Nabi Isa a.s. Zaman Romawi Kristen mereka tidak mempunyai kekuasaan lagi bahkan mereka diusir dari negeri mereka dan terpencar-pencar di beberapa negeri. Sebagian mereka melarikan diri ke Jazirah Arab. Tinggallah mereka di daerah ini dengan aman. Tetapi kemudian sesudah agama Islam datang, mereka memusuhi Nabi Muhammad saw. Padahal beliau telah memberikan kebebasan kepada mereka hidup di daerah Islam berdasarkan perjanjian dengan mereka. Karena sikap permusuhan dan pengkhianatan mereka, terpaksa kaum Muslimin mengusir mereka dari daerah Islam. Ada pula di antara mereka yang di bunuh atau terbunuh karena berpihak kepada kaum musyrikin waktu peperangan.
Pada abad ke-20 ini pun, mereka mengalami penderitaan yang tak terperikan. Dalam perang dunia kedua yang lalu, banyak orang Yahudi menjadi korban kekuasaan Nazi Jerman. Di Amerika, di Eropa dan di Rusia, dewasa ini mereka banyak mengalami penghinaan. Meskipun orang Yahudi sekarang sudah mempunyai tanah air (Negara Israel) namun mereka tetap dalam penderitaan disebabkan umat manusia di dunia ini, terutama umat Islam memusuhi mereka. Negara Israel itu dibentuk dengan mengusir rakyat Palestina yang menjadi penduduk negara tersebut. Demikianlah nasib bangsa Yahudi itu. Sesungguhnya hukum Allah berlaku terhadap umat yang mendurhakai perintah-perintah-Nya dan membuat onar di dunia ini. Akan tetapi pengampunan dan kasih sayang Allah sangatlah besar dan luas bagi mereka yang taubat dari dosanya, kembali ke jalan Allah dengan penuh kesadaran, dan dengan jalan mengadakan perbaikan di atas dunia, Allah swt. pasti menghapuskan penderitaan mereka.


168 Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).(QS. 7:168)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 168
وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الْأَرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (168)
Dalam ayat ini Allah swt. menguraikan siksaan dan penderitaan mereka yakni mereka dicerai-beraikan di atas bumi ini. Suatu golongan berada di suatu daerah lain lagi. Mereka tidak mempunyai negara sendiri sebagai tempat perlindungan mereka semenjak Nebukadnezar menghancurkan mereka. Judah dan Israil (daerah Palestina sekarang) kira-kira 572 S.M. Tetapi pengaruh kebudayaan umat manusia merupakan sebagian dari kebudayaan mereka.
Sebagian mereka ada yang menjadi orang-orang yang selalu mengadakan perbaikan dan beriman kepada nabi-nabi, tetapi ada pula yang benar-benar tenggelam dalam kekafiran dan kefasikan hingga membunuh nabi-nabi, memutarbalikkan isi Kitab Taurat dan memusuhi Nabi Muhammad saw.
Orang-orang Yahudi itu tidak pula selalu dalam penderitaan yang tidak putus-putusnya. Di samping itu, Allah swt. menurunkan pula kepada mereka kesenangan dan kenikmatan. Mereka yang baik diberi anugerah kebaikan dan kebahagiaan. Hanyalah kepada mereka yang durhaka diturunkan bencana kesengsaraan. Semuanya itu cobaan bagi mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.


