Tafsir Surat : AL-FURQAN

Get 100MB Free Web Hosting at Jabry.com

type=text/javascript> vBulletin_init();

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

::Home:: | Indonesia | English | Dutch | Sejarah | Hadist | Al Qur'an? | Adab | Al-Ma'tsurat | TAJWID | Artikel | Free Mobile Aplications | Sms Quran & Hadist
Radio-FajriFm | Pendidikan | Menyimak & Mengkaji | The Noble Quran | Memahami Quran | eBooks | Kisah Muallaf | *HadistWeb* | Tanda2 Bagi yg Ber-Akal
Tafsir Al-Azhar | Ponsel Quran | Belajar Baca | Qr.Recitation | Qr.Explorer | QuranTools | Qur’an Flash | Qurany.net | {Radio Dakwah/TV} | QuranTV-Mp3

Gunakan browser internet explorer untuk dapat mendengarkan Murotal (Audio)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-FURQAN
Ayat [77]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:3/4
 
41 Dan apabila mereka melihat kamu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikan kamu sebagai ejekan (dengan mengatakan):` Inikah orangnya yang diutus Allah sebagai Rasul?(QS. 25:41)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 41
وَإِذَا رَأَوْكَ إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي بَعَثَ اللَّهُ رَسُولًا (41)
Pada ayat ini Allah SWT menegaskan kepada Nabi Muhammad bahwa orang kafir selalu mengejeknya, dengan mengatakan: "Apakah ini orang yang diutus sebagai Rasul?".


42 Sesungguhnya hampirlah ia menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak sabar (menyembah) nya `. Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang paling sesat jalannya.(QS. 25:42)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 42
إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا (42)
Orang musyrik mengatakan: "Hampir saja Muhammad menyesatkan kita dari sembahan-sembahan kita, seandainya kita tidak tekun dan sabar menyembahnya". Ucapan mereka itu menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw telah menyampaikan dakwahnya dengan sungguh-sungguh disertai dengan hujah-hujah yang nyata dengan memperhatikan pula mukjizat-mukjizat sehingga mereka hampir-hampir meninggalkan agama nenek moyangnya dan memasuki agama Islam seandainya mereka tidak terlalu fanatik dan memegang teguh agama nenek moyangnya. Ucapan mereka itu menunjukkan pula adanya pertentangan yang hebat dalam hati sanubari mereka, dari satu sudut mereka mencemoohkan Nabi dan dari sudut lain mereka merasa khawatir akan terpengaruh oleh dakwah Nabi yang sangat kuat dan logis itu. Kemudian Allah menerangkan bahwa mereka akan mengetahui di saat mereka melihat azab, siapa yang sesat jalannya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 42
إِنْ كَادَ لَيُضِلُّنَا عَنْ آلِهَتِنَا لَوْلَا أَنْ صَبَرْنَا عَلَيْهَا وَسَوْفَ يَعْلَمُونَ حِينَ يَرَوْنَ الْعَذَابَ مَنْ أَضَلُّ سَبِيلًا (42)
(Sesungguhnya) lafal In adalah bentuk Takhfif dari lafal Inna, sedangkan isimnya tidak disebutkan, jadi bentuk lengkapnya adalah Innahuu, artinya, sesungguhnya ia (hampirlah ia menyesatkan kita) memalingkan diri kita (dari sesembahan-sesembahan kita, seandainya kita tidak sabar menyembahnya.") niscaya kita dapat dipalingkan dari sesembahan-sesembahan kita olehnya. Maka Allah berfirman, ("Dan mereka kelak akan mengetahui di saat mereka melihat azab) secara terang-terangan kelak di akhirat (siapa yang paling sesat jalannya") yang paling keliru tuntunannya, apakah mereka ataukah orang-orang yang beriman?


43 Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?,(QS. 25:43)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 43
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43)
Pada ayat ini Allah mencela orang-orang kafir Mekah yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sembahan dan menaati hawa nafsu sehingga dijadikan landasan untuk semua urusan agamanya, mereka tidak mendengarkan hujah yang nyata, dan penjelasan-penjelasan yang terang. Allah menasihatkan supaya Muhammad tidak terlalu memikirkan mereka, karena beliau tidak ditugaskan untuk menyadarkan mereka beriman selamanya, mereka tidak mau melepaskan dari belenggu hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk kepada kebenaran. Allah mengatakan bahwa Muhammad tidak menjadi pemelihara dan penjamin bagi mereka? Karena kewajibannya hanya menyampaikan risalah saja. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

لست عليهم بمسيطر
Artinya:
"Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka". (Q.S. Al Gasiah: 22)
Berkata Ibnu Abbas r.a: "Seorang laki-laki di zaman Jahiliah pernah menyembah batu yang putih selama beberapa masa; apabila dia melihat yang lain yang lebih baik, lalu ia meninggalkan batu putih itu dan memilih sembahan kedua yang lebih baik menurut ukuran hawa nafsunya, sehubungan dengan itu turunlah ayat ini".


