Tafsir Surat : AL-ANKABUUT

Get 100MB Free Web Hosting at Jabry.com

RIPT type=text/javascript> vBulletin_init();

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

::Home:: | Indonesia | English | Dutch | Sejarah | Hadist | Al Qur'an? | Adab | Al-Ma'tsurat | TAJWID | Artikel | Free Mobile Aplications | Sms Quran & Hadist
Radio-FajriFm | Pendidikan | Menyimak & Mengkaji | The Noble Quran | Memahami Quran | eBooks | Kisah Muallaf | *HadistWeb* | Tanda2 Bagi yg Ber-Akal
Tafsir Al-Azhar | Ponsel Quran | Belajar Baca | Qr.Recitation | Qr.Explorer | QuranTools | Qur’an Flash | Qurany.net | {Radio Dakwah/TV} | QuranTV-Mp3

Gunakan browser internet explorer untuk dapat mendengarkan Murotal (Audio)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-ANKABUUT
Ayat [69]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:3/4
 
41 Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.(QS. 29:41)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 41
مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (41)
Kaum penyembah berhala yang memandangnya sebagai penolong selain dari Allah, Yang selalu diharapkan pertolongan dan menolak bahaya yang datang kepada mereka, adalah bagaikan laba-laba yang disebutkan dalam ayat ini begitu lemahnya, sehingga tak kuat menahan tiupan angin, dan melindungi laba-laba itu sendiri dari dingin dan panas. Sarang tersebut tak dapat memenuhi kebutuhan utamanya apabila sedang diperlukan. Demikianlah halnya orang-orang kafir (musyrik), mereka tak sanggup menyelamatkan diri bila Allah mendatangkan siksa-Nya. Penolong mereka (selain dari Allah) tidak akan dapat memberikan pertolongan bahkan diri mereka sendiri tidak dapat mengelakkan mereka dari azab Allah. Ringkasnya hal orang musyrik penyembah berhala itu tak ubahnya bagaikan laba-laba yang membuat sarang, sangat rapuh dan lemah, sebab sarang laba-laba itulah ibarat dari suatu bangunan rumah yang sangat rapuh. Demikian pulalah agama yang sangat lemah adalah agama yang menyembah berhala.


42 Sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang mereka seru selain Allah. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. 29:42)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 42
إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (42)
Allah Maha Mengetahui tentang apa yang mereka mohonkan kepada berhala, patung,. jin, bahkan apa yang mereka minta kepada manusia selain Allah. Semuanya tak akan mungkin memberikan manfaat atau mendatangkan kecelakaan kepada seseorang bilamana Allah tidak menghendaki. Begitu lemahnya apa yang mereka sembah sehingga sama halnya dengan laba-laba yang hanya sanggup membuat rumah yang sangat rapuh sekali. Allah berkuasa menurunkan siksa kepada siapa yang kafir, karena itu orang-orang musyrik hendaklah merasa takut kepada Tuhan, dan segera beriman kepada-Nya sebelum datang siksaan-Nya, seperti yang pernah dikirimkan-Nya kepada orang-orang dahulu kala. Sebab bila siksaan Allah datang, tidak seorangpun di antara para penolong mereka itu (berhala-berhala) yang dapat menyelamatkan mereka. Allah selalu perkasa untuk menghancurkan barang siapa yang sepatutnya dibinasakan, dan Maha Bijaksana untuk mengundurkan siksa tersebut bagi orang yang diharapkan ada perubahan ke arah kebaikan dan dengan teguh melaksanakan kebaikan itu.


43 Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.(QS. 29:43)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 43
وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ (43)
Demikianlah Allah mengumpamakan sesuatu perumpamaan bagi manusia. Hanya orang berakallah yang dapat memikirkan perumpamaan tersebut. Sengaja Allah mengambil laba-laba sebagai perumpamaan, karena itu barangkali yang mudah bagi mereka untuk memahaminya. Selain dari itu, juga dimaksudkan untuk menerangkan segala keraguan mereka selama ini. Bagi orang yang selalu menggunakan hati dan pikirannya dan bagi ahli-ahli ilmu pengetahuan, pastilah dapat memahami perumpamaan seperti tersebut dan akan semakin banyak mengetahui rahasia-rahasia Allah yang terkandung dalam ayat-ayat-Nya. Diriwayatkan dari Jabir bahwa Rasulullah pernah berkata:

العالم من عقل عن الله تعالى وعمل بطاعته واجتنب سخطه
Artinya:
Orang yang berilmu itu ialah orang yang selalu memikirkan Allah (dengan memperhatikan makhluk) yang diciptakan Allah, kemudian beramal dalam rangka taat kepada-Nya serta menjauhi segala kemarahan-Nya.


44 Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin.(QS. 29:44)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 44
خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ (44)
Dalil tentang kebesaran dan keagungan Allah itu terlihat pada ciptaan langit dan bumi. Bagi orang yang beriman dan menggunakan akal pikirannya, semua ciptaan Allah itu mengandung hikmah, dan tidak dijadikan percuma begitu saja. Dengan demikian kejadian langit dan bumi, memungkinkan manusia untuk menambah dan memperluas cakrawala pengetahuannya. Di samping itu pengenalan mereka akan lebih intensif kepada Pencipta-Nya yakni Allah Azza Wa Jalla. Ini diterangkan dalam suatu hadis yang berbunyi:

كنت كنزا مخفيا فأردت أن أعرف فخلقت الخلق فبي عرفوني
Artinya:
(Aku Allah) adalah gudang (pengetahuan) yang tersembunyi maka Aku bermaksud untuk dikenali. Maka Aku ciptakanlah makhluk. Dengan sebab Aku (menciptakan makhluk itu)mereka mengenali Aku.


45 Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. 29:45)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 45
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)
Ayat ini memerintahkan Nabi Muhammad saw agar selalu membaca. mempelajari dan memahami Alquran yang telah diturunkan kepadanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian ia akan mengetahui rahasia dan kelemahan dirinya, sehingga ia dapat memperbaiki, dan membina dirinya sesuai dengan tuntunan Nya. Perintah ini juga ditujukan kepada seluruh kaum Muslimin. Penghayatan seseorang terhadap kalam Ilahi yang pernah dibacanya itu akan nampak pengaruhnya pada sikap, tingkah laku, dan budi pekerti orang yang membacanya itu.
Setelah Allah SWT memerintahkan membaca dan mempelajari dan melaksanakan ajaran-ajaran Alquran, maka Allah memerintahkan pula agar kaum Muslimin mengerjakan salat wajib, yaitu salat yang lima waktu. Salat itu hendaklah dikerjakan dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya dan dikerjakan dengan penuh kekhusyukan. Sangat dianjurkan mengerjakan salat itu lengkap dengan sunah-sunahnya. Jika salat itu dikerjakan sedemikian rupa, maka salat itu dapat menghalangi dan mencegah orang yang mengerjakannya dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar.
Mengerjakan salat adalah sebagai perwujudan dari keyakinan yang telah tertanam di dalam hati orang yang mengerjakannya, dan menjadi bukti bahwa ia telah merasakan bahwa dirinya sangat tergantung kepada nikmat Allah. Karena itu ia berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan Nya, sesuai dengan doanya kepada Allah dalam salatnya, "Tunjukanlah kepada kami (wahai Allah) jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat". Doa-doa yang diucapkannya dalam salat selalu teringat olehnya, sehingga ia tidak berkeinginan sedikitpun untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar.
Dalam pada itu ada pula sebagian ahli tafsir yang berpendapat bahwa yang memelihara orang yang mengerjakan salat dari perbuatan keji dan mungkar itu ialah salat itu sendiri. karena salat itu memelihara seseorang selama orang itu memelihara salatnya, sebagaimana firman Allah SWT:

حافظوا على الصلوات والصلاة الوسطى وقوموا لله قانتين
Artinya:
Peliharalah segala salatmu dan (peliharalah) salat wusta. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk (Q.S. Al Baqarah: 238)
Rasulullah saw menerangkan keutamaan dan manfaat yang diperoleh orang yang mengerjakan salat serta kerugian dan siksaan yang akan menimpa orang yang tidak mengerjakannya, sebagaimana tersebut dalam hadis:

عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه ذكر الصلاة فقال: من حافظ عليها كانت له نورا وبرهانا ونجاة يوم القيامة, ومن لم يحافظ عليها لم تكن له نورا ولا برهانا ولا نجاة, وكان يوم القيامة مع قارون وفرعون وهامان وأبي بن خلف.
Artinya:
Dari Nabi saw, bahwasanya ia pada suatu hari menyebut tentang salat, maka ia berkata "Barangsiapa yang memelihara salat, ia akan memperoleh cahaya, petunjuk dan keselamatan pada hari Kiamat, dan barangsiapa yang tidak memeliharanya, ia tidak akan memperoleh cahaya, petunjuk dan tidak pula keselamatan. Dan ia pada hari Kiamat bersama Karun, Firaun, Haman dan Ubai bin Khalaf (H.R. Ahmad dan Tabrani dari Abdullah bin Umar)
Nabi saw menerangkan pula keadaan orang yang mengerjakan salat lima waktu yang dikerjakannya dengan sungguh-sungguh, lengkap dengan rukun-rukun dan syarat-syaratnya, tetap dikerjakan pada waktu-waktu yang telah ditentukan, maka seakan-akan dosa orang tersebut dicuci lima kali sehari, sehingga tidak sedikitpun yang tertinggal dari dosa-dosanya itu, Rasulullah saw bersabda:

أرأيتم لو أن نهرا بباب أحدكم يغتسل فيه كل يوم خمس مرات هل يبقى من درنه شيء? قالوا: لا يبقى من درنه شيء قال: فذلك مثل صلوات الخمس يمحو الله بهن الخطايا
Artinya:
Bagaimanakah pendapatmu, andai kata ada sebuah sungai dekat pintu rumah salah seorang kamu, ia mandi di sungai itu lima kali setiap hari. Adakah dakinya yang masih tinggal barang sedikitpun?". Para sahabat menjawab, "Tidak ada daki yang tertinggal barang sedikitpun". Rasulullah bersabda, "Maka demikianlah perumpamaan salat yang lima waktu dengan salat itu Allah akan menghapus semua kesalahannya". (H.R. tirmizi)
Demikianlah perumpamaan yang diberikan oleh Rasulullah saw tentang keadaan orang yang mengerjakan salat lima waktu dengan sungguh-sungguh, semata-mata karena Allah SWT.
Dari ayat di atas dan hadis-hadis Rasulullah yang telah disebutkan itu dapat diambil suatu kesimpulan, bahwa ada tiga sasaran yang hendak dituju oleh orang yang mengerjakan salat yaitu:
1. Timbulnya keikhlasan.
2. Bertakwa kepada Allah.
3. Mengingat Allah.
Hendaklah salat itu menimbulkan keikhlasan bagi orang yang mengerjakannya, sehingga salat itu dikerjakan semata-mata karena Allah, untuk memurnikan ketaatan hanya kepada Nya saja. Sebagai perwujudan dari ikhlas ini pada diri seseorang ialah timbulnya keinginan di dalam hatinya untuk mengerjakan segala sesuatu yang diridai Allah. Yang dimaksud dengan bertakwa kepada Allah ialah timbulnya keinginan bagi orang yang mengerjakan salat itu untuk melaksanakan semua yang diperintahkan Allah dan untuk menghentikan semua yang dilarang Nya. Dengan bersalat seseorang akan selalu mengingat Allah, karena dalam bacaan salat itu terdapat ucapan-ucapan tasbih, tahmid, takbir serta dapat merasakan keagungan dan kebesaran Allah.
Terhadap orang-orang yang tidak mengerjakan salat, maka Allah mengancam mereka dengan siksa neraka. Demikian pula terhadap orang-orang yang mengerjakan salat karena ria dan terhadap orang-orang yang lalai dalam mengerjakan salat, Allah SWT berfirman:

فويل للمصلين الذين هم عن صلاتهم ساهون الذين هم يراءون ويمنعون الماعون
Artinya:
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Q.S. Al Ma'un: 47)
Senada dengan ayat di atas, maka Rasulullah saw bersabda

من صلى صلاة لم ينه عن الفحشاء والمنكر لم يزد بها من الله إلا بعدا.
Artinya:
Barangsiapa yang telah mengerjakan salat, tetapi salatnya tidak dapat mencegahnya dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar, maka salatnya itu tidak akan menambah sesuatupun (kepadanya), kecuali ia bertambah jauh dari Allah. H.R. Ibnu Jarir dari Ismail bin Muslim dari Al Hasan, Lihat Fi zilalil Quran, juz 20 hal.131)
Selanjutnya ayat ini menerangkan bahwa "mengingat Allah itu adalah lebih besar", maksudnya ialah, "Salat itu adalah ibadat yang paling utama dibanding dengan ibadat-ibadat yang lain". Karena itu hendaklah setiap kaum Muslimin mengerjakannya dengan sebaik-baiknya. Dengan perkataan lain, bahwa kalimat ini merupakan penguat dari kalimat yang sebelumnya yang memerintahkan kaum Muslimin mengerjakan salat dan menerangkan hikmah mengerjakannya.
Ibnu Abbas dan Mujahid menafsirkan kalimat "mengingat Allah itu adalah Iebih besar" dengan Allah mengingat hamba-hamba Nya itu adalah lebih banyak dibanding dengan ingatnya hamba-hamba Nya kepada Allah dengan menaati Nya. Pendapat ini didasarkan kepada hadis Rasulullah saw waktu menafsirkan ayat ini. Beliau bersabda:

ذكر الله إياكم أكبر من ذكركم إياه
Artinya:
Allah mengingatmu lebih banyak dari pada kamu mengingat Nya.
Dan sesuai dengan hadis Nabi saw:

من ذكرني في نفسه ذكرته في نفسي ومن ذكرني في ملإ ذكرته خيرا منهم.
Artinya:
Barangsiapa yang mengingat Aku di waktu dia berada seorang diri, tentu Aku akan mengingatnya pula dan siapa yang mengingat Ku bersama-sama dengan suatu jemaah tentu Aku akan mengingat mereka lebih banyak. (Tafsir Qurtubi Juz 13, hal 349)


46 Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan katakanlah:` Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri `.(QS. 29:46)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 46
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ (46)
Sesungguhnya ajaran tentang keesaan Allah yang merupakan azas risalah yang dibawa para Nabi dan Rasul sejak dahulu kala sampai kepada risalah Nabi dan Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw berasal dari sumber yang satu, yaitu dari Allah Maha Pencipta, dan tujuannya adalah satu pula, yaitu memberi petunjuk kepada manusia dan mengembalikan mereka dari jalan yang sesat ke jalan yang lurus, serta untuk mendidik mereka agar selalu mengikuti ajaran-ajaran Allah, sehingga mereka berbahagia hidup di dunia dan di akhirat nanti. Allah SWT juga menetapkan bahwa setiap orang yang telah mengikuti risalah Nabi dan Rasul yang diutus kepada mereka, masing-masing mereka adalah manusia yang lebih mulia dari yang lain, karena mereka adalah merupakan umat yang satu sama-sama menyembah Tuhan yang satu Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Pencipta.
Berdasarkan hal yang tersebut di atas maka manusia pada setiap kurun, masa dan generasi dapat dibagi kepada dua golongan, yaitu:
1. Golongan mukmin yang merupakan pendukung agama Allah.
2. Golongan kafir yang merupakan penentang agama Allah dan termasuk pengikut setan.
Setiap manusia yang mengikuti seruan Rasul yang diutus kepada mereka, adalah orang-orang mukmin dan termasuk hizbullah. Mereka sejak dahulu sampai saat ini, masing-masing kelompok mereka merupakan mata-mata rantai yang sambung menyambung, sehingga merupakan suatu rantai yang amat panjang, tidak ada putus-putusnya. Antara mata rantai yang satu dengan mata rantai yang lain dijalin dan diikat oleh ikatan kepercayaan yang kokoh, yaitu kepercayaan akan keesaan Allah, yang akhirnya dilanjutkan dan disempurnakan Allah SWT dengan diutus-Nya Nabi Muhammad saw, sebagai Nabi dan Rasul yang terakhir, sebagaimana firman Allah SWT:

اليوم أكملت لكم دينكم وأتممت عليكم نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا
Artinya:
Pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu. dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku, dan telah Kuridai Islam itu jadi agama bagimu. (Q.S. Al Maidah: 3)

ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين
Artinya:
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu; tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi. (Q.S. Al Ahzab: 40)
Risalah yang berazaskan keesaan Allah yang telah dibawa dan disampaikan para Nabi dan Rasul sejak berabad-abad yang lalu kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang ditegaskan oleh ayat ini, mempunyai suatu nilai yang sangat tinggi yang meningkatkan hubungan antara manusia, sejak manusia pertama kali diciptakan sampai kepada suatu saat manusia dan alam semesta ini mengalami kehancuran yang total. Dengan azas ini manusia tidak hanya terikat oleh hubungan keturunan, hubungan suku bangsa hubungan senegara dan setanah air, hubungan perdagangan, hubungan se-ideologi dan sebagainya, yang kadang-kadang terlalu bersifat subyektif, mementingkan diri atau kelompok, tetapi terikat dengan hubungan yang maha tinggi dan agung, yaitu hubungan dengan Allah. Hubungan dalam bentuk ini adalah hubungan antara Khalik dan makhluk dan hubungan antara sesama makhluk yang selalu menghambakan diri kepada Khaliknya, karena merasa diri tergantung kepada Nya. Hubungan yang seperti ini adalah hubungan yang tidak lagi terikat kepada keadaan masa dan tempat serta merupakan hubungan yang sangat erat kekal dan abadi, sejak dari dunia fana ini sampai ke akhirat nanti. Hubungan yang demikian berada di atas segala macam hubungan yang ada bahkan berada jauh di atas hubungan kemanusiaan. Karena hubungan kemanusiaan hanyalah hubungan antara sesama makhluk saja.
Berdasarkan kepada azas inilah, maka Allah SWT menunjukkan kepada Rasulullah saw dan kaum Muslimin materi dakwah yang akan disampaikan kepada Ahli Kitab. Dengan materi ini akan dirasakan hikmah kedatangan. Muhammad sebagai Nabi dan Rasul terakhir beserta risalah yang dibawanya. Nikmat itu ialah berupa keterangan dan pengungkapan hubungan antara risalah dengan risalah-risalah yang telah disampaikan para Rasul Allah yang telah diutus Nya sejak zaman dahulu. Dengan petunjuk yang demikian itu, hendaklah kaum Muslimin merasa berbahagia dan hendaklah mereka melaksanakan dakwah sesuai dengan ajaran-ajaran yang telah disampaikan Allah itu. Dalam pada itu hendaklah kaum Muslimin mengkaji, mendalami dan mengembangkan petunjuk Allah itu, sehingga mudah diterima dan dipahami oleh orang-orang yang akan menerimanya.
Allah SWT memberi petunjuk kepada Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin tentang materi dakwah dan cara menghadapi Ahli Kitab itu adalah karena orang-orang Ahli Kitab tidak menerima seruan Nabi Muhammad yang disampaikan kepada mereka. Ketika Rasulullah saw menyampaikan kepada mereka kalam Ilahi, kebanyakan dari mereka mendustakannya; hanya sedikit sekali di antara mereka yang menerimanya. Padahal mereka telah mengetahui Muhammad dan ajaran yang dibawanya, sebagaimana mereka mengetahui dan mengenal anak-anak mereka sendiri.
Allah SWT berfirman:

الذين آتيناهم الكتاب يعرفونه كما يعرفون أبناءهم وإن فريقا منهم ليكتمون الحق وهم يعلمون
Artinya:
Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil), mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, pada hal mereka mengetahui. (Q.S. Al Baqarah: 146)
Pada ayat yang lain Allah SWT menerangkan dan menjelaskan cara berdakwah yang baik itu, sebagaimana diterangkan dalam firman Allah SWT:

ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي احسن إن ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين
Artinya:
Serulah (semua manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan mu Dialah yang mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. An Nahl : 125)
Menyeru manusia ke jalan Tuhan dengan hikmah dan kebijaksanaan dan mendebat mereka dengan yang baik, hanyalah dilakukan kepada orang-orang yang tidak melakukan kezaliman. Adapun orang-orang yang melakukan kezaliman, yaitu orang-orang yang hatinya telah terkunci mati tidak mau menerima kebenaran lagi dan ia berusaha untuk melenyapkan Islam dan kaum Muslimin, maka orang-orang yang semacam ini tidak dapatlah kaum Muslimin melapangkan dada kepada mereka.
Sebagian orang-orang Ahli Kitab yang zalim itu ialah mereka yang di dalam hatinya ada penyakit, berupa iri hati, rasa benci dan dengki kepada kaum Muslimin, karena Rasul dan Nabi terakhir tidak diangkat dari kalangan mereka. Mereka memerangi kaum Muslimin dengan mengadakan tipu daya dan fitnah, menimbulkan api peperangan dan perselisihan secara terang-terangan dan tersembunyi dengan Rasulullah dan kaum Muslimin. Mereka selalu berusaha merintangi dakwah yang dilakukan Rasulullah dan para sahabatnya, seperti mengadakan perjanjian persekutuan dengan orang-orang kafir yang lain untuk memerangi kaum Muslimin. Amatlah banyak contoh-contoh yang terjadi dalam sejarah yang berhubungan dengan usaha orang-orang kafir itu. Karena usaha-usaha mereka itulah, maka mereka dinamai orang-orang yang zalim, berusaha merugikan kaum Muslimin dan di akhirat nanti mereka menjadi orang-orang yang merugi dengan menerima azab yang setimpal dengan perbuatan mereka itu.
Selanjutnya Nabi Muhammad saw dan kaum Muslimin diperingatkan Allah, bahwa jika orang-orang Ahli Kitab mengajak kaum Muslimin memperbincangkan kitab suci mereka, dan memberitahukan kepadanya apa yang patut dibenarkan dan apa yang patut ditolak, sedang kamu sekalian mengetahui keadaan mereka itu, maka katakanlah kepada mereka, "Kami percaya kepada Alquran yang telah diturunkan kepada kami dan kami juga percaya kepada Taurat dan Injil yang telah diturunkan kepadamu Yang kami sembah dan yang kamu sembah, sebenarnya adalah sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, karena itu marilah kita bersama-sama tunduk dan patuh kepada Nya dan marilah kita sama-sama melaksanakan perintah-perintah Allah dan menghentikan larangan-larangan Nya.
Sehubungan dengan maksud ayat ini, Abu Hurairah berkata, "Para ahli Kitab itu membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan menafsirkan dengan bahasa Arab untuk orang-orang Islam. Lalu Nabi saw bersabda:

لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم وقولوا آمنا بالذي أنزل إلينا وأنزل إليكم وإلهنا وإلههم واحد ونحن له مسلمون
Artinya:
Janganlah kamu membenarkan Ahli Kitab dan jangan pula kamu mendustakan mereka Katakanlah kepada mereka, "Kami beriman dengan apa yang telah diturunkan kepada kami dan yang telah diturunkan kepadamu. Tuhan kami dan Tuhan kamu adalah satu dan kami berserah diri hanya kepada Nya saja (H.R. Bukhari dan Nasai dari Abu Hurairah)
Dalam hadis yang lain Nabi saw bersabda:

لا تسألوا أهل الكتاب عن شيء فإنهم لن يهدوكم وقد ضلوا إما أن تكذبوا بحق وإما أن تصدقوا بباطل.
Artinya:
Janganlah kamu bertanya kepada Ahli Kitab tentang sesuatu. maka sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan menunjuki kamu dan sungguh mereka telah sesat. Adakalanya mereka mendustakan kebenaran dan adakalanya mereka membenarkan yang batil. (H.R. Ibnu Jarir dari Ibnu Mas'ud)
Demikianlah keadaan kaum Yahudi dan Nasrani pada umumnya yang di dalam Alquran mereka disebut Ahli Kitab.


47 Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al quran). Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al quran); dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tidak adalah yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang kafir.(QS. 29:47)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 47
وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمِنْ هَؤُلَاءِ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ (47)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan kepada Muhammad saw, "Hai Muhammad, sebagaimana Kami telah menurunkan beberapa kitab kepada para Rasul yang telah Kami utus sebelum engkau. Kepada para Rasul yang Kami utus sebelum engkau telah Kami turunkan Kitab-kitab. Dalam kitab-kitab itu diisyaratkan kedatangan Rasul di kemudian hari sesudah masing-masing Rasul itu. Dan akhirnya engkau diutus sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Kepada Rasul itu Kami perintahkan agar mereka menyampaikan kepada umatnya termasuk umatnya yang datang kemudian setelah ia meninggal dunia, agar beriman dan mengikut para Rasul yang datang kemudian, karena jika seseorang beriman kepada salah seorang Rasul-rasul yang diutus Allah, maka ia wajib pula beriman kepada Rasul-rasul Allah yang lain, baik para Rasul yang datang dahulu, maupun para rasul yang datang kemudian.
Karena itulah sebagian orang-orang Ahli Kitab yang ada pada masa engkau beriman kepada engkau dan kepada Alquran, sesuai dengan yang diperintahkan Nabi-nabi mereka kepada mereka. Mereka itu lebih mementingkan akhirat dari dunia yang fana ini, tidak memperturutkan hawa nafsu mereka. Mereka itu ialah seperti Abdullah bin Salam, Tamim Al Ansari dan sebagainya.
Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, seperti iri hati, karena Rasul yang mereka tunggu kedatangannya itu bukan dari golongan mereka, atau tertipu oleh kesenangan dunia, karena mereka memperturutkan hawa nafsunya dan sebagainya, mereka mengingkari Alquran, terutama ayat-ayat yang menyatakan kerasulan engkau. Karena itu hendaklah orang-orang Ahli Kitab memperhatikan seruan dan petunjuk Rasul-rasul mereka itu, yaitu dengan menyembah kepada Allah saja, serta mempercayai bahwa Muhammad adalah Rasul dan Nabi terakhir, tidak ada seorang Nabi atau Rasulpun yang diutus Allah sesudahnya, dan beriman kepada Alquran, karena mereka yakin orang-orang Ahli Kitab itu adalah orang-orang yang mengesakan Allah.


