Tafsir Surat : AL-BAQARAH

Get 100MB Free Web Hosting at Jabry.com

type=text/javascript> vBulletin_init();

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

HOME|Radio-FajriFm|Pendidikan|Adab|Muallaf Center|QuranTerjemah|eBooks|Tafsir Al-Azhar|HadistWeb|Artikel|SMSQURAN
Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-BAQARAH
Ayat [286]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:7/15
 
121 Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.(QS. 2:121)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 121
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (121)
Di antara Ahli Kitab yaitu orang-orang yang mengikuti kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya, seperti orang Yahudi mengikuti kitab Taurat, orang Nasrani mengikuti kitab Injil dan sebagainya, ada yang benar-benar membaca kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka dengan bacaan yang benar-benar tidak diikuti oleh keinginan dan hawa nafsu mereka. Mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya dengan memahaminya sepenuh hati, tidak menakwilkan atau menafsirkannya menurut keinginan diri sendiri, tidak menambah, mengurangi atau merubahnya.
Menurut Ibnu Masud dan Ibnu Abbas: membaca dengan bacaan yang sebenarnya ialah menghalalkan yang dihalalkannya, mengharamkan yang diharamkannya, membacanya seperti diturunkan Allah, tidak merubah-rubah atau memalingkan perkataan dari tempat yang semestinya dan tidak menakwilkan sesuatu dari kitab itu dengan takwil yang bukan takwilnya.
Allah swt. menjelaskan dalam firman-Nya yang lain yang dimaksud dengan bacaan yang sebenarnya. Firman Allah:

إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا (107)
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Alquran dibacakan kepada mereka, niscaya mereka tersungkur atas muka sambil bersujud. (Q.S Al Isra': 107)
Dan firman Allah:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Q.S Yusuf: 111)
Dari ayat-ayat di atas dipahamkan bahwa semua kitab Allah yang diturunkan kepada hamba-hamba-Nya merupakan pengajaran bagi mereka yang tujuannya untuk memimpin dan memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Karena itu wajib para hamba Allah membaca dengan sebenar-benarnya, berulang-ulang, berusaha memahami pimpinan dan petunjuk Allah di dalamnya.
Firman Allah swt.:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا (82)
Artinya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran. Kalau kiranya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya. (Q.S An Nisa': 82)
Dan firman Allah swt.:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (24)
Artinya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Alquran atau hati mereka terkunci? (Q.S Muhammad: 24)
Dari ayat-ayat di atas dipahamkan bahwa membaca Alquran dengan tidak memperhatikan maksud dan maknanya, menafsirkannya dengan sekehendak hati adalah sama dengan membaca Al-Kitab oleh ahli Kitab.
Dari ayat di atas dipahamkan bahwa membaca Kitab-kitab Allah dengan bacaan yang sebenarnya wajib dilakukan oleh manusia. Membaca Al-Kitab tidak dengan bacaan yang sebenarnya, tidak mengamalkan apa yang dibaca itu berarti memperolok-olokkan kitab-kitab Allah dan menantang Allah.
Karena itu Allah swt. memerintahkan hamba-hambanya-Nya bangun di malam hari dalam keadaan yang tenang dan sunyi untuk mengerjakan salat, membaca Alquran dengan bacaan yang perlahan-lahan, memperhatikan maksud dan tujuan ayat demi ayat. Bacaan yang demikian akan berbekas di dalam hati dan bacaan yang dapat memahami hidayat dan petunjuk Allah bagi pembacanya. 132)


122 Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat.(QS. 2:122)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 122
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ (122)
Allah swt. mengingatkan lagi kepada Bani Israil akan nikmat yang pernah diberikan Allah kepada nenek moyang dahulu. Allah telah melebihkan mereka dari bangsa-bangsa lain yang semasa dengan mereka. Nikmat yang diberikan Allah itu adalah karena mereka selain berpegang kepada ajaran Allah dan kepada keadilan dan kebenaran, mereka mempunyai sifat-sifat dan cita-cita yang mulia dan menjauhi sifat yang buruk dan mengekang keinginan dan hawa nafsu.
Allah swt. mengingatkan kepada Bani Israil yang ada pada waktu turunnya ayat ini, agar bertakwa, bersikap, bersifat dan bercita-cita sebagai yang telah dilakukan oleh Bani Israil yang dahulu. Ikutilah jalan yang benar, berimanlah kepada Nabi Muhammad saw. dan kepada agama yang dibawanya. Jika demikian maka Allah akan melimpahkan pula kepada mereka nikmat yang pernah dilimpahkan-Nya kepada nenek moyang mereka itu yang dahulu.


123 Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong.(QS. 2:123)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 123
وَاتَّقُوا يَوْمًا لَا تَجْزِي نَفْسٌ عَنْ نَفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا تَنْفَعُهَا شَفَاعَةٌ وَلَا هُمْ يُنْصَرُونَ (123)
Pada ayat ini Allah menegaskan lagi peringatan-Nya kepada Bani Israil agar selalu mengikuti agama Allah. Hendaklah mereka ingat akan kedatangan suatu hari yang pada hari itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menolong kecuali Allah.
Pada hari itu seseorang tidak dapat menolong orang yang lain menghindari diri dari azab Allah, tiap-tiap orang bertanggung jawab atas segala perbuatan yang pernah dilakukannya. Seseorang tidak dapt menebus dosanya degnan harta apa pun dan seseorang tidak dapat menggantikan orang lain memikul azab. 133)
Ayat ini memperingatkan orang-orang yang beriman agar selalu menjaga diri dari azab hari kiamat dengan melaksanakan semua perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan-Nya. Ingatlah dan syukurilah nikmat Allah yang tidak terhingga yang telah dilimpahkan-Nya kepadamu agar ditambah-Nya nikmat itu. Beribadahlah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.


124 Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: `Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia`. Ibrahim berkata: ` (Dan saya mohon juga) dari keturunanku`. Allah berfirman: `Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim`.(QS. 2:124)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 124
وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ (124)
Ibrahim a.s. diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat dengan menugaskan atau membebaninya dengan perintah-perintah dan larangan-larangan, seperti membangun Kakbah, membersihkan Kakbah dari segala macam kemusyrikan, mengorbankan anaknya Ismali a.s., menghadapi raja Namruz dan sebagainya.
Menurut Mahmud Zahram: Ibrahim a.s. telah diberi oleh Allah swt. bermacam-macam pengalaman, ujian-ujian dan cobaan ialah diperintahkan Allah menyembelih anaknya, perjalanan pulang pergi antara Syina dan Hijaz untuk melihat anak-anak dan istri-istrinya yang berada di kedua tempat itu, dan sebagainya.
Allah tidak menerangkan macam-macam kalimat yang telah ditugaskan dan dibebankan kepada Ibrahim a.s. Hal ini memberi petunjuk bahwa tugas dan beban yang telah diberikan Allah itu adalah besar, berat dan banyak. Sekalipun demikian Ibrahim a.s. telah melaksanakan tugas dan beban itu dengan sebaik-baiknya yang membawa ke tempat kedudukan yang sempurna.
Firman Allah swt.:

وَإِبْرَاهِيمَ الَّذِي وَفَّى (37)
Artinya:
Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji. (Q.S An Najm: 37)
Perkataan: "Sesungguhnya Aku akan menjadikan kamu imam bagi seluruh manusia" tidak ada hubungannya dengan kalimat yang sebenarnya karena tidak ada terdapat kata penghubung (`athaf) pada permulaan kalimat tersebut.
Menurut Muhammad Abduh kalimat tersebut adalah kalimat yang berdiri sendiri tidak ada hubungannya dengan kalimat yang sebelumnya . Maksudnya ialah bahwa pangkat imam (nabi dan rasul) adalah semata-mata pangkat yang dianugerahkan oleh Allah swt. dan hanya Dia sendiri yang menetapkan kepada siapa pangkat itu akan diberikan-Nya. Tidak semua manusia dapat mencapai sekalipun ia telah melaksanakan segala perintah-perintah Allah dan menghentikan segala larangan-larangan-Nya.
Dengan perkataan lain bahwa pangkat imam yang dianugerahkan Allah kepada Nabi Ibrahim a.s. itu ditetapkan atas kehendak-Nya bukan ditetapkan karena Nabi Ibrahim a.s. telah menyelesaikan dan menyempurnakan tugas yang diberikan kepadanya, agar ia menyadari bahwa pangkat yang telah diberikan Allah itu sesuai baginya dan agar ia merasa dirinya mampu melaksanakan tugas dan memikul beban yang telah diberikan.
Setelah dianugerahi pangkat "imam" itu Nabi Ibrahim a.s. berdoa kepada Allah swt. agar pangkat "imam" dianugerahkan pula kepada keturunannya di kemudian hari.
Doa Nabi Ibrahim ini doa yang sesuai dengan sunatullah. Menurut sunnatullah anak dan keturunan sambungan hidup bagi seseorang. Sesuatu cita-cita yang tidak sanggup dicapai semasa hidup di dunia diharapkan agar anak dan keturunan dapat menyampaikannya.
Tugas imam merupakan tugas yang suci dan mulia karena pemberian tugas itu bertujuan hendak mencapai cita-cita yang suci dan mulia pula. Ibrahim a.s. merasa dirinya tidak sanggup mencapai semua cita-citanya yang terkandung di dalam tugasnya itu selama hidup di dunia. Karena itu ia berdoa kepada Allah swt. agar anak cucunya dianugerahi pula pangkat imam itu, sehingga cita-cita yang belum dapat dicapai semasa hidupnya dapat dilanjutkan dan dicapai oleh anak cucu dan keturunannya.
Dari ayat di atas dapat dipahami pula bahwa cara Nabi Ibrahim berdoa sesuai dengan sunnah Allah itu yaitu cara berdoa yang benar, karena itu doa Ibrahim a.s. itu termasuk doa yang dikabulkan Allah swt.
Doa Ibrahim a.s. itu dikabulkan Allah, terbukti di kemudian hari bahwa semua rasul-rasul yang diutus Allah sesudah beliau adalah berasal dari keturunan beliau.
Dari firman Allah: "Janji-Ku (itu) tidak mengenai orang-orang yang zalim" dapat dipahami bahwa di antara keturunan Nabi Ibrahim itu ada orang-orang zalim.
Pada ayat yang lain Allah menerangkan bahwa keturunan Ibrahim itu ada yang zalim dan ada yang berbuat baik.
Allah berfirman:

وَبَارَكْنَا عَلَيْهِ وَعَلَى إِسْحَاقَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِمَا مُحْسِنٌ وَظَالِمٌ لِنَفْسِهِ مُبِينٌ (113)
Artinya:
Kami limpahkan keberkatan atasnya (Ibrahim) dan atas Ishak. Dan di antara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata. (Q.S As Saffat: 113)
Allah berfirman:

وَجَعَلَهَا كَلِمَةً بَاقِيَةً فِي عَقِبِهِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (28)
Artinya:
Dan (Ibrahim) menjadikan rahmat tauhid itu kalimat yang kekal pada keturunannya supaya mereka kembali kepada kalimat tauhid itu. (Q.S Az Zukhruf: 28)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid sebagai pegangan bagi keturunannya sehingga kalau terdapat di antara mereka yang mempersekutukan Allah agar mereka kembali kepada kalimat tauhid.
"Zalim" (aniaya) itu bermacam-macam. Zalim terhadap diri sendiri ialah tidak melaksanakan perintah-perintah Allah dan tidak menghentikan larangan-larangan-Nya sehingga mendapat kemurkaan dan azab Allah yang membawa bencana kepada diri sendiri. Zalim terhadap makhluk-makhluk Allah, seperti berbuat kerusakan di muka bumi, memutuskan silaturahim, zalim terhadap manusia dan sebagainya.
Dari perkataan "zalim" dapat dipahami bahwa bagi seorang imam tidak boleh ada sifat zalim. Mustahil pangkat itu diberikan kepada orang yang kotor jiwanya orang-orang yang tidak melaksanakan perintah-perintah Allah dan tidak menghentikan larangan-larangan-Nya.


125 Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: `Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaaf, yang ruku dan yang sujud`.(QS. 2:125)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 125
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (125)
Ayat ini juga memerintahkan Nabi Muhammad saw. dan kaum muslimin mengingat ketika Allah menjadikan Kakbah sebagai tempat berkumpul manusia, tempat yang aman, menjadikan Makam Ibrahim sebagai tempat salat. Perintah Allah kepada Ibrahim dan Ismail itu untuk menenteramkan hati Nabi Muhammad saw. dan kaum muslimin dalam menghadapi keingkaran orang kafir dan untuk menerangkan kepada orang musyrik, Yahudi dan Nasrani bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad itu seasas dengan agama yang dibawa Nabi Ibrahim, agama nenek moyang mereka.
Ada dua faedah yang dapat diambil dari ayat di atas sehubungan dengan didirikan Kakbah itu:
Pertama: Tempat berkumpul bagi manusia. Sejak zaman dahulu sebelum Nabi Muhammad saw. diutus sampai saat ini Kakbah atau Mekah telah menjadi tempat berkumpul manusia dari segala penjuru dari segala macam bangsa dalam rangka menghormat dan melaksanakan ibadah haji.
Hati mereka merasa tenteram tinggal di sekitar Kakbah itu. Setelah mereka kembali ke tanah air mereka, hati dan jiwa mereka senantiasa tertarik kepadanya dan selalu bercita-cita ingin kembali lagi bila ada kesempatan bagi mereka.
Kedua: Allah swt. menjadikan sebagai tempat yang aman. Maksudnya ialah Allah swt. menjadikan tanah yang berada di sekitar Masjidil Haram merupakan tanah dan tempat yang aman bagi orang-orang yang berada di sana. Sejak dahulu sampai saat ini orang-orang Arab mengagungkan dan menyucikannya. Orang-orang Arab terkenal dengan sifat suka menuntut bela atas orang atau kabilah yang membunuh atau menyakiti atau menghina keluarganya.
Di mana saja mereka temui orang atau kabilah itu, penuntutan balas akan mereka laksanakan. Kecuali bila mereka menemuinya di Tanah Haram, mereka tidak mengganggu sedikit pun. Dalam pada itu sejak zaman dahulu banyak usaha-usaha dari orang-orang Arab sendiri atau dari bangsa-bangsa yang lain untuk menguasai Tanah Haram atau untuk merusak Kakbah, tetapi selalu digagalkan Allah, seperti usaha Abrahah raja Najasyi dengan tentaranya untuk menguasai Tanah Haram dan Kakbah. Mereka dihancurkan Allah swt.
Allah swt. berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ (5)
Artinya:
(1) Apakah kamu memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah. (2). Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Kakbah) itu sia-sia. (3) Dan mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. (4) Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. (5). Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daunan yang termakan (ulat). (Q.S Al Fil: 1,2,3,4 dan 5)
Dan firman Allah swt.:

أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (67)
Artinya:
Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah yang suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang batil dan ingkar kepada nikmat Allah?" (Q.S Al Ankabut: 67)
Yang dimaksud dengan "makam Ibrahim" ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. waktu mendirikan Kakbah.
Allah swt. memerintahkan agar manusia menjadikan Makam Ibrahim a.s. tempat salat. Faedah perintah itu ialah untuk menghadirkan perintah itu di dalam pikiran atau agar manusia mengikuti apa yang diperintahkan itu, seolah-olah perintah itu dihadapkan kepada mereka sehingga perintah itu tertanam di dalam hati mereka dan mereka merasa bahwa diri mereka termasuk orang yang diperintah.
Dengan demikian maksud ayat ialah "orang-orang dahulu yang beriman dengan Ibrahim a.s. diperintahkan agar menjadikan sebagian Maqam Ibrahim a.s. sebagai tempat salat. Perintah itu ditujukan pula kepada orang-orang yang datang kemudian yang mengakui Ibrahim a.s., sebagai nabi dan rasul Allah dan mengakui Nabi Muhammad saw. salah seorang dari anak cucu Ibrahim a.s. sebagai nabi yang terakhir.
Allah swt. memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk membersihkannya dalam arti yang sebenarnya dan dalam arti kiasan. "Membersihkan dalam arti yang sebenarnya" ialah membersihkan dari segala macam benda yang dihukum najis, seperti segala macam kotoran dan sebagainya. "Membersihkan dalam arti kiasan" ialah membersihkannya dari segala macam perbuatan yang mengandung unsur-unsur syirik, perbuatan menyembah berhala, perbuatan-perbuatan yang terlarang, bertengkar dan sebagainya. Perintah membersihkan Kakbah ini sekalipun ditujukan kepada Nabi Ibrahim a.s. dan Ismail a.s. tetapi juga terkandung di dalamnya perintah terhadap orang-orang yang datang sesudahnya.
Allah swt. menamakan Kakbah yang didirikan Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. itu dengan "Rumah-Nya" (Baitullah).
Penamaan itu bukanlah maksudnya Allah swt. tinggal dan berdiam di dalam atau sekitar Kakbah atau Allah swt. mempunyai tempat. Tetapi maksudnya ialah bahwa Allah menjadikan rumah itu tempat beribadah kepada-Nya dan menghadap ke arah Kakbah di dalam beribadah berarti telah menghadap ke arah yang benar dan sesuai dengan yang diperintahkan.
Hikmah menjadikan Kakbah sebagai "rumah Allah" dan menjadikan sebagai arah menghadap di dalam beribadat kepada Allah Pencipta dan Penguasa seluruh makhluk agar manusia merasa dirinya dapat langsung menyampaikan pujian, pernyataan syukur, permohonan pertolongan dan permohonan doa kepada Allah swt.
Manusia kurang dapat menyatakan pikirannya dalam beribadat kepada Allah swt. bila tidak dilakukan di tempat yang tertentu dan menghadap ke arah yang tertentu pula. Dengan adanya tempat tertentu dan arah menghadap tertentu itu manusia dapat menambah imannya setiap saat memperdalam pengetahuannya, mempertinggi nilai-nilai rohani dalam dirinya sendiri, karena dengan demikian ia merasakan seolah-olah Allah swt. ada di hadapan mereka demikian dekat sehingga tidak ada yang membatasi antaranya dengan Allah swt.
Pada ayat yang lain Allah menegaskan bahwa ke mana saja manusia menghadap dalam beribadat, berdoa akan menemui wajah Allah, dan sampai kepada-Nya, karena Allah swt. Maha Luas lagi Maha Mengetahui. 141)
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa penamaan Kakbah sebagai rumah Allah hanyalah untuk mempermudah manusia dalam membulatkan pikirannya dalam beribadat. Pada asasnya Allah Maha Besar, Maha Mengetahui lagi Maha Luas.