169 Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata:` Kami akan diberi ampun `. Dan kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti?(QS. 7:169)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 169
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الْأَدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لَا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (169)
Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan suatu angkatan dari Yahudi yang menggantikan golongan bangsa Yahudi tersebut di atas. Mereka adalah bangsa Yahudi yang hidup di zaman Nabi Muhammad saw. mereka mendapati Kitab Taurat dari nenek moyang mereka dan menerima begitu saja segala apa yang tercantum di dalamnya. Hukum halal dan haram, perintah dan larangan dalam kitab itu mereka ketahui, tetapi mereka tidak mengamalkannya. Mereka mengutamakan kepentingan duniawi dengan segala kemegahan yang akan lenyap itu. Mereka mencari harta benda dengan usaha-usaha yang lepas dari hukum moral dan agama, mengembangkan riba, makan suap, pilih kasih dalam hukum dan lain-lain sebagainya, karena mereka berpendapat bahwa Allah swt. kelak akan mengampuni dosa perbuatan mereka itu. Orang-orang Yahudi itu menganggap dirinya kekasih Allah dan bangsa pilihan. Anggapan demikian yang menyesatkan pikiran mereka. Maka setiap ada kesempatan untuk memperoleh keuntungan duniawi seperti uang suap, riba dan sebagainya, tidaklah mereka biarkan luput dari mereka.
Allah swt. kemudian menegaskan kesalahan pendapat dan anggapan mereka. Mereka berkepanjangan dalam kesesatan dan tenggelam dalam nafsu kebendaan. Allah mengungkapkan adanya ikatan perjanjian antara mereka dengan Tuhan yang tercantum dalam Taurat, bahwa mereka itu tidak akan mengatakan terhadap Tuhan kecuali kebenaran. Tetapi mereka memutarbalikkan isi Taurat, karena didorong oleh keinginan untuk memperoleh keuntungan duniawi padahal mereka telah memahami dengan baik isi Taurat itu dan sadar akan kesalahan perbuatan itu. Seharusnya mereka lebih mengutamakan kepentingan ukhrawi dengan berbuat sesuai petunjuk Tuhan dan Taurat daripada keuntungan duniawi. Bagi orang yang takwa, kebahagiaan di akhirat adalah tujuan terakhir dari kehidupannya, karena kebahagiaan akhirat lebih baik daripada kebahagiaan duniawi yang terbatas itu. Mengapa mereka tidak merenungkan hal yang demikian?
Ayat ini menjelaskan bahwa kecenderungan kepada materi dan hidup kebendaan merupakan faktor yang menyebabkan kecurangan orang Yahudi sebagai suatu bangsa yang punya negara. Karena kecintaan yang besar kepada kehidupan duniawi, mereka kehilangan petunjuk agama serta ketinggalan dalam kehidupan kerohanian.
Apa yang menimpa orang Yahudi zaman dahulu mungkin pula menimpa orang-orang Islam zaman sekarang, karena mereka lebih banyak mengutamakan kehidupan materiil dan menyampingkan kehidupan spirituil kerohanian.


170 Dan orang-orang yang berpegang teguh dengan Al Kitab (Taurat) serta mendirikan shalat, (akan diberi pahala) karena sesungguhnya Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan.(QS. 7:170)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 170
وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ (170)
Dalam ayat ini Allah swt. menyebutkan lagi sebagian orang Yahudi yang patut mendapat anugerah penghargaan karena sikap mereka yang teguh berpegang kepada isi Taurat. Mereka menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Orang Yahudi tersebut sewaktu mendengar seruan Nabi Muhammad saw. segera beriman kepadanya sesuai dengan petunjuk Taurat, seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya. Mereka mendirikan salat yang menjadi tiang agama dan pembeda antara orang yang mukmin dengan orang yang kafir. Allah swt. tidak akan menyia-nyiakan segala amal kebaikan dan perbuatan yang telah mereka lakukan. Tentulah Dia akan memberikan ganjaran kepada mereka karena mereka telah mengadakan perbaikan atas perbuatan mereka.
Allah swt. berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
Artinya:
Sesungguhnya mereka yang beriman dan berbuat amal saleh, benar-benar Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan baik.
(Q.S Al Kahfi: 30)


171 Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakan-akan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka (dan Kami katakan kepada mereka):` Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa `.(QS. 7:171)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 171
وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (171)
Kemudian Allah swt. mengakhiri kisah orang Yahudi dengan memperingatkan kembali peristiwa ketika mereka pertama kali menerima Taurat. Sewaktu gunung Tursina di angkat ke atas kepala mereka sehingga gunung itu bagaikan gumpalan awan yang gelap mereka melihat gunung yang terapung di udara itu akan jatuh menimpa mereka. Sadarlah mereka ancaman Tuhan bahwa jika mereka menentang perintah-perintah agama, tentulah mereka akan binasa. Saat itulah Allah berseru kepada mereka agar mereka menerima dan menaati segala hukum-hukum agama yang tercantum dalam Kitab Taurat dengan sungguh-sungguh. Dan mereka hendaklah mengingat perintah dan larangan-Nya dalam Taurat, mengamalkannya tidak mengabaikannya walaupun mereka mengalami kesulitan dan penderitaan. Ketaatan mereka kepada hukum-hukum agama serta perintah dan larangannya dengan sebenarnya membawa mereka kepada pembinaan pribadi dan takwa.


