Tafsir Surat : AT-TAUBAH

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

::Home:: | Indonesia | English | Dutch | Sejarah | Hadist | Al Qur'an? | Adab | Al-Ma'tsurat | TAJWID | Artikel | Free Mobile Aplications | Sms Quran & Hadist
Radio-FajriFm | Pendidikan | Menyimak & Mengkaji | The Noble Quran | Memahami Quran | eBooks | Kisah Muallaf | *HadistWeb* | Tanda2 Bagi yg Ber-Akal
Tafsir Al-Azhar | Ponsel Quran | Belajar Baca | Qr.Recitation | Qr.Explorer | QuranTools | Qur’an Flash | Qurany.net | {Radio Dakwah/TV} | QuranTV-Mp3

Gunakan browser internet explorer untuk dapat mendengarkan Murotal (Audio)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AT-TAUBAH
Ayat [129]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:4/7
 
61 Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: `Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya`. Katakanlah: `Ia mempercayai semua yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di antara kamu`. Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka azab yang pedih.(QS. 9:61)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 61
وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (61)
Menurut sesuatu riwayat pada suatu ketika terjadilah pertemuan antara sesama orang munafik, di antara mereka adalah Jullas bin Suwaid bin Samit, Mikhasi bin Umar dan Wadi'ah bin Sabit. Di antara mereka ada yang hendak mempergunjingkan Nabi, maka sebagian mereka melarangnya dengan alasan kekhawatiran akan sampai kepada Nabi, dan ini akan menyusahkan mereka, lalu di antara mereka ada yang berkata: "Muhammad itu adalah terlalu percaya pada tiap-tiap sesuatu yang didengarnya asalkan saja kita bersumpah meyakinkannya." Maka turunlah ayat ini.
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa di antara golongan munafik terdapat orang-orang yang menyakiti Nabi Muhammad saw. mereka mempergunjingkannya dan mengatakan bahwa Nabi itu terlalu cepat terpengaruh tanpa memikirkan dan meneliti kebenaran sesuatu yang didengarnya itu. Tuduhan mereka ini atas dasar bahwa perlakuan Nabi Muhammad saw. kepada mereka serupa saja dengan perlakuan beliau kepada orang-orang mukmin secara umum. Hal mana menunjukkan bahwa Nabi itu dapat dipengaruhi sebagaimana beliau terpengaruh oleh ucapan-ucapan mereka. Atas dasar ini mereka memandang adanya suatu cacat pada Nabi Muhammad saw. dan cacat seperti ini jika terdapat pada penguasa seperti raja tentu akan tersingkirlah orang-orang yang baik, berkumpullah di sekeliling raja orang-orang yang pandai menjilat.
Setelah Allah menerangkan apa yang terjadi di kalangan orang-orang munafik itu, Muhammad saw. diperintah mendengar segala yang disampaikan kepadanya sambil mengadakan penelitian untuk membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang sesungguhnya dan yang dibuat-buat. Keadaan Nabi Muhammad saw. melebihi raja-raja (penguasa) yang meskipun mereka itu dipandang bijaksana namun adakalanya juga terpedaya oleh kata-kata manis dari para penjilat. Berlainan halnya dengan Nabi Muhammad saw. karena ia beriman kepada Allah yang selalu menuntun dan melindunginya. Ia mempercayai apa yang didengarnya dari orang-orang yang beriman dari kalangan Muhajirin dan Ansar yang telah menunjukkan ketabahan dalam menghadapi percobaan-percobaan dan fitnahan dari golongan orang-orang musyrik. Nabi itu bukanlah mendengar sesuatu dengan penelitian, tetapi dia juga pembawa rahmat bagi orang-orang yang beriman. Memanglah ia penyebab kegagalan dan kerugian bagi orang-orang yang penuh di hatinya kemunafikan, yang menyatakan sesuatu berlainan dengan apa yang disimpan dalam hatinya. Pada akhir ayat ini Allah menerangkan azab yang sepedih-pedihnya yang akan menjadi hukuman bagi orang-orang munafik yang menuduh Nabi dengan tuduhan-tuduhan yang tidak pada tempatnya.
Dari segi hukum, ayat ini mengandung larangan Tuhan menyakiti Rasul, baik pada masa hidupnya maupun sesudah wafatnya. Menyakiti Rasul pada masa hidupnya dapat berbentuk:
a. Meragukan kerasulannya atau menganggapnya ahli sihir. Orang-orang yang menyakiti Rasul seperti ini hukumnya kafir karena mereka mengingkari kerasulannya.
b. Mengganggu ketenangan rumah tangganya seperti bertamu terlalu lama atau berkata di hadapannya dengan suara keras. Pekerjaan seperti ini hukumnya haram sebagaimana diutarakan dalam Alquran. Firman Allah:

إِنَّ ذَلِكُمْ كَانَ يُؤْذِي النَّبِيَّ فَيَسْتَحْيِي مِنْكُمْ
Artinya:
Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu keluar).
(Q.S. Al-Ahzab: 53)
Dan firman-Nya lagi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari.
(Q.S. Al-Hujurat: 2)
Menyakiti Rasul setelah wafatnya sama halnya dengan menyakitinya pada masa hidupnya seperti mempergunjingkan ibu bapaknya, keluarganya dengan menghina dan menjelek-jelekkannya. Keimanan seseorang kepada Rasul menimbulkan rasa cinta kepadanya. Orang yang cinta kepada sesuatu, tentulah sesuatu yang dicintainya itu selalu dipandangnya besar dan mulia.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 61
وَمِنْهُمُ الَّذِينَ يُؤْذُونَ النَّبِيَّ وَيَقُولُونَ هُوَ أُذُنٌ قُلْ أُذُنُ خَيْرٍ لَكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَيُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ رَسُولَ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (61)
(Di antara mereka) orang-orang munafik (ada yang menyakiti Nabi) dengan mencelanya dan menyampaikan perkataannya kepada kaum munafikin (dan mereka mengatakan) bilamana mereka dicegah dari perbuatan tersebut supaya jangan menyakiti nabi ("Nabi mempercayai semua apa yang didengarnya.") yakni Nabi selalu mendengar apa yang dikatakan kepadanya dan selalu menerimanya. Bilamana kami bersumpah kepadanya bahwa kami tidak menyatakannya, maka dia mempercayai kami. (Katakanlah,) "Ia (mempercayai) mendengarkan (semua yang baik bagi kalian) bukannya mendengarkan hal-hal yang buruk (ia beriman kepada Allah, mempercayai) artinya selalu percaya (orang-orang mukmin) atas semua berita yang telah disampaikan mereka, akan tetapi ia tidak mempercayai orang-orang selain mereka. Huruf lam di sini adalah lam zaidah; dimaksud untuk memberikan pengertian yang membedakan antara iman karena sadar dan iman karena faktor lainnya (dan menjadi rahmat) bila dibaca rafa' maka diathafkan kepada lafal udzunun, dan bila dibaca jar maka diathafkan kepada lafal khairin (bagi orang-orang yang beriman di antara kalian." Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka siksa yang pedih).


