Tafsir Surat : 'ALI-IMRAN

Get 100MB Free Web Hosting at Jabry.com

type=text/javascript> vBulletin_init();

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

::Home:: | Indonesia | English | Dutch | Sejarah | Hadist | Al Qur'an? | Adab | Al-Ma'tsurat | TAJWID | Artikel | Free Mobile Aplications | Sms Quran & Hadist
Radio-FajriFm | Pendidikan | Menyimak & Mengkaji | The Noble Quran | Memahami Quran | eBooks | Kisah Muallaf | *HadistWeb* | Tanda2 Bagi yg Ber-Akal
Tafsir Al-Azhar | Ponsel Quran | Belajar Baca | Qr.Recitation | Qr.Explorer | QuranTools | Qur’an Flash | Qurany.net | {Radio Dakwah/TV} | QuranTV-Mp3

Gunakan browser internet explorer untuk dapat mendengarkan Murotal (Audio)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : 'ALI-IMRAN
Ayat [200]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:5/10
 
81 Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi:` Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya `. Allah berfirman:` Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? `Mereka menjawab:` Kami mengakui `. Allah berfirman:` Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu `.(QS. 3:81)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 81
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ الشَّاهِدِينَ (81)
Allah SWT menerangkan bahwa Dia telah mengambil perjanjian dari para nabi bilamana datang seorang rasul yang membenarkan kitab dun hikmah yang ada pada mereka, mereka akan beriman dengan dia dan akan menolongnya, mereka itu akan mempercayainya, meskipun mereka sendiri telah diberi Al Kitab dan diberi pula hikmah, mereka tetap akan mempercayai dan mendukungnya. Hal itu disebabkan karena maksud dari diutusnya nabi-nabi dan Rasul-rasul itu adalah satu. Yaitu menyampaikan ajaran Allah. Oleh karena itu para Rasul itu harus menguatkan tolong-menolong.
Di samping itu apabila syariat yang datang terkemudian itu membawa ketentuan-ketentuan yang mengubah atau menghapuskan ketentuan-ketentuan dari syariat yang lalu, tentulah harus diterima, karena ajaran yang berhubungan dengan pokok-pokok agama yang berhubungan dengan keimanan dan ketuhanan yang dibawa para nabi itu adalah sama. Tetapi yang berhubungan dengan syariat (hukum) seperti hukum pidana dan hukum perdata pada masing-masing agama dapat berbeda-beda, disesuaikan dengan keadaan waktu dan tempat.
Yang dimaksud dengan "Nabi Muhammad saw membenarkan rasul-rasul terdahulu dan kitab-kitab yang dibawanya", ialah membenarkan bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul itu dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka Dan bukanlah berarti bahwa Muhammad saw membenarkan seluruh isi kitab-kitab itu sebagai yang terdapat sekarang.
Di dalam ayat ini terdapat isyarat yang kuat, bahwa tidak semestinya agama itu menjadi sumber permusuhan dan kebencian, seperti yang telah dilakukan oleh Ahli Kitab yang memusuhi Nabi Muhammad saw, sehingga sukarlah mereka diajak kembali kepada prinsip-prinsip yang sama, bahkan mereka merintangi, menentang dan mengingkari ajakannya.
Dengan ringkas dapat dikatakan, bahwa andaikata Ahli Kitab itu memikirkan dari segi persamaan prinsip yang dibawa oleh para nabi, tentulah mereka dapat menerima dan mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. serta membenarkan syariat-Nya, sesuai dengan janji yang telah diikrarkan oleh Nabi Musa as dan Nabi `Isa as yaitu bahwa setiap datang seorang nabi sesudah mereka, yang membenarkan Kitab yang ada pada mereka, mereka akan mempercayainya.
Jika orang-orang Yahudi dan Nasrani percaya kepada Nabi Musa dan Nabi Isa, tentu mereka percaya pula pada apa yang telah dipercayai oleh kedua nabi itu. Seterusnya Allah SWT menerangkan, bahwa janji nabi-nabi yang telah disepakati bersama itu telah dipersaksikan oleh masing-masing pihak, dun Allah SWT menjadi saksi pula atas ikrar mereka itu.


82 Barangsiapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.(QS. 3:82)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 82
فَمَنْ تَوَلَّى بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (82)
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa barangsiapa yang berpaling dari perjanjian yang telah diikrarkan itu, mereka itulah orang-orang yang fasik.
Yang dimaksud dengan orang-orang yang berpaling ialah orang-orang Yahudi yang berada di masa Rasulullah saw. Mereka ini tidak mempercayai kenabian Muhammad saw yang berarti mereka tidak mempercayai perjanjian yang telah diikrarkan oleh Nabi Musa dan Nabi `Isa as itu. Mereka mengetahui perjanjian yang telah diikrarkan oleh Nabi Musa clan Nabi `Isa itu dan mengetahui isinya, akan tetapi mereka tidak melaksanakannya. Karena itulah mereka dinamakan orang-orang fasik.