172 Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):` Bukankah Aku ini Tuhanmu? `Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi`. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: `Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)`.(QS. 7:172)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (172)
Allah dalam ayat ini dengan perantara Rasul-Nya menerangkan tentang suatu janji yang dibuat pada waktu manusia dikeluarkan dari sulbi orang tua mereka, turunan demi turunan, yakni hal janji Allah menciptakan manusia atas dasar fitrah. Allah swt. menyuruh roh mereka untuk menyaksikan susunan kejadian diri mereka yang membuktikan keesaan-Nya, keajaiban proses penciptaan dari setetes air mani hingga menjadi manusia bertubuh sempurna dan mempunyai daya tanggap indra, dengan urat nadi dan sistem urat saraf yang mengagumkan dan sebagainya. Berkata Allah swt. kepada roh manusia, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Penciptaan diri manusia penuh dengan keistimewaan dan keajaiban. Bukankah Aku yang memelihara pertumbuhan manusia tanpa campur tangan orang lain dalam perawatan manusia itu ketika dalam rahim? Maka menjawablah roh manusia, "Benar (Engkaulah Tuhan kami), kami telah menyaksikan." Jawaban ini merupakan pengakuan roh pribadi manusia sejak awal kejadiannya akan adanya Allah Yang Maha Esa yang tiada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia.
Dengan ayat ini Allah swt. bermaksud untuk menjelaskan kepada manusia, bahwa hakikat kejadian manusia itu didasari atas kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa. Sejak manusia itu dilahirkan dari sulbi orang tua mereka, ia sudah menyaksikan tanda-tanda keesaan Allah swt. pada kejadian mereka sendiri.
Allah swt. berfirman pada ayat lain:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah) (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.
(Q.S Ar Rum: 30)
Fitrah Allah maksudnya ialah tauhid, Rasulullah saw. bersabda:

ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه كما تنتج البهيمة جمعاء هل تحسون فيها من جذعاء
Artinya:
Tak seorang pun yang dilahirkan kecuali menurut fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi sebagaimana halnya hewan melahirkan anaknya yang sempurna telinganya. Adakah kamu ketahui ada cacat pada anak hewan itu?
H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.
Rasulullah saw. dalam hadis Qudsi:

يقول الله تعالى: إني خلقت عبادي حنفاء فجاءتهم الشياطين فاختالتهم عن دينهم وحرمت عليها ما أحللت لهم
Artinya:
Berfirman Allah Taala, "Sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku cenderung (ke agama tauhid). Kemudian datang kepada mereka setan-setan dan memalingkan mereka dari agama (tauhid) mereka, maka haramlah atas mereka segala sesuatu yang telah Kuhalalkan bagi mereka.
H.R Bukhari dari Iyad bin Himar.
Penolakan terhadap ajaran tauhid yang dibawa Nabi itu sebenarnya perbuatan yang berlawanan dengan fitrah manusia dan dengan suara hati nurani mereka. Karena itu tidaklah benar manusia pada hari kiamat nanti mengajukan alasan bahwa mereka alpa tak pernah diingatkan untuk mengesakan Allah swt. Fitrah mereka sendiri dan ajaran Nabi-nabi senantiasa mengingatkan mereka untuk mengesakan Allah dan menuruti seruan Rasul serta menjauhkan diri dari syirik.


173 Atau agar kamu tidak mengatakan: `Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?`(QS. 7:173)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 173
أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (173)
Kemudian dalam ayat ini Allah swt. menegaskan lagi tidaklah benar orang kafir itu berkata pada hari kiamat sebagai alasan bahwa nenek moyang merekalah yang pertama kali menciptakan kemusyrikan kemudian meneruskan kebiasaan syirik itu kepada mereka. Sebagai keturunan dari zaman dahulu mereka mengatakan bahwa mereka tidaklah mengetahui kesalahan-kesalahan yang dilakukan leluhur mereka sehingga tidak mengetahui jalan menuju tauhid. Oleh karena itu mereka dibinasakan disebabkan kesalahan perbuatan nenek moyang mereka.
Taklid kepada leluhur tidaklah dapat dijadikan alasan untuk mengingkari keesaan Allah, karena bukti keesaan Allah itu sangat jelas di hadapan mereka, dan mereka mampu menarik kesimpulan dari bukti-bukti itu sehingga mereka sampai kepada tauhid.


