Tafsir Surat : 'ALI-IMRAN

Get 100MB Free Web Hosting at Jabry.com

type=text/javascript> vBulletin_init();

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

HOME|Radio-FajriFm|Pendidikan|Adab|Muallaf Center|QuranTerjemah|eBooks|Tafsir Al-Azhar|HadistWeb|Artikel|SMSQURAN
Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : 'ALI-IMRAN
Ayat [200]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:4/10
 
61 Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): `Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.(QS. 3:61)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 61
فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ (61)
Kemudian di dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad bila masih ada orang yang membantah kebenaran berita tentang kejadian Isa, sesudah mendapat penjelasan hendaklah mereka diajak bermubahalah untuk membuktikan siapa yang benar dan berdoa supaya Allah SWT menjatuhkan laknat-Nya kepada orang yang berdusta. Mubahalah ini sebagai pencerminan dari kebenaran kepercayaan itu.
Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw, agar mengundang keluarga masing-masing baik dari pihaknya maupun dari pihak mereka, yang terdiri dari anak-anak dan isteri, untuk mengadakan mubahalah ini.
Di dalam ayat disebutkan lebih dahulu isteri dan anak-anak nabi dalam mubahalah, karena seseorang lebih mengkhawatirkan diri keluarganya dari pada dirinya sendiri. Hal ini mengandung pengertian bahwa Nabi Muhammad saw, telah percaya dengan penuh keyakinan bahwa bencana yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari muhabalah itu tidak akan menimpa keluarganya dan dirinya. Kemudian ayat ini yang dikenal sebagai ayat mubahalah.
Mengenai terjadinya ajakan mubahlah tersebut telah diriwayatkan melalui berbagai macam sumber, bahwa Nabi Muhammad saw, telah mengajak orang-orang Nasrani dari suku Najran untuk mengadakan mubahalah, tetapi mereka menolak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim juga telah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Al 'Aqib dan As Sayid mengunjungi Rasulullah saw. Kemudian beliau berkeinginan untuk mengadakan mubahalah dengan mereka. Maka salah seorang di antara mereka berkata kepada kaumnya: "Janganlah kamu bermuhabalah dengan dia. Demi Allah apabila ia betul-betul seorang Nabi lalu dia bemubahalah dengan kita, niscaya kita tidak akan berbahagla selamanya, dan tidak akan ada generasi yang akan melanjutkan keturunaan kita. Kemudian mereka berkata kepada Nabi saw: "Kami akan memberikan apa yang engkau minta sebab itu utuslah kepada kami seorang laki-laki yang terpercaya" Kemudian Nabi saw bersabda: "Berdirilah hai, Aba Ubaidah", maka setelah ia berdiri Nabipun bersabda: "Inilah orang yang terpercaya dikalangan umat ini" .
Abu Nu'aim meriwayatkan pula sebuah hadis dari Ibnu 'Abbas dalam kitab Ad Dalail melalui sanad dari Ata'dan Ad Dahak dari lbnu Abbas bahwasanya delapan orang Nasrani dan penduduk Najran mendatangi Rasulullah saw Di antara mereka terdapat 'Aqib dan As Sayid. Kemudian Allah SWT menurunkan ayat ini. Lalu mereka berkata: "Beri tangguhlah kami tiga hari". Lalu mereka pergi kepada Bani Quraizah, Bani Nadir dan Bani Qainuqa' dari kalangan orang-orang Yahudi. Kemudian mereka memberi isyarat untuk berdamai saja dan tidak mengadakan mubahalah dengan Nabi. Kemudian mereka berkata: "Dia adalah nabi yang telah diberitakan kedatangannya di dalam kitab Taurat". LaIu mereka mengadakan perdamaian dengan Nabi saw dengan perjanjian membayar 1.000 potong pakaian pada bulan Safar dan 1.000 potong lagi disertai sejumlah uang pada bulan Rajab.
Dan diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw, telah mengajukan Ali, Fatimah dan kedua putra mereka, Hasan dan Husain selain diri beliau sendiri, untuk bermuhabalah dan Nabipun keluar bersama-sama mereka seraya bersabda: "Apabila saya berdoa hendaklak kamu membaca, Amin".
Dan Ibnu `Asakir telah meriwayatkan sebuah hadis dari Ja'far dari ayahnya, bahwa setelah ayat ini turun, Nabi membawa Aba Bakar bersama-sama anak-anaknya, Umar dan anak-anaknya clan 'Usman bersama anak-anaknya. Dapat dipahami dari ayat-ayat ini bahwa Nabi Muhammad saw, telah memerintahkan untuk mengundang orang-orang yang menentang hakekat kejadian, Isa dari kalangan orang-orang ahli kitab untuk berkumpul baik lakl-laki, perempuan ataupun anak-anak, dan juga Nabi mengumpulkan orang mukminin baik laki-laki, perempuan atau anak-anak. Mereka pun mengajak bermubahalah kepada Allah SWT agar Dia melaknat orang-orang yang sengaja berdusta.
Ajakan Nabi saw untuk bermubahalah itu menunjukkan adanya keyakinan yang penuh terhadap kebenaran apa yang beliau katakan, sebaliknya keengganan orang-orang yang diajak untuk bermubahalah menunjukkan alasan dan kepalsuan kepercayan mereka.
Di dalam ayat ini terdapat suatu pelajaran bahwa wanita harus diikut sertakan untuk turut bersama-sama lelaki menghadapi persoalan yang penting. Hal ini menunjukkan kelebihan agama Islam dari agama lain. Juga terdapat suatu petunjuk bahwa menurut ajaran Islam, para wanita sama hak dan kewajibannya dengan laki-laki dalam berbagai urusan.


62 Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan selain Allah; dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 3:62)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 62
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (62)
Allah menjelaskan bahwa kisah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tentang Nabi Isa itu, itulah yang benar, bukan pendapat orang-orang Nasrani dan bukan pula pendapat orang-orang Yahudi.
Selanjutnya ditegaskan bahwa tidak ada Tuhan yang wajib disembah melainkan AIlah karena Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan tak satupun yang dapat menyamai-Nya.
Di dalam ayat ini jelas terdapat suatu bantahan terhadap orang Nasrani yang mengatakan bahwa Allah itu salah satu dari oknum yang ketiga.
Pada ayat yang lain Allah berfirman:

لقد كفر الذين قالوا إن الله ثالث ثلاثة
Artinya:
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang mengatakan: "Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga."
(Q.S Al Ma'idah: 73)
Kemudian Allah SWT menegaskan lagi bahwa Allah-lah yang Maha Perkasa Yang Maha Bijaksana, tak ada yang dapat menandingi-Nya.