83 Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.(QS. 3:83)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 83
أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ (83)
Allah SWT tidak membenarkan sikap Ahli Kitab itu, dengan mencelanya karena mereka itu menyeleweng dari kebenaran, setelah kebenaran itu nampak jelas bagi mereka dan tidak mau memeluk agama Islam yang datang dari Allah SWT.
Allah SWT menegur mereka mengapa mereka berbuat demikian, padahal semua langit dan bumi tunduk kepada Allah dan takluk kepada ketentuan-Nya.
Secara ringkas dapat diterangkan bahwa orang-orang Yahudi itu tidak percaya kepada agama yang dibawa Nabi Muhammad saw, padahal nabi-nabi mereka mempercayai Nabi Muhammad saw, yang akan datang kemudian. Dengan tidak percayanya orang-orang Yahudi kepada Nabi Muhammad saw berarti mereka tidak percaya kepada nabi-nabi mereka sendiri' dan berarti mereka mencari agama selain Islam. Sikap mereka itu dicela oleh Allah SWT karena apa saja yang ada di langit dan di bumi ini semuanya tunduk dan patuh kepada Allah SWT mengapa mereka tidak berbuat demikian?
Kemudian Allah menjelaskan bahwa kepada Allah lah kembalinya semua makhluk, baik orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, maupun umat-umat selain mereka. Pada saat itulah mereka akan diberi balasan, sesuai dengan perbuatan mereka di dunia.
Di dalam ayat ini terdapat ancaman keras bagi orang-orang Ahli Kitab baik orang-orang Yahudi maupun orang-orang. Nasrani, karena mereka telah menyeleweng dari kebenaran, serta tidak mau mengakui kenabian Muhammad saw.


84 Katakanlah:` Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yaqub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri. `(QS. 3:84)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 84
قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَالنَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (84)
Di dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw termasuk orang-orang yang mengikutinya agar mempercayai, bahwa Allah SWT pasti ada-Nya. Maha Esa serta mempunyai kekuasaan yang tidak terbatas terhadap seluruh isi alam, dan memerintahkan pula kepadanya untuk mempercayai Kitab Alquran yang diturunkan kepadanya. Di samping itu harus mempercayai pula bahwa Allah SWT telah menurunkan wahyu kepada para Nabi yang terdahulu yaitu Nabi Ibrahim, Ismail, Ishak. Yakub, nabi-nabi keturunan Yakub, dan wahyu yang disampaikan kepada Musa, Isa dan nabi-nabi yang lain yang diutus Allah, yang berfungsi sebagai petunjuk bagi umatnya. Wahyu yang disampaikan kepada para nabi itu mempunyai prinsip dan tingkat yang sama, sesuai dengan firman Allah SWT.

إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبين من بعده
Artinya:
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang kemudiannya.
(Q.S An Nisa': 163)
Nabi Musa dan Nabi `Isa as disebutkan dalam ayat ini secara khusus. adalah karena pembicaraan dalam ayat ini dan ayat sebelumnya serta sesudahnya bersangkut-paut dengan orang-orang Nasrani dan Yahudi.
Sesudah itu Allah SWT menyebutkan nabi-nabi yang lain untuk memberikan gambaran kepada orang-orang yang beriman agat mereka juga mempercayai nabi-nabi yang lain dan wahyu-wahyu yang diturunkan kepada mereka seperti Nabi Daud, Nabi Ayub dan lain-lain. Termasuk pula nabi-nabi yang menerima wahyu, akan tetapi tidak dikisahkan Allah di dalam Alquran kepada kita.
Perintah untuk mempercayai kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad didahulukan penyebutannya dari pada perintah percaya kepada Kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi yang diutus sebelumnya, padahal menurut kenyataannya Kitab-kitab itu diturunkan sebelum Alquran itu adalah untuk memberikan ketegasan bahwa Alquran itu adalah sebagai sumber yang benar untuk mengetahui Kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya, dan karena Alquran itu mengakui kebenaran Kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya itu. Oleh karena itulah maka kenabian dari para nabi yang telah disebutkan dalam Alquran itu wajib kita percayai secara prinsip, sesuai dengan keterangan yang telah diberikan oleh Alquran.
Sesudah itu Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw dun umatnya untuk mengatakan bahwa ia dan umatnya tidak membeda-bedakan derajat para rasul itu, oleh sebab itu orang-orang yang beriman tidak boleh mempercayai sebagian isi Alquran itu tetapi mengingkari sebagiannya yang lain, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani terhadap kitab-kitab mereka.
Selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa orang-orang Mukmin hendaklah membersihkan diri dari perbuatan dosa.
Ayat ini diawali dengan perintah untuk beriman kepada Allah dan diakhiri dengan perintah untuk "berserah diri taat dan patuh" untuk memberikan penjelasan tentang tujuan dari setiap agama yang dibawa para nabi.