174 Dan demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).(QS. 7:174)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 174
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (174)
Kemudian Allah menyatakan bahwa segala yang telah disebutkan di atas, yaitu tentang diciptakannya manusia atas dasar fitrah yang cenderung kepada agama tauhid dan kelemahan alasan-alasan mereka dalam menolak ajaran tauhid adalah sebagai peringatan Allah kepada manusia tentang ayat-ayat-Nya agar mereka mempergunakan akal dan pikiran mereka dan kembali ke jalan tauhid, kembali kepada fitrahnya dan menjauhkan diri dari taklid kepada nenek moyang mereka dan dari kealpaan dan kejahilan.
Dengan ayat ini Allah memberi pelajaran tentang masalah syirik. Manusia pada hari kiamat akan diminta pertanggungjawabannya meskipun kepada mereka belum sampai dakwah rasul disebabkan syirik itu bertentangan dengan fitrah manusia.


175 Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh syaitan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.(QS. 7:175)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 175
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (175)
Allah swt. dalam ayat ini menyuruh Rasul-Nya agar membacakan kepada orang-orang Yahudi dan kaum musyrikin sebuah riwayat kehidupan seorang laki-laki yang telah diberi Allah ilmu pengetahuan tentang isi Al-Kitab dan ketuhanan dan dia memahami dalil-dalil keesaan Allah sehingga dia menjadi seorang yang alim.
Tetapi kemudian laki-laki yang zalim itu mendurhakai dirinya sendiri dengan meninggalkan ilmunya, bahkan telah mengingkari isinya Al-Kitab dan dalil-dalil keesaan Tuhan. Maka datanglah setan menggodanya. Karena dia tiada lagi mempunyai ilmu dan iman dalam jiwanya yang dapat menahan godaan setan itu, akhirnya dia sesat dan menjadi teman setan. Demikianlah gambaran seorang ulama yang sesat yakni ulama yang meninggalkan ilmu pengetahuan dan imannya mengingkari kebenaran dan kafir terhadap Allah. Menurut sebagian riwayat, laki-laki yang alim itu bernama Umayah bin As-Salt penyair bangsa Arab menjelang kelahiran Islam. Dia mempelajari Kitab-kitab suci dan mengetahui bahwa Allah akan mengutus seorang rasul pada waktu itu. Dia mengharap-harap dialah yang menjadi rasul. Tetapi tatkala Allah swt. membangkitkan Muhammad saw. menjadi rasul, dia merasa iri hati. Kemudian dia mati dalam keadaan kafir tidak beriman kepada Muhammad saw. Dialah yang dikatakan oleh Rasulullah saw., "Sesungguhnya syairnya beriman kepada Tuhan tetapi hatinya kafir." Maksudnya syair ciptaannya seperti syair orang-orang beriman, karena dalam syairnya dia menegaskan adanya Tuhan dan menerangkan bukti-bukti keesaan-Nya.


176 Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derjat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.(QS. 7:176)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 176
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (176)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan sekiranya Allah berkehendak meningkatkan laki-laki itu dengan ilmu yang telah diberikan kepadanya ke martabat yang lebih tinggi, tentulah Dia berkuasa berbuat demikian. Tetapi laki-laki itu telah menentukan pilihannya ke jalan yang sesat. Dia menempuh jalan yang berlawanan dengan fitrahnya, berpaling dari ilmunya sendiri karena didorong oleh keingkaran pribadi, yakni kemewahan hidup duniawi. Dia mengikuti hawa nafsunya dan tergoda oleh setan. Segala petunjuk dari Allah dilupakannya, suara hati nuraninya tidak didengarnya lagi.
Firman Allah swt.:

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.
(Q.S Al Kahfi: 7)
Semestinya, orang yang diberi ilmu dan kecakapan itu mempertinggi jiwanya, menempatkan dirinya ke tingkat kesempurnaan, mengisi ilmu dan imannya dengan perbuatan-perbuatan yang luhur disertai niat yang ikhlas dan iktikad yang benar. Tetapi laki-laki itu setelah diberi nikmat oleh Allah berupa ilmu pengetahuan tentang keesaan Allah, tetap kafir seperti halnya dia tidak diberi apa-apa. Karena itu Allah mengumpamakannya seperti anjing yang keadaannya sama saja diberi beban atau dibiarkan, dia tetap mengulurkan lidahnya. Laki-laki yang memiliki sifat seperti anjing ini tergolong manusia yang paling buruk. Hal demikian menggambarkan kerakusan terhadap harta benda duniawi. Dia selain menyibukkan jiwa dan raganya untuk memburu benda duniawi ini, sehingga nampak dia sebagai seorang yang sedang lapar dan haus tak mengenal kepuasan atau keadaannya seperti anjing mengulurkan lidahnya, tampaknya haus dan lapar tak mengenal kepuasan untuk menginginkan air dan umpan.
Demikian pula perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka menentangnya, baik disebabkan kebodohan mereka atau pun disebabkan fanatisme mereka terhadap dunia yang menyebabkan mereka menutup mata terhadap suatu kebenaran dan meninggalkannya. Mereka menyadari kebenaran yang dibawa Muhammad saw. dan mengakui kesesatan dan kesalahan nenek moyang mereka setelah mereka merenungkan bukti kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. Tetapi kesadaran dan pengakuan demikian itu lenyap dari jiwa mereka disebabkan hawa nafsu mereka ingin kepada kenikmatan duniawi, misalnya ingin kekuasaan dan kekayaan. Kaum Yahudi dan kaum musyrikin Arab menolak ayat-ayat Allah karena mereka ingin mempertahankan kekuasaan dan kepentingan mereka. Mereka takut kehilangan kenikmatan dan kemewahan hidup. Setan telah menggoda mereka agar tergelincir dari fitrah kejadian mereka yakni kecenderungan kepada agama tauhid.
Maka cerita laki-laki yang mempunyai banyak persamaan dengan kaum penentang ayat-ayat Allah itu, patut diberikan kepada mereka harapan agar mereka mau merenungkan dan memikirkan ayat-ayat Allah dengan jujur dan obyektif lepas dari rasa permusuhan dan kepentingan pribadi. Pikiran itu pelita hati.


177 Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim.(QS. 7:177)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 177
سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (177)
Pada ayat ini Allah swt. menegaskan lagi betapa buruknya perumpamaan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah. Mereka disamakan dengan anjing baik karena kesamaan kelemahan keduanya yakni mereka tetap dalam kesesatan diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, atau karena kesamaan kebiasaan keduanya. Anjing itu tidak mempunyai cita-cita kecuali keinginan mendapat makanan dan kepuasan. Siapa saja yang meninggalkan ilmu dan iman lalu menjurus kepada hawa nafsu, maka dia serupa dengan anjing. Orang yang demikian tidak siap lagi berpikir dan merenungkan tentang kebenaran dan orang yang demikian itu sebenarnya menganiaya dirinya sendiri.


178 Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.(QS. 7:178)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 178
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (178)
Dalam ayat ini Allah swt. menjelaskan bahwa orang-orang yang mendapat hidayat dari Allah ialah orang yang diberi bimbingan oleh-Nya dalam mempergunakan akal pikirannya, indranya dan tenaganya sesuai dengan fitrahnya dan sesuai pula dengan tuntunan agama sendiri. Dia syukuri nikmat Allah, dia tunaikan kewajiban-kewajiban agama, maka berbahagialah dia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya yang merugi di dunia dan di akhirat ialah mereka yang dijauhkan dari pedoman yang ditetapkan Allah dalam mempergunakan akal pikirannya, indranya, dan tenaganya, dia ikuti hawa nafsunya, tidak mau memahami ayat-ayat Allah dan tidak mau mensyukuri nikmat yang diberikan Allah kepadanya. Sesungguhnya jalan kepada petunjuk Allah itu hanyalah satu, yaitu beribadah kepada-Nya dengan amal kebajikan yang lahir karena iman itu. Sedangkan jalan yang menuju kepada kesesatan banyak ragamnya, karena manusia berpecah-belah, satu sama lain saling bermusuhan, dan menimbulkan pula bermacam-macam kejahatan.
Firman Allah:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Artinya:
Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.
(Q.S Al An'am: 153)