63 Kemudian jika mereka berpaling (dari menerima kebenaran), maka sesungguhnya Allah, Maha Mengetahui siapa orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. 3:63)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 63
فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِالْمُفْسِدِينَ (63)
Kemudian di dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa apabila mereka menolak agama tauhid berarti mereka termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
Mereka dianggap berpaling karena menolak untuk mengikuti dan membenarkan kerasulan Muhammad saw, dan tidak mau menerima keyakinan tentang ke Esaan Tuhan yang dibawa oleh beliau dan tidak berani mengabulkan ajakan mubahalah.
Kemudian Allah SWT. menandaskan bahwa Dia Maha Mengetahui mental orang-orang yang membuat kerusakan dan mempunyai niat jahat yang mereka simpan dalam hati mereka.


64 Katakanlah:` Hai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: `Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri (kepada Allah)`.(QS. 3:64)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 64
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64)
Allah SWT. memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw, agar mengajak ahli kitab Yahudi dan Nasrani untuk berdialog secara adil dalam mencari asas-asas persamaan dari ajaran yang dibawa oleh rasul-rasul dan kitab-kitab yang diturrunkan kepada mereka, yaitu Taurat, Injil dan Alquran. Kemudian Allah SWT menjelaskan maksud ajakan itu yaitu agar mereka tidak menyembah selain Allah yang mempunyai kekuasaan yang mutlak yang berhak menetapkan syari'at dan yang berhak menghalalkan dan mengharamkan, serta tidak mempersekutukan Nya.
Ayat ini mengandung: Sifat wahdaniah uluhiyah bagi Allah SWT, yaitu ke Esaan Allah seperti tersebut dalam firman Nya:

ألا نعبد إلا الله
Artinya:
"Bahwa kami tidak akan menyembah kecuali kepada Allah".
(Q.S Ali Imran: 64)
Dan sifat Wahdaniyah Rububiyah dalam firman Nya yaitu ke Esaan dalam mengatur makhluk Nya:

ولا يتخذ بعضنا بعضا أربابا من دون الله
Artinya:
Dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain dari Allah".
(Q.S Ali Imran: 64)
Ketentuan ini disepakati oleh semua orang, dan dapat dibuktikan, Ibrahim as diutus Allah untuk membawa agama Tauhid sebagaimana dibawa oleh Nabi Musa as seperti terdapat dalam kitab Taurat: Allah berfirman kepada Nabi Musa' "Sesungguhnya Tuhan ialah sesembahanmu, kamu tidak mempunyai sesembahan lain di sisi Ku, jangan kamu membuat pahatan patung, dun jangan membuat gambaran apapun juga dari apa saja yang terdapat di langit dan di bumi, maupun yang terdapat di dalam air. Jangan kamu bersujud kepada patung-patung dan gambar-gambar serta jangan menghambakan diri kepadanya.
Demikian juga Nabi `Isa as diutus Allah dengan membawa ajaran seperti itu.
Kemudian Nabi Muhammad saw sebagai Nabi penutup, beliau diutus dengan membawa ajaran seperti ini.
Di dalam Alquran terdapat firman Allah:

الله لا إله إلا هو الحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم
Artinya:
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk Nya) tidak mengantuk dan tidak tidur.
(Q.S Al Baqarah: 255)
Kesimpulan dari ajakan tersebut ialah: orang-orang Islam dan Ahli Kitab sama-sama meyakini, bahwa alam itu termasuk ciptaan Allah Yang Maha Esa. Dialah yang menciptakan dan mengurusnya dun Dialah Yang mengutus para nabi kepada mereka untuk menyampaikan keterangan-keterangan tentang peruatan yang diridai dan yang tidak diridai Nya.
Kemudian Nabi Muhammad saw, mengajak orang-orang AhIi Kitab agar bersepakat untuk menegakkan prinsip-prinsip agama itu, menolak hal yang meragukan, yang bertentangan dengan prinsip agama. Maka apabila orang-orang Nasrani mendapatkan keterangan-keterangan dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Isa seperti kata-kata "Putera Tuhan" hendaklah ditakwilkan dengan takwilan yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang disepakati oleh para nabi, karena kita semua tidak akan mendapatkan di antara perkataan nabi yang bisa di artikan bahwa sesungguhnya Nabi Isa itu tuhan yang disembah. Dan kita juga tidak akan mendapatkan keterangan yang mengatakan bahwa Isa mengajak manusia untuk menyembah dirinya dan ibunya, melainkan Nabi Isa mengajak manusia untuk menyembah Allah satu-satunya dan dengan ikhlas beribadah kepada Nya.
Pada mulanya, orang-orang Yahudi beragama tauhid, kemudian terjadilah malapetaka bagi mereka yaitu waktu mereka mengakui hukum apa saja yang ditetapkan pemimpin-pemimpin agama adalah sama kedudukannya dengan hukum yang datang dari Allah. Demikian juga orang-orang Nasrani menempuh jalan seperti orang-orang Yahudi itu. Mereka menambahkan peleburan dosa dalam agamanya. Dan inilah yang menjadi problematik yang sangat membahayakan dalam masyarakat orang-orang Nasrani sehingga timbullah penjualan surah aflat (surah penebusan dosa) dari gereja-gereja dengan jalan itu mereka dapat mengumpulkan uang yang banyak. Oleh sebab itu timbullah gerakan yang menuntut perbaikan. Kelompok ini terkenal dengan istilah protestan.
Diriwayatkan dari `Ady bin Hatim bahwa ia berkata: "Saya datang kepada Rasulullah saw, sedangkan dileherku terdapat kalung salib yang terbuat dari emas. Kemudian Rasulullah bersabda: "Hai `Ady buanglah berhala itu dari Iehermu". Sayapun mendengar Nabi Muhammad membaca surah Bara'ah:

اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله
Artinya:
"Mereka menjadikan orang-orang `aIimnya dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah".
(Q.S At Taubah: 31)
Kemudian saya berkata kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mereka itu tidak menyembah pendeta-pendeta". Kemudian Nabi Muhammad saw bersabda: "Bukankah mereka menghalalkan dan mengharamkan bagi kamu lalu kamu berpegang saja pada peikataan mereka?". Kemudian saya berkata: "Betul". Lalu Nabi Muhammad bersabda: "Itulah artinya menganggap pendeta-pendeta itu sebagai tuhan".
Sesudah itu Allah SWT memberikan penegasan, hahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani menolak dun membangkang; dan mereka tetap pada pendiriannya, yaitu menyembah selain Allah dan mempercayai adanya tuhan-tuhan di samping Allah, yang dijadikan perantara kepada Allah dan mereka tuat pada ketentuan-ketentuan mereka, baik mengenai yang dihalalkan maupun yang diharamkan oleh pendeta-pendeta itu. Allah SWT memerintahkan agar orang-orang muslim mengatakan kepada mereka, bahwa kaum muslimin hanya menyembah Allah dan memurnikan ketaatan kepada Nya semata-mata.
Dalam ayat ini terdapat sebuah ketentuan bahwa semua masalah yang berhubungan dengan ibadah atau dengan halal dan haram hanya Alquran dan hadis, yang dijadikan pokok pegangan dalam menetapkannya, bukan pendeta pemimpin dan bukan pula pendapat ahli hukum yang kenamaan sekalipun; sebab kalau demikian, tentulah hal itu akan menyebabkan adanya persekutuan dalam keesaan rububiyah dan penyimpangan dari petunnjuk Alquran seperti tersebut dalam firman Allah:

أم لهم شركاء شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن به الله ولولا كلمة الفصل لقضى بينهم وإن الظالمين لهم عذاب أليم
Artinya:
"Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tidak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperolch azab yang pedih".
(As Syura: 21)
Tersebut pula dalam firman Allah:

ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام
Artinya:
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ini halal dan ini haram"
(Q.S An Naba': 116)
Adapun masalah keduniaan, seperti urusan peradilan, dan urusan politik, Allah SWT telah melimpahkan kekuasaan Nya kepada ahlul Halli wal `Aqdi yaitu para ahli berbagai bidang dalam masyarakat. Maka apa yang ditetapkan mereka hendaklah ditaati selama tidak bertentangan dengan pokok-pokok agama. Ayat ini menjadi dasar dan pokok pegangan bagi dakwah Nabi saw untuk mengajak ahIi kitab mempraktekkannya. Pada waktu Nabi mengajak mereka untuk masuk Islam, seperti terdapat dalam surah beliau yang ditujukan kepada Heraclius dan Muqauqis dan Kisra Persia.


65 Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir?(QS. 3:65)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 65
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (65)
Kemudian di dalam ayat ini Allah SWT mencela perbuatan-perbuatan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani yang selalu berselisih dalam hal kemurnian agama mereka masing-masing. Juga menganggap bahwa agama merekalah yang paling benar.
Allah SWT mencela Ahli Kitab, orang-orang Yahudi dan Nasrani mengapa mereka itu saling berselisih dan berbantah-bantah dalam persoalan agama nenek moyang Nabi Ibrahim. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa Nabi Ibrahim beragama Yahudi dan orang-orang Nasrani mengatakan bahwa Nabi Ibrahim memeluk agama Nasrani. Mereka itu berpendapat demikian ialah karena Nabi Ibrahim itu dianggap sebagai lambang ketinggian martabat bagi masing-masing golongan, dan di dalam kitab mereka terdapat pujian terhadap Ibrahim as, baik dalam perjanjian lama maupun dalam perjanjuan baru. sebagaimana juga orang Quraisy memuliakan namanya, merekapun mengakui bahwa agama merekalah yang sesuai dengan agama Ibrahim.
Menurut pernyataan Alquran pengakuan mereka itu sedikitpun tidak beralasan, karena ajaran Ibrahim sedikitpun tidak membekas dalam upacara-upacara keagamaan mereka. Akan tetapi yang benar ialah Nabi Ibrahim itu memeluk agama yang sesuai dengan agama yang diserahkan oleh Nabi Muhammad saw.
Ketentuan serupa ini telah diisyaratkan oleh firman Allah tersebut, bahwa Taurat dan Injil itu tidak diturunkan oleh Allah terkecuali sesudah datangnya Ibrahim. Logikanya karena kedua Kitab itu diturunkan sesudah Ibrahim.
Semestinya tidak akan terjadi perselisihan pendapat dan bantah membantah seperti itu. Akan tetapi adanya perselisihan yang hebat itu menunjukkan ketidak benaran alasan yang dikemukakan mereka. karena tidak mungkin yang datang terlebih dahulu itu mengikuti yang datang sesudahnya.
Itulah sebabnya maka Allah SWT menegur mereka: "Apakah mereka itu tidak berpikir". Hal ini menunjukkan buhwa andaikata mereka itu man berpikir tentulah tidak akan terjadi bantah membantah seperti itu.
Dalam hal ini terdapat isyarat yang kuat, yang menunjukkan kelemahan pikiran dun hujjah mereka. Mengenai sebab nuzul ayat ini lbnu Ishak' dan lbnu Jarir telah mengemukakan sebuah riwayat dari Ibnu `Abbas ra, beliau berkata: "Orang-orang Nasrani dari suku Najran dan beberapa pendeta Yahudi berkumpul di muka Nabi Muhammad saw, kemudian mereka berselisih pendapat. Pendeta-pendeta itu berkata: Nabi Ibrahim tak memeluk agama kecuali agama Yahudi. Sedangkan orang-orang Nasrani berkata: Nabi Ibrahim tak memeluk agama kecuali agama Nasrani.


66 Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.(QS. 3:66)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 66
هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (66)
Ayat ini mengungkapkan bahwa memang sewajarnyalah orang-orang berbantahan tentang urusan Nabi Isa itu dan sewajarnya pulalah bila berbantahan mereka itu berdasarkan hal-hal yang mereka ketahui.
Akan tetapi ternyata di antara yang berbantahan itu ada yang terlibat pada persoalan yang berlebih-lebihan, hingga mengakui bahwa Nabi Isa itu tuhan bahkan di antaranya ada yang sebaliknya, menuduhnya sebagai pembual dan pendusta. Yang demikian itu terjadi karena masing-masing pihak tidak mengetahui yang sebenarnya sehingga masing-masing pihak tak dapat menghindarkan diri dari kesalahan.
Seterusnya Allah SWT mencela orang Yahudi dan orang Nasrani yang berbantahan tentang agama Nabi Ibrahim, karena perbuatan itu tidak didasarkan pada alasan yang benar dan ilmu pengetahuan. Maka bukanlah lebih baik dan masuk akal apabila mereka itu mengikuti saja wahyu yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad saw yang memang betul-betul datang dari Allah SWT yang mempunyai pengetahuan yang luas lak terbatas.
Karena itu maka Allah SWT menegaskan kepada mereka bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu yang nyata maupun yang tidak nyata, yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.
Hal ini menunjukkan adanya pengertian bahwa mengenai hal-hal yang bersifat gaib seharusnyalan orang tidak memperdebatkan dan tidak membenarkannya kecuali yang telah diterangkan oleh wahyu. Dengan perkataan lain pengetahuan manusia dibatasi oleh ruang lingkup, waktu dan tempat, sedangkan pengetahuan Allah SWT tidak terikat dengan ketentuan-ketentuan tersebut.