85 Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(QS. 3:85)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 85
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85)
Allah SWT menetapkan, bahwa barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, atau tidak mau tunduk kepada ketentuan-ketentuan Allah, maka imannya tidak akan diterima.
Sebagai contoh dikemukakan, orang-orang musyrik dan orang-orang yang mengaku beragama tauhid padahal mereka mempersekutukan Allah, seperti penganut agama Nasrani agama yang tidak berhasil membawa pemeluk-pemeluknya tunduk di bawah kekuasaan Allah SWT Yang Maha Esa, agama yang semacam ini hanyalah merupakan tradisi belaka, yang tidak dapat mendatangkan kemaslahatan kepada pemeluknya, bahkan menyeret mereka ke lembah kehancuran, dan menjadi sumber permusuhan di antara manusia di dunia, serta menjadi sebab penyesalan mereka di akhirat.
Selanjutnya Allah SWT menegaskan, bahwa orang-orang yang mencari agama selain Islam itu untuk menjadi agamanya, di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi, sebabnya ialah, karena ia telah menyia-nyiakan `akidah tauhid yang sesuai dengan fitrah manusia.


86 Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.(QS. 3:86)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 86
كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (86)
Allah SWT menjelaskan bahwa ada orang-orang yang kembali menjadi kafir sesudah beriman, dan bahwa Allah tidak akan memberikan kepada mereka jalan untuk mendapatkan petunjuk. Sebabnya ialah karena mereka tidak mengakui berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad saw yang tercantum dalam kitab-kitab mereka. Semula mereka berkeinginan untuk mengikuti Nabi Muhammad apabila mereka diberi umur panjang, dan apabila diutus dari kalangan mereka. Akan tetapi setelah ternyata Nabi Muhammad saw datang, dan dia bukanlah dari kalangan mereka, merekapun mengingkarinya, meskipun kedatangan Nabi Muhammad itu disertai dengan bukti-bukti yang nyata tentang kenabiannya. Orang-orang yang mulanya beriman kemudian kafir kembali, berarti mereka menganiaya diri sendiri, dan Allah SWT tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang menganiaya diri sendiri itu, karena Allah telah menerangkan, bahwa petunjuk kepada jalan yang benar itu hanya dapat berkesan. apabila seseorang itu bersih jiwanya, sehingga ia dapat menerima bukti-bukti kebenaran dari petunjuk itu. Akan tetapi kalau seorang hatinya telah dinodai oleh kelaliman maka ia akan menyeleweng dari jalan yang benar. Oleh sebab itu mereka tidak akan mungkin lagi menerima petunjuk Allah.


87 Mereka itu, balasannya ialah: Bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya,(QS. 3:87)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 87
أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (87)
Dalam ayat ini Allah SWT menandaskan, bahwa mereka itu pantas mendapat kemurkaan Allah, malaikat dan manusia seluruhnya, dan menerangkan bahwa manusia umumnya akan melaknati mereka yang murtad dari imannya itu; karena manusia umumnya, bila mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya, tentu akan melaknati mereka sesuai dengan firman Allah:

وقال إنما اتخذتم من دون الله أوثانا مودة بينكم في الحياة الدنيا ثم يوم القيامة يكفر بعضكم ببعض ويلعن بعضكم بعضا
Artinya:
Dan berkata Ibrahim "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah, adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain)".
(Q.S Al Ankabut)


88 mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh,(QS. 3:88)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 88
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ (88)
Orang-orang yang kafir sesudah beriman akan menerima kemurkaan dan siksa dari Allah selamanya Mereka akan kekal di dalam neraka Jahanam tanpa ada keringanan sedikitpun, dan tidak mendapat pengampunan karena alasan apapun, karena yang menyebabkan mereka mengalami siksaan itu ialah keingkaran dan kekafiran yang telah meresap dalam hati mereka. Sebab itu kebencian dan kemurkaan Allah tak dapat dihindarkan dengan alasan apapun juga, dan azab Allah terhadap mereka tak dapat ditunda-tunda.


89 kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 3:89)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 89
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَأَصْلَحُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ (89)
Allah SWT menerangkan bahwa orang-orang yang betul-betul bertobat dari perbuatannya dan kembali ke jalan yang benar, dengan meninggalkan kekafirannya, kemudian betul-betul menyesali perbuatannya yang salah dan memperbaiki masa depan dengan mengisinya dengan amal saleh, bersedia memupuk imannya dengan ajaran-ajaran yang benar, serta mau merubah tingkah lakunya yang jahat yang mengotori jiwanya, bagi mereka masih dibuka pintu tobat yang selebar-lebarnya.
Dalam ayat ini terdapat suatu isyarat, bahwa orang-orang yang bertobat. akan tetapi tidak dibuktikan dengan amal yang baik, maka tobatnya tidak ada artinya menurut pandangan agama.
Banyak orang yang menyatakan dirinya bertobat. dengan disertai penyesalan dan beristigfar akan tetapi kemudian mereka mengulangi perbuatan jahatnya itu. Orang yang semacam itu tobatnya tidak memberi pengaruh sedikitpun di dalam jiwanya dan tidak sanggup mengobati penyakitnya.
Seandainya mereka dapat membuktikan tobatnya dalam bentuk perbuatan-perbuatan nyata niscaya mereka itu mendapat pengampunan dari Allah, dan mendapat Rahmat-Nya.
Mengenai sebab turunnya ayat-ayat tersebut di atas (ayat 86 sampai dengan ayat 89) dapat dikemukakan sebuah Hadis:

عن ابن عباس قال: كان رجل من الأنصار اسلم ثم ارتد ولحق بالشرك ثم ندم فسأل قومه أن ارسلوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم هل لي من توبة؟ فنزلت: كيف يهدي الله قوما كفروا بعد إيمانهم إلى قوله: فإن الله غفور رحيم فارسل إليه قومه فأسلم
Artinya
Ibnu Abbas berkata: "Ada seorang laki-laki dari golongan Ansar masuk Islam, kemudian ia murtad dan menggabung ke golongan orang musyrik lalu ia menyesal. Maka dia minta kepada kaumnya agar ditanyakan kepada Rasulullah saw: "Bisakah diterima tobat saya?". Kemudian turunlah (ayat 86) sampai dengan (ayat 89). Maka disampaikanlah oleh kaumnya kepadanya, maka Islamlah dia kembali".
(HR Imam Nasa'i, Ibnu Hibban dan Al Hakim)


90 Sesungguhnya orang-orang kafir sesudah beriman, kemudian bertambah kekafirannya, sekali-kali tidak akan diterima taubatnya; dan mereka itulah orang-orang yang sesat.(QS. 3:90)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 90
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَنْ تُقْبَلَ تَوْبَتُهُمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الضَّالُّونَ (90)
Yang dimaksud dengan orang-orang kafir dalam ayat ini ialah Ahli Kitab yang beriman (percaya) akan kedatangan Nabi Muhammad yang tersebut dalam kitab-kitab mereka. Akan tetapi setelah Nabi Muhammad datang dan diangkat menjadi rasul, mereka kafir, bahkan kekafirannya berlebih-lebihan, yaitu dengan mengingkari, menentang dan memusuhinya. Orang-orang yang. semacam ini tobat mereka sekali-kali tidak akan diterima oleh Allah.
Penegasan Allah SWT bahwa tobat mereka sekali-kali tidak akan diterima dalam ayal ini, berbeda dengan penegasan dalam ayat-ayat yang lalu dan juga di ayat-ayat yang lain; dalam ayat yang lain Allah berfirman:

وهو الذي يقبل التوبة عن عباده
Artinya
"Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-h6mbaNya".
(Q.S Asy Syura: 25)
Sebetulnya ayat ini tidak berlawanan dengan ayat yang sebelumnya dan juga dengan ayat-ayat yang lain, karena dalam ayat ini yang dimaksud dengan kafir ialah Ahli Kitab yang sebelumnya telah mengetahui kedatangan Nabi Muhammad saw. Kemudian setelah Nabi Muhammad diutus mereka mengingkarinya. Dan kekafiran mereka bertambah-tambah dan menjadi-jadi, sehingga tidak mungkin lagi diterima tobat mereka, seperti diterangkan oleh firman Allah:

ثم ازدادوا كفرا
Artinya:
"Kemudian bertambah-tambahlah kekafiran mereka".
(Q.S Ali Imran: 90)
Sebenarnya jiwa yang baik ialah jiwa yang mau menyesali perbuatan-perbuatan dosa, kemudian menjauhkan diri dari dosa itu. Jiwa yang demikian masih bisa diharapkan menerima ampunan. Akan tetapi jiwa yang kotor, yang telah menjadi sarang kemusyrikan dun kekafiran serta dicekam oleh dorongan-dorongan berbuat dosa, yang menyebabkan hatinya terbelenggu untuk melihat cahaya kebenaran, hingga setiap ia ingin bertobat selalu ada yang menghalang-halanginya untuk menerima kebenaran. Jiwa yang serupa ini amat sukar untuk dibersihkan kembali seperti keadaannya semula.
Kemudian Allah SWT menegaskan, bahwa mereka adalah orang-orang yang betul-betul tersesat, karena mereka telah mengingkari kebenaran. Mereka itu telah menempuh jalan yang salah, karena itu mereka tidak akan bahagia. Mereka tidak ada harapan lagi untuk mendapat petunjuk dan tidak akan mendapat pengampunan selama-lamanya.


91 Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.(QS. 3:91)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 91
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَمَاتُوا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْ أَحَدِهِمْ مِلْءُ الْأَرْضِ ذَهَبًا وَلَوِ افْتَدَى بِهِ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (91)
Allah SWT menyatakan dengan tandas bahwa orang-orang yang bergelimang dalam kekafiran, dan terombang-ambing oleh perbuatan-perbuatan yang jahat, hingga ajal telah merenggut mereka, sedang mereka masih tetap dalam kekafirannya, sedikitpun mereka tidak akan diterima tebusannya, meskipun jumlah tebusan itu senilai dengan kekayaan emas seluruh isi bumi. Maksudnya ialah, andaikata mereka bersedekah dengan emas seberat isi bumi untuk dijadikan tebusan dosanya yang telah mereka lakukan, maka pahalanya tidak akan mampu untuk menyelamatkan dia dari siksaan neraka. Sebabnya ialah kekafiran itu melenyapkan amal-amal kebaikan mereka.
Yang dihargai Allah pada hari akhirat hanyalah iman kepada Allah, hari yang akhir, dan amal saleh yang mendekatkan diri kepada Allah SWT.
keterangan serupa ini dapat dilihat dalam firman Allah:

فاليوم لا يؤخذ منكم فدية ولا من الذين كفروا مأواكم النار هي مولاكم وبئس المصير
Artinya:
Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. dialah tempat berlindungmu. dan dia adalah sejahat-jahatnya tempat kembali.
(Q.S Al Hadid: 15)
Dengan demikian dapatlah dikatakan, bahwa pada Hari itu tidak ada jalan bagi mereka untuk menyelamatkan diri, baik dengan hartanya, maupun dengan pangkatnya. Segala urusan pada hari itu hanyalah didasarkan semata-mata pada kesucian jiwa, maka barangsiapa yang memelihara kesucian jiwanya dengan iman dan amal saleh mereka itu akan berbahagia. Sebaliknya, barangsiapa yang mengotorinya dengan kekafiran dan dengan amal yang jahat, ia akan merugi dalam arti yang sebenar-benarnya.


92 Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu manafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.(QS. 3:92)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 92
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ (92)
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa seseorang tidak akan mencapai tingkat kebaikan di sisi Allah, sebelum ia dengan ikhlas menafkahkan di jalan Allah harta yang dicintainya. Ayat ini erat hubungannya dengan firman Allah SWT.

يا أيها الذين ءامنوا أنفقوا من طيبات ما كسبتم
Artinya:
"Hai, orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik"
(Al Baqarah: 267)
Para sahabat Nabi, setelah diturunkan ayat ini, berlomba-lomba berbuat kebaikan. Di antaranya, Talhah seorang hartawan di kalangan Ansar datang kepada Nabi saw. memberikan sebidang kebun kurma yang sangat dicintainya untuk dinafkahkan di jalan Allah.
Oleh Nabi saw pemberian itu diterima dengan baik dan memuji keikhlasannya itu. Lalu Rasulullah menasihatkan supaya harta itu dinafkahkan kepada karib kerabatnya, maka Talhah membagi-bagikannya kepada karib kerabatnya, dengan demikian ia mendapat pahala sedekah dan pahala mempererat hubungan silaturrahmi dengan keluarganya itu. Setelah itu datang pula `Umar menyerahkan sebidang kebunnya yang ada di Khaibar, Nabi saw menyuruh pula supaya kebun itu tetap dipelihara, hanya hasil dari kebun itu merupakan wakaf dari `Umar.


93 Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Yaqub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah:` (Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar `.(QS. 3:93)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 93
كُلُّ الطَّعَامِ كَانَ حِلًّا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ إِلَّا مَا حَرَّمَ إِسْرَائِيلُ عَلَى نَفْسِهِ مِنْ قَبْلِ أَنْ تُنَزَّلَ التَّوْرَاةُ قُلْ فَأْتُوا بِالتَّوْرَاةِ فَاتْلُوهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (93)
Ayat ini membantah tuduhan-tuduhan para ahli kitab terhadap Agama Islam, yaitu tuduhan bahwa Nabi Muhammad saw. tidak mengikuti agama Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lainnya, seperti menghalalkan daging unta dan memutar kiblat dari Baitulmakdis ke Kakbah.
Ayat ini menerangkan bahwa semua makanan dihalalkan kepada Bani Israel dan juga kepada Nabi Ibrahim termasuk daging unta. Hanya beberapa makanan saja yang diharamkan oleh Nabi Yakub sendiri terhadap dirinya disebabkan beliau menderita penyakit, dan itu semuanya terjadi sebelum diturunkan Kitab Taurat. Lalu ada beberapa macam makanan yang diharamkan kepada Bani Israel sebagai hukuman atas kezalimannya, sebagai tersebut dalam firman Allah:

وعلى الذين هادوا حرمنا كل ذي ظفر ومن البقر والغنم حرمنا عليهم شحومهما إلا ما حملت ظهورهما أو الحوايا أو ما اختلط بعظم ذلك جزيناهم ببغيهم وإنا لصادقون
Artinya:
Dan kepada orang-orang Yahudi Kami haramkan segala binatang yang berkuku; dan dari sapi dan domba, Kami haramkan atas mereka lemak dari kedua binatang itu. selain lemak yang melekat di punggung keduanya atau yang di perut besar dan usus atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami hukum mereka disebabkan kedurhakaan mereka; dan sesungguhnya Kami adalah Maha Benar.
(Q.S Al An'am: 146)
Dan demikianlah pula tercantum dalam Alquran:

فبظلم من الذين هادوا حرمنا عليهم طيبات أحلت لهم وبصدهم عن سبيل الله كثيرا وأخذهم الربا وقد نهوا عنه وأكلهم أموال الناس بالباطل وأعتدنا للكافرين منهم عذابا أليما
Artinya:
Maka disebabkan kelaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, (dan) karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang dari padanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.
(Q.S An Nisa': 160-161)
Maka jelaslah bahwa makanan-makanan yang diharamkan kepada Bani Israel itu tidak diharamkan kepada pengikut syariat Nabi Ibrahim dan nabi-nabi lainnya sebelum Taurat diturunkan.
Dengan demikian batallah tuduhan mereka bahwa syariat Islam bertentangan dengan syariat Nabi Ibrahim karena menghalalkan makan daging unta. Mengharamkan sebagian makanan bagi Bani Israel adalah semata-mata karena mereka telah melanggar hukum-hukum Allah dan telah menganiaya diri sendiri. Hal ini juga tersebut dalam kitab Taurat, kitab mereka sendiri.
Oleh sebab itu Nabi Muhammad diperintahkan oleh Allah supaya menentang mereka dengan mengatakan "Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan Allah sebelum turun Taurat, maka bawalah Taurat itu lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar". Ternyata mereka tidak berani menjawab tantangan ini dan tidak mau membuka kitab Taurat, karena kalau mereka berani membuka Taurat tentulah tabir kebohongan mereka akan terungkap dan tuduhan-tuduhan mereka terhadap Agama Islam adalah palsu dan tidak beralasan. Hal ini membuktikan pula kebenaran ke-Nabian Muhammad saw., karena beliau dapat membantah tuduhan-tuduhan Bani Israil dengan isi Taurat itu sendiri, padahal beliau tidak pernah membacanya dan tidak pernah diberi kesempatan oleh orang-orang Yahudi untuk mengetahui isinya.


94 Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah sesudah itu, maka merekalah orang-orang yang zalim.(QS. 3:94)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 94
فَمَنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ (94)
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa jika orang-orang Yahudi itu masih berani lagi mengada-adakan kebohongan terhadap Allah padahal kedok mereka sudah terbuka dan segala alasan-alasan yang mereka kemukakan telah nyata tidak benarnya dan Nabi Muhammad pun dengan perantaraan wahyu dari Tuhannya telah mengetahui pula sebagian dari isi kitab mereka, maka pastilah mereka termasuk orang-orang yang zalim. Mereka bukan saja zalim terhadap diri sendiri karena tidak akan dipercayai lagi dan akan menerima hukuman dan siksaan Allah, tetapi mereka juga zalim terhadap orang lain, karena dengan kejahatan itu mereka menyesatkan umat dari jalan yang benar dan menghalangi manusia terutama pengikut-pengikut mereka untuk beriman kepada Nabi Muhammad saw. pembawa kebenaran dan sebagai rahmat bagi manusia seluruhnya.
Setiap orang yang berbuat seperti itu akan menemui kegagalan, akan menerima nasib yang buruk, akan dicap oleh masyarakat sebagai pembuat onar dan kekacauan dan akan dimurkai Allah dan akan disiksa-Nya dengan siksaan yang pedih di akhirat nanti.


95 Katakanlah:` Benarlah (apa yang difirmankan) Allah `. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.(QS. 3:95)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 95
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (95)
Pada ayat ini Allah memerintahkan pula kepada Nabi Muhammad saw., supaya mengatakan kepada orang Yahudi bahwa apa yang diberitahukan Allah kepada beliau dengan perantaraan wahyu, tentang semua makanan yang baik-baik pada mulanya halal bagi Bani Israil sebelum Taurat diturunkan dan halal pula bagi umat-umat sebelum Nabi Musa dan memang ada beberapa jenis makanan yang diharamkan bagi mereka dalam Taurat sebagai hukuman atas kedurhakaan mereka, semua itu adalah benar-benar datang dari Allah SWT yang tak dapat disangkal kebenaran-Nya, karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.
Oleh karena itu hendaklah orang-orang Yahudi mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw, karena agama yang dibawanya pada prinsipnya sama dengan yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan janganlah mereka tetap mengharamkan daging unta dan susunya, sebab tidak ada larangan untuk makan dagingnya dan minum susunya baik dalam syariat Nabi Ibrahim maupun dalam syariat nabi-nabi lainnya termaksud sayriat Islam. Apalagi Nabi Ibrahim itu bukanlah seorang musyrik dan agama yang dibawanya adalah agama tauhid yang murni seperti Agama Islam, tidak mempersekutukan Allah dan tidak menyembah selain Dia, bukan seperti golongan mereka (Yahudi) yang mengatakan, `Uzair anak Allah dan bukan pula seperti orang-orang Nasara yang mengatakan bahwa, Isa anak Allah.


96 Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.(QS. 3:96)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 96
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (96)
Ayat ini merupakan jawaban terhadap orang Yahudi tentang pemindahan kiblat dari Baitulmakdis ke Kakbah. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa berkiblat ke Baitulmakdis itu, telah dibenarkan oleh para nabi. Bahkan Nabi Ibrahim sendiri berkiblat ke sana Tuduhan Yahudi dibantah dengan ayat 96 dan 97 ini.
Kedua ayat ini jelas menerangkan bahwa rumah pertama yang dijadikan tempat ibadah manusia dalam salat dan berdoa ialah Kakbah yang ada di Mekah, yang didirikan oleh Nabi Ibrahim as, dan Ismail. Setelah itu baru didirikan Masjidilaksa di Baitulmakdis beberapa ratus tahun kemudian oleh Nabi Sulaiman bin Daud. Oleh karena Ibrahim yang membangun Baitullah di Mekah, maka jelas sekali bahwa Nabi Muhammad saw. itu mengikuti agama Nabi Ibrahim as. dan mengikuti pula kiblatnya dalam salat.
Nabi Ibrahim as, setelah mendirikan Kakbah itu berdoa supaya tempat di sekitarnya diberkati oleh Allah SWT.