48 Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al quran) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu Kitab dengan tangan kananmu; andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu).(QS. 29:48)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 48
وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ (48)
Ayat ini menerangkan bahwa sebelum Alquran diturunkan, orang Arab telah mengetahui dengan sesungguhnya bahwa Nabi Muhammad tidak pandai menulis dan membaca. Seakan-akan ayat ini menerangkan: Muhammad yang diutus itu adalah Muhammad yang telah dikenal dengan baik oleh kaumnya. la telah lama hidup di tengah-tengah mereka sebelum diangkat menjadi Rasul. Semua orang Arab waktu itu mengakui bahwa Muhammad mempunyai budi pekerti yang tinggi, seorang kepercayaan, tidak pernah berdusta dan disegani oleh kawan-kawannya. Mereka mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa Muhammad tidak pandai membaca dan menulis, apalagi mengarang buku atau cerita.
Di samping orang-orang Arab, orang-orang Yahudi dan Nasranipun mengetahui dari kitab-kitab mereka bahwa Muhammad adalah seorang yang tidak pandai menulis dan membaca.
Berkata Mujahid, "Ahli Kitab mengetahui dari kitab-kitab mereka bahwa Nabi Muhammad saw tidak pandai menulis dan membaca, karena itu turunlah ayat ini.
Dalam ayat yang lainpun Allah menegaskan yang demikian. Allah SWT. berfirman:

الذين يتبعون الرسول النبي الأمي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة والإنجيل يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ويضع عنهم أصرهم والأغلال التي كانت عليهم
Artinya:
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi, yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka (Q.S. Al A'raf: 157)
Dalam keadaan yang demikian, Allah SWT menurunkan Alquran kepada Muhammad, yang memuat akidah yang sangat tinggi nilainya, dilengkapi dengan bukti-bukti yang meyakinkan, mempunyai gaya bahasa yang sangat indah tidak ada seorangpun yang dapat menandinginya, sekalipun di waktu itu di kalangan bangsa Arab banyak pujangga-pujangga sastra yang kenamaan dan seni sastra sedang berkembang pula. Namun demikian sedikit sekali mereka yang beriman di waktu itu.
Seandainya Muhammad saw dapat membaca dan menulis, pernah belajar kepada Ahil Kitab, atau ia bukan seorang kepercayaan, tidak memiliki budi pekerti yang luhur dan tidak pula seorang yang disegani, tentulah orang-orang kafir Mekah itu akan lebih mudah lagi mengatakan bahwa Alquran itu adalah buatan Muhammad, bukan berasal dari Tuhan.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa orang-orang kafir Quraisy pada permulaan Islam, berdasarkan pengetahuan mereka kepada Muhammad, dan berdasarkan nilai sastra Alquran itu sendiri, sebenarnya hati dan pikiran mereka telah mempercayai Alquran dan kerasulan Muhammad. Tetapi karena dalam hati mereka ada penyakit dan takut kedudukan mereka dalam kaumnya akan jatuh, maka mereka menyatakan sesuatu yang bertentangan den gan hati dan pikiran mereka sendiri.
Yang dimaksud dengan ummi dalam ayat ini ialah tidak pandai menulis dan membaca, tidak termasuk di dalamnya "tidak berilmu pengetahuan". Mengenai ilmu pengetahuan, maka Allah SWT telah mengajarkan kepadanya ilmu pengetahuan yang tinggi, bahkan mungkin ilmu pengetahuan yang belum pernah diajarkan Nya kepada manusia biasa, sekalipun beliau adalah orang yang alim dan bijaksana. Allah SWT berfirman:

وأنزل الله عليك الكتاب والحكمة وعلمك ما لم تكن تعلم وكان فضل الله عليك عظيما
Artinya
Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (Q.S. An Nisa: 153)


49 Sebenarnya, Al quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.(QS. 29:49)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 49
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ (49)
Ayat ini menegaskan bahwa ayat-ayat Alquran itu petunjuknya, tidak ada kesamaran sedikitpun tentang pengertiannya dan Allah memudahkan penafsirannya bagi orang-orang yang ingin mencari kebenaran yang hakiki. Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:

ولقد يسرنا القرآن للذكر فهل من مدكر
Artinya:
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran. (Q.S. Al Qamar: 17)
Demikian pula para Ahli Kitab yang ingin mencari kebenaran, mereka dengan mudah dapat memahami Alquran, sehingga beriman kepadanya dan meyakini bahwa Muhammad itu benar-benar Rasul. Allah SWT berfirman mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada orang-orang kafir yang tidak percaya kepada kerasulan beliau:

كفى بالله شهيدا بيني وبينكم ومن عنده علم الكتاب
Artinya:
Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab. (Q.S. Ar Ra'd: 43)
Maksudnya: Ulama-ulama Ahli Kitab itupun cukuplah menjadi saksi-saksi atas kerasulan Muhammad, karena mereka telah membaca dalam kitab-kitab mereka akan kedatangan Muhammad itu, karena itu ada di antara ahli Kitab yang beriman kepadanya, di antaranya orang-orang yang telah disebutkan di atas, dan ada lagi yang lain-lain.
Allah SWT menegaskan lagi bahwa Alquran itu terpelihara dalam dada dengan dihafal oleh kaum Muslimin turun temurun sehingga tidak seorangpun dapat merubahnya.
Selanjutnya ayat ini menerangkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengingkari ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang zalim. Ayat ini merupakan isyarat bagi Ahli Kitab, bahwa mereka telah mengetahui dalam kitab suci mereka tentang kenabian Muhammad, dan diturunkannya Alquran kepadanya banyak di antara mereka yang mengingkari kebenaran itu setelah mereka mengetahuinya. Allah SWT berfirman:

فلما جاءهم ما عرفوا كفروا به فلعنة الله على الكافرين
Artinya:
maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (Q.S. Al Baqarah: 89)
Selain dari pada isyarat bagi Ahli Kitab, ayat ini juga merupakan cercaan dari Allah SWT yang ditujukan kepada orang-orang musyrik Mekah yang mengingkari ayat-ayat Tuhan dengan tidak percayanya mereka kepada Alquran dan kerasulan Muhammad saw yang sudah menjadi suatu kebenaran yang nyata itu.
Mereka yang mengingkari kebenaran itu disebut oleh Tuhan "zalim". Sifat zalim ini adalah sifat yang paling tepat bagi mereka, sebab mereka menyembunyikan persaksian akan kebenaran yang telah mereka ketahui. Allah SWT berfirman :

ومن أظلم ممن كتم شهادة عنده من الله
Artinya:
dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadat dari Allah yang ada padanya?. (Q.S. Al Baqarah: 140)


50 Dan orang-orang kafir Mekah berkata:` Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya? `Katakanlah:` Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata `.(QS. 29:50)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 50
وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَاتٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ (50)
Dalam sebuah hadis diterangkan mengenai kebodohan orang musyrik itu dan sebab turunnya ayat ini, yaitu:

جاء الناس من المسلمين بكتب قد كتبوها فيها بعض ما سمعوه من اليهود, فقال النبي صلى الله عليه وسلم: كفى بقوم حمقا او ضلالة أن يرغبوا بما جاء به نبيهم إلى ما جاء به غيره إلى غيرهم. فنزلت "أولم يكفهم" الآية.
Artinya:
Telah datang serombongan kaum Muslimin kepada Nabi Muhammad saw membawa kitab-kitab yang telah mereka tulis di dalamnya sebagian dari apa yang telah mereka dengar dari orang-orang Yahudi, maka Nabi saw berkata: "Cukuplah kebodohan dan kesesatan suatu kaum yang menolak apa yang dibawa Nabi mereka untuk mereka, dan menginginkan sesuatu yang dibawa oleh seorang Nabi yang bukan Nabi mereka untuk orang lain. Lalu ayat ini diturunkan oleh Allah SWT. (H.R. Darimi dan Abu Daud)
Dalam hadis yang lain diterangkan pula bahwa orang-orang yang tidak merasa cukup dengan Alquran sebagai suatu mukjizat, maka mereka bukanlah termasuk orang-orang Islam. Hadis ini berbunyi:

ليس منا من لم يتغن بالقرآن -أي يستغن به عن غيره
Artinya:
Tidaklah termasuk golongan kami, orang-orang yang tidak merasa cukup dengan Alquran. (H.R. Bukhari)
Hadis di atas dengan jelas menerangkan kebodohan orang-orang musyrik yang menuntut agar diturunkan mukjizat yang nyata, padahal mukjizat Alquran lebih tinggi nilainya dan berlaku untuk selamanya sampai hari akhirat.
Pada ayat ini dijelaskan bahwa orang-orang kafir Quraisy mengingkari Alquran sebagai mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. karena menurut mereka tidak pantas Alquran itu dijadikan sebagai mukjizat, yang pantas dijadikan mukjizat itu ialah suatu yang nyata, yang langsung dapat dilihat dan dirasakan, seperti mukjizat yang diturunkan kepada para Rasul yang terdahulu, seperti topan Nabi Nuh, tongkat Nabi Musa dan sebagainya. Mereka menyatakan bahwa mukjizat yang nyata itu mudah diterima akal pikiran dan dapat menimbulkan keyakinan bagi orang-orang yang melihatnya.
Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar menjawab permintaan orang-orang musyrik Quraisy itu dengan mengatakan bahwa persoalan mukjizat itu adalah persoalah Tuhan. Tuhanlah yang menetapkan mukjizat apakah yang akan diberikan kepada seorang Rasul yang diutus Nya, serta disesuaikan pula dengan tingkat kemampuan umat yang akan menyaksikan mukjizat itu. Mengenai pengakuan orang-orang Quraisy, bahwa mereka tidak dapat menerima Alquran sebagai mukjizat, Allah SWT Maha Mengetahui isi hati mereka. Sebenarnya hati mereka telah mengakuinya sebagai mukjizat, tetapi karena keingkaran dan penyakit yang ada dalam hati mereka, maka mereka mengatakan yang demikian itu hanyalah sekadar membantah saja. Jika mereka benar-benar akan beriman dengan diturunkan Nya mukjizat sesuai dengan yang mereka minta itu, tentulah Allah akan menurunkan. tidak ada sesuatupun yang sukar bagi Allah, semua mudah bagi Nya. Allah SWT berfirman:

وما منعنا أن نرسل بالآيات إلا أن كذب بها الأولون
Artinya:
Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami), melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang-orang dahulu. (Q.S. Al Isra: 59)
Setelah permintaan mereka yang bukan-bukan itu dijawab Nabi, maka Allah SWT memerintahkan kepadanya agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik itu, bahwa dia (Nabi) diperintahkan hanya sekadar memberi peringatan kepada orang-orang yang tidak mengindahkannya. Tugasnya hanyalah menyampaikan risalah kepada mereka. Ia tidak dapat menjadikan mereka orang-orang yang beriman, Yang dapat menjadikan orang beriman hanyalah Allah semata. Allah berfirman:

من يهد الله فهو المهتد ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا
Artinya:
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan Nya maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (Q.S. Al Kahfi: 17)
Dan firman Allah SWT yang lain:

ليس عليك هداهم ولكن الله يهدي من يشاء
Artinya:
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk akan tetapi Allahlah yang memberi petunjuk (taufik) kepada siapa yang dikehendaki Nya. (Q.S. Al Baqarah: 272)


51 Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.(QS. 29:51)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 51
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (51)
Ayat ini merupakan jawaban yang lain terhadap permintaan orang-orang musyrik Mekah kepada Nabi Muhammad saw untuk mendatangkan mukjizat yang nyata. Jawaban ini menolak tuntutan mereka yang meminta mukjizat yang nyata. Padahal Alquran telah dibacakan kepada mereka. Apakah tidak cukup bagi mereka dalil-dalil yang menerangkan bukti-bukti kerasulannya, memberitahukan yang. termuat dalam kitab-kitab suci yang terdahulu, sedang mereka sendiri tidak mengetahuinya dengan pasti. Dalam pada itu apakah tidak terpikir oleh mereka bahwa seorang yang tidak pandai tulis baca, tidak pernab bergaul rapat apalagi belajar kepada Ahli Kitab sanggup menyampaikan -Alquran kepada mereka dengan isi yang demikian itu. Seandainya mereka mau berpikir dan menginginkan kebenaran, sebenarnya telah cukup Alquran itu saja bagi mereka untuk membenarkan kerasulanmu.
Kemudian Allah SWT menerangkan keutamaan dan kelebihan Alquran dengan mengatakan bahwa ayat-ayatnya merupakan rahmat bagi mereka, karena di dalamnya tidak terdapat ancaman-ancaman kehancuran itu, seperti ancaman yang pernah diberikan kepada orang-orang yang terdahulu, mereka pasti mengingkari juga, dan tentu mereka akan mengalami pula apa yang pernah dialami oleh orang-orang dahulu yang pernah mengingkari Rasul Nya, seperti yang pernah dialami oleh kaum `Ad, Samud, Firaun dan kaumnya yang lain. Tidak adanya ancaman kemusnahan bagi kaum musyrikin di dalam Alquran merupakan suatu rahmat Allah yang besar bagi umat Muhammad yang datang kemudian.
Diterangkan pula bahwa ayat-ayat Alquran itu adalah pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Maksudnya ialah ayat-ayat Alquran-itu menerangkan peristiwa yang dialami umat-umat dahulu karena sikap mereka terhadap para Rasul yang diutus kepada mereka, menerangkan bukti-bukti yang kuat dan lengkap, menerangkan akhlak yang mulia yang harus dipunyai oleh seorang manusia yang baik, menerangkan hukum-hukum dan petunjuk mencapai kebahagiaan hidup, memuat pengetahuan yang sangat berguna bagi manusia, dan sebagainya. Seandainya orang-orang musyrik dan manusia yang lain mau menjadikan ayat-ayat tersebut sebagai pelajaran, memikirkan serta mengamalkannya, tentulah mereka akan memperoleh jalan yang benar, mereka akan berbahagia hidup di dunia dan di akhirat. Tetapi jika mereka tidak mau dan tidak berniat untuk menghilangkan penyakit yang ada dalam hati mereka, tentulah mereka akan menjadi orang yang merugi di dunia dan di akhirat.


52 Katakanlah:` Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan antaramu. Dia mengetahui apa yang di langit dan di bumi. Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.(QS. 29:52)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 52
قُلْ كَفَى بِاللَّهِ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ شَهِيدًا يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (52)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan agar menyampaikan kepada orang-orang musyrik yang tetap tidak percaya kepada kerasulannya:
"Hai orang-orang musyrik, cukuplah Allah mengetahui dan menyaksikan bahwa aku telah menyampaikan tugasku kepada kamu sekalian, bahwa aku telah menyampaikan ancaman-ancaman Nya kepadamu, tetapi semuanya itu kamu ingkari, Allah mengetahui sikapmu terhadap seruanku, bahkan mengetahui isi hatimu. Dia akan memberi ganjaran setiap sesuatu yang dikerjakan oleh makhluk Nya. Seandainya aku berdusta dan mengada-adakan kebohongan terhadap Nya pasti aku akan ditimpa azab Nya, sesuai dengan firman Nya:

ولو تقول علينا بعض الأقاويل لأخذنا منه باليمين ثم لقطعنا منه الوتين فما منكم من أحد عنه حاجزين
Artinya:
Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (Q.S. Al Haqqah: 44-47)
Allah menerangkan bahwa Dia mengetahui segala apa yang ada di langit dan di bumi, dia mengetahui keadaan makhluk Nya sejak dari yang halus tidak kelihatan oleh mata, sampai kepada yang sebesar-besarnya. Dia mengetahui keadaan orang-orang musyrik dan keadaan orang-orang beriman., Dia mengetahui tuduhan-tuduhan orang-orang musyrik bahwa Alquran adalah buatan Muhammad, sekalipun tidak seorangpun dari mereka yang sanggup menandinginya. Orang-orang yang percaya kepada kebatilan dan mengingkari Allah itu adalah orang-orang yang merugi hidupnya di dunia dan di akhirat.


53 Dan mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Kalau tidaklah karena waktu yang telah ditetapkan, benar-benar telah datang azab kepada mereka, dan azab itu benar-benar akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.(QS. 29:53)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 53
وَيَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَلَوْلَا أَجَلٌ مُسَمًّى لَجَاءَهُمُ الْعَذَابُ وَلَيَأْتِيَنَّهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ (53)
Ayat ini menerangkan bahwa kaum musyrikin telah mengetahui ancaman Tuhan berupa azab yang akan ditimpakan kepada mereka, tetapi mereka tidak percaya akan kedatangan azab itu, sehingga mereka menantang; kalau benar azab itu ada, maka hendaklah segera ditimpakan kepada mereka, seperti perkataan mereka dalam firman Allah SWT:

فأمطر علينا حجارة من السماء أو أئتنا بعذاب أليم
Artinya:
Hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih. (Q.S. Al anfal: 32)
dan firman Allah SWT:

ويقولون متى هذا الوعد إن كنتم صادقين
Artinya:
Mereka mengatakan: "Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar". (Q.S. Yunus: 48)
Allah SWT menerangkan bahwa ketentuan datangnya azab itu seluruhnya berada di tangan-Nya, tidak seorangpun yang dapat mengetahuinya. Allah SWT telah menetapkan untuk menangguhkan azab itu sampai kepada waktu yang telah ditentukan-Nya Seandainya Allah SWT tidak menetapkan waktu akan mendatangkan azab itu, tentu telah ditentukannya azab itu kepada orang-orang musyrik secara tiba-tiba, pada saat-saat mereka lengah dan tidak menyadarinya.
Pengunduran datangnya azab kepada orang-orang kafir itu tentu ada hikmah dan tujuannya. Di antara hikmah pengunduran azab itu ialah sebagai ujian bagi manusia, siapa di antara mereka yang sabar dan siapa yang tidak. Orang yang sabar, maka ujian itu akan menambah kuat keimanannya, sedang orang yang tidak sabar, maka dengan ujian itu ia akan kembali kafir atau bertambah kekafirannya sebagaimana firman Allah SWT:

ولنبلونكم حتى نعلم المجاهدين منكم والصابرين ونبلو أخباركم
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal-ikhwalmu. (Q.S. Muhammad: 31)
Adakalanya penangguhan azab itu ialah agar orang yang ingkar itu semakin bertambah keingkarannya, sehingga mereka akan ditimpa azab yang berlipat ganda.
Allah SWT berfirman

الذين كفروا وصدوا عن سبيل الله زدناهم عذابا فوق العذاب بما كانوا يفسدون
Artinya:
Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan yang disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan. (Q.S. An Nahl: 88)
Dalam pada itu ada semacam azab yang telah menimpa orang-orang musyrik Mekah, tetapi mereka tidak menyadari bahwa yang mereka alami itu adalah semacam azab Tuhan kepada mereka, yakni kekalahan mereka pada peperangan Badar. Dalam perang Badar itu mereka melihat dan merasakan bagaimana Allah SWT telah menimpakan azab kepada mereka. Namun demikian Allah SWT tidak menghancurkan semua orang-orang kafir dalam peperangan itu, sebagaimana terjadi pada umat-umat yang dahulu. Bagi orang yang berpikir, maka mereka akan menemukan pula kenapa Allah SWT tidak memusnahkan seluruh orang-orang kafir dalam perang Badar. Di antara mufassirin ada yang berpendapat bahwa Allah SWT sengaja tidak menghancurkan mereka semuanya itu, karena di antara mereka masih ada orang-orang yang masih diharapkan keimanannya, sesudah peperangan itu, dan agar mereka nanti menjadi tentara Islam yang berpengalaman yang akan membawa panji-panji Islam, kemudian dilanjutkan keturunan-keturunan mereka dari suatu generasi ke generasi yang akan datang kemudian, sampai kepada waktu yang ditentukan Allah. Semuanya itu adalah sesuai dengan rencana dan kebijaksanaan Allah yang tidak diketahui oleh seorangpun, selain dari Dia sendiri.