179 Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(QS. 7:179)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 179
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)
Kemudian Allah swt. dalam ayat ini menguraikan apa yang tidak terperinci pada ayat-ayat yang lampau tentang hal-hal yang menyebabkan terjerumusnya manusia ke dalam kesesatan. Allah menjelaskan banyak manusia menjadi isi neraka Jahanam seperti halnya mereka yang masuk surga sesuai dengan amalan mereka masing-masing.
Firman Allah:

فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ
Artinya:
Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia.
(Q.S Hud: 105)
Firman Allah lagi:

فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ
Artinya:
Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.
(Q.S Asy Syura: 7)
Hal-hal yang menyebabkan manusia itu diazab di neraka Jahanam ialah bahwa akal dan perasaan mereka tidak dipergunakan untuk memahami keesaan dan kebesaran Allah swt. padahal kepercayaan pada keesaan Allah swt. itu membersihkan jiwa mereka dari segala macam was-was dan dari sifat hina serta rendah diri lagi menanamkan pada diri mereka rasa percaya terhadap dirinya sendiri.
Demikian pula mereka tidak menggunakan akal pikiran mereka untuk kehidupan rohani dan kebahagiaan abadi. Jiwa mereka terikat kepada kehidupan duniawi sebagaimana difirmankan Allah swt.:

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Artinya:
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.
(Q.S Ar Rum: 7)
Mereka tidak memahami bahwa tujuan mereka diperintahkan menjauhi kemaksiatan itu dan didorong berbuat kebajikan adalah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat. Mereka tidak memahami hukum-hukum masyarakat dan pengaruh kepercayaan agama Islam dalam mempersatukan umat. Mereka tidak memahami tanda-tanda keesaan Allah baik dalam diri pribadi manusia maupun yang ada di permukaan bumi. Mereka tidak memahami dan merenungkan wahyu Tuhan yang disampaikan kepada Rasul-Nya.
Mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat bukti kebenaran dan keesaan Allah swt. Segala kejadian dalam sejarah manusia, segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia setiap hari, yang dilihat dan yang didengar tidak menjadi bahan pemikiran dan renungan untuk dianalisa dan hal ini disimpulkan Allah swt. dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِنْ مَكَّنَّاكُمْ فِيهِ وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ سَمْعُهُمْ وَلَا أَبْصَارُهُمْ وَلَا أَفْئِدَتُهُمْ مِنْ شَيْءٍ إِذْ كَانُوا يَجْحَدُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
Artinya:
Dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit jua pun bagi mereka karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
(Q.S Al Ahqaf: 26)
Mereka tidak dapat memanfaatkan mata, telinga dan akal sehingga mereka tidak memperoleh hidayat Allah yang membawa mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Keadaan mereka seperti binatang bahkan lebih buruk daripada binatang, sebab binatang tidak mempunyai daya pikir untuk mengolah hasil penglihatan dan pendengaran mereka. Binatang mengadakan tanggapan atau reaksi terhadap dunia luar secara instinctif dan bertujuan hanyalah untuk mempertahankan hidup. Maka dia makan dan minum serta memenuhi kebutuhannya, tidaklah melampaui dari batas kebutuhan biologis hewani. Tetapi bagaimana dengan manusia bila sudah menjadi budak hawa nafsu? Dan akal mereka tidak bermanfaat lagi? Mereka berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan jasmani mereka sendiri, berlebih-lebihan dalam mengurangi hak orang lain. Diperasnya hak orang lain bahkan kadang-kadang di luar perikemanusiaan.
Bila sifat-sifat demikian menimpa sesuatu bangsa dan negara, maka negara itu tampak menjadi serakah dan penghisap terhadap bangsa dan negara lain. Mereka mempunyai hati (perasaan dan pikiran) tetapi tidak digunakan untuk memahami ayat-ayat (Allah). Mereka lupa dan melalaikan bukti-bukti kebenaran Allah pada diri pribadi, pada kemanusiaan dan alam semesta ini, mereka melupakan penggunaan perasaan dan pikiran untuk tujuan-tujuan yang luhur dan meninggalkan kepentingan yang pokok dari kehidupan manusia sebagai pribadi dan bangsa.