62 Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin.(QS. 9:62)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 62
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ (62)
Ayat ini menerangkan tentang kebiasaan orang-orang munafik sebagaimana halnya dengan orang-orang yang membuat suatu kesalahan, umpama mencuri dan membunuh. Mereka itu selalu merasa dalam kesulitan karena mereka selalu dibayang-bayangi oleh akibat perbuatan-perbuatan mereka yang buruk yang mereka lakukan, dan mereka takut kepalsuan mereka diketahui oleh manusia. Mereka sering bersumpah sebagai suatu cara untuk menutupi kejahatan dan kemunafikan mereka.
Demikian kelakuan orang-orang munafik, mereka bersumpah untuk meyakinkan orang-orang mukmin bahwa apa yang disampaikannya tentang kelakuan buruk mereka baik merupakan menentang maupun memburukkan Rasulullah adalah tidak benar dengan maksud supaya orang-orang mukmin mengakui bahwa mereka adalah orang-orang yang bersih dari segala yang mereka tuduhkan. Mereka sering bersumpah dengan maksud mendapat keridaan serta mendapat kepercayaan dari orang-orang mukmin sehingga mereka dapat perlindungan dari orang-orang mukmin; semestinya mereka berusaha supaya mendapat keridaan Tuhan dan Rasul-Nya dengan iman yang sungguh-sungguh yang jauh dari kemunafikan dan keraguan jika benar-benar mereka ingin menjadi orang mukmin. Meskipun orang-orang mukmin dapat diyakinkan dengan jalan bersumpah, dan kebohongan mereka masih tertutup, namun Allah swt. tetap mengetahui segala sesuatu yang mereka perbuat dan sesuatu yang masih tersimpan di hati mereka. Maka ketika kemaslahatan menghendaki, Allah menurunkan kepada Rasul wahyu yang menjelaskan tentang semua yang mereka lakukan.
Diriwayatkan Ibnu Munzir dari Qatadah tentang sebab nuzulnya ayat, Qatadah berkata yang artinya sebagai berikut: "Kepada kami diberitahukan bahwa seorang laki-laki dari kalangan munafik berkata tentang golongan yang tidak turut pada peperangan Tabuk di mana turun ayat khusus mengenai mereka itu. Lelaki itu berkata: "Demi Allah bahwa sesungguhnya mereka yang tidak ikut berperang itu adalah orang-orang pilihan dan orang-orang yang mulia." Jika sekiranya benar apa yang dikatakan Muhammad tentulah mereka lebih jahat daripada keledai." Ucapan laki-laki itu didengar oleh laki-laki dari kalangan muslim, lalu ia berkata (sebagai jawaban terhadap orang-orang munafik itu): "Demi Allah, bahwa apa yang dikatakan Muhammad itu adalah benar dan engkau adalah paling jelek daripada himar (keledai)." Orang-orang muslim itu pergi kepada Rasulullah untuk menceritakan kejadian itu maka orang-orang munafik itu didatangkan menghadapi Nabi dan Nabi berkata: "Apakah yang mendorong engkau berkata demikian?" Orang munafik itu mengingkari laporan itu dan melaknati dirinya dengan bersumpah bahwa ia tidak pernah berkata demikian. Orang muslim itu berkata: "Hai Tuhanku, benarkanlah orang yang benar dan dustakanlah orang yang dusta." Maka turunlah ayat ini.


63 Tidakkah mereka (orang-orang munafik itu) mengetahui bahwasanya barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di dalamnya. Itu adalah kehinaan yang besar.(QS. 9:63)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 63
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّهُ مَنْ يُحَادِدِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَأَنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدًا فِيهَا ذَلِكَ الْخِزْيُ الْعَظِيمُ (63)
Semestinyalah orang-orang munafik itu segera menjadi sadar karena tidak mungkin mereka tidak mengetahui bahwa membuat-buat tuduhan terhadap Rasul seperti tuduhan berlaku curang dalam membagi zakat atau menuduh Rasul dengan sifat suka mendengar saja laporan tanpa meneliti kebenarannya adalah termasuk perbuatan menentang Allah dan Rasul-Nya. Dan orang yang demikian halnya akan mendapat ganjaran api neraka, kekal di dalamnya. Azab seperti ini adalah suatu kehinaan yang besar yang tentunya harus ditakuti.


64 Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: `Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)`. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.(QS. 9:64)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 64
يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ (64)
Ayat ini menggambarkan tentang tingkah laku orang-orang munafik yang pernah diungkapkan dalam peperangan Tabuk. Mereka itu merasa khawatir kalau-kalau diturunkan ayat atau surat yang menerangkan segala sesuatu yang mereka lakukan. Karena itulah Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. supaya mengatakan kepada mereka agar meneruskan ejekan-ejekan yang mereka lakukan. Orang-orang munafik adalah manusia yang tidak mempunyai pendirian, mereka berada antara iman dan kufur, mereka tidak percaya kepada kebenaran wahyu yang diturunkan kepada Rasul, mereka berada di antara cemas dan harap. Andaikata mereka mengingkari Rasul secara tegas tentulah mereka tidak akan cemas. Demikian juga jika mereka beriman kepada Rasul secara tegas. Karena mereka di antara iman dan kufur dan selalu mencela dan mengejek-ejek Nabi dan orang-orang mukmin, timbullah kekhawatiran dan kecemasan mereka kalau-kalau Allah menurunkan lagi ayat-ayat yang membukakan keaiban mereka dan menerangkan segala sesuatu yang ada pada mereka meskipun masih tersimpan pada hati mereka.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 64
يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ (64)
(Merasa takut) merasa khawatir (orang-orang munafik itu akan diturunkan terhadap mereka) yaitu kaum Mukminin (suatu surah yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka) yakni tentang kemunafikan mereka, tetapi sekalipun demikian mereka masih tetap memperolok-olokkannya (Katakanlah, "Teruskanlah ejekan-ejekan kalian.") perintah yang mengandung makna ancaman (Sesungguhnya Allah akan menyatakan) akan menampakkan (apa yang kalian takuti) yaitu kemunafikan kalian akan ditampakkan.


65 Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: `Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja`. Katakanlah: `Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?`(QS. 9:65)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 65
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65)
Ayat ini menggambarkan kepada Nabi Muhammad tentang tingkah laku orang-orang munafik itu yaitu manakala Nabi Muhammad saw. bertanya kepada mereka tentang ucapan-ucapan mereka yang berupa tuduhan yang sengaja dilontarkan kepada Muhammad saw. yang mengatakan seolah-olah Nabi itu mencari pengaruh, kekuasaan dan kekayaan, niscaya mereka akan menjawab bahwa mereka mengucapkan kata-kata demikian itu sekadar iseng (omong-omong kosong dan bersenda-gurau) tidak dengan sungguh-sungguh dan mereka mengira bahwa Nabi Muhammad saw. dapat memaafkan dan menerima dalih yang mereka kemukakan. Tetapi Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw. supaya mengatakan kepada kaum munafik bahwa tidaklah patut dengan cara-cara sinis mereka mengejek Allah dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya. Perbuatan demikian itu melampaui batas dan tidak ada yang melakukannya kecuali orang-orang yang ingkar kepada Allah.
Turunnya ayat ini erat hubungannya dengan peperangan Tabuk sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Munzir dari Qatadah, ketika Rasulullah saw. pada peperangan Tabuk melihat segolongan manusia di hadapannya mengatakan: "Apakah laki-laki ini (Muhammad) mengharapkan akan memperoleh istana dan benteng di negeri Syam, tidak mungkin, tidak mungkin." Allah memberitahukan kepada Nabi-Nya apa yang dibicarakan oleh segolongan manusia tersebut, maka Muhammad saw. berkata: "Kamu telah berkata begini begitu." Mereka menjawab: "Hai Nabi Allah, kami hanya bersenda gurau dan main-main." Maka turunlah ayat ini.


66 Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan daripada kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.(QS. 9:66)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 66
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)
Pada Ayat ini Allah menerangkan bahwa tak ada gunanya mereka meminta maaf dengan mengemukakan dalih seperti tersebut pada ayat 65 karena sesungguhnya orang-orang munafik itu telah kembali menjadi kafir sesudah beriman, mereka mengejek Nabi dan memandang rendah kepada beliau. Sikap demikian itu terhadap Rasul menunjukkan kekosongan jiwa mereka dari keimanan. Mereka telah melakukan dosa yang sangat besar karena dengan sengaja menghina Nabi dan mengingkari Allah. Jika sekiranya segolongan orang-orang munafik benar-benar melakukan tobat atas dorongan iman yang sesungguhnya, seperti seseorang yang bernama Mikhasy bin Humair, tentulah Allah menerima tobatnya dan Allah tetap mengazab orang-orang munafik yang masih terus-menerus bergelimang dalam dosa kemunafikan.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 66
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِنْ نَعْفُ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)
(Tidak usah kalian meminta maaf) akan hal tersebut (karena kalian kafir sesudah beriman) artinya kekafiran kalian ini tampak sesudah kalian menampakkan keimanan. (Jika Kami memaafkan) bila dibaca memakai ya berarti menjadi mabni maf'ul sehingga bacaannya menjadi ya'fa. Jika dibaca memakai huruf nun, berarti mabni fa'il, dan bacaannya seperti yang tertera pada ayat (segolongan daripada kalian) lantaran keikhlasan dan tobatnya, seperti apa yang dilakukan oleh Jahsy bin Humair (niscaya Kami akan mengazab) dapat dibaca tu`adzdzib dan dapat pula dibaca nu`adzdzib (golongan yang lain disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa) yakni, karena mereka selalu menetapi kemunafikannya dan selalu melancarkan ejekan-ejekan.