126 Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: `Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman:` Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali `.(QS. 2:126)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 126
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (126)
Allah swt. mengingatkan kepada manusia tentang doa-doa Nabi Ibrahim a.s. dan doa-doa itu telah dikabulkan-Nya. Dan juga ditegaskan tentang sifat doa Ibrahim a.s., yaitu keamanan bagi tanah haram dan sifat-sifat orang yang berhak mewarisi, ialah orang-orang yang baik lagi utama.
Yang dimaksud dengan "negeri ini" ialah tanah Arab, sesuai dengan firman Allah swt.:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
Artinya:
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang di hormati. (Q.S Ibrahim: 37)
Tanah Arab itu didoakan Ibrahim kepada Allah agar dijamin keamanannya yaitu aman dari segala macam bencana, seperti bencana-bencana serangan musuh, pertumpahan darah, kehancuran sebagaimana yang telah dialami umat-umat terdahulu disebabkan keingkaran mereka kepada Allah swt.
Juga didoakan agar diberikan rezeki dan buah-buahan kepada penduduknya. Doa Nabi Ibrahim a.s. telah diperkenankan Allah dengan firman-Nya

أَوَلَمْ نُمَكِّنْ لَهُمْ حَرَمًا آمِنًا يُجْبَى إِلَيْهِ ثَمَرَاتُ كُلِّ شَيْءٍ رِزْقًا مِنْ لَدُنَّا وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (57)
Artinya:
Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka dalam daerah haram yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam (tumbuh-tumbuhan) untuk menjadi rezeki (bagimu) dari sisi Kami tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Q.S Al Qasas: 57)
Terkabulnya doa Ibrahim a.s. itu terbukti dengan datangnya ke tanah Arab segala macam buah-buahan yang dibawa orang dari segala penjuru dunia.
Ibrahim a.s. mengkhususkan doanya kepada orang-orang yang beriman, tetapi rahmat Allah itu amat banyak dan tak terhingga diberikannya kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang yang kafir.
Allah swt. berfirman:

كُلًّا نُمِدُّ هَؤُلَاءِ وَهَؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا (20)
Artinya:
Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. (Q.S Al Isra': 20)
Yang dimaksud dengan "golongan ini" ialah orang-orang kafir yang lebih mengutamakan duniawi dan "golongan itu" ialah orang-orang yang lebih mengutamakan kehidupan ukhrawi dibanding dengan kehidupan duniawi sebagaimana yang tersebut pada ayat-ayat sebelumnya.
Pada lanjutan ayat Allah swt. menerangkan perbedaan kesenangan yang diberikan kepada orang-orang mukmin dan kesenangan yang diberikan kepada orang-orang kafir.
Kesenangan yang diberikan kepada orang-orang kafir adalah kesenangan yang sementara, rezeki yang sedikit yang mereka terima dan rasakan selama hidup di dunia, kemudian di akhirat nanti mereka terpaksa masuk neraka.
Dalam ayat ini dapat dipahami bahwa manusia diberi pahala dan diazab adalah karena perbuatan mereka sendiri. Maksudnya ialah manusia menjadi kafir dan fasik adalah atas kehendak dan kemauan sendiri. Karena siksa yang ditimpakan kepada mereka itu adalah berdasarkan perbuatan yang mereka lakukan atas kehendak dan kemauan diri mereka sendiri. Kekafiran mereka kepada Allah itu menyebabkan mereka diazab sesuai dengan "sunatullah".
Berdasarkan "sunatullah" ini maka segala macam ilmu pengetahuan dan perbuatan manusia baik perbuatan yang didorong oleh hawa nafsu mereka atau didorong oleh kehendak jasmani dan rohani mereka, secara langsung pasti akan memberi bekas kebahagiaan atau kesengsaraan, banyak atau sedikit, baik manusia itu rela menerimanya atau mereka tidak rela menerimanya. Inilah yang dimaksud dengan ungkapan: Allah swt. telah menjadikan jiwa yang kotor dan perbuatan yang tercela sebagai sasaran kemurkaan-Nya dan sasaran azab-Nya di akhirat nanti sebagaimana Allah swt. menjadikan tubuh yang kotor dan tidak terpelihara sebagai sasaran dan tempat penyakit yang diadakan-Nya.


127 Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa):` Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui `.(QS. 2:127)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 127 - 129
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (127) رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (128) رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (129)
Pada ayat ini Allah swt. mengingatkan kepada orang-orang Arab bahwa yang membangun Baitullah itu adalah nenek moyang mereka yang bernama Ibrahim dan putranya Ismail, kedua beliau itu adalah cikal bakal orang-orang Arab dan Israil. Seluruh orang-orang Arab mengikuti agamanya, yaitu millatu Ibrahim.
Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang membangun Raitullah itu ialah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Tujuan mendirikan Baitullah itu adalah untuk beribadat kepada Allah swt. bukan untuk yang lain, sebagai peringatan bagi dirinya yang akan diingat-ingat oleh anak cucunya di kemudian hari. Bahan-bahan untuk membangun Kakbah itu adalah benda-benda biasa sama dengan benda-benda yang lain, dan benda yang sengaja diturunkan Allah dari langit. Semua riwayat yang menerangkan Kakbah secara berlebih-lebihan adalah riwayat yang tidak benar, diduga berasal dan Israiliyat Mengenai Hajarul Aswad Umar bin Khattab r.a. berkata di waktu beliau telah menciumnya:

عن عمر رضي الله عنه أنه قبل الحجر الأسود وقال: إني أعلم أنك حجر لاتضر ولا تنفع ولو لا أني رأيت رسول الله صلى الله صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك
Artinya:
Dari Umar semoga Allah meridainya, bahwa ia telah mencium Hajarul Aswad dan berkata, "Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa engkau batu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalau aku tidak melihat Rasulullah saw. mencium engkau, tentu aku tidak akan mencium engkau." (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut riwayat Ad-Daruqutni, Rasulullah saw. pernah menyatakan sebelum mencium Hajarul Aswad bahwa itu adalah batu biasa. Demikian pula halnya Abu Bakar r.a., dan sahabat-sahabat yang lain.
Dari riwayat-riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa "Hajarul Aswad" itu adalah batu biasa saja. Perintah menciumnya itu berhubungan dengan ibadah, seperti perintah salat menghadap ke Kakbah, perintah melempar jumrah di waktu melaksanakan ibadah haji dan sebagainya. Semuanya ini dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah dari Allah swt. Maha Pencipta, Maha Penguasa lagi terus-menerus menjaga makhluk-Nya.
Setelah selesai Ibrahim dan Ismail meletakkan fondamen Kakbah, lalu berdoa:
"Terimalah daripada kami....", (maksudnya ialah) terimalah amal kami sebagai amal yang saleh, ridailah dan berilah pahala...."
"Allah Maha Mendengar" (ialah) Allah Maha Mendengar doa kami dan "Allah Maha Mengetahui" (ialah) Allah Maha Mengetahui niat-niat dan maksud kami membangun dan mendirikan Kakbah ini.
Dari ayat di atas dapat diambil hukum bahwa sunat hukumnya berdoa dan menyerahkan semua amal kita kepada Allah swt. apabila telah selesai mengerjakannya. Dengan penyerahan itu berarti bahwa tugas seseorang hamba ialah mengerjakan amal-amal yang saleh karena Allah, dan Allahlah yang berhak menilai amal itu dan memberinya pahala sesuai dengan penilaian itu.
Dari ayat di atas juga dapat dipahami bahwa Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. berdoa kepada Allah swt. setelah selesai mengerjakan amal yang saleh dengan niat dan maksud bahwa perbuatan itu semata-mata dilakukan dan dikerjakan karena Allah. Karena sifat dan bentuk perbuatan yang dikerjakannya itu diyakini sesuai dengan perintah Allah, maka ayah dan anak itu yakin pula bahwa amalnya itu pasti diterima Allah swt. Hal ini berarti bahwa segala macam doa yang dipanjatkan kepada Allah swt. yang sifat, bentuk dan tujuannya sama dengan yang dilakukan oleh Ibrahim a.s. dengan putranya, pasti diterima Allah pula dan pasti diberinya pahala yang baik dari sisi-Nya.
Pada ayat berikutnya (128) Ibrahim a.s. melanjutkan doanya agar menjadikan keturunannya umat yang tunduk dan patuh kepada Allah swt.
Di dalam perkataan "muslim" (tunduk patuh) terkandung pengertian bahwa umat yang dimaksud Ibrahim a.s. itu mempunyai sifat-sifat:
1.Memurnikan kepercayaan hanya kepada Allah saja. Hati seorang muslim hanya mempercayai bahwa yang berhak disembah dan dimohonkan pertolongan hanya Allah Yang Maha Esa. Kepercayaan ini adalah karena seorang muslim merasa dirinya berada di bawah pengawasan dan kekuasaan Allah swt. saja yang dapat memberi keputusan atas dirinya.
2.Semua perbuatan, kepatuhan dan ketundukan dilakukan hanya karena dan kepada Allah swt. saja, bukan karena menurut hawa nafsu, bukan karena ingin dipuji dan dipandang baik oleh orang, bukan karena pangkat dan jabatan dan bukan pula karena sesuatu keuntungan duniawi.
Bila kepercayaan dan ketundukan itu tidak murni kepada Allah, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung bagi mereka.
Allah swt. berfirman:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43)
Artinya:
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Q.S Al Furqan: 43)
Allah swt. membiarkan sesat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan mengunci mati hatinya, karena Allah swt. mengetahui bahwa mereka tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya
Allah swt. berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً
Artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menutup atas penglihatannya.... (Q.S Al Jasiyah: 23)
Pada ayat 124 yang lalu, Ibrahim a.s. berdoa agar keturunannya dijadikan imam, Allah swt. menjawab: "Keturunan Ibrahim yang zalim tidak termasuk di dalam doa itu." Karena itu pada ayat 128 ini Ibrahim a.s. mendoakan agar sebagian keluarganya dijadikan orang yang tunduk patuh kepada Allah.
Dalam hubungan ayat di atas terdapat petunjuk bahwa yang dimaksud dengan keturunannya itu ialah Ismail a.s. dan keturunannya yang akan ditinggalkan di Mekah, sedang beliau sendiri kembali ke Syria. Keturunan Ismail a.s. inilah yang berkembang biak yang mendiami negeri Mekah dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw. Inilah yang dimaksud dengan Firman Allah swt.:

حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ
Artinya:
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini. (Q.S Al Hajj: 78)
Ibrahim dan Ismail mohon kepada Allah agar ditunjukkan cara-cara mengerjakan segala macam ibadat dalam rangka menunaikan ibadah haji, tempat wuquf, tempat tawaf, tempat sai dan sebagainya, sehingga ia dan anak cucunya dapat melaksanakan ibadat sesuai dengan yang diperintahkan Allah.
Di dalam ayat ini Ibrahim a.s. memohon kepada Allah swt. agar diterima taubatnya padahal Ibrahim adalah seseorang nabi dan rasul, demikian pula putranya. Semua nabi dan rasul dipelihara Allah dari segala macam dosa (maksum). Karena itu maksud dari doa Ibrahim dan putranya itu ialah:
1.Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. memohon kepada Allah swt. agar diampuni dari segala kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, yang tidak diketahui dan yang dilakukannya tanpa kehendaknya sendiri.
2.Sebagai petunjuk bagi keturunan dan pengikutnya di kemudian hari, agar selalu menyucikan diri dari segala macam dosa yaitu dengan bertaubat kepada Allah, dan menjaga kesucian tempat mengerjakan ibadah haji.
"Allah Maha Penerima taubat" ialah Allah sendirilah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya, tidak ada yang lain. Dia selalu menerima taubat hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertaubat serta memberi taufik agar selalu mengerjakan amal-amal yang saleh.
"Allah Maha Penyayang" ialah Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan menghapus dosa dan azab dari mereka.
Selanjutnya Ibrahim a.s. berdoa agar Allah swt. mengangkat seorang rasul dari keturunannya yang memurnikan ketaatan kepada Allah, untuk memberi berita gembira, memberi petunjuk dan memberi peringatan.
Allah swt. telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s. dengan mengangkat dari keturunannya nabi-nabi dan rasul termasuk Nabi Muhammad saw., nabi yang terakhir.
Rasulullah saw. bersabda:

أنا دعوة إبراهيم وبشرى عيسى
Artinya:
Aku adalah doa Ibrahim dan yang diberitakan sebagai berita gembira oleh Isa. (HR Ahmad)
Sifat-sifat dari rasul-rasul yang didoakan Ibrahim a.s. itu ialah:
1.Membacakan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan kepada mereka, agar ayat-ayat itu menjadi pelajaran dan petunjuk bagi umat-umat mereka. Ayat-ayat itu mengandung ajaran-ajaran tentang keesaan Allah, adanya hari berbangkit dan hari pembalasan, adanya pahala bagi orang-orang yang beramal saleh dan siksa bagi orang-orang yang ingkar, petunjuk ke jalan yang baik dan bahagia dan sebagainya.
2.Mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Al-Kitab ialah Alquran, Al-Hikmah ialah mengetahui rahasia-rahasia, faedah-faedah, hukum-hukum syariat, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul itu menjadi contoh yang baik bagi mereka sehingga mereka menempuh jalan yang lurus.
3.Menyucikan mereka ialah menyucikan diri dan jiwa mereka dari segala macam kesyirikan, kekufuran, kejahatan, budi pekerti yang tidak baik, sifat suka merusak masyarakat dan sebagainya.
Ibrahim a.s. menutup doanya dengan memuji Tuhannya, yaitu dengan menyebut sifat-sifat-Nya, Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Bijaksana. "Maha Perkasa" ialah yang tidak seorang pun dapat membantah perkataan-Nya, dan tidak seorang pun dapat mencegah perbuatan-Nya.
"Maha Bijaksana" ialah Yang Maha Menciptakan segala sesuatu dan penggunaannya sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya.
Dari doa Nabi Ibrahim ini terpaham pengertian bahwa beliau memohonkan agar keturunannya diberi taufik dan hidayat sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan agama Allah, membina peradaban umat manusia dan mengembangkan ilmu pengetahuan menurut yang diridai Allah swt.


128 Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.(QS. 2:128)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 127 - 129
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (127) رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (128) رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (129)
Pada ayat ini Allah swt. mengingatkan kepada orang-orang Arab bahwa yang membangun Baitullah itu adalah nenek moyang mereka yang bernama Ibrahim dan putranya Ismail, kedua beliau itu adalah cikal bakal orang-orang Arab dan Israil. Seluruh orang-orang Arab mengikuti agamanya, yaitu millatu Ibrahim.
Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang membangun Raitullah itu ialah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Tujuan mendirikan Baitullah itu adalah untuk beribadat kepada Allah swt. bukan untuk yang lain, sebagai peringatan bagi dirinya yang akan diingat-ingat oleh anak cucunya di kemudian hari. Bahan-bahan untuk membangun Kakbah itu adalah benda-benda biasa sama dengan benda-benda yang lain, dan benda yang sengaja diturunkan Allah dari langit. Semua riwayat yang menerangkan Kakbah secara berlebih-lebihan adalah riwayat yang tidak benar, diduga berasal dan Israiliyat Mengenai Hajarul Aswad Umar bin Khattab r.a. berkata di waktu beliau telah menciumnya:

عن عمر رضي الله عنه أنه قبل الحجر الأسود وقال: إني أعلم أنك حجر لاتضر ولا تنفع ولو لا أني رأيت رسول الله صلى الله صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك
Artinya:
Dari Umar semoga Allah meridainya, bahwa ia telah mencium Hajarul Aswad dan berkata, "Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa engkau batu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalau aku tidak melihat Rasulullah saw. mencium engkau, tentu aku tidak akan mencium engkau." (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut riwayat Ad-Daruqutni, Rasulullah saw. pernah menyatakan sebelum mencium Hajarul Aswad bahwa itu adalah batu biasa. Demikian pula halnya Abu Bakar r.a., dan sahabat-sahabat yang lain.
Dari riwayat-riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa "Hajarul Aswad" itu adalah batu biasa saja. Perintah menciumnya itu berhubungan dengan ibadah, seperti perintah salat menghadap ke Kakbah, perintah melempar jumrah di waktu melaksanakan ibadah haji dan sebagainya. Semuanya ini dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah dari Allah swt. Maha Pencipta, Maha Penguasa lagi terus-menerus menjaga makhluk-Nya.
Setelah selesai Ibrahim dan Ismail meletakkan fondamen Kakbah, lalu berdoa:
"Terimalah daripada kami....", (maksudnya ialah) terimalah amal kami sebagai amal yang saleh, ridailah dan berilah pahala...."
"Allah Maha Mendengar" (ialah) Allah Maha Mendengar doa kami dan "Allah Maha Mengetahui" (ialah) Allah Maha Mengetahui niat-niat dan maksud kami membangun dan mendirikan Kakbah ini.
Dari ayat di atas dapat diambil hukum bahwa sunat hukumnya berdoa dan menyerahkan semua amal kita kepada Allah swt. apabila telah selesai mengerjakannya. Dengan penyerahan itu berarti bahwa tugas seseorang hamba ialah mengerjakan amal-amal yang saleh karena Allah, dan Allahlah yang berhak menilai amal itu dan memberinya pahala sesuai dengan penilaian itu.
Dari ayat di atas juga dapat dipahami bahwa Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. berdoa kepada Allah swt. setelah selesai mengerjakan amal yang saleh dengan niat dan maksud bahwa perbuatan itu semata-mata dilakukan dan dikerjakan karena Allah. Karena sifat dan bentuk perbuatan yang dikerjakannya itu diyakini sesuai dengan perintah Allah, maka ayah dan anak itu yakin pula bahwa amalnya itu pasti diterima Allah swt. Hal ini berarti bahwa segala macam doa yang dipanjatkan kepada Allah swt. yang sifat, bentuk dan tujuannya sama dengan yang dilakukan oleh Ibrahim a.s. dengan putranya, pasti diterima Allah pula dan pasti diberinya pahala yang baik dari sisi-Nya.
Pada ayat berikutnya (128) Ibrahim a.s. melanjutkan doanya agar menjadikan keturunannya umat yang tunduk dan patuh kepada Allah swt.
Di dalam perkataan "muslim" (tunduk patuh) terkandung pengertian bahwa umat yang dimaksud Ibrahim a.s. itu mempunyai sifat-sifat:
1.Memurnikan kepercayaan hanya kepada Allah saja. Hati seorang muslim hanya mempercayai bahwa yang berhak disembah dan dimohonkan pertolongan hanya Allah Yang Maha Esa. Kepercayaan ini adalah karena seorang muslim merasa dirinya berada di bawah pengawasan dan kekuasaan Allah swt. saja yang dapat memberi keputusan atas dirinya.
2.Semua perbuatan, kepatuhan dan ketundukan dilakukan hanya karena dan kepada Allah swt. saja, bukan karena menurut hawa nafsu, bukan karena ingin dipuji dan dipandang baik oleh orang, bukan karena pangkat dan jabatan dan bukan pula karena sesuatu keuntungan duniawi.
Bila kepercayaan dan ketundukan itu tidak murni kepada Allah, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung bagi mereka.
Allah swt. berfirman:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43)
Artinya:
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Q.S Al Furqan: 43)
Allah swt. membiarkan sesat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan mengunci mati hatinya, karena Allah swt. mengetahui bahwa mereka tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya
Allah swt. berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً
Artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menutup atas penglihatannya.... (Q.S Al Jasiyah: 23)
Pada ayat 124 yang lalu, Ibrahim a.s. berdoa agar keturunannya dijadikan imam, Allah swt. menjawab: "Keturunan Ibrahim yang zalim tidak termasuk di dalam doa itu." Karena itu pada ayat 128 ini Ibrahim a.s. mendoakan agar sebagian keluarganya dijadikan orang yang tunduk patuh kepada Allah.
Dalam hubungan ayat di atas terdapat petunjuk bahwa yang dimaksud dengan keturunannya itu ialah Ismail a.s. dan keturunannya yang akan ditinggalkan di Mekah, sedang beliau sendiri kembali ke Syria. Keturunan Ismail a.s. inilah yang berkembang biak yang mendiami negeri Mekah dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw. Inilah yang dimaksud dengan Firman Allah swt.:

حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ
Artinya:
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini. (Q.S Al Hajj: 78)
Ibrahim dan Ismail mohon kepada Allah agar ditunjukkan cara-cara mengerjakan segala macam ibadat dalam rangka menunaikan ibadah haji, tempat wuquf, tempat tawaf, tempat sai dan sebagainya, sehingga ia dan anak cucunya dapat melaksanakan ibadat sesuai dengan yang diperintahkan Allah.
Di dalam ayat ini Ibrahim a.s. memohon kepada Allah swt. agar diterima taubatnya padahal Ibrahim adalah seseorang nabi dan rasul, demikian pula putranya. Semua nabi dan rasul dipelihara Allah dari segala macam dosa (maksum). Karena itu maksud dari doa Ibrahim dan putranya itu ialah:
1.Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. memohon kepada Allah swt. agar diampuni dari segala kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, yang tidak diketahui dan yang dilakukannya tanpa kehendaknya sendiri.
2.Sebagai petunjuk bagi keturunan dan pengikutnya di kemudian hari, agar selalu menyucikan diri dari segala macam dosa yaitu dengan bertaubat kepada Allah, dan menjaga kesucian tempat mengerjakan ibadah haji.
"Allah Maha Penerima taubat" ialah Allah sendirilah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya, tidak ada yang lain. Dia selalu menerima taubat hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertaubat serta memberi taufik agar selalu mengerjakan amal-amal yang saleh.
"Allah Maha Penyayang" ialah Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan menghapus dosa dan azab dari mereka.
Selanjutnya Ibrahim a.s. berdoa agar Allah swt. mengangkat seorang rasul dari keturunannya yang memurnikan ketaatan kepada Allah, untuk memberi berita gembira, memberi petunjuk dan memberi peringatan.
Allah swt. telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s. dengan mengangkat dari keturunannya nabi-nabi dan rasul termasuk Nabi Muhammad saw., nabi yang terakhir.
Rasulullah saw. bersabda:

أنا دعوة إبراهيم وبشرى عيسى
Artinya:
Aku adalah doa Ibrahim dan yang diberitakan sebagai berita gembira oleh Isa. (HR Ahmad)
Sifat-sifat dari rasul-rasul yang didoakan Ibrahim a.s. itu ialah:
1.Membacakan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan kepada mereka, agar ayat-ayat itu menjadi pelajaran dan petunjuk bagi umat-umat mereka. Ayat-ayat itu mengandung ajaran-ajaran tentang keesaan Allah, adanya hari berbangkit dan hari pembalasan, adanya pahala bagi orang-orang yang beramal saleh dan siksa bagi orang-orang yang ingkar, petunjuk ke jalan yang baik dan bahagia dan sebagainya.
2.Mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Al-Kitab ialah Alquran, Al-Hikmah ialah mengetahui rahasia-rahasia, faedah-faedah, hukum-hukum syariat, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul itu menjadi contoh yang baik bagi mereka sehingga mereka menempuh jalan yang lurus.
3.Menyucikan mereka ialah menyucikan diri dan jiwa mereka dari segala macam kesyirikan, kekufuran, kejahatan, budi pekerti yang tidak baik, sifat suka merusak masyarakat dan sebagainya.
Ibrahim a.s. menutup doanya dengan memuji Tuhannya, yaitu dengan menyebut sifat-sifat-Nya, Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Bijaksana. "Maha Perkasa" ialah yang tidak seorang pun dapat membantah perkataan-Nya, dan tidak seorang pun dapat mencegah perbuatan-Nya.
"Maha Bijaksana" ialah Yang Maha Menciptakan segala sesuatu dan penggunaannya sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya.
Dari doa Nabi Ibrahim ini terpaham pengertian bahwa beliau memohonkan agar keturunannya diberi taufik dan hidayat sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan agama Allah, membina peradaban umat manusia dan mengembangkan ilmu pengetahuan menurut yang diridai Allah swt.


129 Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al quran) dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 2:129)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 127 - 129
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (127) رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (128) رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (129)
Pada ayat ini Allah swt. mengingatkan kepada orang-orang Arab bahwa yang membangun Baitullah itu adalah nenek moyang mereka yang bernama Ibrahim dan putranya Ismail, kedua beliau itu adalah cikal bakal orang-orang Arab dan Israil. Seluruh orang-orang Arab mengikuti agamanya, yaitu millatu Ibrahim.
Dari ayat tersebut di atas dapat dipahami bahwa yang membangun Raitullah itu ialah Nabi Ibrahim dan putranya Ismail. Tujuan mendirikan Baitullah itu adalah untuk beribadat kepada Allah swt. bukan untuk yang lain, sebagai peringatan bagi dirinya yang akan diingat-ingat oleh anak cucunya di kemudian hari. Bahan-bahan untuk membangun Kakbah itu adalah benda-benda biasa sama dengan benda-benda yang lain, dan benda yang sengaja diturunkan Allah dari langit. Semua riwayat yang menerangkan Kakbah secara berlebih-lebihan adalah riwayat yang tidak benar, diduga berasal dan Israiliyat Mengenai Hajarul Aswad Umar bin Khattab r.a. berkata di waktu beliau telah menciumnya:

عن عمر رضي الله عنه أنه قبل الحجر الأسود وقال: إني أعلم أنك حجر لاتضر ولا تنفع ولو لا أني رأيت رسول الله صلى الله صلى الله عليه وسلم يقبلك ما قبلتك
Artinya:
Dari Umar semoga Allah meridainya, bahwa ia telah mencium Hajarul Aswad dan berkata, "Sesungguhnya aku telah mengetahui bahwa engkau batu yang tidak dapat memberi mudarat dan tidak pula memberi manfaat. Kalau aku tidak melihat Rasulullah saw. mencium engkau, tentu aku tidak akan mencium engkau." (HR Bukhari dan Muslim)
Menurut riwayat Ad-Daruqutni, Rasulullah saw. pernah menyatakan sebelum mencium Hajarul Aswad bahwa itu adalah batu biasa. Demikian pula halnya Abu Bakar r.a., dan sahabat-sahabat yang lain.
Dari riwayat-riwayat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa "Hajarul Aswad" itu adalah batu biasa saja. Perintah menciumnya itu berhubungan dengan ibadah, seperti perintah salat menghadap ke Kakbah, perintah melempar jumrah di waktu melaksanakan ibadah haji dan sebagainya. Semuanya ini dilaksanakan semata-mata melaksanakan perintah dari Allah swt. Maha Pencipta, Maha Penguasa lagi terus-menerus menjaga makhluk-Nya.
Setelah selesai Ibrahim dan Ismail meletakkan fondamen Kakbah, lalu berdoa:
"Terimalah daripada kami....", (maksudnya ialah) terimalah amal kami sebagai amal yang saleh, ridailah dan berilah pahala...."
"Allah Maha Mendengar" (ialah) Allah Maha Mendengar doa kami dan "Allah Maha Mengetahui" (ialah) Allah Maha Mengetahui niat-niat dan maksud kami membangun dan mendirikan Kakbah ini.
Dari ayat di atas dapat diambil hukum bahwa sunat hukumnya berdoa dan menyerahkan semua amal kita kepada Allah swt. apabila telah selesai mengerjakannya. Dengan penyerahan itu berarti bahwa tugas seseorang hamba ialah mengerjakan amal-amal yang saleh karena Allah, dan Allahlah yang berhak menilai amal itu dan memberinya pahala sesuai dengan penilaian itu.
Dari ayat di atas juga dapat dipahami bahwa Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. berdoa kepada Allah swt. setelah selesai mengerjakan amal yang saleh dengan niat dan maksud bahwa perbuatan itu semata-mata dilakukan dan dikerjakan karena Allah. Karena sifat dan bentuk perbuatan yang dikerjakannya itu diyakini sesuai dengan perintah Allah, maka ayah dan anak itu yakin pula bahwa amalnya itu pasti diterima Allah swt. Hal ini berarti bahwa segala macam doa yang dipanjatkan kepada Allah swt. yang sifat, bentuk dan tujuannya sama dengan yang dilakukan oleh Ibrahim a.s. dengan putranya, pasti diterima Allah pula dan pasti diberinya pahala yang baik dari sisi-Nya.
Pada ayat berikutnya (128) Ibrahim a.s. melanjutkan doanya agar menjadikan keturunannya umat yang tunduk dan patuh kepada Allah swt.
Di dalam perkataan "muslim" (tunduk patuh) terkandung pengertian bahwa umat yang dimaksud Ibrahim a.s. itu mempunyai sifat-sifat:
1.Memurnikan kepercayaan hanya kepada Allah saja. Hati seorang muslim hanya mempercayai bahwa yang berhak disembah dan dimohonkan pertolongan hanya Allah Yang Maha Esa. Kepercayaan ini adalah karena seorang muslim merasa dirinya berada di bawah pengawasan dan kekuasaan Allah swt. saja yang dapat memberi keputusan atas dirinya.
2.Semua perbuatan, kepatuhan dan ketundukan dilakukan hanya karena dan kepada Allah swt. saja, bukan karena menurut hawa nafsu, bukan karena ingin dipuji dan dipandang baik oleh orang, bukan karena pangkat dan jabatan dan bukan pula karena sesuatu keuntungan duniawi.
Bila kepercayaan dan ketundukan itu tidak murni kepada Allah, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung bagi mereka.
Allah swt. berfirman:

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43)
Artinya:
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Q.S Al Furqan: 43)
Allah swt. membiarkan sesat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan mengunci mati hatinya, karena Allah swt. mengetahui bahwa mereka tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya
Allah swt. berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً
Artinya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan menutup atas penglihatannya.... (Q.S Al Jasiyah: 23)
Pada ayat 124 yang lalu, Ibrahim a.s. berdoa agar keturunannya dijadikan imam, Allah swt. menjawab: "Keturunan Ibrahim yang zalim tidak termasuk di dalam doa itu." Karena itu pada ayat 128 ini Ibrahim a.s. mendoakan agar sebagian keluarganya dijadikan orang yang tunduk patuh kepada Allah.
Dalam hubungan ayat di atas terdapat petunjuk bahwa yang dimaksud dengan keturunannya itu ialah Ismail a.s. dan keturunannya yang akan ditinggalkan di Mekah, sedang beliau sendiri kembali ke Syria. Keturunan Ismail a.s. inilah yang berkembang biak yang mendiami negeri Mekah dan sekitarnya, termasuk di dalamnya Nabi Muhammad saw. Inilah yang dimaksud dengan Firman Allah swt.:

حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ
Artinya:
(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (Alquran) ini. (Q.S Al Hajj: 78)
Ibrahim dan Ismail mohon kepada Allah agar ditunjukkan cara-cara mengerjakan segala macam ibadat dalam rangka menunaikan ibadah haji, tempat wuquf, tempat tawaf, tempat sai dan sebagainya, sehingga ia dan anak cucunya dapat melaksanakan ibadat sesuai dengan yang diperintahkan Allah.
Di dalam ayat ini Ibrahim a.s. memohon kepada Allah swt. agar diterima taubatnya padahal Ibrahim adalah seseorang nabi dan rasul, demikian pula putranya. Semua nabi dan rasul dipelihara Allah dari segala macam dosa (maksum). Karena itu maksud dari doa Ibrahim dan putranya itu ialah:
1.Ibrahim a.s. dan putranya Ismail a.s. memohon kepada Allah swt. agar diampuni dari segala kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja, yang tidak diketahui dan yang dilakukannya tanpa kehendaknya sendiri.
2.Sebagai petunjuk bagi keturunan dan pengikutnya di kemudian hari, agar selalu menyucikan diri dari segala macam dosa yaitu dengan bertaubat kepada Allah, dan menjaga kesucian tempat mengerjakan ibadah haji.
"Allah Maha Penerima taubat" ialah Allah sendirilah yang menerima taubat hamba-hamba-Nya, tidak ada yang lain. Dia selalu menerima taubat hamba-hamba-Nya yang benar-benar bertaubat serta memberi taufik agar selalu mengerjakan amal-amal yang saleh.
"Allah Maha Penyayang" ialah Allah Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat dengan menghapus dosa dan azab dari mereka.
Selanjutnya Ibrahim a.s. berdoa agar Allah swt. mengangkat seorang rasul dari keturunannya yang memurnikan ketaatan kepada Allah, untuk memberi berita gembira, memberi petunjuk dan memberi peringatan.
Allah swt. telah mengabulkan doa Nabi Ibrahim a.s. dengan mengangkat dari keturunannya nabi-nabi dan rasul termasuk Nabi Muhammad saw., nabi yang terakhir.
Rasulullah saw. bersabda:

أنا دعوة إبراهيم وبشرى عيسى
Artinya:
Aku adalah doa Ibrahim dan yang diberitakan sebagai berita gembira oleh Isa. (HR Ahmad)
Sifat-sifat dari rasul-rasul yang didoakan Ibrahim a.s. itu ialah:
1.Membacakan ayat-ayat-Nya yang telah diturunkan kepada mereka, agar ayat-ayat itu menjadi pelajaran dan petunjuk bagi umat-umat mereka. Ayat-ayat itu mengandung ajaran-ajaran tentang keesaan Allah, adanya hari berbangkit dan hari pembalasan, adanya pahala bagi orang-orang yang beramal saleh dan siksa bagi orang-orang yang ingkar, petunjuk ke jalan yang baik dan bahagia dan sebagainya.
2.Mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Al-Kitab ialah Alquran, Al-Hikmah ialah mengetahui rahasia-rahasia, faedah-faedah, hukum-hukum syariat, serta maksud dan tujuan diutusnya para rasul itu menjadi contoh yang baik bagi mereka sehingga mereka menempuh jalan yang lurus.
3.Menyucikan mereka ialah menyucikan diri dan jiwa mereka dari segala macam kesyirikan, kekufuran, kejahatan, budi pekerti yang tidak baik, sifat suka merusak masyarakat dan sebagainya.
Ibrahim a.s. menutup doanya dengan memuji Tuhannya, yaitu dengan menyebut sifat-sifat-Nya, Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Bijaksana. "Maha Perkasa" ialah yang tidak seorang pun dapat membantah perkataan-Nya, dan tidak seorang pun dapat mencegah perbuatan-Nya.
"Maha Bijaksana" ialah Yang Maha Menciptakan segala sesuatu dan penggunaannya sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya.
Dari doa Nabi Ibrahim ini terpaham pengertian bahwa beliau memohonkan agar keturunannya diberi taufik dan hidayat sehingga dapat melaksanakan dan mengembangkan agama Allah, membina peradaban umat manusia dan mengembangkan ilmu pengetahuan menurut yang diridai Allah swt.


130 Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.(QS. 2:130)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 130
وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ (130)
Di dalam ayat ini Allah swt. tidak menerangkan agama Ibrahim itu. Pada ayat yang lain Allah swt. menerangkan dasar-dasar kepercayaan agama Ibrahim.
Firman Allah swt.:

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ المُشْرِكِينَ
Artinya:
Katakanlah, "Bbenarlah (apa yang difirmankan) Allah. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus!" Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik. (Q.S Ali Imran: 95)
Pada ayat yang lain dijelaskan bahwa agama Ibrahim atau agama Islam ialah agama yang dibawa Nabi Muhammad saw.
Firman Allah swt.:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (123)
Artinya:
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), "Ikutilah agama Ibrahim yang lurus!" Dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah). (Q.S An Nahl: 123)
Dan firman Allah:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (30)
Artinya:
Maka hadapkanlah mukamu dengan lurus kepada agama (Allah). (Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan-perubahan atas fitrah-fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S Ar Rum: 30)
Orang-orang Yahudi, Nasrani dan musyrik Mekah masing-masing mereka termasuk anak cucu Ibrahim a.s. Mereka membangga-banggakan diri dengannya, tetapi mereka tidak mengikuti agama Ibrahim, agama yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw., nabi yang didoakan Ibrahim a.s. agar diutus Allah di kemudian hari. Mereka mengetahui yang demikian tetapi mereka bersikap seolah-olah tidak mengetahuinya. Bahkan kebanyakan mereka mengikuti agama yang diciptakan hawa nafsu mereka, yaitu mereka menyembah berhala, menyerikatkan Allah, mengatakan bahwa Allah mempunyai anak dan sebagainya.
Ayat ini merupakan berita gembira bagi Ibrahim a.s. bahwa beliau telah dipilih Allah di dunia di antara hamba-hamba-Nya dan di akhirat termasuk di dalam golongan orang-orang yang saleh.