180 Allah mempunyai asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.(QS. 7:180)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al A'raaf 180
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (180)
Sesudah Allah swt. menguraikan sifat-sifat manusia yang sesat pada ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah menyatakan bahwa Dia mempunyai "asmaul husna" dan menyerukan agar hamba-hamba-Nya berdoa dan memuji-Nya dengan menyebut asmul husna itu, mudah-mudahan mereka terhindar jauh dari sifat-sifat yang buruk dan lepas dari neraka Jahanam.
Asma'ul Husna artinya nama-nama Allah yang paling baik, paling luas dan paling dalam pengertiannya sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

إن لله تسعة وتسعين إسما مائة غلا واحد من أحصاها دخل الجنة
Artinya:
Sesungguhnya Allah swt. mempunyai sembilan puluh sembilan nama seratus kurang satu, barangsiapa menghafalnya masuklah dia ke surga.
(H.R Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Jumlah sembilan puluh sembilan itu tidaklah berarti batas jumlah, sesungguhnya nama Allah itu tidaklah terbatas. Dalam Alquran nama Allah lebih dari jumlah angka tersebut. Nama-nama itu merupakan sifat dari zat Allah Yang Maha Esa, bukan zat Tuhan yang dikira orang musyrikin. Ada riwayat dari Muqatil mengatakan bahwa seorang laki-laki berdoa sesudah salat dan mengucapkan, "Wahai Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang)." Maka berkatalah sebagian orang musyrikin, "Sesungguhnya Muhammad dan pengikutnya mengatakan bahwa mereka menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tetapi mengapa laki-laki itu berdoa kepada dua Tuhan (Allah dan Ar-Rahman)." Maka kemudian turunlah ayat ini.
Mengenai Asma'ul Husna yang sembilan puluh sembilan itu diriwayatkan oleh Turmuzi dan Hakim dari jalan (sanad) Al-Walid bin Muslim sebagai berikut:
Dialah Allah yang tiada Tuhan kecuali Dia, (1)
Yang Maha Pengasih, (2)
Yang Maha Penyayang, (3)
Maha Raja, (4)
Yang Maha Suci, (5)
Maha Sejahtera, (6)
Yang Maha Menenteramkan, (7)
Yang Maha Memelihara, (8)
Yang Maha Perkasa, (9)
Yang Maha Kuasa, (10)
Yang Memiliki Kebesaran, (11)
Yang Menciptakan, (12)
Yang Mengadakan, (13)
Yang Membentuk Rupa, (14)
Yang Maha Pengampun, (15)
Yang Maha Mengalahkan, (16)
Yang Maha Pemberi, (17)
Yang Maha Memberi Rezeki, (18)
Yang Maha Memberi Keputusan, (19)
Yang Maha Mengetahui, (20)
Yang Maha Menyempitkan (menahan) Rezeki, (21)
Yang Melapangkan Rezeki, (22)
Yang Maha Merendahkan, (23)
Yang Meninggikan, (24)
Yang Menjadikan Mulia (25)
Yang Menjadikan Hina, (26)
Yang Maha Mendengar, (27)
Yang Maha Melihat, (28)
Yang Jadi Hakim, (29)
Yang Maha Adil, (30)
Yang Maha Halus, (31)
Yang Maha Tahu, (32)
Yang Maha Santun, (33)
Yang Maha Agung, (34)
Yang Maha Mengampuni, (35)
Yang Maha Mensyukuri, (36)
Yang Maha Tinggi, (37)
Yang Maha Besar, (38)
Yang Maha Memelihara, (39)
Yang Maha Penentu Waktu, (40)
Yang Maha Membuat Perhitungan, (41)
Yang Penuh Kebesaran, (42)
Yang Maha Kemuliaan, (43)
Yang Jadi Pengawas, (44)
Yang Maha Membuat Perhitungan, (45)
Yang Maha Luas, (46)
Yang Maha Bijaksana, (47)
Yang Maha Pengasih, (48)
Yang Maha Mulia, (49)
Yang Membangkitkan, (50)
Yang Maha Menjadi Saksi, (51)
Yang penuh Kebenaran, (52)
Yang Menjadi Tempat Bertawakkal, (53)
Yang Maha Kuat, (54)
Yang Maha Kokoh, (55)
Yang Mengelola, (56)
Yang Maha Terpuji, (57)
Yang Menghitung, (58)
Yang Menciptakan, (59)
Yang Mengembalikan, (60)
Yang Menghidupkan, (61)
Yang Mematikan, (62)
Yang Hidup, (63)
Yang Berdiri Sendiri, (64)
Yang Menemukan, (65)
Yang Mulia, (66)