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 43
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا (43)
(Terangkanlah kepadaku) ceritakanlah kepada-Ku (tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya) maksudnya orang-orang yang menurutkan hawa nafsunya; dalam ungkapan ayat ini Maf'ul kedua didahulukan mengingat kedudukannya yang penting, yaitu lafal Ilaahahu. Sedangkan jumlah Manittakhadza Hawaahu adalah Maf'ul Awwal dari lafal Ara-aita, dan Maf'ul yang kedua adalah lafal Ilaahahu yang didahulukan tadi. (Maka apakah kamu dapat menjadi pemeliharanya?) yang dapat memelihara dia untuk tidak mengikuti hawa nafsunya? Tentu saja tidak.


44 Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).(QS. 25:44)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 44
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا (44)
Pada ayat ini Allah menasihati Nabi Muhammad supaya jangan menganggap bahwa kebanyakan orang-orang musyrik mendengarkan ayat yang dibacakan kepadanya atau mereka memahami kebenaran yang terkandung dalam ayat itu sehingga mereka dapat mengamalkan petunjuknya untuk melakukan amal saleh dan memperbaiki akhlak kelakuannya. Allah SWT menasihati yang demikian karena mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya. Jika diadakan perbandingan antara mereka dengan binatang ternak, maka binatang ini suka tunduk kepada majikannya, yang dirasakan mencintainya, tahu siapa yang berbuat kebaikan dan siapa yang berbuat kejahatan kepadanya, dapat mencari sendiri tempat di mana ada rumput makanannya dan air minumannya, dan jika menghadapi malam hari tahu kembali ke tempat kembalinya dan tempat penginapannya, berbeda sekali dengan hal ihwal kaum musyrikin itu sendiri. Mereka tidak mau mengenal Pencipta dan Pemberi rezeki, mereka tidak merasakan berbagai-bagai nikmat yang dilimpahkan Tuhan kepadanya. Mereka tidak merasa tertipu oleh setan, yang selalu memandang baik bujukan hawa nafsunya. Kebodohan binatang ternak terbatas hanya pada dirinya sendiri, akan tetapi kebodohan mereka menjalar sampai menimbulkan berbagai-bagai fitnah dan kebinasaan dan menghalang-halangi orang lain dari jalan kebenaran, sampai menimbulkan perpecahan dan peperangan di antara sesama manusia. Walaupun binatang itu tidak mengetahui tentang ketauhidan dan kenabian, namun mereka tidak menentangnya, berlainan dengan mereka itu, yang mengingkari ketauhidan karena kesombongan dan kefanatikan terhadap ajaran yang salah yang diwarisi dari nenek moyangnya. Binatang ternak itu tidak menyia-nyiakan instink yang dikaruniakan Allah kepadanya, berlainan sekali dengan kaum musyrikin. Mereka dianugerahi akal yang sehat, dengan naluri yang baik sejak kelahiran, akan tetapi mereka menyia-nyiakan akal yang sehat itu yang telah dijadikan fitrah Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia.
Di dalam ayat disebutkan bahwa sebagian besar mereka tidak mendengar atau memahami kebenaran; memang ada pula sebagian kecil di antara mereka yang mengakui kebenaran tetapi tidak sanggup mengikutinya karena khawatir akan hilang kedudukannya.


45 Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu,(QS. 25:45)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 45
أَلَمْ تَرَ إِلَى رَبِّكَ كَيْفَ مَدَّ الظِّلَّ وَلَوْ شَاءَ لَجَعَلَهُ سَاكِنًا ثُمَّ جَعَلْنَا الشَّمْسَ عَلَيْهِ دَلِيلًا (45)
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya supaya memperhatikan ciptaan-Nya bagaimana Dia memanjangkan dan memendekkan bayang-bayang dari tiap-tiap benda yang kena sinar matahari. mulai terbit sampai terbenamnya. Sengaja Allah menjadikan panas dari teriknya matahari. Kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan bayang-bayang itu tetap, tidak berpindah-pindah. Biasanya Allah SWT membiarkan bayang-bayang itu memanjang atau memendek untuk dipergunakan manusia mengukur waktu seperti di Mesir mempergunakan alat yang diberi nama "Al Misallat" untuk mengukur waktu pada siang hari dan menentukan musim-musim selama setahun, hal mana sudah berjalan sejak dahulu kala, dan bangsa Arabpun telah mempergunakan alat yang diberi nama "Al Misawil" untuk menentukan waktu salat dengan bayang-bayang sehingga mereka dapat memastikan tibanya waktu Zuhur bila bayangan jarumnya sudah berpindah dari arah barat ke timur, dan tiba waktu Asar bila bayangan setiap benda yang berdiri sudah menyamainya, kecuali menurut pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa bayangan itu harus dua kali dari panjang benda itu sendiri. Jadi jelas bahwa menurut ayat ini Allah SWT menjadikan bayang-bayang matahari sebagai petunjuk waktu.