67 Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi menyerahkan diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang yang musyrik. `(QS. 3:67)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 67
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (67)
Kemudian di dalam ayat ini Allah SWT memberikan ketegasan kepada Nabi Ibrahim yang sebenarnya 324)
Ayat ini merupakan jawaban bagi perdebatan orang-orang Yahudi dan Nasrani mengenai agama Nabi Ibrahim as. Mereka masing-masing berpendapat bahwa Ibrahim menganut agama yang dipeluk oleh golongannya. Pendapat mereka itu sebenarnya adalah dusta karena tidak didasarkan pada bukti-bukti yang nyata.Yang benar ialah keterangan yang didasarkan wahyu yang dipegangi kaum muslim, karena orang-orang Islam memeluk agama seperti agama yang dipeluk oleh Nabi Ibrahim dan agama Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Maka jelaslah bahwa Nabi Ibrahim itu tidak memeluk agama Nasrani dan tidak pula pemeluk agama Yahudi akan tetapi Nabi Ibrahim itu seorang yang taat kepada Allah, tetap berpegang kepada petunjuk Tuhan serta tunduk dan taat kepada segala yang diperintahkan Nya.
Kemudian Allah SWT menegaskan hahwa Nabi Ibrahim tidak menganut kepercayaan orang-orang musyrikin, yaitu orang-orang kafir Quraisy dan suku Arab lainnya, yang menganggap diri mereka mengikuti agama Nabi Ibrahim.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa Nabi Ibrahim itu adalah orang yang dimuliakan oleh segala pihak, baik orang-orang Yahudi, Nasrani ataupun orang-orang musyrikin. Akan tetapi sayang pendapat mereka tidak benar, karena Nabi Ibrahim itu tidak beragama seperti agama mereka. Beliau adalah orang muslim yang ikhlas kepada Allah, sedikitpun tidak pernah mempersekutukan Nya.


68 Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.(QS. 3:68)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 68
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68)
Allah SWT memberikan penegasan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang paling berhak menjadi pendukung Nabi Ibrahim dan yang paling setia agamanya bukanlah orang-orang yang mengaku saja bahwa Nabi Ibrahim memeluk agamanya akan tetapi orang-orang yang mengikuti jejak Nabi Ibrahim dan meneruskan dakwahnya, Tentu saja orang-orang itu adalah orang-orang yang beragama tauhid dan dengan ikhlas melaksanakan agamanya. Mereka itu haruslah orang-orang yang berserah diri kepada Allah semata, jauh dari sifat-sifat syirik. Sifat-sifat serupa ini terdapa pada Nabi Muhammad saw, dan pengikut-pengikutnya. Mereka memeluk agama Tauhid, sedikitpun tidak terdapat dalam agamanya ajaran-ajaran pemujaan terhadap pemimpin dan tidak membenarkan adanya gerantara dalam hubungan manusia dengan Tuhan. Mereka itu ikhlas dan beramal semata-mata karena Allah tidak karena syirik dan riya.
Kesemuanya itu adalah inti dari pada ajaran Islam. Oleh sebab itu apabila ada agama yang tidak mengikuti prinsip-prinsip tersebut maka agama itu telah jauh menyeleweng dan hanya tinggal bekas-bekasnya saja.
Kemudian Allah SWT menjanjikan bahwa Dia akan memberikan bantuan, kekuatan dan taufik kepada orang-orang mukmin karena memang Allah lah yang menguasai dan mengendalikan urusan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka serta memberikan pahala sesuai dengan banyak sedikitnya mereka mengamalkan ajaran Islam.


69 Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya.(QS. 3:69)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 69
وَدَّتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (69)
Allah SWT menegaskan bahwa usaha mereka akan sia-sia belaka, bahwa tipu daya mereka akan menimpa mereka sendiri. Sebabnya tiada lain karena perhatian mereka selalu diarahkan pada tujuan untuk menyesatkan orang-orang mukmin, maka mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memperhatikan cara-cara mendapatkan petunjuk. pandangan mereka akan tertutup sehingga tidak dapat melihat lagi kebenaran ayat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, yang memberikan penjelasan tentang kebenaran dari kenabian beliau. Boleh dikatakan bahwa mereka itu tidak berpikir sebagaimana mestinya. bahkan mereka menyia-nyiakan akal, juga mereka telah merusak fitrah mereka sendiri sehingga tidak bisa menjangkau kebenaran.
Selanjutnya Allah SWT mencela sikap perbuatan segolongan Ahli Kitab itu karena mereka tidak menyadari keadaan mereka yang jelek. Karena itu mereka akhirnya jatuh dalam lembah kesesatan dan tidak dapat melihat lagi adanya kebenaran yang menuntun ke jalan yang lurus.
Firman Allah:

ود كثير من أهل الكتاب لو يردونكم من بعد إيمانكم كفارا حسدا من عند أنفسهم
Artinya:
Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri
(Q.S Al Baqarah: 109)
Dan firman Allah:

ودوا لو تكفرون كما كفروا فتكونون سواء
Artinya:
Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka).
(Q.S An Nisa': 89)
Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa tujuan Ahli Kitab menimbulkan persoalan yang meragukan di kalangan kaum muslimin, tiada lain hanyalah untuk menyesatkan orang-orang mukmin dari agama yang benar, sehingga mengingkari ajaran-ajaran Nabi Muhammad saw seperti mereka sendiri.


70 Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya).(QS. 3:70)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 70
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ (70)
Allah SWT mencela para Ahli Kitab yang mengingkari ayat-ayat Allah; padahal mereka mengetahui dalam kitab mereka sendiri kedatangan Nabi Muhammad saw. Kemudian Allah SWT menandaskan bahwa mereka sendiri tidak saja telah mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw akan datang bahkan sifat-sifatnyapun telah mereka ketahui. Karena itu mereka seharusnya mengakui kenabian Muhammad saw, akan tetapi karena sifat dengki yang mencekam jiwa mereka, maka mereka terjerumus ke dalam lembah kehinaan. Mereka tidak dapat lagi melihat pancaran kebenaran, sehingga mereka terombang ambing dalam kesesatan.