Yang Satu Tunggal, (67)
Yang Maha Esa, (68)
Yang Menjadi Tujuan Tumpuan Hidup dan Mati, (69)
Yang Maha Kuasa, (70)
Yang Berkuasa, (71)
Yang Terdahulu, (72)
Yang Terakhir, (73)
Yang Awal, (74)
Yang Akhir, (75)
Yang Nyata, (76)
Yang Tersembunyi, (77)
Yang Melindungi, (78)
Yang Meninggikan, (79)
Yang Banyak Melimpahkan Kebajikan, (80)
Yang Maha Memberi Ampun, (81)
Yang Menjatuhkan Pembalasan, (82)
Yang Memberi Maaf, (83)
Yang Maha Penyayang, (84)
Yang Memiliki Kekuasaan, (85)
Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan, (86)
Yang Maha Adil, (87)
Yang Menghimpun, (88)
Yang Maha Kaya, (89)
Yang Memberi Kekayaan, (90)
Yang Mencegah, (91)
Yang Memudaratkan, (92)
Yang Memberi Kemanfaatan, (93)
Cahaya, (94)
Yang Memberi Bimbingan, (95)
Yang Maha Pencipta, (96)
Yang Kekal, (97) Yang Mewarisi, (98)
Yang Memiliki Petunjuk, (99)
Yang Maha Sabar. 413)
Allah swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menyebutkan nama-nama yang paling baik ini dalam berdoa atau berzikir. Karena dengan berdoa dan berzikir itu, mereka bertambah hidup dan subur dalam jiwa mereka. Para ahli hadis berbeda pendapat tentang nama-nama Allah swt. ini. Pendapat yang terkuat memandang hadis ini daif. Sebab itu Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.
Dalam pada itu Allah swt. memerintahkan pula kepada orang-orang yang beriman agar mereka meninggalkan perilaku orang-orang yang menyimpangkan pengertian nama-nama Allah swt. dan pengertian yang benar, misalnya dengan memberikan takwil atau memutar-balikkan pengertian sehingga mengaburkan kesempurnaan yang mutlak dari sifat-sifat Allah swt. Mereka yang berbuat demikian kelak akan ditimpa azab Allah swt. Penyimpangan atau penyelewengan dari nama-nama Allah Yang Maha Sempurna itu bermacam-macam bentuknya, antara lain:
1. Memberikan nama kepada Allah swt. dengan nama yang tidak ada terdapat dalam Alquran atau pun dalam hadis Rasulullah saw. yang sahih. Semua ulama bersepakat bahwa nama dan sifat Allah itu harus didasarkan atas penjelasan Alquran dan hadis Rasulullah saw. Tidak dibenarkan memberi nama kepada Allah swt. dengan nama yang dilarang oleh syara'.
2. Menolak nama-nama dan sifat-sifat yang telah ditetapkan oleh Allah swt. untuk zat-Nya, atau menolak untuk menisbahkan suatu perbuatan (faal) kepada Allah swt. karena memandang yang demikian itu tidak patut bagi kesucian-Nya atau mengurangi kesucian-Nya. Mereka yang menolak ini memandang diri mereka seolah-olah lebih mengetahui dari Allah dan Rasul-Nya, mana yang layak dan mana yang tidak bagi Allah swt.
3. Menamakan sesuatu selain Allah swt. dengan nama yang hanya layak bagi Allah swt.
4. Memutar-balikkan nama dan sifat-sifat Allah swt. dengan memberikan tafsiran-tafsiran sehingga keluar dari pengertian dan maksud yang sebenarnya, seperti paham yang menggambarkan sifat-sifat Allah swt. seperti sifat seorang manusia, seperti mendengar, melihat, berkata-kata, punya muka, tangan, kaki, tertawa, marah, senang dan sebagainya. Atau paham yang memberikan tafsiran terhadap sifat-sifat Allah swt. sedemikian rupa sehingga sifat Allah swt. itu seperti tidak ada.
5. Mempersekutukan Allah dengan sembahan selain Allah dalam segi nama yang khusus untuk Allah swt. Seperti memakai lafal Allah untuk sebuah berhala atau kata Rabbul Alamin.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [11]
Ayat 161 s/d 180 dari [206]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).





Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
Counter Powered by  RedCounter
free counters
Bloggerian Top Hits