ربنا إني أسكنت من ذريتي بواد غير ذي زرع عند بيتك المحرم ربنا ليقيموا الصلاة فاجعل أفئدة من الناس تهوي إليهم وارزقهم من الثمرات لعلهم يشكرون
Artinya
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian. itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
(Q.S Ibrahim: 37)


97 Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.(QS. 3:97)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 97
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ (97)
Suatu bukti lagi bahwa Nabi Ibrahim lah yang mendirikan Kakbah, adanya makam Ibrahim di samping Baitullah, yaitu sebuah batu yang dipergunakan sebagai tempat berdiri oleh Nabi Ibrahim as. ketika mendirikan Kakbah bersama-sama dengan putranya Ismail as. Bekas telapak kakinya itu tetap ada dan dapat disaksikan oleh siapa yang ingin melihatnya sampai sekarang.
Dan barang siapa masuk ke tanah Mekah (daerah haram) terjamin keamanan dirinya dari bahaya musuh dan keamanan itu tidak bagi manusia saja, tetapi sampai pula kepada binatang-binatangnya, tidak boleh diganggu dan pohon-pohonnya tidak boleh ditebang.
Setelah Nabi Ibrahim as. mendirikan Kakbah lalu beliau disuruh oleh Allah menyeru seluruh umat manusia agar mereka berziarah ke Baitullah untuk menunaikan ibadah haji. Ibadah haji ini dianjurkan oleh Nabi Ibrahim as, dan tetap dilaksanakan umat Islam sampai sekarang sebagai rukun Islam yang kelima. Setiap orang Islam yang mampu diwajibkan. menunaikan ibadah haji sekurang-kurangnya sekali seumur hidup.
Barang siapa yang mengingkari kewajiban ibadah haji ini, maka ia termasuk golongan orang-orang kafir.


98 Katakanlah:` Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan? `.(QS. 3:98)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 98
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا تَعْمَلُونَ (98)
Dengan ayat ini Allah mencela para ahli kitab yang tetap tidak membenarkan kenabian Muhammad saw, padahal bukti-bukti atas kenabian itu sudah cukup banyak dan cukup jelas. Dengan keingkaran dan kekafiran itu mereka selalu berusaha memecah-belah kaum muslimin dan melemahkan posisi mereka.
Ayat ini diturunkan sekaligus bersama ayat 99 dan sebab turunnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Zaid bin Aslam dari Ibnu Yazid, bahwa:
"Seorang yang bernama Syas bin Qais yang sangat ingkar dan selalu menyerang agama Islam, lewat di hadapan beberapa orang sahabat Rasulullah yang terdiri Kabilah 'Aus dan Khazraj. Mereka sedang duduk bersama-sama membicarakan beberapa persoalan.
Hal ini sangat menjengkelkan hati orang itu, karena dilihatnya kaum muslimin amat kuat persatuan mereka dan amat dalam rasa kasih sayang antara sesama mereka, meskipun mereka dahulunya bermusuhan di masa Jahiliah. Ia berkata dalam hatinya: Kabilah ini (`Aus dan Khazraj) telah bersatu padu di negeri ini. Demi Allah kami tidak akan tenteram selama mereka mempunyai persatuan yang kokoh itu. Lalu ia menyuruh seorang pemuda Yahudi yang kebetulan berada di sampingnya supaya duduk bersama sahabat-sahabat Nabi itu dan membicarakan perang Bu'as yang terjadi antara kabilah `Aus dan Khazraj dan dimenangkan oleh kabilah `Aus. Di samping membangkitkan permusuhan lama antara kedua kabilah itu, pemuda itu mengucapkan pula beberapa bait syair peperangan yang pernah diucapkan mengenai perang Bu'as itu. Akhirnya timbullah pertentangan di antara para sahabat Nabi dan tampillah dua orang mereka, yaitu `Aus bin Qaizi; salah seorang dari Bani Harisah dari kalangan `Aus dan Jabbar bin Sakhr salah seorang dari Bani Salamah dari kalangan Khazraj. Masing-masing melemparkan kata-kata yang menyakitkan sehingga salah seorang dari mereka mengatakan; kalau kamu mau marilah kita hidupkan kembali peperangan itu, akhirnya memuncak kemarahan mereka dan masing masing golongan meneriakkan "marilah bersiap untuk memanggul senjata", dan berjanji akan bertempur di suatu tempat namanya Azzahirah di luar kota Madinah.
Maka berkumpullah kaum Khazraj demikian pula kaum 'Aus bersiap untuk bertempur sebagaimana mereka lakukan di masa Jahiliah. Peristiwa ini segera disampaikan kepada Rasulullah dan beliau pergi ke tempat mereka berkumpul bersama orang-orang Muhajirin dan mengucapkan kata-kata sebagai berikut:
"Hai kaum muslimin! Kenapa kamu mengucapkan kata-kata di antara sesamamu seperti ucapan-ucapanmu di masa Jahiliah ? padahal aku berada di tengah-tengah kamu? Kamu sudah mendapat petunjuk dari Allah untuk menganut agama Islam dan Allah telah memuliakan kamu dengan agama itu dan memutuskan hubunganmu dengan masa Jahiliah dan telah membebaskan kamu dari kekafiran dan telah mempersatukan hati kamu dengan rasa kasih sayang. Apakah kamu ingin menjadi kafir kembali?
Mendengar ucapan Rasulullah ini sadarlah mereka bahwa mereka terperdaya oleh bisikan setan dan masuk ke dalam perangkap tipu daya musuh-musuh Islam, lalu mereka melemparkan senjata dan menangis tersedu-sedu, masing-masing kaum `Aus dan Khazraj itu berpeluk-pelukan dan bubarlah mereka kembali ke tempat masing-masing karena patuh dan taat kepada perintah Rasul dan padamlah api kemarahan yang dibangkit-bangkitkan oleh Syas bin Qais, musuh Islam itu".
Maka turunlah ayat ini dan ayat berikutnya sebagai celaan atas tingkah laku orang-orang kafir.
Khusus mengenai `Aus bin Qaizi bersama beberapa orang dari kalangan kabilah `Aus dan Jabbar bin Sakhr bersama beberapa orang dari kabilah Khazraj yang ikut dalam peristiwa persengketaan tersebut turun pula ayat 100 surat ini.