71 Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?(QS. 3:71)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 71
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (71)
Allah SWT mencela Ahli Kitab mengapa mereka itu mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan.
Yang dimaksud dengan kebenaran dalam ayat ini ialah kebenaran yang dibawa oleh para nabi yang termuat dalam kitab mereka yaitu akidah tauhid. serta berita gembira akan datangnya Nabi Muhammad saw yang bertugas seperti Nabi-nabi yang dahulu yang akan mengajarkan Kitab dan hikmah kepada seluruh manusia. Sedang yang dimaksud dengan kebatilan ialah segala tipu daya yang dibuat oleh para pendeta dan pemimpin terkemuka seperti Ahli Kitab dengan jalan mentakwilkan ayat-ayat Tuhan dengan Takwilan yang batil dan yang jauh dari pada kebenaran. Dan pentakwilkan yang begitulah yang dianggap mereka sebagai agama yang wajib diikuti.
Perbuatan mereka itu juga dicela oleh Allah dalam firman Nya:

ويقولون هو من عند الله وما هو من عند الله ويقولون على الله الكذب وهم يعلمون
Artinya:
Dan mereka mengatakan: "Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah. padahal ia bukan dari sisi Allah," mereka berkala dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahuinya.
(Q.S Ali Imran: 78)
Jelaslah bahwa yang dimaksud dengan mencampuradukkan antara yang hak dengan yang batil ialah: tipu daya ahli kitab yang mentakwilkan ayat-ayat Allah dan mengatakan bahwa penakwilan itu datang dari dan wajib diikuti. Sedangkan firman Allah yang mengandung berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad saw. mereka sembunyikan.
Semua ini menunjukkan bahwa mereka melakukan perbuatan itu bukan karena kealpaan atau karena tidak tahu, akan tetapi karena ingkar, dan hasad yang telah bersarang di dalam dada mereka.


72 Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya):` Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).(QS. 3:72)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 72
وَقَالَتْ طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (72)
Allah SWT menjelaskan bahwa ada golongan dari Ahli Kitab yang mengajak kawan-kawannya agar pura-pura beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Muhammad di pagi hari, kemudian mengingkarinya di waktu sore. Mereka bersikap demikian untuk menimbulkan kesan di hati orang-orang Islam, kalau agama Islam itu benar tentulah orang-orang Yahudi yang baru masuk Islam tadi tidak akan keluar lagi. Sikap serupa ini tiada lain hanya tipu daya mereka untuk mempengaruhi orang-orang Islam agar kembali kepada kekafirannya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishak dari Ibnu `Abbas ia berkata: "'Abdullah bin As Saif, `Ady bin Zaid dan Haris bin `Auf bercakap-cakap sesama mereka. Marilah kita mempercayai kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabatnya di waktu pagi hari. Kemudian kita mengingkarinya di waktu petang hari sehingga kita dapat mengacaukan mereka, semoga mereka berbuat sebagaimana yang kita lakukan, sehingga mereka kembali kepada agama mereka semula. Kemudian turunlah ayat 71 -73 ini.
Ibnu Jarir meriwayatkan dari Imam Mujahid, ia berkata: Segolongan orang-orang Yahudi bersalat subuh bersama-sama Nabi saw: Kemudian mereka kafir pada petang harinya.
Apabila mereka melakukan tipu daya serupa itu, itu bukanlah barang yang aneh, karena mengetahui bahwa di antara tanda-tanda kebenaran itu ialah: "Apabila seseorang telah mengetahui sesuatu itu benar, tentu dia tidak akan meninggalkannya lagi". Hal ini dapat dipahami dari pernyataan Heraclius, Kaisar Rumawi kepada Abu Sufyan ketika beliau menanyakan kepadanya tentang keadaan Nabi Muhammad saw, yaitu dikala Nabi Muhammad saw menyeru Heraclius dengan suratnya untuk masuk Islam. "Adakah orang-orang yang keluar dari agamanya setelah ia memeluknya? "Abu Sufyan menjawab: "Tidak ada".
Di dalam ayat ini Allah SWT memperingatkan Nabi Muhammad saw akan tipu daya ahli kitab itu dan memberitahukan siasat mereka, agar tipu daya ini tidak mempengaruhi hati orang-orang mukmin yang masih lemah. Peringatan ini berguna pula untuk menggagalkan usaha mereka; sebab apabila latar belakang dari tipu daya mereka telah diketahui, tentulah usaha mereka itu tidak akan berhasil. Ayat ini sebagai mukjizat bagi Nabi Muhammad saw, karena mengandung berita gaib yang membukakan rahasia orang-orang Yahudi.


73 Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: `Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu`. Katakanlah: `Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui`;(QS. 3:73)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 73
وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (73)
Allah SWT mengungkapkan adanya perkataan pemimpin-pemimpin Yahudi yang melarang kaumnya menyatakan kepercayaan mereka kepada orang lain yang bukan Yahudi bahwa kenabian itu boleh saja didatangkan oleh Allah kepada orang lain, selain orang-orang Yahudi. Sebab jika hal itu dikatakan kepada orang-orang Islam tentu orang-orang Islam akan menjadikannya alasan yang menguatkan kerasulan Muhammad saw, yang diutus oleh Allah SWT dari kalangan orang-orang Arab, bukan dari kalangan orang-orang Yahudi. Sikap yang semacam itu timbul karena orang-orang Yahudi itu memang mengetahui bahwa Allah SWT dapat saja mengutus seorang rasul, biarpun tidak dari kalangan bangsa Yahudi, tetapi mereka mengingkari kenabian Muhammad saw adalah karena kesombongan dan kedengkian mereka saja.
Selanjutnya Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw untuk mengatakan bahwa sesungguhnya petunjuk yang baru diikuti itu ialah petunjuk Allah. Maksudnya bahwa petunjuk itu tidak hanya tertentu buat satu bangsa saja di antara hamba-hamba Nya. Petunjuk itu disampaikan melalui nabi-nabi yang diangkat oleh Allah sesuai dengan kehendak Nya pula. Oleh sebab itu orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah SWT, ia tidak akan sesat dan tidak ada seorangpun yang sanggup menyesatkannya. Maka tipu daya ahli kitab itu tidak akan memberi bekas sedikitpun kepada orang-orang muslim dan tidak ada yang dapat menghalangi kehendak Allah terhadap nabi-nabi Nya.
Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw, untuk menyatakan bahwa kerasulan itu adalah karunia dari Tuhan yang berada di dalam kekuasaan Nya secara mutlak. Dia Maha Pemberi dan Maha Mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan karunia itu. Maka sudah tentulah Allah akan memberikan karunia Nya pada seseorang yang berhak menerimanya. Dalam pernyataan ini terdapat peringatan bahwa orang-orang Yahudi. telah mempersempit pengertian tentang karunia Tuhan Yang Maha Luas itu.
Sesudah itu Allah SWT memberikan ketegasan bahwa karunia Allah, sangat luas dan rahmat Nya diberikan secara merata menurut kehendak Nya Ini merupakan bantahan terhadap tuduhan orang Ahli Kitab yang mengatakan bahwa kenabian dan kerasulan itu hanya tertentu buat orang-orang Bani Israel saja. Dengan demikian dapat dipahami bahwa Allah mempunyai hak mutlak untuk mengutus nabi dan rasul sesuai dengan keadilan dun rahmat Nya.