131 Ketika Tuhannya berfirman kepadanya:` Tunduk patuhlah! Ibrahim menjawab: `Aku tuduk patuh kepada Tuhan semesta alam`.(QS. 2:131)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 131
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ (131)
Pada ayat ini Allah memerintahkan agar Ibrahim menjadi muslim, mengakui keesaan Allah dan memurnikan ketaatan hanya kepada-Nya saja. Yang dimaksud dengan "tunduk patuhlah" di sini ialah tunduk dan patuh kepada agama Allah, agama yang sesuai dengan akal pikiran serta dengan dalil-dalil atau bukti-bukti yang nyata, agama yang akan dilanjutkan penyampaiannya oleh rasul-rasul yang datang kemudian, termasuk Nabi Muhammad saw.
Karena itu Ibrahim a.s. langsung menjawab perintah Allah itu tanpa menanyakan sesuatu pun: "Aku tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta alam". Maksudnya ialah memurnikan ketaatan dan ketundukan hanya kepada Allah saja; seluruh wajahku aku hadapkan kepada-Nya; ibadatku, hidupku dan matiku untuk Tuhan semesta alam.
Firman Allah swt.:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (79)
Artinya:
Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (Q.S Al An'am: 79)


132 Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yaqub, (Ibrahim berkata): `Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam`.(QS. 2:132)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 132
وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (132)
Pada ayat ini Ibrahim a.s. dan Yakub a.s. berwasiat kepada putra-putranya, bahwa Allah swt. telah memilih agama untuk mereka dan menganut agama itu selama-lamanya.
Agama yang dimaksud itu dijelaskan oleh ayat selanjutnya yaitu: "dan janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam."
Allah swt. menegaskan bahwa agama yang hak di sisi-Nya ialah agama Islam.
Firman Allah swt.:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (19)
Artinya:
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Q.S Ali Imran: 19)
Dan firman Allah swt.:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)
Artinya:
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (Q.S Ali Imran: 85)
Agama yang dibawa Ibrahim itu terdapat pula di dalam kitab Musa (Taurat).
Firman Allah swt.:

إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى (18) صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى (19)
Artinya:
Sesungguhnya ini (agama Islam) terdapat di dalam kitab-kitab yang dahulu (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa. (Q.S Al A'la: 18,19)
Firman Allah swt.:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ
Artinya:
Katakanlah (hai orang-orang mukmin), "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya." (Q.S Al Baqarah: 136)
Dan Allah swt. tidak membeda-bedakan seorang dari nabi-nabi dan rasul-rasul yang diutus-Nya.
Allah swt. berfirman:

لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136)
Artinya:
Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. ((Q.S Al Baqarah: 136)
)
Karena itu Allah swt. memerintahkan Nabi Muhammad dan kaum muslimin beriman kepada para nabi dan rasul-Nya. Iman kepada para nabi dan rasul serta apa yang dibawanya termasuk rukun iman.
Dari perkataan "Ibrahim telah mewasiatkan...." dapat dipahami:
\ 1.Bahwa yang diwariskan itu adalah suatu hal yang sangat penting. Berbahaya bagi kehidupan bila wasiat itu tidak dilaksanakan. Karena itu di dalam ayat dipakai perkataan:
a."Wasiat" bukan "memerintahkan". Perkataan "wasiat" menunjukkan bahwa sesuatu itu sangat penting.b."Anak-anaknya" bukan "orang lain". Menurut biasanya berwasiat kepada "anak-anak sendiri" itu diharapkan lebih mungkin terlaksana dibandingkan dengan wasiat kepada orang lain.
2.Di dalam ayat ini disebut bahwa yang berwasiat itu ialah Ibrahim a.s. dan Yakub a.s. seakan perkataan itu dipisahkan. Hal ini memberi pengertian bahwa yang disuruh melaksanakan wasiat itu bukan hanya keturunan Ibrahim a.s. dan cucunya Yakub a.s. (Bani Israil) saja, tetapi wasiat itu mencakup seluruh anak cucu Ibrahim dan seluruh kaum muslim, termasuk di dalamnya keturunan Ismail a.s.


133 Adakah kamu hadir ketika Yaqub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: `Apa yang kamu sembah sepeninggalku?` Mereka menjawab: `Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.`(QS. 2:133)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 133
أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (133)
Ayat ini diturunkan dan diarahkan kepada orang Yahudi, ketika mereka bertanya kepada Rasulullah saw.: "Tidaklah engkau mengetahui bahwa Yakub di hari-hari menghadapi kematiannya mewasiatkan kepada putra-putranya agar memeluk agama Yahudi? Maka turunlah ayat ini yang membantah ucapan mereka itu.
Ayat ini menentang kebenaran ucapan orang-orang Yahudi, kenapa mereka berani mengucapkan demikian. Apakah mereka hadir waktu Yakub berwasiat itu, sehingga mereka itu mengatakan Yakub beragama Yahudi atau Nasrani? Sebabnya mereka tidak menghadirinya, karena itu janganlah mengada-adakan mengatakan sesuatu yang tidak ada, seperti mengatakan Ibrahim beragama Yahudi atau Nasrani, dan sebagainya. Yang diwasiatkan Yakub kepada putranya ialah agar mereka menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa agar mereka menganut agama Islam. Agama yang dianut Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, Isa dan yang dianut para nabi.


134 Itu adalah umat yang lalu; baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.(QS. 2:134)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 134
تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ وَلَا تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (134)
Ayat ini mengisyaratkan umat-umat yang dahulu dan perbuatan-perbuatan mereka, yaitu umat Nabi Ibrahim dan nabi-nabi yang didoakannya yang telah diterangkan pada ayat sebelum ini.
Ayat ini menegaskan bahwa manusia itu dinilai dan dibalas berdasarkan amalnya, tidak seorang pun yang dapat menolong mereka selain Allah.


135 Dan mereka berkata: `Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk`. Katakanlah: `Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik`.(QS. 2:135)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 135
وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (135)
Berkata Ibnu Abbas bahwa ayat ini diturunkan berhubungan dengan sikap pemuka-pemuka Yahudi di Madinah, yaitu Ka'ab bin Asyraf, Malik bin Saif, Abu Yasir bin Akhtab dan sikap pemuda Nasrani penduduk Najran. Sesungguhnya mereka telah menentang kaum muslimin sehubungan dengan agama mereka. Tiap-tiap golongan dari mereka mendakwakan: Sesungguhnya golongan mereka yang lebih berhak dengan agama Allah dari golongan yang lain. Maka berkata golongan Yahudi, "Nabi kami Musa adalah nabi yang paling utama dan kitab kami Taurat adalah kitab yang paling utama yang melebihi Isa dan Injil serta Muhammad dan Alquran." Berkata pula golongan Nasrani, "Nabi kami Isa adalah nabi yang paling utama; kitab kami Injil adalah kitab yang paling utama. Agama kami adalah agama yang paling utama melebihi Muhammad dan Alquran." Tiap-tiap golongan itu berkata kepada orang-orang mukmin, "Jadilah kamu sekalian pemeluk agama kami, tidak ada agama selain agama kami" Mereka mengajak memasuki agama mereka. Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban atas perkataan, pengakuan dan ajakan mereka itu.
"Hanif" berarti "yang lurus" tidak cenderung kepada yang batil. "Agama yang hanif" ialah agama yang benar, agama yang mencapai jalan yang benar, jalan kebahagiaan dunia dan akhirat bahkan agama yang belum dicampuri oleh sesuatu pun, tidak bergeser sedikit pun dari asalnya.
Ayat ini seolah-olah menyuruh Rasulullah saw. mengatakan: "Hai, orang-orang Yahudi, Nasrani dan musyrik Mekah, kami tidak mengikuti agamamu, di dalamnya tidak ada petunjuk ke jalan yang benar dan karena agama itu telah banyak dicampuri oleh tangan-tangan manusia, tetapi kami akan mengikuti agama Ibrahim yang kamu bangga-banggakan itu, karena di dalam agama itu memurnikan ketaatan hanya kepada Allah saja, dan karena agama itu belum dicampuri oleh tangan manusia sedikit pun.
Disebut "kaum muslimin mengikuti agama Ibrahim yang hanif" adalah untuk menyadarkan orang-orang Yahudi dan Nasrani dari perbuatan-perbuatan mereka. Mereka menyatakan keturunan Ibrahim a.s. tetapi mereka tidak bersikap, berbudi pekerti dan berpikir seperti Ibrahim a.s. Mereka menyatakan pengikut agama Ibrahim, tetapi mereka telah merubah-rubahnya, dan tidak meliharanya seperti yang dilakukan Ibrahim a.s.
Dari ayat ini dapat dipahami, bahwa Allah swt. mengingatkan umat Muhammad saw. agar selalu waspada terhadap agama mereka dan selalu berpedoman kepada Alquran dan Sunah Nabi, jangan sekali-kali mengikuti hawa nafsu sehingga berani merubah, menambah dan mengurangi agama Allah.
Dari perkataan "dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang-orang musyrik" dapat dipahami bahwa agama Ibrahim itu adalah agama tauhid, agama yang mengakui keesaan dan kekuasaan Allah swt.
Firman Allah swt.:

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (26)
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadat, dan orang-orang yang rukuk dan sujud." (Q.S Al Hajj: 26)


136 Katakanlah (hai orang-orang mukmin): `Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya`.(QS. 2:136)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 136
قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (136)
Ayat ini memberi petunjuk cara mengemukakan bantahan dan dalil-dalil dalam bertukar pikiran, yaitu dengan membandingkan antara azas suatu agama dengan agama lain dan sebagainya.
"Al-Asbat" ialah anak cucu nabi Yakub a.s. Yang dimaksud dengan beriman kepada nabi-nabi yang tersebut di atas ialah beriman bahwa nabi-nabi itu adalah nabi Allah, dan telah diperintahkan mengajak orang-orang di masanya beriman kepada Allah swt. Prinsip-prinsip pokok agama yang dibawa oleh nabi itu adalah sama, yaitu ketauhidan.
Perkataan "kami tunduk patuh kepada-Nya" merupakan sindiran yang tajam yang ditujukan kepada orang-orang Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik Mekah. Karena mereka mengatakan dan mengakui diri mereka pengikut Ibrahim as sedang Ibrahim a.s. tidak mensekutukan Allah, sebagai yang telah mereka lakukan.