54 Mereka meminta kepadamu supaya segera diturunkan azab. Dan sesungguhnya Jahannam benar-benar meliputi orang-orang kafir,(QS. 29:54)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 54
يَسْتَعْجِلُونَكَ بِالْعَذَابِ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ (54)
Pada ayat ini diterangkan akibat-akibat yang akan dialami oleh orang-orang musyrik karena keingkaran dan kebodohan mereka, yaitu mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, yang apinya meliputi seluruh tubuh mereka. Ayat ini merupakan peringatan keras bagi orang-orang kafir dengan menerangkan azab yang sangat, yang akan menimpa mereka di akhirat nanti. Karena tuntutan mereka agar disegerakan datangnya azab itu.


55 pada hari mereka ditutup oleh azab dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka dan Allah berkata (kepada mereka): `Rasailah (pembalasan dari) apa yang telah kamu kerjakan`.(QS. 29:55)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 55
يَوْمَ يَغْشَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ وَيَقُولُ ذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (55)
Ayat ini menerangkan bagaimana api neraka itu meliputi orang-orang kafir di akhirat nanti. Pada hari seluruh bagian tubuh mereka akan merasakan azab, sejak dari ubun-ubun di. kepala, sampai kepada ujung-ujung jari kaki, sejak dari bagian-bagian tubuh yang kelihatan sampai ke bagian tubuh mereka yang tidak kelihatan, mereka akan diselubungi oleh azab dari segala penjuru, dari atas dan dari bawah, dari samping kanan dan dari samping kiri mereka. Dalam keadaan demikian, dikatakan kepada mereka: "Rasakanlah olehmu pada hari ini azab yang dijanjikan itu, sebagai akibat perbuatan-perbuatanmu dahulu".
Pada ayat-ayat yang lain dijelaskan bagaimana api neraka itu meliputi orang-orang kafir. Allah SWT berfirman:

لهم من جهنم مهاد ومن فوقهم غواش
Artinya:
Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). (Q.S. Al A'raf: 41)
Dan firman-Nya:

لهم من فوقهم ظلل من النار ومن تحتهم ظلل
Artinya:
Bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dan api). (Q.S. Az Zumar: 16)


56 Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.(QS. 29:56)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 56
يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ (56)
(Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja) di mana saja kalian dapat melakukannya dengan mudah, umpamanya kalian berhijrah dari suatu tempat yang kalian mendapat kesukaran untuk melakukannya, ke tempat yang kalian akan mendapat kemudahan untuk melakukannya. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan kaum Muslimin Mekah yang lemah, karena mereka mendapat tekanan dari orang-orang kafir Mekah yang tidak menghendaki Islam berkembang di negerinya.

Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 56

يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ أَرْضِي وَاسِعَةٌ فَإِيَّايَ فَاعْبُدُونِ (56)
Dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar meninggalkan tanah air mereka, seandainya di tanah air mereka itu tidak dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan agama, dan hidup dalam keadaan tertindas. Ayat ini mengandung suatu prinsip yang universal yang menyatakan bahwa bumi Allah ini, diciptakan untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan. Seseorang boleh tinggal di mana saja yang mereka ingini, apabila mereka merasa aman di tempat itu. Di tempat yang baru itu, mereka akan menemui saudara-saudara baru, keluarga-keluarga yang baru sebagai ganti dari saudara dan keluarga yang mereka tinggalkan, karena pada asasnya seluruh kaum Muslimin adalah bersaudara, saudara senasib dan seperjuangan.
Prinsip lain yang terkandung dalam ayat ini ialah agama Islam menyuruh penganutnya agar jangan terlalu fanatik kepada tanah air dan bangsanya. Tanah air wajib dibela, dibina dan dibangun, demikian pula bangsa wajib dimajukan, tetapi janganlah sekali-kali karena terlalu mementingkan tanah air dan bangsa sendiri, berakibat merugikan negara dan bangsa lain. Seakan-akan Allah mengingatkan; bahwa alam semesta ini adalah milik Allah diciptakan untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan; karena itu gunakanlah alam ini sesuai dengan tujuan Allah menciptakan-Nya. Jangan sekali-kali ada yang mengaku bahwa sesuatu adalah miliknya yang mutlak, karena pemilikan seseorang atas sesuatu hanyalah sementara, dan pada saatnya milik itu akan diambil oleh-Nya kembali.
Ungkapan kalimat ayat di atas juga mengingatkan kaum Muslimin akan luas dan banyaknya milik Allah, agar mereka melayangkan pandangan mereka jauh ke depan, dan jangan sekali-kali berpandangan sempit dan terbatas. Ungkapan itu mengingatkan kaum Muslimin agar jangan hanya melihat tempat kediaman sendiri dan jangan sekali-kali beranggapan bahwa bumi itu hanyalah terbatas pada tempat mereka saja. Anggapan yang demikian itu adalah anggapan yang salah. Bumi Allah itu adalah lebih luas dari yang mereka perkirakan semula. Kalau mereka keluar dari negeri mereka pergi menjalani negeri-negeri yang ada di dunia ini, tentulah mereka akan melihat dan memperoleh pengalaman yang pengalaman yang berharga dalam perjalanan itu, dan tentulah mereka akan memperoleh kelapangan sesudah kesempitan dan sebagainya.
Allah SWT berfirman:

ومن يهاجر في سبيل الله يجد في الأرض مراغما كثيرا وسعة
Artinya
Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak (Q.S. An Nisa: 100)
Kemudian dalam sebuah hadis Rasulullah saw bersabda:

البلاد بلاد الله والعباد عباد الله فحيثما أصبت خيرا فأقم
Artinya:
Semua negeri adalah negeri Allah, dan semua hamba adalah hamba Allah, maka di mana saja kamu mendapat kebaikan (rezeki), maka berdiamlah di sana. (H.R. Ahmad).
Sebagaimana diterangkan di atas bahwa dalam ayat ini Allah SWT memerintahkan agar hamba-hamba-Nya yang beriman berhijrah meninggalkan tanah air mereka. berarti Allah menjamin kehidupan mereka di bumi tempat mereka berhijrah itu. Melaksanakan perintah berhijrah, meninggalkan kampung halaman adalah suatu perintah yang sangat berat dilaksanakan oleh seseorang, karena dengan hijrah itu berarti ia bercerai dan meninggalkan famili dan kaum kerabatnya, ia meninggalkan rumah dan pekarangan yang telah lama dirawat dan dibinanya ia meninggalkan harta benda dan binatang ternak kesayangannya, ia akan berpisah dengan negeri dan segala isinya yang selama ini, yang seakan-akan telah bersatu dengan dirinya sebagai mana bersatunya tubuh dengan anggota-anggota tubuh lainnya. Karena itu Allah SWT menyampaikan perintah berhijrah. itu dengan nada yang lemah lembut dan halus sekali, seakan-akan diperintahkan kepada mereka; "Wahai hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada-Ku, ingatlah olehmu bahwa Aku telah menciptakan bumi yang luas ini untuk kamu semua, oleh karena itu manfaatkanlah dan diami bumi itu olehmu, sebagai tamu-Ku pada banyak negeri yang lain yang lebih subur dan aman yang dapat kamu diami".
Dalam seruan Allah SWT tergambar pula janji Allah yang dapat diharapkan oleh orang-orang yang berhijrah itu, yaitu Allah akan membalasi mereka karena kepatuhan mereka melaksanakan seruan-Nya, yaitu akan memberinya rumah-rumah yang lebih baik dari rumah yang mereka tinggalkan, akan memberikan harta yang lebih banyak berkahnya dari harta yang mereka tinggalkan. Demikian pula saudara-saudara dan kerabat-kerabat mereka akan diganti dengan kerabat yang lebih baik dan luhur dari saudara dan kerabat yang mereka tinggalkan selama mereka tetap menghambakan diri kepada-Nya dan melaksanakan dakwah kepada manusia.
Nabi saw dan kaum Muslimin telah memperkenalkan panggilan suci itu. Mereka telah pergi hijrah kepada Allah baik secara perorangan maupun secara rombongan. Pertama kali mereka berhijrah ke Ethiopia (Habsyah). Di sana Allah menempatkan mereka di tempat yang mulia. Kemudian mereka berhijrah ke Madinah. yang akhir nya menjadi tempat hijrah kaum Muslimin terutama setelah Rasulullah saw berhijrah ke sana. Di Madinah orang-orang Muhajirin (kaum Muslimin yang datang dari Mekah) diterima dengan tangan terbuka dan senang hati oleh sahabat-sahabat mereka kaum Ansar (Penduduk asli Madinah) yang masuk Islam, seakan-akan kaum Muhajirin itu adalah tamu-tamu yang mereka nanti-nantikan kedatangannya selama ini. Rumah-rumah dan harta mereka dimanfaatkan bersama dengan orang Muhajiriin yang baru datang, yang tidak membawa sesuatupun dari Mekah. Bahkan terlihat kaum Ansar telah mengutamakan kaum Muhajirin dari mereka sendiri. Demikian eratnya kedua golongan itu sehingga Rasulullah menjadikan keduanya sebagai hubungan karib-kerabat, bahkan pada permulaan hijrah itu mereka dapat waris mewarisi antara mereka yang telah mengikat persaudaraan.
Dengan kedatangan kaum Muhajirin itu kota Madinah semakin bersemarak dan berkembang telah menjadi pusat pembinaan masyarakat Islam, tempat berkumpul kaum Muslimin dari segala penjuru dan akhirnya menjadi pusat pemerintahan Islam.
Kedua golongan Muhajirin dan Ansar dipuji Allah sebagai golongan-golongan yang menjadi dasar masyarakat Islam. Allah meninggikan kedudukan Muhajirin, karena mereka telah mengorbankan segala yang ada pada mereka, untuk kepentingan agama Allah, sedang kaum Ansar adalah penolong-penolong agama Allah. Mereka telah menyediakan apa yang ada pada mereka untuk kepentingan agama Allah.
Semua yang dialami oleh orang-orang Muhajirin setelah sampai di Madinah dan setelah menetap dan menjadi satu dengan penduduk asli Madinah, yaitu golongan Ansar, merupakan bukti kebenaran janji Allah, kepada mereka, di waktu mereka diperintahkan hijrah ke Madinah.
Ayat ini ditutup dengan perkataan: "karena itu hanya kepada Nyalah kamu menyembah". Kalimat ini berarti bahwa kami ini kepunyaan Allah, dan bumi Allah adalah luas sekali. Di mana saja kamu berada dan bertempat tinggal, maka tempat itu adalah milik Allah. Karena itu sepantasnyalah kamu mengesakan dan menghambakan diri kepada-Nya.
Ayat suci di atas merupakan dakwah samawiyah kepada manusia untuk membebaskan dirinya baik fisik maupun jiwanya dari segala macam belenggu material atau spiritual yang dapat mengganggu gerak-geriknya, menghalangi kebebasannya atau menghambat keinginan dan sebagainya.
Di dalam kehidupan mana saja dan dalam situasi apa saja, manusia tidak akan mendapatkan kebebasan. kemerdekaan. kelangsungan hidup dan kelangsungan jenisnya yang hakiki, sebagaimana yang telah ditetapkan Allah, seandainya ia sendiri tidak berusaha dengan sungguh-sungguh ke arah itu. Jika mereka berusaha tentu mereka akan memperolehnya. Sebaliknya jika mereka tidak berusaha berarti mereka telah menganiaya diri mereka sendiri dan mereka tidak akan memperoleh apa yang mereka inginkan itu.
Dakwah Islam itu adalah untuk membebaskan manusia dari penindasan dan kesesatan. Karena itu kaum Muslimin diwajibkan berjihad menentang penindasan dan kesesatan itu, dengan jalan mengorbankan harta dan jiwa mereka. Jihad yang paling tinggi nilainya dan paling utama bagi seseorang mukmin ialah jihad yang dilakukan oleh mereka untuk membebaskan diri sendiri dari penindasan dan kesesatan, sesudah itu barulah dihadapkan kepada orang lain. Seorang mukmin harus membebaskan diri dari segala belenggu kerendahan dan penghinaan karena itu ia harus memberantas kedua penyakit itu. Allah SWT berfirman:

إن الذين توفهم الملائكة ظالمي أنفسهم قالوا فيما كنتم قالوا كنا مستضعفين في الأرض قالوا ألم تكن أرض الله واسعة فتهاجروا فيها فأولئك مأواهم جهنم وساءت مصيرا
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukanlah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu? Orang-orang itu tempatnya ialah neraka Jahanam dan Jahanam itu seburuh-buruk tempat kembali. (Q.S. An Nisa: 97)
Pada ayat di atas Allah SWT menjanjikan azab yang sangat di akhirat nanti, kepada orang-orang yang hina dan lemah itu, karena mereka telah merendahkan agama dan meremehkan budi pekerti yang luhur dengan merendahkan diri kepada orang-orang kafir. Mereka tidak ubahnya seperti barang dagangan yang berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Mereka tidak sanggup menyatakan kehendak dan keinginan mereka, apalagi dakwah ke jalan kebaikan. Karena itu dakwah Islam itu ditujukan secara seutuhnya, untuk pembebasan manusia, untuk perkembangan akal, untuk menghilangkan segala macam tekanan pada hati dan jiwa, sebagaimana dakwah itu ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan adanya manusia, sebagai makhluk yang diciptakan untuk beribadat kepada-Nya.
Keadaan manusia itu bebas seratus persen dari pengaruh masyarakat sekitarnya. sehingga ia tidak mendapat kelaliman dari kelompoknya. Sekalipun demikian ia masih menjadi tawanan dari hawa nafsunya dan diperbudak oleh kehendak dan keinginannya. Orang seperti itu berarti tidak mempunyai kebebasan hidup sama sekali. Karena itu pertama sekali manusia harus berjihad melawan hawa nafsunya, hawa nafsu yang selalu menggoda dan menguasainya. Sebagai yang dimaksud oleh Nabi saw dalam suatu hadis yang diucapkannya, ketika beliau menyambut sebuah pasukan yang kembali dari suatu peperangan. beliau berkata:

رجعنا من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر. قالوا: يا رسول الله وما الجهاد الأكبر. قال: جهاد النفس.
Artinya:
"Kamu telah kembali dari jihad yang kecil dan akan memasuki jihad yang lebih besar". Para sahabat bertanya "Ya, Rasulullah, apakah jihad yang lebih besar itu?". Beliau menjawab "Jihad memerangi hawa nafsu".


57 Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.(QS. 29:57)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 57
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (57)
Ayat ini menguatkan ayat sebelumnya dengan menerangkan hakikat kehidupan manusia itu sendiri. Diterangkan bahwa tiap-tiap manusia pasti akan mati dan setelah mati. ia akan kembali kepada pemiliknya, yaitu Tuhan seru sekalian alam. Pada saat ia akan dibangkitkan kembali di akhirat. sejak itulah manusia akan mengalami kehidupan yang sebenarnya. Corak kehidupan yang sebenarnya itu ditentukan oleh keadaan dan tindak-tinduk seseorang selama hidup di dunia. Jikalau seseorang yang mukmin, maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang abadi, sedang jika ia kafir ia akan mengalami azab yang pedih dan Allah.
Ayat ini telah disebut pula pada ayat 185 surat Ali-Imran, tapi di sini diulangi lagi dengan maksud agar kaum Muslimin jangan terlalu terpikat dan terpesona oleh kehidupan dunia yang fana ini. semuanya itu merupakan kesenangan yang akan berakhir. Hubungan manusia dengan semua yang dimilikinya itu lambat laun akan habis. Janganlah sampai kecintaan seseorang kepada sesuatu menghalanginya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, karena sesuatu itu bersifat sementara yang kekal hanyalah hasil ibadat dan amal saleh seseorang, berupa rida dan surga yang dijanjikan-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 57
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (57)
(Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kalian dikembalikan) sesudah kalian dibangkitkan, lafal turja'uuna dapat pula dibaca yurja'uuna.


58 Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat-tempat yang tinggi di dalam syurga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal,(QS. 29:58)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 58 - 59
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (58) الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (59)
Ayat ini menerangkan ganjaran yang akan diperoleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, karena mereka telah berhijrah untuk kepentingan agama-Nya. Mereka lari dari orang-orang yang memperserikatkan Allah dan telah berani menanggung segala resiko akibat dari berhijrah itu.
Janji Allah SWT itu ialah memberi ganjaran orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan surga yang penuh kenikmatan. Di dalamnya terdapat taman-taman yang indah dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalam surga itu selama-lamanya.
Mengenai gambaran surga itu, diterangkan oleh hadis Nabi, beliau bersabda:

أهل الجنة ليتراءون أهل الغرف من فوقهم كما تراءون الكواكب الدري من الأفق من المشرق أو المغرب لتفاضل بينهم. قالوا: يا رسول الله تلك منازل الأنبياء لا يبلغها غيرهم. قال: بلى والذي نفسي بيده رجال آمنوا بالله وصدقوا المرسلين
Artinya:
Sesungguhnya penghuni surga akan melihat penghuni tempat yang tinggi di atas mereka, seperti mereka melihat bintang-bintang gemerlapan yang lewat di ufuk, baik dari timur maupun dari barat, karena keimanan yang ada pada mereka. Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, itu adalah tempat-tempat para Nabi, manusia yang lain tidak akan sampai kepadanya". Rasulullah menjawab: "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, itu adalah tempat-tempat mereka yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul". (H.R. Muslim).
Pada hadis yang lain Nabi bersabda:

إن في الجنة لغرفا يرى ظهورها من بطونها ويرى بطونها من ظهورها. فقام عليه أعرابي فقال: لمن هو يا رسول الله? قال: لمن أطاب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى لله بالليل والناس نيام.
Artinya:
Sesungguhnya di dalam surga ada tempat-tempat yang tinggi. di belakangnya dapat dilihat tembus dari hadapan-nya dan hadapannya dapat dilihat tembus dari belakangnya". Lalu seseorang Arab Badui berdiri dan bertanya: "Untuk siapa tempat-tempat itu Ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab: "Tempat-tempat itu untuk orang-orang yang baik perkataannya, memberi makan (orang miskin), selalu berpuasa dan salat karena Allah di malam hari sedang orang lain tidur". (H.R. tirmizi).
Demikianlah surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, bersabar dan bertawakal kepada-Nya.
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah berjanji akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang beriman. Janji Allah itu dikuatkan dengan kalimat sumpah. Hal ini adalah untuk menenteramkan hati kaum Muslimin, agar langkah mereka tetap dalam menempuh jalan yang lurus dan sulit, seperti berhijrah dan sebagainya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 58
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (58)
(Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka) akan diberi tempat tinggal. Menurut qiraat yang lain lafal lanubawwiannahum dibaca lanutsawwiannahum dengan memakai huruf tsa sebagai ganti huruf ba, karena berasal dari kata ats-tsawa yang artinya tempat bermukim, yang menjadi maf`ulnya adalah lafal ghurafan dengan membuang huruf fi (pada tempat-tempat yang tinggi di dalam surga, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal) mereka ditakdirkan hidup kekal (di dalamnya. Itulah sebaik-baik pembalasan bagi orang-orang yang beramal) imbalan yang terbaik.