67 Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.(QS. 9:67)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 67
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67)
Ayat ini menerangkan tentang adanya persamaan di kalangan orang-orang munafik baik pria maupun wanita baik mengenai sifat-sifat mereka maupun mengenai akhlak dan perbuatan mereka. Masing-masing saling menganjurkan kepada yang lainnya berbuat kemungkaran seperti yang diterangkan oleh Nabi saw.:

آية المنافق ثلاث: إذا حدث كذب وإذا وعد أخلف وإذا ائتمن خان
Artinya:
Tanda orang munafik itu ada tiga. Apabila ia berbicara berdusta, apabila ia berjanji mungkir, dan apabila ia dipercayai berkhianat.
(H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Demikian juga orang munafik itu masing-masing saling melarang sesamanya berbuat baik seperti melakukan jihad dan mengeluarkan harta untuk amal-amal sosial terutama perang sabil sebagaimana firman Allah:

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لَا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا
Artinya:
Merekalah orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar): "Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang (Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).
(Q.S. Al-Munafiqun: 7)
Semua itu disebabkan mereka lupa kepada kebesaran Allah, lupa kepada petunjuk-petunjuk agama-Nya dan lupa kepada siksa-Nya, tegasnya mereka lupa mendekatkan diri kepada Allah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sebagaimana tidak terlintas di hati sanubari mereka kewajiban berterima kasih atas nikmat-nikmat yang diberikan Tuhan sehingga mereka mengikuti kehendak nafsu mereka dan godaan setan. Maka sewajarnyalah pula Allah melupakan mereka dengan menjauhkan mereka dari karunia taufik-Nya di dunia dan karunia ganjaran pahala di akhirat. Sesungguhnya orang-orang munafik yang tetap dalam kemunafikannya itu merupakan manusia yang paling fasik di dunia ini bahkan mereka lebih rendah dari orang-orang kafir biasa, karena orang kafir ini sekadar jatuh pada kesalahan iktikad terhadap Tuhan mengenai keesaan atau mengenai adanya Tuhan. Berlainan halnya dengan orang-orang munafik itu di mana mereka sengaja membuat kesalahan baik mengenai akidah atau pun mengenai akhlak dan tindak tanduk perbuatan yang jauh menyimpang dari fitrah manusia yang murni.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 67
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ (67)
(Orang-orang munafik laki-laki dan orang-orang munafik perempuan sebagian dari mereka dengan sebagian yang lain adalah sama) yakni mereka mempunyai sikap dan sepak terjang yang sama, perihalnya sama dengan setali tiga uang (mereka menyuruh membuat yang mungkar) berupa kekafiran dan maksiat-maksiat (dan melarang berbuat yang makruf) berupa keimanan dan ketaatan (dan mereka menggenggam tangannya) daripada berinfak di jalan ketaatan (mereka telah lupa kepada Allah) artinya mereka tidak mau taat kepada-Nya (maka Allah melupakan mereka) dibiarkannya mereka melupakan pertanda sifat pemurah Allah. (Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik).


68 Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka; dan Allah melaknati mereka; dan bagi mereka azab yang kekal,(QS. 9:68)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 68
وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ (68)
Ayat ini menerangkan ancaman Tuhan kepada orang-orang munafik baik pria maupun wanita dan ancaman-Nya kepada orang-orang kafir. Allah mengancam semua mereka itu dengan azab api neraka dan mereka kekal abadi di dalamnya. Cukuplah api neraka itu sebagai siksaan terhadap mereka di akhirat, dan mereka mendapat kutukan Tuhan di dunia dan di akhirat serta mereka tidak berhak mendapat rahmat Allah. Azab Tuhan terus-menerus menimpa mereka baik azab fisik maupun siksaan batin yang tak habis-habisnya. Mereka tidak dapat melihat wajah Allah karena melihat wajah Allah itu tidak dikaruniakan kepada orang-orang yang mengingkarinya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 68
وَعَدَ اللَّهُ الْمُنَافِقِينَ وَالْمُنَافِقَاتِ وَالْكُفَّارَ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا هِيَ حَسْبُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ مُقِيمٌ (68)
(Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka) sebagai pembalasan dan hukuman (dan Allah melaknat mereka) Dia menjauhkan mereka dari rahmat-Nya (dan bagi mereka azab yang kekal) yang abadi.


69 (keadaan kamu hai orang-orang munafik dan musyrikin adalah) seperti keadaan orang-orang yang sebelum kamu, mereka lebih kuat daripada kamu, dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kamu. Maka mereka telah menikmati bagian mereka, dan kamu telah menikmati bagianmu sebagaimana orang-orang yang sebelummu menikmati bagiannya, dan kamu mempercakapkan (hal yang batil) sebagaimana mereka mempercakapkannya. Mereka itu, amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat; dan mereka itulah orang-orang yang merugi.(QS. 9:69)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 69
كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (69)
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang munafik yang menyakiti Nabi Muhammad dan orang-orang mukmin, mereka itu tidak ubahnya seperti orang-orang munafik yang terdapat pada masa dahulu. Jika kiranya pada masa Nabi Muhammad saw. mereka terpedaya oleh harta kekayaan dunia dan terpengaruh oleh anak-anak mereka, maka serupa itu pulalah orang-orang munafik pada masa dahulu dalam menghadapi utusan-utusan Allah. Mereka memiliki kekuatan, kekayaan harta benda yang cukup dan anak-anak yang banyak yang menyebabkan mereka terpedaya oleh kelezatan hidup dunia. Mereka selalu dipengaruhi oleh keinginan hidup mewah lagi ingin bebas berbuat semaunya untuk kepuasan hawa nafsunya. Demikian pulalah halnya orang-orang munafik di masa Nabi, mereka mengutamakan kehidupan dunia tanpa mengindahkan petunjuk-petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan suka mempercakapkan hal-hal yang batil. Orang-orang munafik pada masa dahulu memang wajar berlaku demikian karena faktor-faktor yang membawa mereka kepada kejahatan lebih banyak karena mereka mempunyai kekuatan dan kekayaan. Berlainan halnya dengan orang-orang munafik pada zaman Nabi Muhammad saw. di samping kekurangan kekuatan dan harta kekayaan, faktor-faktor yang membawa mereka berbuat kebaikan adalah lebih banyak. Semua perbuatan orang munafik meskipun berupa perbuatan yang baik adalah menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat karena melakukannya tanpa kejujuran dan keikhlasan. Maka seharusnya mereka menjadi orang-orang yang beruntung karena mereka juga turut melakukan amalan sosial, tetapi mereka lupa bahwa diterimanya sesuatu amalan yang baik itu adalah disertai dengan kejujuran dan keikhlasan. Kekeliruan sangkaan mereka ini digambarkan dalam firman Allah:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Artinya:
Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
(Q.S. Al-Kahfi: 103, 104)

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 69
كَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْكُمْ قُوَّةً وَأَكْثَرَ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا فَاسْتَمْتَعُوا بِخَلَاقِهِمْ فَاسْتَمْتَعْتُمْ بِخَلَاقِكُمْ كَمَا اسْتَمْتَعَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ بِخَلَاقِهِمْ وَخُضْتُمْ كَالَّذِي خَاضُوا أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (69)
Keadaan kalian hai orang-orang munafik (seperti keadaan orang-orang yang sebelum kalian, mereka lebih kuat daripada kalian dan lebih banyak harta benda dan anak-anaknya daripada kalian. Maka mereka telah menikmati) mereka telah bersenang-senang (dengan bagian mereka) maksudnya bagian duniawi mereka (dan kalian telah menikmati) hai orang-orang munafik (bagian kalian sebagaimana orang-orang yang sebelum kalian menikmati bagiannya dan kalian mempercakapkan) hal-hal yang batil dan mencela Nabi saw. (sebagaimana mereka mempercakapkannya) seperti apa yang biasa mereka pergunjingkan. (Mereka itu amalannya menjadi sia-sia di dunia dan di akhirat dan mereka itulah orang-orang yang merugi).