74 Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah mempunyai karunia yang besar.(QS. 3:74)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 74
يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (74)
Kemudian dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa rahmat Tuhan yang diberikan kepada nabi Nya adalah suatu karunia Allah semata. Allah SWT menegaskan bahwa karunia Allah sangat luas sekali dan rahmat Nya merata pada setiap hamba Nya. Tak ada seorangpun yang dapat mempengaruhi Allah dalam memberikan karunia itu. Maka Allah SWT berhak untuk menambah rahmat dan karunia itu kepada hamba Nya sesuai dengan keadilan Nya, tidak seperti pendapat Ahli Kitab bahwa rahmat Tuhan itu dan karunia Nya, tertentu buat mereka saja. Dengan demikian maka Allah mempunyai kekuasaan yang tak terbatas untuk mengutus nabi menurut kehendak Nya pula. Jika Allah mengutus seorang nabi dari sesuatu bangsa tertentu. hal itu semata-mata karena limpahan karunia dan rahmat Nya semata.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa penilaian Allah terhadap seseorang pada dasarnya adalah sama. Tidak ada seorangpun yang melebihi seorang yang lain kecuali dengan takwanya. Dan keutamaan itu hanyalah datang dari Allah yang diberikan-Nya kepada seseorang menurut kehendak Nya.


75 Di antara Ahli Kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang demikian itu lantaran mereka mengatakan: `Tidak ada dosa bagi kami terhadap orang-orang ummi. Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.(QS. 3:75)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 75
وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75)
Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa di antara ahli kitab ada sekelompok manusia yang apabila mereka itu mendapat kepercayaan diserahi harta yang banyak ataupun sedikit mereka mengembalikannya sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. Akan tetapi ada pula di antara mereka yang apabila mendapat kepercayaan diserahi sejumlah harta sedikit saja mereka tidak mau mengembalikannya kecuali apabila ditagih. Mereka baru mau menyerahkannya setelah melalui proses pembuktian.
Hal ini menunjukkan bahwa di antara ahli kitab itu ada sekelompok orang yang pekerjaannya mempersulit orang-orang Islam dan membuat tipu daya agar supaya orang Islam tidak senang memeluk agamanya dan berbalik untuk mengikuti agama mereka. Dan di antara mereka ada pula sekelompok orang yang pekerjaannya memutar balikkan hukum. Mereka menghalalkan memakan harta orang lain dengan alasan bahwa: "Kitab Taurat melarang mengkhianati amanat terhadap saudara-saudara mereka seagama. Kalau pengkhianatan itu dilakukan terhadap bangsa lain mereka membolehkannya. Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa orang-orang Bani Israel itu dapat dibagi menjadi dua golongan:
1.Ahli Kitab yang betul-betul berpegang pada kitab Tauratnya yaitu betul-betul bisa dipercaya. Sebagai contoh misalnya Abdullah bin Salam yang dititipi harta oleh orang Quraisy dalam jumlah besar kemudian harta itu dikembalikannya lagi.
2.Ahli Kitab yang tidak dapat dipercaya karena apabila mereka itu dititipi sejumlah harta walaupun sedikit mereka mengingkari dan tidak mau mengembalikannya lagi kecuali apabila dibuktikan dengan keterangan yang masuk akal atau apabila melalui proses pembuktian di muka pengadilan.
Sebagai contoh ialah: Ka'ab bin Al Asyraf yang dititipi uang satu dinar oleh orang-orang Quraisy kemudian dia mengingkari titipan itu.
Kemudian Allah SWT menerangkan sebab-sebab mereka melakukan demikian, ialah karena mereka beranggapan tidak berdosa apabila mereka tidak menunaikan amanat terhadap orang Islam karena mereka beranggapan bahwasanya tidak ada ancaman dan tidak ada dosa apabila mereka makan harta orang Islam dengan jalan yang batil.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa menurut pendapat mereka Setiap orang selain bangsa Yahudi tidak akan diperhatikan Allah, bahkan mereka mendapat murka dari Allah. Oleh sebab itulah maka harta mereka tidak akan mendapat perlindungan. Dan mengambil harta mereka tidak dianggap sebagai dosa. Dan tidak dapat diragukan lagi bahwa anggapan serupa ini adalah termasuk pengingkaran, penipuan dan keterlaluan serta penghinaan terhadap agama.
Tentang sebab turunnya ayat ini Ibnu Jarir At Tabari meriwayatkan bahwa sebagian orang Islam menjual barang-barang dagangannya kepada orang-orang Yahudi pada zaman Jahiliah. Setelah mereka masuk Islam orang-orang Arab meminta harga barang-barang itu. Orang-orang Yahudi berkata: "Kami tidak bertanggung jawab dan kamu tidak berhak menuntut dari kami ke pengadilan karena kamu telah meninggalkan agamamu". Mereka mengatakan bahwa mereka menemukan ketentuan itu di dalam kitab Taurat.
oleh sebab itulah maka Allah SWT menjawab pertanyaan mereka dengan firman Nya:

ويقولون على الله الكذب وهم يعلمون
Artinya:
Mereka berkata dusta kepada Allah, padahal mereka mengetahuinya.
(Q.S Ali Imran)
Maksudnya mereka mengetahui dan menyadari bahwa mereka sengaja berdusta dalam hal itu, padahal mereka telah mengetahui, bahwa dalam kitab Taurat tidak ada ketentuan sedikitpun yang membolehkan untuk mengkhianati orang-orang Arab, dan memakan harta orang Islam secara tidak sah.
Sebenarnya mereka telah mengetahui. hal itu seyakin-yakinnya akan tetapi mereka tidak berpegang kepada kitab Taurat itu, mereka lebih cenderung bertaklid kepada perkataan pemimpin-pemimpin agama mereka. dan menganggap sebagai ketentuan yang wajib mereka ikuti, padahal pemimpin-pemimpin mereka itu mengemukakan pendapatnya mengenai hal-hal yang bersangkut paut dengan agama dengan menggunakan pentakwilan dengan akal dan hawa nafsu. Mereka tidak segan-segan merubah susunan kalimat asli Taurat untuk memperkuat pendapat mereka. Merekapun betul-betul mempertahankan pendapat-pendapat itu dengan mencari-cari alasan yang dapat menguatkannya.
Diriwayatkan juga oleh Ibnul Munzir dari Sa'id bin Jubair ia berkata: Setelah turun ayat 75 ini Rasulullah bersabda:

كذب اعداء الله ما من شيء في الجاهلية إلا وهو تحت قدمي هاتين إلا الأمانة فإنها مؤداة إلى البر والفاجر.
Artinya:
"Musuh-musuh Allah (orang-orang Yahudi) telah berdusta. Tidak ada suatu ketentuan di zaman Jahiliah melainkan telah berada di bawah kedua telapak kakiku ini (telah dibatalkan) terkecuali amanat. Amanat ini diwajibkan kepada orang yang baik dan orang yang jahat.