137 Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 2:137)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 137
فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (137)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa pengakuan iman ahli Kitab berbeda dengan pengakuan iman kaum muslimin. Ahli Kitab hanya beriman kepada nabi-nabi yang diutus kepada mereka saja, tidak beriman kepada nabi-nabi Allah yang lain. Iman mereka dipengaruhi oleh hawa nafsu mereka sendiri. Karena itu mereka berani menambah, dan mengurangi agama Allah. Orang-orang yang beriman dan mengikuti hawa nafsu mereka adalah orang-orang yang berada dalam permusuhan dengan kaum muslimin.
Dari perkataan "sesungguhnya berada dalam permusuhan dengan kamu" dapat dipahami bahwa di dalam ahli Kitab ada perasaan tidak menyukai Rasulullah saw. itu bukan karena mereka tidak menyukai agama yang dibawa Nabi Muhammad saw. tetapi karena rasul terakhir itu tidak diangkat dari golongan mereka.
Perkataan "Allah akan memelihara kamu dari mereka" merupakan janji Allah kepada Muhammad saw. dan kaum muslimin bahwa Allah swt. pasti akan memelihara mereka dan pasti akan memenangkan mereka dalam perjuangan menegakkan agama Allah.


138 Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.(QS. 2:138)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 138
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ (138)
Ayat ini menegaskan bahwa iman yang sebenarnya ialah iman yang tidak dicampuri oleh unsur-unsur syirik.
Berkata Ibnu Jarir: "Sesungguhnya orang-orang Nasrani bila dilahirkan untuk mereka seorang anak, maka mereka datang kepada pendeta pada hari yang ketujuh, mereka memandikannya dengan air yang disebut "Al-Ma'mudi" untuk membaptisnya. Mereka mengatakan, "Ini adalah kesucian pengganti khitan." Maka apabila mereka telah mengerjakannya jadilah anak itu seorang Nasrani yang sebenarnya. Maka Allah menurunkan ayat ini.
"Sibgah Allah" berarti "celupan Allah." Maksudnya ialah iman kepada Allah yang tidak disertai sedikit pun dengan kemusyrikan. Hal ini ditegaskan oleh perkataan "dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah" tidak kepada yang lain.
Hal ini ditegaskan oleh firman Allah swt.:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (30)
Artinya:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah; (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S Ar Rum: 30)
Ayat ini menerangkan bahwa dalam menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan agama haruslah digunakan kaidah-kaidah atau dalil-dalil agama, tidak boleh didasarkan kepada hawa nafsu dan keinginan manusia.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa manusia tidak dapat menghapus atau membersihkan dosa manusia yang lain, atau menerima taubatnya seperti yang dilakukan orang-orang Nasrani dengan membaptis anak-anak mereka. Yang membersihkan dan menghapus dosa seseorang ialah usaha orang itu sendiri sesuai dengan petunjuk Allah, dan hanya Allah saja yang dapat menerima taubat seseorang.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Baqarah 138
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ (138)
(Celupan Allah) 'mashdar' yang memperkuat 'kami beriman' tadi. Mendapat baris di atas sebagai maf`ul muthlak dari fi`il yang tersembunyi yang diperkirakan berbunyi 'Shabaghanallaahu shibghah', artinya "Allah mencelup kami suatu celupan". Sedang maksudnya ialah agama-Nya yang telah difitrahkan-Nya atas manusia dengan pengaruh dan bekasnya yang menonjol, tak ubah bagai celupan terhadap kain. (Dan siapakah) maksudnya tidak seorang pun (yang lebih baik celupannya dari Allah) shibghah di sini menjadi 'tamyiz' (dan hanya kepada-Nya kami menyembah).


139 Katakanlah: `Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati.(QS. 2:139)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 139
قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ (139)
Diriwayatkan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata, "Wajiblah manusia mengikuti agama kami, karena nabi berasal dari kami, agama diturunkan atas kami, tidak pernah ada (dijanjikan) nabi-nabi dan agama kepada orang Arab." Maka Allah menolak pendapat mereka dengan ayat ini.
Dengan ayat ini Allah swt. menjawab pengakuan orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan menegaskan bahwa tiada alasan bagi mereka mengatakan yang demikian. Allah swt. Tuhan semesta alam, Pencipta dan Pemilik seluruh makhluk. Derajat manusia bukan diukur dengan bangsa, keturunan dan pangkatnya, tetapi diukur dengan amal dan perbuatannya. Bekas perbuatan itu nampak pada diri setiap manusia dan tingkah lakunya. Perbuatan yang baik memberi bekas yang baik, sebaliknya perbuatan yang buruk memberi bekas yang buruk pula. Hanya Allahlah yang dapat menilai dan menghisab perbuatan itu.
Bekas perbuatan buruk pada orang-orang Yahudi dan Nasrani itu tergambar di dalam ucapan mereka.
Firman Allah swt.:

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111)
Artinya:
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani." Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, "Tunjukkanlah bukti kebenaran jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Q.S Al Baqarah: 111)
Dan firman Allah swt.:

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى تَهْتَدُوا قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (135)
Artinya:
Dan mereka berkata, "Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi dan Nasrani niscaya kamu mendapat petunjuk." Katakanlah, "Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang-orang musyrik." (Q.S Al Baqarah: 135)
Akhir ayat ini menegaskan bahwa agama yang benar itu ialah agama yang berasaskan tauhid, agama yang memurnikan ketaatan kepada Allah semata. Agama itulah yang dibawa Nabi Muhammad saw. untuk seluruh manusia hingga akhir zaman.


140 Ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah:` Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya? `Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.(QS. 2:140)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Baqarah 140
أَمْ تَقُولُونَ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطَ كَانُوا هُودًا أَوْ نَصَارَى قُلْ أَأَنْتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللَّهُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَتَمَ شَهَادَةً عِنْدَهُ مِنَ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (140)
Ayat ini menerangkan pengakuan yang lain dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, yaitu semua nabi dan rasul menganut agama mereka. Mereka melakukan segala macam usaha untuk menguatkan dan membenarkan mereka itu sekalipun usaha itu dilarang Allah swt.
Allah swt. mengungkapkan kesalahan-kesalahan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang mengemukakan hujahnya dalam usaha membenarkan ucapan mereka. Kesalahan itu ialah mereka mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya memeluk agama Yahudi dan agama Nasrani padahal para nabi itu telah ada sebelum agama Yahudi dan Nasrani ada. Perkataan "Yahudi" baru dikenal setelah Nabi Musa a.s. meninggal dunia, dan perkataan Nasrani timbul dan dikenal setelah Nabi Isa a.s. meninggal dunia. Kenapa mereka mengatakan yang demikian, padahal perkataan itu tidak sesuai dengan kenyataan sejarah dan logika yang benar. Apakah yang demikian karena mereka lebih mengetahui atau Allah yang lebih mengetahui? Apakah perkataan itu sengaja mereka ucapkan hanya sekadar untuk membantah kerasulan Muhammad saw.?
Maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani mengucapkan perkataan yang demikian dijelaskan oleh kalimat berikutnya ialah untuk menyembunyikan syahadah Allah.
"Syahadah Allah" ialah persaksian Allah yang tersebut di dalam Taurat dan Injil bahwa Ibrahim a.s. dan anak cucunya bukan penganut agama Yahudi dan bukan penganut agama Nasrani, bahwa Allah swt. akan mengutus Muhammad sebagai nabi dan rasul terakhir yang berasal dari keturunan Ismail a.s. Perbuatan "menyembunyikan syahadah Allah" itu termasuk perbuatan yang paling zalim di sisi Allah, karena perbuatan itu berakibat menyesatkan manusia dari jalan Allah, jalan kebenaran dan jalan kebahagiaan.
Karena itu Allah swt. memperingatkan mereka dan Allah tidak lengah sedikit pun terhadap segala macam perbuatan hamba-hamba-Nya baik yang nampak maupun yang tidak nampak, baik yang besar maupun yang kecil sekalipun.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [15]
Ayat 121 s/d 140 dari [286]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).

Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
free counters