70 Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Mad-yan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(QS. 9:70)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 70
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (70)
Pada ayat ini Allah swt. mencela orang-orang munafik mengapa mereka tidak mengetahui cerita tentang umat-umat dahulu kala seperti umat Nabi Nuh, kaum `Ad dan Samud, kaum Ibrahim dan penduduk Madyan dan kaum Lut. Kepada mereka, Allah telah mengutus Rasul-rasul-Nya yang membawa petunjuk-petunjuk dari Allah, tetapi mereka sambut Rasul-rasul Allah itu dengan tantangan yang karenanya Allah turunkan kepada mereka azab seperti topan yang menenggelamkan kaum Nuh, angin yang membinasakan kaum Ad, dan petir yang membinasakan kaum Samud. Hal demikian itu tidaklah berarti Allah berbuat aniaya terhadap mereka itu, karena bertentangan dengan sifat keadilan Tuhan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri disebabkan mereka tidak mengindahkan petunjuk-petunjuk Allah yang dibawa oleh Rasul-rasul-Nya dengan disertai janji dan ancaman-Nya. Sunnatullah tidak akan berubah sebagaimana Allah menjatuhkan azab kepada orang-orang yang menentang rasul-Nya pada masa dahulu pasti pula di masa sekarang Allah akan mengazab orang-orang yang bersalah jika mereka tidak bertobat.


71 Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 9:71)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 71
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (71)
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang mukmin, baik pria maupun wanita saling menjadi pembela di antara mereka. Selaku mukmin ia membela mukmin lainnya karena hubungan seagama dan lebih-lebih lagi jika mukmin itu saudaranya karena hubungan darah. Wanita pun selaku mukminah turut membela saudara-saudaranya dari kalangan laki-laki mukmin karena hubungan seagama sesuai dengan fitrah kewanitaannya sebagaimana istri-istri Rasulullah dan istri-istri para sahabat turut pula ke medan perang bersama-sama tentara Islam untuk tugas menyediakan air minum dan menyiapkan makanan karena orang-orang mukmin itu sesama mereka terikat oleh tali keimanan yang membangkitkan rasa persaudaraan, kesatuan, saling mengasihi dan saling tolong menolong. Kesemuanya itu didorong oleh semangat setia kawan yang menjadikan mereka sebagai satu tubuh atau satu bangunan tembok yang saling kuat-menguatkan dalam menegakkan keadilan dan meninggikan kalimat Allah. Sifat mukmin yang seperti itu banyak dinyatakan oleh hadis-hadis Nabi Muhammad saw. antara lain, seperti sabdanya:

مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا شتكى منه عضو تداعى سائر الجسد بالحمى والسهر
Artinya:
Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, saling menyantuni dan saling membantu seperti satu jasad, apabila salah satu anggota menderita seluruh anggota jasad itu saling merasakan demam dan tidak tidur.
(H.R. Bukhari dan Muslim dari Nu'man bin Basyir)
Sifat saling membela tidak terdapat pada orang-orang munafik karena mereka diliputi oleh keraguan dan sifat pengecut. Persaudaraan ini di kalangan mereka sekadar ucapan permainan lidah sebagaimana diutarakan di dalam firman Allah:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ لَئِنْ أُخْرِجُوا لَا يَخْرُجُونَ مَعَهُمْ وَلَئِنْ قُوتِلُوا لَا يَنْصُرُونَهُمْ وَلَئِنْ نَصَرُوهُمْ لَيُوَلُّنَّ الْأَدْبَارَ ثُمَّ لَا يُنْصَرُونَ
Artinya:
Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: "Sesungguhnya jika kamu diusir, niscaya kami pun akan keluar bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu. Dan Allah menyaksikan bahwa sesungguhnya mereka benar-benar pendusta." Sesungguhnya jika mereka diusir, orang-orang munafik itu tidak akan keluar bersama mereka, dan sesungguhnya jika mereka diperangi, niscaya mereka tidak akan menolongnya, sesungguhnya jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari ke belakang, kemudian mereka tiada akan mendapat pertolongan.
(Q.S. Al-Hasyr: 11, 12)
Sifat-sifat yang dimiliki orang-orang mukmin itu berlainan dengan sifat-sifat orang-orang munafik itu, yaitu:
a. Orang-orang mukmin menyuruh manusia berbuat baik (amar makruf) sedang orang-orang munafik menyuruh manusia berbuat mungkar.
b. Orang-orang mukmin melarang manusia berbuat mungkar sedangkan orang munafik melarang manusia berbuat baik.
c. Orang-orang mukmin mengerjakan salat dengan khusyuk dan tawaduk dengan hati yang ikhlas sedang orang-orang munafik mengerjakan salat dalam keadaan terpaksa dan riya.
d. Orang-orang mukmin selain mengeluarkan zakat, tangan mereka terbuka untuk kesejahteraan umat dan memberikan sumbangan sosial sedang orang-orang munafik adalah kikir; jika mereka mengeluarkan zakat atau derma adalah karena khawatir dan riya bukan karena ikhlas kepada Allah sebagaimana dinyatakan di dalam firman Allah:

وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَى وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ
Artinya:
Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan salat melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan.
(Q.S. At Taubah: 54)
e. Orang-orang mukmin terus-menerus berada di atas ketaatan kepada Allah dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat dan mengerjakan segala perintah menurut kesanggupan sedang orang-orang munafik adalah orang-orang yang terus-menerus di atas perbuatan maksiat.
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia pasti akan melimpahkan rahmat-Nya baik di dunia maupun di akhirat kepada orang-orang mukmin sedang ayat-ayat yang lalu Allah akan melaknati orang-orang munafik dan mengancam mereka dengan api neraka. Sesungguhnya Allah swt. Maha Perkasa tidak seorang pun yang dapat menolak hukum-Nya dan Dia adalah Maha Bijaksana melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya sesuai dengan amalan-amalan yang telah dikerjakannya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 71
وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (71)
(Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa) tiada sesuatu pun yang dapat menghalang-halangi apa-apa yang akan dilaksanakan oleh janji dan ancaman-Nya (lagi Maha Bijaksana) Dia tidak sekali-kali meletakkan sesuatu melainkan persis pada tempat yang sesuai.


72 Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) syurga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di syurga Adn. Dan keredhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.(QS. 9:72)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 72
وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (72)
Pada ayat ini Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin baik pria maupun wanita untuk mendapatkan surga sebagai balasan terhadap amalan baik mereka. Surga itu ialah taman yang indah yang penuh dengan sesuatu yang tak pernah dilihat oleh mata dan tak pernah didengar oleh telinga dan malahan tak pernah terlintas di hati, semua yang dilihat dan didengar asing dan baru sehingga sulit diumpamakan karena tak ada bandingannya di dunia ini. Taman yang di bawah pohon-pohonnya mengalir sungai yang tidak menyerupai sungai-sungai di dunia ini baik warna maupun rasanya; orang-orang yang tinggal di dalamnya akan menetap selama-lamanya. Sabda Nabi saw. menerangkan tentang surga:

إن في الجنة مائة درجة أعدها الله للمجاهدين في سبيله كل درجتين ما بينهما كما بين السماء والأرض وإذا سألتم الله فاسألوه اللفردوس فإنه أوسط الجنة وأعلى الجنة، ومنه تفجر أنهار الجنة وفوقه عرش الرحمن
Artinya:
Pada surga terdapat seratus tingkatan. Allah menyediakannya untuk orang-orang yang berjihad menegakkan agama Allah. Jarak satu tingkat dengan tingkat yang lainnya sebagaimana jarak antara langit dan bumi. Apabila kamu memohon kepada Allah, mintalah surga Firdaus karena ini adalah surga yang tertinggi yang daripadanya terpancar sungai-sungai surga dan di atasnya Arasy Tuhan.
(H.R. Bukkari dan Muslim dari Hurairah)
Manusia adalah jasad dan ruh. Surga dengan segenap isinya memberikan kenikmatan paling tinggi kepada jasmani, keridaan Allah memberikan kenikmatan yang paling tinggi kepada rohani manusia. Kedua macam nikmat ini adalah karunia Tuhan yang dijanjikan-Nya kepada mukmin baik pria maupun wanita. Inilah karunia Allah yang merupakan kemenangan yang besar lagi tak ada taranya yang tak akan dapat mencapainya kecuali orang-orang beriman dan beramal saleh.