76 (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat) nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.(QS. 3:76)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 76
بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ (76)
Allah SWT menyangkal pendapat orang-orang Bani Israel yang mengatakan bahwa tidak ada dosa bagi mereka apabila melakukan kejahatan terhadap orang-orang Islam. Kemudian Allah SWT menegaskan agar setiap orang selalu menepati segala macam janji dan menunaikan amanah yang dipercayakan kepadanya.
Maka kalau ada orang yang meminjamkan harta kepadamu yang telah ditetapkan waktunya atau ada orang yang menjual barang yang telah ditetapkan atau ada orang yang menitipkan barang hendaklah ditepati ketentuan-ketentuan yang telah disepakati itu Dan hendaklah diberikan harta seseorang tepat pada waktunya tanpa menunggu-nunggu tagihan yang bertubi-tubi atau menunggu sampai persoalan itu dibawa ke pengadilan. Demikianlah yang dikehendaki oleh ketentuan syara'
Dalam ayat ini terdapat suatu peringatan bahwa orang-orang Yahudi itu tidak mau menepati janji semata-mata karena janjinya, akan tetapi mereka melihat dengan siapa mereka berjanji. Apabila mereka mengadakan perjanjian dengan Bani Israel mereka memandang wajib memenuhinya akan tetapi apabila mereka mengadakan perjanjian dengan selain Bani Israel, mereka tidak memandang wajib memenuhinya.
Allah SWT menyebutkan pahala orang-orang yang menepati janjinya dan bertakwa, sesudah memerintahkan untuk menepati janji, untuk memberikan pengertian bahwa menepati janji termasuk perbuatan yang diridai Allan dan orang yang menepati janji itu akan mendapat rahmat Nya di dunia dan di akhirat.
Pada ayat ini terdapat suatu prinsip dalam agama yaitu menepati janji dan tidak mengingkarinya, serta memelihara diri dari berbuat maksiat adalah perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, dan patut mendapat limpahan kasih sayang Nya.


77 Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.(QS. 3:77)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 77
إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (77)
Dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan akibat-akibat yang akan diderita oleh orang-orang yang mengingkari janji Allah dan melanggar sumpah dengan harga yang murah.
Yang dimaksud dengan "janji Allah" dalam ayat ini ialah perintah-perintah Allah dan larangan-larangan Nya yang disampaikan dengan perantaraan rasul yang disebutkan dalam kitab-kitab Nya, seperti berlaku benar, memenuhi janji yang telah dibuat, menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya menyembah Allah dengan tidak mempersekutukan Nya, dan bertakwa kepada Nya dalam semua urusan. Dan yang dimaksud dengan sumpah-sumpah mereka ialah ikrar-ikrar yang telah mereka ucapkan bahwa mereka akan selalu mengikuti kebenaran.
Yang dimaksud dengan "menukar janji Allah dengan harga yang sedikit" (murah) ialah mengingkari janji Allah dengan perbuatan-perbuatan duniawi yang oleh hawa nafsunya dipandang lebih baik. Segala macam keingkaran ini dipandang rendah atau tak bernilai sama sekali dibandingkan dengan nikmat yang akan diperoleh bila memenuhi janji Allah.
Adapun akibat yang akan diderita oleh mereka yang berani menukar janji Allah dengan nikmat dunia, ialah mereka tidak akan mendapat balasan sedikitpun berupa nikmat di akhirat yang berlimpah-limpah itu. Mereka tidak akan mendapat perhatian dari Allah pada hari kiamat juga mereka tidak akan mendapat pengampunan dosa sedikitpun.
Menurut keterangan Al Qaffal bahwa yang dimaksud dengan firman Allah "Dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka", ialah gambaran dari kemarahan Allah yang memuncak terhadap mereka.
Dengan ringkas dapat dikatakan bahwa: Allah SWT mengancam dengar keras orang-orang yang merusak perjanjian dan mengingkari janji. Mereka tidak akan memperoleh pahala di akhirat. mereka akan menderita siksaan yang pedih, mereka dibenci Allah dan tidak mendapat belas kasih Nya lagi.
Mengenai sebab nuzul ayat ini adalah sebagai berikut:

وروى البخاري وغيره: أن الأشعث بن قيس قال: كان بيني وبين رجل من اليهود أرض فجحدنيها فقدمته إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: ألك بينة? قلت: لا, فقال لليهودي: احلف, فقلت يا رسول الله, أذن يحلف فيذهب مالي فأنزل الله الآية
Artinya:
"Diriwayatkan oleh Al Bukhari dan ahli-ahli hadis yang lain bahwa Al Asy'ats bin Qais berkata: "Aku mempunyai perjanjian sewa tanah dengan seorang laki-laki Yahudi lalu dia mengingkarinya. Sebab itu aku mengajukannya kepada Rasulullah saw". Kemudian Rasulullah bersabda 'Apakah engkau mempunyai bukti?" Aku berkata: "Tidak". Sesudah itu Rasulullah berkata kepada orang Yahudi itu: "Bersumpahlah". Karena itu aku berkata: "Hai Rasulullah! kalau begitu, ia akan bersumpah. (Dan kalau bersumpah) maka akan lenyaplah hartaku"' Maka turunlah ayat ini"