59 (yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya.(QS. 29:59)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 58 - 59
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُبَوِّئَنَّهُمْ مِنَ الْجَنَّةِ غُرَفًا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (58) الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (59)
Ayat ini menerangkan ganjaran yang akan diperoleh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, karena mereka telah berhijrah untuk kepentingan agama-Nya. Mereka lari dari orang-orang yang memperserikatkan Allah dan telah berani menanggung segala resiko akibat dari berhijrah itu.
Janji Allah SWT itu ialah memberi ganjaran orang-orang yang beriman dan beramal saleh dengan surga yang penuh kenikmatan. Di dalamnya terdapat taman-taman yang indah dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Mereka kekal di dalam surga itu selama-lamanya.
Mengenai gambaran surga itu, diterangkan oleh hadis Nabi, beliau bersabda:

أهل الجنة ليتراءون أهل الغرف من فوقهم كما تراءون الكواكب الدري من الأفق من المشرق أو المغرب لتفاضل بينهم. قالوا: يا رسول الله تلك منازل الأنبياء لا يبلغها غيرهم. قال: بلى والذي نفسي بيده رجال آمنوا بالله وصدقوا المرسلين
Artinya:
Sesungguhnya penghuni surga akan melihat penghuni tempat yang tinggi di atas mereka, seperti mereka melihat bintang-bintang gemerlapan yang lewat di ufuk, baik dari timur maupun dari barat, karena keimanan yang ada pada mereka. Para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, itu adalah tempat-tempat para Nabi, manusia yang lain tidak akan sampai kepadanya". Rasulullah menjawab: "Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, itu adalah tempat-tempat mereka yang beriman kepada Allah dan membenarkan para Rasul". (H.R. Muslim).
Pada hadis yang lain Nabi bersabda:

إن في الجنة لغرفا يرى ظهورها من بطونها ويرى بطونها من ظهورها. فقام عليه أعرابي فقال: لمن هو يا رسول الله? قال: لمن أطاب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى لله بالليل والناس نيام.
Artinya:
Sesungguhnya di dalam surga ada tempat-tempat yang tinggi. di belakangnya dapat dilihat tembus dari hadapan-nya dan hadapannya dapat dilihat tembus dari belakangnya". Lalu seseorang Arab Badui berdiri dan bertanya: "Untuk siapa tempat-tempat itu Ya Rasulullah?". Rasulullah menjawab: "Tempat-tempat itu untuk orang-orang yang baik perkataannya, memberi makan (orang miskin), selalu berpuasa dan salat karena Allah di malam hari sedang orang lain tidur". (H.R. tirmizi).
Demikianlah surga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, bersabar dan bertawakal kepada-Nya.
Pada ayat ini diterangkan bahwa Allah berjanji akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang beriman. Janji Allah itu dikuatkan dengan kalimat sumpah. Hal ini adalah untuk menenteramkan hati kaum Muslimin, agar langkah mereka tetap dalam menempuh jalan yang lurus dan sulit, seperti berhijrah dan sebagainya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 59
الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (59)
Mereka adalah (orang-orang yang bersabar) mengalami perlakuan yang menyakitkan dari pihak kaum musyrikin dan bersabar di dalam hijrah meninggalkan tanah kelahiran mereka demi membela agama (dan mereka bertawakal hanya kepada Rabbnya) karenanya Dia memberi rezeki kepada mereka dari jalan yang tidak mereka duga.


60 Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. 29:60)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al 'Ankabuut 60
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (60)
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw berkata kepada orang-orang yang beriman di Mekah, ketika orang-orang musyrik menyiksa mereka: "Keluarlah kamu sekalian dan berhijrahlah jangan bertetangga dengan orang yang zalim itu". Orang-orang mukmin menjawab: "Ya Rasulullah, di sana kami tidak mempunyai rumah, tidak mempunyai harta yang dimiliki, tidak ada orang yang akan memberi makan dan tidak ada orang yang akan memberi minum". Maka turunlah ayat ini sebagai jawaban kekhawatiran orang-orang mukmin itu.
Ayat ini turun untuk menenteramkan hati orang-orang yang beriman yang memperkenankan seruan Rasulullah saw untuk berhijrah, baik mereka yang telah berhijrah, maupun kaum Muslimin yang sedang bersiap-siap untuk berhijrah, seakan-akan Allah SWT mengatakan: "Hai orang-orang yang beriman, tantanglah musuh-musuh Allah itu. Janganlah sekali-kali kamu takut kepada kepapaan dan kemiskinan karena betapa banyaknya binatang melata yang tidak sanggup mengumpulkan makanan setiap hari untuk keperluannya, tetapi Allah tetap memberinya rezeki. Maka kamu wahai orang-orang yang beriman, jauh lebih baik dari binatang dan lebih pandai mencari makan, kenapa kamu khawatir tidak akan mendapat makanan. Walaupun kamu berhijrah tanpa membawa sesuatu, tetapi Allah pasti memberimu rezeki. Allah Maha Mendengar segala macam doa, mengetahui segala rupa keadaan hamba-hamba Nya.
Ayat ini mengisyaratkan kepada kaum Muslimin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan mahkluk-Nya sedikiptun. Dia mengemukakan suatu perumpamaan yang sudah ditangkap pengertiannya oleh kaum Muslimin, seperti anak-anak binatang yang tidak sanggup mencari makanannya sendiri. Allah telah menjadikan induknya sayang kepadanya, sehingga mereka bersedia berusaha dan bersusah payah mencarikan makanan bagi anaknya itu. Kemudian menyuapkan ke dalam mulut anak-anaknya itu, seperti burung dan sebagainya. Ada pula binatang yang memberi makan anaknya telah tersedia pada ibunya sendiri seperti susu yang terdapat pada binatang-binatang menyusui. Semuanya itu merupakan ketentuan yang rapi dari Allah, sehingga dengan demikian setiap makhluk yang ada ini mempertahankan jenis dan kelangsungan hidupnya.
Demikian pula halnya manusia, ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, ada yang kecil, ada yang besar, ada yang tinggal di tempat yang subur, dan ada pula yang tinggal di tempat yang tandus, semuanya diberi. rezeki oleh Allah, sesuai dengan keperluan mereka. Inilah yang dimaksud dengan ayat. Allah memberikan kepadanya dan kepadamu. Sebagaimana binatang yang tidak berakal diberi rezeki, begitu pula kamu diberi rezeki, hai para Muhajirin, sekalipun harta bendamu tertinggal di Mekah, dan mata pencaharianmu terputus.
Allah SWT berfirman:

وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها كل في كتب مبين
Artinya:
Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis di dalam Kitab yang nyata (Lohmahfuz). (Q.S. Hud: 6)
Kemudian ayat ini ditutup dengan menegaskan bahwa Allah Maha Mendengar apa yang kamu minta dan Dia Maha Mengetahui semua keperluanmu.
Dari ayat-ayat di atas dipahami bahwa manusia itu tidak mengetahui dengan pasti apa-apa yang dilakukannya, ada yang diketahuinya dan ada pula yang tidak diketahuinya. Ia hanya mengetahui keperluan-keperluannya yang lahir saja, sedang keperluan-keperluannya yang batin dan keperluan-keperluannya yang lain banyak yang tidak diketahuinya, seperti keperluan akan udara yang harus ia hirup sehari-hari, keperluan air, keperluan batinnya dan sebagainya. Karena itu manusia meminta kepada Tuhan hanya keperluan-keperluan dirinya yang diketahuinya saja sedang keperluan-keperluan yang tidak diketahuinya tidak dimintanya. Bahkan orang-orang yang tidak mengetahui adanya Tuhan tidak pernah meminta keperluan-keperluannya kepada Tuhan yang menciptakannya, namun semua keperluan itu dicukupi dan dilengkapi Allah SWT kepada makhluk-Nya. Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al 'Ankabuut 60
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لَا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (60)
(Dan berapa banyak) alangkah banyaknya (binatang yang tidak dapat membawa rezekinya sendiri) karena lemah. (Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian) hai orang-orang Muhajirin, sekalipun kalian tidak membawa bekal dan pula tidak membawa nafkah (dan Dia Maha Mendengar) perkataan-perkataan kalian (lagi Maha Mengetahui) apa yang terpendam di dalam hati kalian.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [4]
Ayat 41 s/d 60 dari [69]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).





Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
Counter Powered by  RedCounter
free counters
Bloggerian Top Hits