73 Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahannam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.(QS. 9:73)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 73
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (73)
Ayat ini mengandung perintah Allah kepada Nabi Muhammad supaya melakukan jihad terhadap orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan memperlakukan mereka itu dengan perlakuan yang keras. Melakukan jihad kepada orang-orang kafir adalah dengan pedang, sedang melakukan jihad kepada orang-orang munafik ialah menyadarkan mereka sebaik-baiknya dengan mengemukakan hujah-hujah yang diperlukan. Orang kafir seumpama orang Yahudi menyakiti Nabi saw. dengan cara yang menyakitkan perasaan; mereka mengucapkan kalimat salam kepada Nabi dengan merubah kata "assalamu `alaikum" dengan "assamu `alaikum", ucapan yang berarti "juga kematian atas kamu" dan Nabi pun tentulah membalasnya dengan ucapan "wa'alaikum" yang berarti "juga kematian atas kamu". Di samping itu mereka sering pula melanggar perjanjian. Terhadap orang-orang munafik Nabi selalu memperlakukan mereka dengan lemah-lembut sebagaimana halnya memperlakukan orang-orang mukmin. Tetapi sebaliknya orang-orang munafik selalu menyakiti Nabi umpama dengan melancarkan tuduhan-tuduhan yang mengutarakan bahwa Nabi itu pilih kasih dalam membagi harta rampasan perang dan zakat. Nabi itu mudah percaya kepada laporan tanpa diteliti dan sebagainya yang maksudnya mengejek Nabi. Karena itu Allah memerintahkan supaya Nabi Muhammad bertindak keras kepada mereka itu dengan maksud memberikan pelajaran kepada mereka dengan harapan supaya mereka menjadi sadar.
Sikap keras yang Nabi jalankan itu suatu siasat yang tinggi yang diatur oleh Allah dan kenyataannya berhasil karena dengan perlakukan seperti itu banyak orang-orang yang kafir dan munafik bertobat dan kembali beriman. Tetapi orang-orang yang masih belum sadar karena hanyut dan tenggelam dalam kemunafikan atau kekufuran, tempat mereka adalah neraka Jahanam untuk selama-lamanya, yang berarti mereka mendapat tempat paling buruk di akhirat.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 73
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (73)
(Hai Nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir) dengan senjata (dan orang-orang munafik itu) dengan memakai hujah dan lisan (dan bersikap keraslah terhadap mereka) dengan sikap keras dan benci. (Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya) yakni tempat yang paling buruk adalah neraka Jahanam.


74 Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.(QS. 9:74)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 74
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (74)
Orang-orang munafik itu bersumpah dengan nama Allah untuk meyakinkan orang-orang mukmin dan Nabi Muhammad saw., bahwa apa yang dilaporkan kepada Nabi saw. atau orang mukmin tentang tipu muslihat yang mereka perbuat atau kalimat kufur (kata yang merendahkan martabat Nabi Muhammad atau mengurangi kemahasucian Allah SWT.) yang mereka ucapkan tidaklah benar dan merupakan fitnahan belaka, mereka tidak mengaku bahwa mereka mengucapkan kalimat kufur dan mengucapkan kalimat makar terhadap Nabi Muhammad saw. Allah mendustakan pernyataan mereka itu meskipun mereka bersumpah dengan nama Allah. Sebenarnya mereka telah mengucapkan kalimat kufur yang berarti mereka telah murtad dan menjadi kafir kembali sesudah Islam dan malahan mereka telah melampaui batas dengan membuat komplotan untuk membinasakan Nabi sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir At-Tabary dan At-Tabrani dan Abu syekh, Ibnu Mardawaihi: "Ketika Rasulullah sedang duduk di bawah naungan sebuah pohon beliau berkata: "Akan datang kepadamu seorang manusia yang memandang kamu dengan dua matanya seperti mata setan. Apabila ia datang, maka janganlah kamu berkata-kata." Kemudian tiba-tiba muncullah seorang laki-laki yang warna matanya biru langit lalu Rasulullah memanggilnya dan berkata: "Atas dasar apa engkau dan sahabat-sahabatmu memaki aku?" Lalu laki-laki itu pergi kemudian datang kembali membawa sahabat-sahabatnya seraya bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak sekali-kali mengucapkan apa yang ditanyakan oleh Nabi. Maka Nabi memaafkan mereka kemudian turunlah ayat ini."
Adapun maksud mereka yang gagal itu dalam rangka menjebak Nabi ketika pulang kembali dari perang Tabuk ialah tatkala Nabi menuju Madinah. Di tengah perjalanan sebagian orang munafik berkomplotan untuk mencelakakan Rasulullah; mereka telah mengambil keputusan rahasia untuk melemparkan Nabi dari suatu bukit. Tatkala mereka sampai di bukit itu mereka hendak menempuhnya bersama-sama Nabi. Tatkala nabi datang kepada mereka (yang sedang menunggu) Nabi diberitahu tentang rencana mereka itu maka Nabi berkata: "Barang siapa di antara kamu hendak menempuh jalan kembali, hal itu adalah lebih menyenangkan kamu." Rasulullah sendiri menempuh jalan bukit dan rombongan lainnya menempuh jalan lembah kecuali orang-orang yang telah bermaksud melakukan makar terhadap Nabi. Mereka ini tatkala mendengar bahwa Rasul akan menempuh bukit, maka mereka bersiap-siap dan menyamar dengan menutup muka. Sesungguhnya mereka telah membulatkan tekad untuk melakukan perbuatan yang sangat luar biasa itu. Rasulullah menyeru Huzaifah Al-Yamani dan Ammar bin Yasir supaya berjalan bersama-sama Rasulullah. Ammar ditugaskan memegang tali unta dan Huzaifah Al-Yamani ditugaskan menghalau unta. Dalam keadaan demikian, tiba-tiba Nabi bersama Ammar dan Huzaifah mendengar suara kaki orang-orang yang datang dari belakang, maka Rasulullah menjadi marah dan menugaskan Huzaifah untuk menahan mereka. Setelah Huzaifah melihat Rasulullah marah, ia berbalik ke belakang, sedang di tangannya ada sebuah tongkat. Huzaifah menghadap ke arah orang-orang itu dan memukul kendaraan mereka dengan tongkat. Huzaifah melihat orang-orang itu dalam keadaan menyamar yang dianggap oleh Huzaifah sekadar perbuatan biasa yang dilakukan oleh orang-orang yang sedang dalam perjalanan (musafir). Ketika orang-orang itu melihat Huzaifah, Allah menjadikan mereka ketakutan karena menyangka bahwa maksud mereka telah diketahui.
Karena itu komplotan tersebut segera bergabung lagi dengan rombongan. Huzaifah kembali menemui Rasulullah, kemudian Rasul menyuruh Huzaifah melecut untanya, dan menyuruh Ammar berjalan di belakang sehingga Rasulullah dapat melewati bukit dan menanti romobongan. Kemudian Nabi berkata kepada Huzaifah: "Adakah engkau mengenal salah seorang dari kalangan pengendara itu?" Dia menjawab: "Aku kenal unta si Fulan. Malam terlalu gelap dan aku datang kepada mereka di mana mereka berpakaian menyamar." Rasulullah berkata: "Mereka itu telah merencanakan suatu makar untuk berjalan bersama aku dan manakala mereka sampai ke bukit, mereka akan melemparkan aku." Huzaifah berkata: "Tidakkah engkau (ya Rasulullah) memberi suatu perintah di mana kami akan cepat memenggal leher mereka itu?" Rasulullah menjawab: "Aku tidak ingin menjadi buah pembicaraan manusia bahwa Muhammad telah membunuh sahabat-sahabatnya." Maka Nabi mengemukakan kepada Huzaifah dan Ammar nama-nama orang yang berkomplot itu dan supaya mereka berdua merahasiakannya. Demikianlah orang-orang munafik yang diungkapkan oleh ayat itu.
Orang-orang munafik itu ialah orang-orang yang melaksanakan rukun-rukun Islam sedang hati mereka kosong dari keimanan. Keimanan mereka adalah secara lahir tidak pada batin dan malahan mereka memusuhi Rasul dan orang-orang mukmin dengan cara yang sangat licik sebagai musuh dalam selimut. Mereka adalah sangat berbahaya bagi Islam. Namun Nabi memperlakukan mereka sebagaimana memperlakukan orang-orang mukmin karena iman tempatnya di hati. Urusan hati hanyalah Allah yang mengetahuinya. Oleh karena itu berlakulah hukum umum yaitu hukum yang berdasarkan kepada kenyataan lahiriah.
Maka diperlakukanlah orang-orang munafik itu sebagaimana orang-orang mukmin. Kepada mereka diberikan pembagian zakat demikian juga harta rampasan (ganimah). Kebanyakan mereka dari kalangan orang-orang yang kurang mampu (miskin) sebagaimana orang-orang Ansar. Dengan masuk Islam mereka dapat menikmati harta dunia ini. Semestinya kalau mereka orang yang sadar tentulah mereka akan menanggalkan sifat-sifat kemunafikan mereka dan bersyukur ke Allah dengan bertobat kepada-Nya. Karena dengan Islamlah mereka mendapat keuntungan duniawi sesuai dengan yang mereka cari dan yang menjadi tujuan hidup mereka.
Tetapi mereka tidak menyadari. Bahkan mereka merasa tidak puas dalam menerima keuntungan dan kekayaan yang merupakan karunia Allah dari pembagian harta rampasan (ganimah) atau zakat. Demikianlah keadaan orang yang telah sesat pikirannya. Maka jika mereka bertobat dari kemunafikan dan perbuatan yang buruk baik berupa ucapan maupun perbuatan, maka tobat mereka akan membawa kebaikan bagi mereka di dunia dan akhirat. Di dunia mereka akan menjadi orang Islam sejati dengan iman yang murni. Mereka akan menjadi orang yang bertawakal kepada Allah dan sabar atas cobaan-cobaan-Nya dan banyak beramal kebaikan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat an mereka akan bahu-membahu, bantu-membantu, santun-menyantuni dengan orang-orang yang lebih dahulu masuk Islam dan di akhirat nanti mereka akan mendapat karunia Allah berupa surga sebagaimana yang dijanjikan Allah kepada orang-orang mukmin. Akan tetapi jika mereka tidak bertobat, dan berpaling menjauhkan diri dari petunjuk-petunjuk Allah dan mereka tetap melakukan perbuatan-perbuatan buruk, baik berupa ucapan-ucapan maupun perbuatan yang menunjukkan terus-menerusnya mereka dalam kemunafikan, niscaya Allah akan mengazab mereka di dunia ini seperti hati mereka dalam kecemasan, kegelisahan dan kekhawatiran sebagaimana yang diutarakan di dalam firman Allah:

لَوْ يَجِدُونَ مَلْجَأً أَوْ مَغَارَاتٍ أَوْ مُدَّخَلًا لَوَلَّوْا إِلَيْهِ وَهُمْ يَجْمَحُونَ
Artinya:
"Jika mereka memperoleh tempat perlindungan atau gua-gua atau lubang-lubang (dalam tanah) niscaya mereka pergi kepadanya dengan secepatnya." (Q.S. At Taubah: 57)

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka"
(Q.S. An Nisa': 145)
Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang munafik itu tidak akan mendapat pembela di dunia dan di akhirat karena tiap-tiap orang yang telah mendapat kehinaan dari Allah tidak seorang manusia pun sanggup menolongnya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 74
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ (74)
(Mereka berani bersumpah) yaitu orang-orang munafik (dengan memakai nama Allah bahwa mereka tidak mengatakan) sesuatu yang menyakiti hatimu. (Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan telah menjadi kafir sesudah Islam) yakni mereka telah menampakkan kekafirannya sesudah terlebih dahulu mereka menampakkan keislamannya (dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya) keinginan mereka untuk membunuh Nabi saw. pada malam Aqabah sewaktu beliau kembali dari Tabuk. Jumlah mereka yang mengadakan makar itu ada belasan orang lelaki akan tetapi Ammar bin Yasir segera bertindak memukuli muka-muka kendaraan mereka tatkala mereka mulai mengepung Nabi saw. sehingga mereka bubar (dan mereka tidak mencela) mengingkari Allah dan Rasul-Nya (kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan kecukupan kepada mereka sebagai karunia-Nya) berupa ganimah sesudah mereka sangat menginginkannya. Dengan kata lain mereka belum pernah menerima hal tersebut darinya melainkan hanya kali ini dan hal ini bukan merupakan hal yang diingkari. (Maka jika mereka bertobat) dari kemunafikannya lalu mereka benar-benar beriman kepadamu (itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling) dari keimanan (niscaya Allah akan mengazab mereka dengan siksaan yang pedih di dunia) dengan dibunuhnya mereka (dan di akhirat) dengan neraka (dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung) yang dapat melindungi mereka dari azab Allah itu (dan tidak pula penolong di muka bumi yang dapat mempertahankan diri mereka.