78 Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan:` Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah `, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah, sedang mereka mengetahui.(QS. 3:78)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 78
وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (78)
Ayat ini menerangkan keadaan sekelompok Ahli Kitab yang lain. yaitu segolongan dari pendeta-pendeta mereka yang mengubah ayat-ayat Al Kitab (Taurat) dengan menambah lafal-lafalnya atau menukar letak dan menghapus sebagian dari lafal-lafal itu sehingga berubahlah pengertiannya yang asli. Dan mereka baca ayat-ayat yang telah diubah-ubahnya itu sebagai pembacaan ayat Al Kitab, agar pendengarnya mengira, bahwa yang dibaca itu benar-benar ayat Al Kitab, pada hal yang di baca itu sebenarnya bukan datang dari Allah, akan tetapi bikinan mereka sendiri.
Mereka mengetahui bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu adalah perbuatan yang salah, tetapi tetap juga mereka lakukan. Yang demikian itu disebabkan karena sifat ketakwaan mereka kepada Allah telah lenyap. dan mereka percaya bahwa Allah akan mengampuni apa saja dosa yang mereka kerjakan karena mereka orang yang beragama.
Perbuatan orang-orang Yahudi yang sangat keji itu menjadi pelajaran bagi orang-orang Islam agar supaya jangan sampai ada di antara umat Islam yang berkelakuan demikian, jangan sampai ada yang beriktikad bahwa orang Islam itu pasti mendapat ampunan dari Allah SWT betapapun juga besarnya dosa yang mereka lakukan, jangan pula ada di antara orang yang mengaku beragama Islam akan tetapi perbuatannya adalah perbuatan orang kafir dan munafik, tidak mau mengerjakan ajaran-ajaran Alquran dan sunah Rasul, dan tidak pula berkeyakinan sesuai dengan kepercayaan orang Islam.


79 Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:` Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya,(QS. 3:79)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 79
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (79)
Allah SWT menegaskan bahwa tidak mungkin terjadi dan tidak wajar bagi seorang manusia yang diberi kitab oleh Allah SWT dan diberi pelajaran tentang pengetahuan agama, dan diangkat menjadi nabi, kemudian mengajak manusia untuk menyembah dirinya sendiri bukan menyembah kepada Allah. Orang yang diberi keutamaan-keutamaan seperti itu, tentunya akan mengajak manusia mempelajari sifat-sifat Allah serta mempelajari hukum-hukum agama. dan memberikan contoh Yang baik dalam hal menaati Allah dan beribadat kepada Nya, serta mengajarkan Al Kitab kepada sekalian manusia.
Nabi sebagai seorang manusia yang telah diberikan keutamaan-keutamaan yang telah disebutkan itu, tentu tidak mungkin dan tidak wajar menyuruh orang lain menyembah dirinya, sebab bagaimanapun juga dia itu makhluk Allah. Maka Penciptanyalah yaitu Allah yang harus disembah. Yang wajar ialah mereka menyuruh manusia agar bertakwa kepada Allah selalu mengajarkan Al Kitab dan mempelajarinya. hal itu telah ditegaskan oleh firman Allah:

قل الله اعبد مخلصا له ديني
Artinya:
Katakan "Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agamaku".
(Q.S Az Zumar: 14)
Maka barangsiapa menyuruh manusia menyembah dirinya, berarti ia mengakui bahwa Allah mempunyai sekutu yaitu dirinya sendiri. Dan barangsiapa mempersekutukan Allah dengan lain Nya, maka berarti ia telah menghilangkan kemurnian beribadah kepada Allah semata. Dengan hilangnya kemurnian beribadah itu berarti hilang pulalah arti ibadah itu. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya:

ألا لله الدين الخالص والذين اتخذوا من دونه أولياء ما نعبدهم إلا ليقربونا إلى الله زلفى إن الله يحكم بينهم في ما هم فيه يختلفون
Artinya:
Ingatlah, Hanya kepunyaan Allah lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berkata "Kami tidak menyembah mereka, melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya.
(Q.S Az Zumar)
Begitu juga firman Allah yang menceritakan seruan Nabi Hu-d kepada kaumnya;

أن لا تعبدوا إلا الله إني أخاف عليكم عذاب يوم أليم
Artinya:
"Agar kamu tidak menyembah selain Allah, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan".
(Q.S Hud: 26)
Seluruh nabi-nabi itu menyuruh manusia agar menyembah Allah:

وإلى ثمود أخاهم صالحا قال ياقوم اعبدوا الله ما لكم من إله غيره
Artinya:
Dan kepada kaum Samu-d (Kami utus) saudara mereka Saleh. Maka Saleh berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia".
(Q.S Hud: 61)


80 dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?`(QS. 3:80)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Ali 'Imran 80
وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (80)
Allah SWT menjelaskan lebih lanjut, bahwa tidak pantas bagi seorang manusia yang telah diberi wahyu oleh Allah, kemudian memerintahkan kepada manusia untuk menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. Hal itu seluruhnya tidak pernah dilakukan oleh para Nabi termasuk Nabi Muhammad saw. Yang pernah terjadi ialah orang-orang Arab menyembah malaikat. Orang-orang Yahudi menyembah Uzair dan orang-orang Nasrani menyembah Al Masih, yang dianggap sebagai putra Tuhan. Semua tindakan ini bertentangan dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh para nabi karena nabi-nabi itu semuanya menyuruh manusia untuk menyembah Allah Yang Maha Esa.
Sebab nuzulnya ayat-ayat ini adalah sebagai berikut: Abu Hafi' Al Qurodi pada saat pendeta-pendeta Yahudi dan Nasrani Najran berada di dekat Rasulullah saw diajak oleh beliau memeluk agama Islam, ia berkata: "Apakah engkau menginginkan supaya kami menyembahmu, Ya Muhammad, seperti kami menyembah `Isa putra Maryam?". Kemudian seorang Nasrani dari Najran berkata: "Itukah yang engkau kehendaki wahai Muhammad?" Rasulullah menjawab: "Saya berlindung diri kepada Allah dari menyembah selain Allah, atau menyuruh orang menyembah pada selain Allah. Karena bukan untuk maksud itu aku diutus Allah, dan bukan untuk itu pula aku diperintahkan". Berhubung dengan peristiwa itulah maka Allah menurunkan ayat ini.
Di dalam hadis. yang lain disebutkan: bahwa diriwayatkan oleh Abdur Razzaq dari Al Hasan, ia berkata: "Sampailah berita kepadaku bahwa seorang laki-laki berkata: "Ya Rasulullah, kami memberi salam kepada engkau sebagaimana kami memberi salam kepada sesama kami, apakah tidak sepantasnya kami menyembah engkau ?". Nabi Muhammad saw menjawab: "Tidak!" Akan tetapi muliakanlah Nabimu dan sampaikanlah hak itu kepada yang memilikinya. Seseorang tidak pantas bersujud kepada siapapun selain kepada Allah saja. Maka berkenaan dengan peristiwa itu Allah menurunkan kedua ayat ini.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [10]
Ayat 61 s/d 80 dari [200]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).

Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
free counters