99 Katakanlah:` Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan? `. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.(QS. 3:99)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 99
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ آمَنَ تَبْغُونَهَا عِوَجًا وَأَنْتُمْ شُهَدَاءُ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (99)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa para Ahil Kitab menginginkan supaya agama Allah bengkok dan menyimpang dari tujuan yang benar dengan merubah sifat-sifat Muhammad saw, dan membuat-buat dusta kepada Allah, padahal mereka sendiri menanti-nantikan kenabian Muhammad saw, di dalam hati kecil mereka sendiri. Allah mengutuk sifat dengki yang tersembunyi dalam dada para pemimpin Ahli Kitab itu. Allah sekali-kali tidak akan lengah tentang kepalsuan mereka.


100 Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.(QS. 3:100)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 100
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ (100)
Seorang Yahudi bernama Syas bin Qais yang sangat benci dan memusuhi kaum muslimin, pada suatu hari melalui kelompok sahabat Ansar, yang sedang berbicara dengan penuh rasa persaudaraan. Hal ini menyebabkan rasa dengki dihatinya terhadap sahabat-sahabat Ansar, yang hidup rukun dan damai itu. Dia berkata dalam hatinya: "Jika kaum muslimin hidup rukun dan bersatu padu, niscaya golongan Yahudi tidak akan mendapat kedudukan lagi di Madinah".
Karena itu ia menyuruh seorang pemuda Yahudi menghampiri sahabat-sahabat Ansar yang sedang berkumpul itu dan meniupkan api pertentangan di kalangan mereka dengan membangkit-bangkitkan kembali suasana perang saudara yang sering terjadi antara Kabilah `Aus dan Khazraj terutama waktu perang Bu'as di mana kabilah `Aus dapat mengalahkan kabilah Khazraj. Pemuda itu berhasil menimbulkan permusuhan, dengan menyebut-nyebut kejadian waktu perang Bu'as sehingga permusuhan yang sudah terkikis habis di kalangan `Aus dan kabilah Khazraj, timbul kembali, dan dengan segera mereka menghunus pedangnya masing-masing untuk bertempur.
Berita itu sampai kepada Nabi Muhammad saw. lalu beliau segera datang ke tempat itu bersama kaum Muhajirin dan Ansar. Dengan penuh kebijaksanaan beliau menasihati kaum `Aus dan Khazraj itu supaya jangan tergoda oleh hasutan pihak lawan dan mengajak mereka kembali kepada suasana damai dan memperkuat persaudaraan yang sudah dibina oleh Rasulullah saw. di Madinah. Beliau bersabda: "Mengapa kamu masih mengajak kepada suasana jahiliah lagi, padahal aku berada di tengah-tengah kamu? Allah telah memuliakan kamu dengan Agama Islam dan mempersatukan hati kamu dalam satu persaudaraan.
Maka sadarlah golongan `Aus dan Khazraj, bahwa mereka telah tertipu oleh godaan setan dan tipu muslihat musuh. Lalu mereka meletakkan senjata dan rangkul merangkul satu sama lain sambil mencucurkan air mata dan kembali bersama Rasulullah saw maka turunlah ayat ini.
Ayat ini melarang orang-orang yang beriman. mengikuti segolongan mereka ahli kitab karena mereka selalu mengadakan tipu muslihat terhadap kaum muslimin. Bila mereka mengikuti orang Yahudi. niscaya mereka akan terjerumus kembali ke dalam permusuhan dan kekafiran.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [10]
Ayat 81 s/d 100 dari [200]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).





Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
Counter Powered by  RedCounter
free counters
Bloggerian Top Hits