75 Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: `Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.`(QS. 9:75)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 75
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75)
Tersebut dalam riwayat yang diperoleh dari Hasan bin Sufyan, Ibnu Munzir bin Abu Hatim, Abu Syekh Asari dan lain-lain dari Abu Umamah Al-Bahili menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini yang maksudnya sebagai berikut: Seorang yang bernama Sa'labah bin Hatib datang menghadap Rasulullah saw. lalu berkata: "Ya Rasulullah, aku mohon didoakan semoga Allah memberikan aku harta dan kekayaan." Rasulullah saw. menjawab: "Kasihan engkau Sa'labah. Apakah engkau tak senang seperti aku ini? Kalau aku ingin agar Allah menyuruh gunung itu berjalan bersamaku pasti gunung itu akan berjalan." Sa'labah berkata lagi: "Ya Rasulullah, demi Allah yang telah mengutus engkau dengan benar. Aku ingin didoakan. Aku berjanji bila Allah telah memberi aku harta dan kekayaan, aku memberikan semua hak orang atas harta dan kekayaanku itu." Rasulullah saw. berkata: "Kasihan engkau ya Sa'labah, sedikit harta tapi disyukuri adalah lebih baik daripada banyak harta tapi tidak disyukuri." Maka Sa'labah berkata lagi: "Ya Rasulullah, aku mohon agar engkau mendoakan aku." Akhirnya Rasulullah mendoakan: "Ya Allah, berilah Sa`labah harta dan kekayaan." Dan sesudah Nabi mendoakan, Sa'labah membeli seekor kambing diusahakannya memelihara kambing baik-baik sehingga diberkati oleh Allah sampai berkembang biak, dan akhirnya kambing itu memenuhi padang yang luas.
Kini Sa'labah telah mempunyai harta yang banyak, dan tersebutlah ia sebagai seorang yang kaya raya. Salabah selalu sibuk dengan kambingnya yang banyak itu sehingga tidak cukup waktu salat berjemaah bersama Rasulullah saw. lagi. Kadang-kadang dapat berjemaah siang hari tetapi malam hari tak dapat lagi. Sedangkan kambingnya terus berkembang biak, sehingga padang yang luas tempat kambingnya sudah terasa sempit. Maka kesibukan Sa'labah bertambah lagi sehingga waktu salat Jumat pun tidak sempat. Begitu juga untuk menyalatkan orang mati yang biasanya ia rajin mendatangi. Semua waktunya sudah habis untuk mengurus kambing. Sering Rasulullah menanyakan Sa'labah karena tak tampak lagi di mesjid mengerjakan salat berjemaah dan salat Jumat. Setelah Rasulullah saw. mendapat kabar, bahwa Sa'labah sudah disibukkan oleh kambingnya yang banyak dan terus berkembang biak memenuhi sebuah padang yang luas, maka Rasulullah saw. berkata: "Telah celaka Sa'labah bin Hatib."
Kemudian ketika Allah swt. memerintahkan kepada Rasulullah saw. untuk memungut zakat dari orang-orang wajib zakat, maka Rasulullah mengutus dua orang untuk memungut zakat, seorang dari kaum Bani Juhainah dan seorang dari kaum Bani Salam. Kepada keduanya Rasulullah saw. perintahkan juga untuk memungut zakat unta dan kambing dan menemui Sa'labah meminta zakat kambingnya dan kepada seorang kaya dari Bani Salim. Maka kedua utusan itu pergi menemui Sa`labah, disampaikannya perintah Rasulullah saw. dan diperlihatkan kepadanya. Setelah diperlihatkan, maka Sa`labah berkata: "Pekerjaan saudara ini adalah memungut pajak, dan sebaiknya saudara pergi kepada yang lain dahulu, kemudian kembali lagi kemari." Kedua utusan Rasulullah saw. itu pergi dan meninggalkan Sa'labah untuk menemui Salamah meminta zakatnya. Maka Salamah memberikan zakatnya seekor unta yang bagus sambil berkata: "Hanya dengan hartaku yang baik, aku dapat mendekatkan diri kepada Allah."
Setelah kedua orang itu menerima zakat dari Salamah maka keduanya pergi kembali menemui Sa`labah. Setelah bertemu kedua utusan itu memperlihatkan kembali surat perintah Rasulullah saw. dan Sa`labah berkata: "Perbuatan ini adalah sama dengan memungut pajak, akan saya pikir-pikir dahulu, silakan saudara-saudara pergi ke tempat lain dahulu." Akhirnya kedua utusan itu kembali ke Madinah dan terus menemui Rasulullah saw. Sebelum mereka memberikan laporan, Rasulullah telah berkata: "Telah celakalah Sa'labah." Sedang untuk Salamah Rasulullah berdoa supaya dia mendapat berkat. Maka sesudah itu turunlah ayat ini.
Sebagian karib kerabat Sa'labah mendengar, bahwa telah turun ayat yang berhubungan dengan perbuatan Sa'labah, maka disampaikannya kepada Sa'labah dengan perkataan: "Telah celakalah engkau hai Sa'labah, Allah telah menurunkan ayatnya kepada Rasulullah saw. yang berhubungan dengan perbuatan engkau." Sesudah itu Sa'labah datang menemui Rasulullah dengan membawa zakatnya sambil berkata: "Ya Rasulullah, aku datang menyerahkan zakatku, haraplah engkau terima." Rasulullah menolak zakat itu seraya berkata: "Allah swt. telah melarang aku untuk menerima zakatmu." Maka Sa'labah menangis dan menyesali perbuatannya, tetapi penyesalan itu tak berguna lagi. Rasulullah saw. meletakkan tanah di atas kepala Sa'labah sambil mengatakan: "Inilah contoh perbuatanmu, sebelum ini aku sudah memerintahkan supaya engkau mengeluarkan zakat, tetapi engkau tidak mematuhinya." Tidak mau Rasulullah menerimanya dan akhirnya Sa'labah pulang ke rumahnya. Setelah Rasulullah wafat Sa'labah pergi menemui Abu Bakar semasa beliau menjadi khalifah sambil berkata: "Hai Abu Bakar, inilah zakatku, harap engkau terima." Abu Bakar menjawab: "Bagaimana aku akan menerima zakatmu sedangkan Rasulullah sendiri tidak mau menerimanya." Kemudian Sa'labah pergi pula menemui Umar bin Khattab dan kemudian kepada Usman bin Affan, masing-masing pada waktu menjadi khalifah untuk menyerahkan zakatnya, maka kedua-duanya menolak dengan jawaban yang sama seperti jawaban Abu Bakar. Menurut riwayat, Sa'labah rusak binasa dan akhirnya jatuh miskin.
Ayat ini menerangkan tentang sifat orang-orang munafik yang suka berjanji dengan janji yang muluk-muluk, berani bersumpah dengan menyebut nama Allah untuk menguatkan janjinya itu. Mereka berjanji akan menjadi orang pemurah, dermawan dan menjadi orang-orang baik. Tetapi mereka dengan mudah saja melanggar janjinya itu. Perbuatan yang seperti ini akan dijumpai pada setiap masa di mana saja.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 75
وَمِنْهُمْ مَنْ عَاهَدَ اللَّهَ لَئِنْ آتَانَا مِنْ فَضْلِهِ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ الصَّالِحِينَ (75)
(Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah, "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah) lafal lanashshaddaqanna pada asalnya lanatashaddaqanna, kemudian huruf ta dimasukkan ke dalam huruf shad yang bagian asal kalimat, sehingga jadilah lanashshaddaqanna (dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.") orang yang dimaksud ialah Tsa'labah bin Hathib, pada suatu hari ia meminta kepada Nabi saw. supaya mendoakannya, semoga Allah memberinya rezeki harta, kelak ia akan menunaikan hak-haknya kepada setiap orang yang berhak menerimanya. Kemudian Nabi saw. mendoakannya sesuai dengan permintaannya itu; akhirnya Allah memberinya harta yang banyak, sehingga ia lupa akan salat Jumat dan salat berjemaah yang biasa dilakukannya karena sibuk dengan hartanya yang banyak itu, dan lebih parah lagi ia tidak menunaikan zakatnya sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah swt. dalam ayat berikutnya, yaitu:


76 Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).(QS. 9:76)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 76
فَلَمَّا آتَاهُمْ مِنْ فَضْلِهِ بَخِلُوا بِهِ وَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (76)
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa kalau maksud mereka telah berhasil dan apa yang mereka minta sudah terkabul, mereka tidak malu-malu berpaling memungkiri janjinya dan mendurhakai Allah. Bila mereka telah kaya, mereka bukan jadi orang pemurah tetapi mereka bertambah bakhil tidak mau bersedekah, mengeluarkan zakat, membantu orang-orang yang kekurangan, menunjang pembangunan umat dan lain-lain yang masuk amal kebajikan. Mereka lupa akan janji-janji mereka yang diucapkan sebelum Allah memberikan karunia kepada mereka, walaupun sudah diberi peringatan berkali-kali. Padahal menepati janji itu adalah wajib apalagi kalau janji itu dikuatkan dengan bersumpah dengan nama Allah.


77 Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta.(QS. 9:77)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 77
فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77)
Dalam ayat ini Allah menerangkan, bahwa perbuatan orang-orang munafik seperti itu tidaklah akan menguntungkan tetapi akan mencelakakan diri mereka sendiri. Perbuatan menyalahi janji, bakhil, berpaling dari Allah dan mendurhakai-Nya akan membawa akibat menambah dalam penyakit kemunafikan bersarang dalam hati mereka. Penyakit seperti demikian itu akan berlarut-larut sampai akhir hayatnya. Sebab kalau penyakit kemunafikan itu sudah bertambah parah, tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk bertobat. Telah menjadi sunah Allah di bumi ini, bahwa seorang yang telah membiasakan diri mungkir janji dan banyak berdusta, maka penyakit kemunafikan itu bertambah terhunjam di dalam dirinya. Begitu juga bila dia membiasakan dirinya berbuat amal saleh, berakhlak yang baik, serta taat beribadah, maka akan terhunjamlah iman yang kuat dalam dirinya. Karenanya Allah swt. menyuruh kaum Muslimin agar berhati-hati terhadap penyakit kemunafikan itu. Bila kamu berjanji dan dikuatkan dengan menyebut nama Allah, maka berusahalah agar janji itu ditepati. Telah bersabda Rasulullah saw.:

ثلاث من كن فيه فهو منافق وإن صلى وصام وزعم أنه مؤمن: إذا حدّث كذب وإذا وعد أخلف وإذا ائتمن خان
Artinya:
Seseorang itu dianggap munafik bilamana tiga macam sifat ada padanya meskipun dia salat, berpuasa dan mengaku mukmin. Yaitu apabila berbicara dia berdusta, bila berjanji dia mungkir dan bila dipercayai dia khianat.
(H.R. Bukhari dari Abu Hurairah)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 77
فَأَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِي قُلُوبِهِمْ إِلَى يَوْمِ يَلْقَوْنَهُ بِمَا أَخْلَفُوا اللَّهَ مَا وَعَدُوهُ وَبِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (77)
(Maka Allah menimpakan kepada mereka) yakni menjadikan akibat mereka (kemunafikan) yang tetap (pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui-Nya) menemui Allah, yaitu pada hari kiamat nanti (karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta) dengan janjinya. Setelah itu Tsa'labah bin Hathib datang menghadap Nabi saw. sambil membawa zakatnya, akan tetapi Nabi saw. berkata kepadanya, "Sesungguhnya Allah telah melarang aku menerima zakatmu." Setelah itu Rasulullah saw. lalu menaburkan tanah di atas kepalanya. Pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar r.a. ia datang membawa zakatnya kepada Khalifah Abu Bakar, akan tetapi Khalifah Abu Bakar tidak mau menerimanya. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar r.a. ia pun datang membawa zakatnya, akan tetapi Khalifah Umar juga tidak mau menerimanya. Pada masa pemerintahan Khalifah Usman ia pun datang lagi membawa zakatnya, akan tetapi ternyata Khalifah Usman sama saja juga tidak mau menerimanya. Ia mati pada masa pemerintahan Khalifah Usman r.a.


78 Tidakkah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib?(QS. 9:78)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 78
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (78)
Dalam ayat ini Allah swt. memperingatkan orang-orang munafik, bahwa bagaimanapun pintarnya mereka menyimpan rahasia dalam hati mereka dan bagaimanapun liciknya mereka berbisik-bisik menjelekkan orang-orang yang beriman dan menjelek-jelekkan Rasulullah atau berbisik-bisik sesama mereka untuk mengatur siasat buruk dalam memusuhi orang-orang yang beriman, namun Allah swt. akan mengetahuinya. Tidak ada yang tersembunyi bagi Allah sesuatu pun juga, baik yang di bumi atau pun yang di langit, demikian pula yang tersembunyi dalam hati, Allah Maha Mengetahui semua yang tersembunyi.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 78
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ (78)
(Tidakkah mereka tahu) orang-orang munafik itu (bahwasanya Allah mengetahui rahasia mereka) apa-apa yang mereka simpan di dalam diri mereka (dan bisikan mereka) yakni apa-apa yang mereka bisikkan di antara sesama mereka (dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang gaib) yang dimaksud dengan gaib ialah segala sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Ketika ayat mengenai sedekah ini diturunkan, ada seorang lelaki datang dengan membawa sedekah yang banyak sekali, lalu orang-orang munafik itu mengatakan, "Dia hanya ingin pamer saja." Datang pula seorang lelaki lain seraya membawa sedekah satu sha', maka orang-orang munafik itu mengatakan pula, "Sesungguhnya Allah Maha Kaya dari sedekahnya orang ini", maka pada saat itu juga turunlah firman- Nya berikut ini, yaitu:


79 (Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.(QS. 9:79)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 79
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (79)
Ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab turunnya ayat ini, di antaranya ialah diriwayatkan oleh Hafiz Al-Bazar dari Abu Hurairah, katanya: Rasulullah saw. telah bersabda: "Bersedekahlah kamu, sesungguhnya aku akan mengirimkan satu pasukan untuk pergi berperang (Perang Tabuk), maka datanglah Abdurrahman bin Auf menghadap Rasulullah saw. lalu berkata: "Ya, Rasulullah, saya ada mempunyai 4 ribu dinar, yang dua ribu aku sedekahkan sebagai pinjamanku kepada Tuhan dan dua ribu dinar lagi untuk belanja rumah tanggaku." Rasulullah saw. menjawab: "Semoga Allah memberimu berkat atas pemberianmu itu, dan memberi berkat pula terhadap yang engkau tinggalkan." Kemudian datang lagi seorang dari kaum Ansar yang mempunyai dua gantang kurma seraya berkata: "Ya Rasulullah, saya ada mempunyai dua gantang kurma yang satu gantang aku sedekahkan dan satu gantang lagi untuk keluargaku." Menyaksikan kejadian itu orang-orang munafik mengejek seraya katanya: "Abdurrahman bin Auf hanya mau memberikan sedekahnya karena ria saja." Sedang yang memberikan satu gantang kurma, mereka mengejek dengan kata: "Allah dan Rasul tidak memerlukan yang segantang ini."
Dalam ayat ini Allah swt. menerangkan bagaimana ejekan dan hinaan orang-orang munafik terhadap orang-orang mukmin yang dengan penuh kepatuhan memberikan sedekah mereka kepada Rasulullah untuk dana tentara Islam berperang. Kepada yang memberikan banyak, mereka mengejek dengan perbuatan ria dan kepada yang memberikan sedikit, mereka hina pula padahal orang-orang mukmin memberikan sedekah itu adalah dengan hati yang ikhlas semata-mata karena mengharapkan keridaan Allah.
Ejekan dan hinaan orang-orang munafik seperti itu tidaklah mengurangi semangat orang-orang mukmin untuk berjuang tetapi mereka sendirilah yang akan dicelakakan, Allah swt. akan menghina dan mengejek mereka dan bagi mereka disediakan siksa yang pedih nanti di akhirat.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 79
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (79)
(Orang-orang) menjadi mubtada (yang mencela) menganggap aib (orang-orang yang dengan suka rela) senang hati (memberi sedekah dari kalangan orang-orang mukmin, dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh sekadar kesanggupannya) kemampuannya lalu mereka menyedekahkannya (maka orang-orang munafik itu menghina mereka) sedangkan khabar daripada mubtada tadi ialah (Allah akan membalas penghinaan mereka itu) artinya, Allah membalas penghinaannya (dan untuk mereka azab yang pedih).


80 Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.(QS. 9:80)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah At Taubah 80
اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (80)
Ayat ini mengandung peringatan, khususnya ditujukan kepada Nabi Muhammad saw. daripada umumnya ditujukan kepada orang-orang mukmin. Sikap orang-orang munafik itu terhadap Rasul saw. dan orang-orang mukmin tidak dapat diharapkan. Mereka akan tetap dalam kemunafikan sampai mati. Tidak ada faedahnya, dimintakan ampun bagi mereka atau tidak dimintakan ampun sebab Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa mereka. Biar pun berulang kali dimintakan ampun sampai tujuh puluh kali sekalipun tidak juga akan berhasil. Karena yang menyebabkan mereka munafik itu ialah keingkaran mereka kepada Allah dan kepada Rasul. Mereka tidak yakin, bahwa Allah mengetahui semua yang gaib, dan mereka tidak percaya kepada wahyu Allah yang disampaikan kepada Rasulullah saw. tentang hari kiamat, hari berbangkit dan hari pembalasan. Mereka bukan saja tergolong orang-orang munafik tetapi juga tergolong orang-orang fasik, yaitu tidak mau menerima kebenaran dan terus-menerus membangkang berbuat apa yang sudah di luar batas. Maka Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada golongan yang fasik.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 80
اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ (80)
(Kamu memohonkan ampun) hai Muhammad (bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka adalah sama saja) ayat ini mengandung pengertian takhyir, yakni boleh memilih memintakan ampun atau tidak. Sehubungan dengan hal ini Rasulullah saw. telah bersabda, "Sesungguhnya aku disuruh memilih, maka aku memilih memintakan ampun." (H.R. Bukhari) (Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka). Menurut suatu pendapat pengertian tujuh puluh kali ini merupakan ungkapan mubalaghah yang menunjukkan banyaknya istigfar (memohonkan ampun). Di dalam kitab sahih Bukhari telah diketengahkan sebuah hadis mengenai hal ini yaitu, "Seandainya aku mengetahui, bahwa jika permohonan ampunku diterima bila dibacakan lebih daripada tujuh puluh kali, maka niscaya aku akan menambahkannya." (H.R. Bukhari). Dalam pendapat yang lain dikatakan, bahwa pengertian yang dimaksud ialah bilangan tertentu, yaitu tujuh puluh itu sendiri. Hal ini pun berlandaskan pada hadis Nabi saw. pula, yaitu, "Aku akan membacakannya lebih dari tujuh puluh kali." Kemudian Allah swt. menjelaskan kepada Nabi-Nya tentang pemutusan ampunan, yaitu melalui firman-Nya, "Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan. Niscaya Allah sekali-kali tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (Q.S. Al-Munafiqun 6). (Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik).


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [7]
Ayat 61 s/d 80 dari [129]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).





Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
Counter Powered by  RedCounter
free counters
Bloggerian Top Hits