46 kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami dengan tarikan yang perlahan.(QS. 25:46)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 46
ثُمَّ قَبَضْنَاهُ إِلَيْنَا قَبْضًا يَسِيرًا (46)
Kemudian Allah hapuskan bayang-bayang itu dengan perlahan-lahan sesuai dengan terbenamnya matahari sedikit demi sedikit.


47 Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.(QS. 25:47)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 47
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاسًا وَالنَّوْمَ سُبَاتًا وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُورًا (47)
Kemudian Allah menyebutkan kekuasaan-Nya yang kedua ialah bahwa Dia menjadikan malam itu bagi manusia bermanfaat seperti manfaatnya pakaian yang menutup badan dan tidur seperti mati, karena seseorang di waktu tidur tidak sadar sama sekali, dan anggota badannya berhenti bekerja dengan demikian dia mendapat istirahat yang sempurna seperti dalam firman-Nya:

وهو الذي يتوفاكم بالليل
Artinya:
Dan Dia lah yang menidurkan kamu di malam hari. (Q.S. Al An'am: 60)
Dan firman-Nya:

الله يتوفى الأنفس حين موتها والتي لم تمت في منامها
Artinya:
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. (Q.S. Az zumar: 42)
Allah menjadikan siang untuk berusaha. Maka sebagaimana manusia tidur di malam hari untuk istirahat, yang tidurnya itu diserupakan dengan mati, lalu ia bangun berusaha pada siang hari, laksana seorang yang bangun lagi dari matinya, maka demikian pula seluruh umat manusia setelah selesai melaksanakan masa hidupnya di dunia ini, akan dibangkitkan kembali setelah matinya, untuk diadili oleh Tuhan tentang segala yang mereka kerjakan selama hidupnya di dunia itu. Lukman pernah berkata kepada anaknya:
كما تنامون ثم تستيقظون وتموتون ثم تبعثون
Artinya:
Sebagaimana kamu tidur lalu kamu dibangunkan, demikian pula kamu dimatikan lalu dibangkitkan.


48 Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya-xx (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih.(QS. 25:48)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 48
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا (48)
Tanda kekuasaan Allah yang ketiga ialah Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira terutama bagi para petani bahwa sudah dekat datangnya hujan yang merupakan rahmat dari Allah SWT, dan Dialah yang menurunkan air hujan yang amat bersih, membersihkan badan dan pakaian terutama untuk minuman dan keperluan lainnya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 48
وَهُوَ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا (48)
(Dialah yang meniupkan angin) menurut qiraat yang lain lafal Ar-Riih dibaca Ar-Riyah (pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya) yakni dekat sebelum hujan. Lafal Nusyuran menurut suatu qiraat dibaca Nusyran, artinya secara terpisah-pisah yakni dibaca secara Takhfif supaya ringan bacaannya. Menurut qiraat yang lain dibaca Nasyran karena dianggap sebagai Mashdar. Menurut qiraat lainnya lagi dibaca Busyra, artinya sebagai pembawa kabar gembira. Bentuk tunggal bacaan pertama adalah Nusyurun, wazannya sama dengan lafal Rasulun yang bentuk jamaknya adalah Rusulun. Sedangkan bentuk tunggal dari bacaan yang kedua yaitu Busyran ialah Basyirun, artinya pembawa kabar gembira (dan Kami turunkan dan langit air yang amat bersih) yaitu air yang dapat dipakai untuk bersuci, atau air yang menyucikan.


49 Agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak.(QS. 25:49)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 49
لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا (49)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa hujan untuk menyuburkan negeri-negeri atau tanah yang mati dan tandus. Dengan air hujan Dia memberi minum sebagian besar makhluk-Nya, binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak. Dalam ayat lain diterangkan:

وترى الأرض هامدة فإذا أنزلنا عليها الماء اهتزت وربت وأنبتت من كل زوج بهيج
Artinya:
Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah. (Q.S. Al Hajj: 5)
Dan seperti firman-Nya:

فانظر إلى آثار رحمة الله كيف يحيي الأرض بعد موتها إن ذلك لمحيي الموتى
Artinya:
Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah hidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan Yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. (Q.S. Ar Rum: 50)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 49
لِنُحْيِيَ بِهِ بَلْدَةً مَيْتًا وَنُسْقِيَهُ مِمَّا خَلَقْنَا أَنْعَامًا وَأَنَاسِيَّ كَثِيرًا (49)
(Agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri atau tanah yang mati) lafal Maitan dibaca Takhfif bentuk Mudzakkar dan Muannatsnya sama saja. Disebutkan dengan maksud, bahwa yang mati itu adalah tanah negeri itu (dan agar Kami memberi minum dengannya) dengan air itu (sebagian besar dari makhluk Kami, binatang-binatang ternak) unta, sapi dan kambing (dan manusia yang banyak) lafal Anaasiyyu merupakan bentuk jamak dari lafal Insaanun, bentuk asalnya adalah Anaasiinu, kemudian huruf Nun diganti menjadi Ya, lalu huruf Ya yang pertama diidgamkan kepadanya sehingga jadilah Anaasiyyu. Atau lafal Anaasiyyu ini adalah bentuk jamak dari lafal Insiyyun.


50 Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat).(QS. 25:50)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 50
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا (50)
Sesungguhnya Allah telah mengatur turunnya hujan secara bergiliran di antara manusia. Kadang-kadang turun siang atau malam, kadang-kadang ditujukan untuk menyirami tanah satu kaum yang baru melaksanakan salat Istisqa, kadang-kadang dipalingkan dari kaum yang banyak melakukan kedurhakaan dan kemaksiatan, agar manusia mengambil pelajaran dari nya, dan agar mereka mengerti, bahwa Tuhanlah yang mengatur giliran hujan itu seperti mengatur peredaran bintang-bintang dan planet di angkasa luas. Air hujan itu bukan hanya diatur turunnya saja dengan bergiliran, akan tetapi diatur pula bentuk dan keadaannya. Kadang-kadang merupakan benda seperti batu, yaitu jika suhunya jauh di bawah nol dan merupakan es batu. Kemudian jika dipanaskan berubah menjadi cairan, dan jika tambah dipanaskan lagi berubah menjadi uap seperti gas atau angin, dan air itu terdapat pula sebagai unsur hidup di udara. di sungai, di lautan, dalam tumbuh-tumbuhan, binatang dan manusia, patut sekali jika air itu dijadikan unsur dalam segala sesuatu yang hidup seperti dalam firman Allah:

وجعلنا من الماء كل شيء حي
Artinya:
"Dan dari pada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup". (Q.S. Al Anbiya: 30)
Semuanya ini harus jadi bahan pemikiran bagi manusia agar dapat mensyukuri nikmat Allah, tetapi kebanyakan manusia itu enggan kecuali mengingkari nikmat-nikmat itu. Kemudian Allah menerangkan bahwa nikmat-Nya besar sekali dilimpahkan kepada Nabi Muhammad saw dengan meletakkan beban kerasulan yang berat sekali di atas pundaknya, agar supaya beliau bertambah tinggi derajat dan kemuliaannya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 50
وَلَقَدْ صَرَّفْنَاهُ بَيْنَهُمْ لِيَذَّكَّرُوا فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا (50)
(Dan sesungguhnya Kami telah menggilirnya) yakni air hujan itu (di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran daripadanya) Yadzdzakkaruu asalnya Yatadzakkaruu, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Dzal setelah terlebih dahulu diganti menjadi Dzal pula, sehingga jadilah Yadzdzakkaruu. Menurut suatu qiraat dibaca Liyadzkuruu, sehingga artinya menjadi: supaya mereka ingat akan nikmat Allah dengan adanya air tersebut (maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari) nikmat Allah, karena mereka mengatakan bahwa hujan kita ini disebabkan munculnya bintang anu.


51 Dan andaikata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan (rasul).(QS. 25:51)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 51
وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51)
Seandainya Allah menghendaki pengutusan seorang utusan bagi tiap-tiap negeri, niscaya Dia utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan, tetapi sebagai Nabi penutup Allah cukup mengutus Muhammad saja kepada seluruh umat manusia dengan konsekwensinya bahwa Muhammad harus berdakwah dengan sungguh-sungguh, disertai kesabaran dan ketabahan hati yang semaksimal mungkin. Ketahuilah bagi beliau disediakan pahala dan kemuliaan yang besar dan tinggi sekali.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 51
وَلَوْ شِئْنَا لَبَعَثْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ نَذِيرًا (51)
(Dan andai kata Kami menghendaki, benar-benarlah Kami utus pada tiap-tiap negeri seorang yang memberi peringatan) untuk mengingatkan penduduknya, akan tetapi Kami mengutus kamu, hai Muhammad, kepada penduduk semua negeri sebagai pemberi peringatan kepada mereka semuanya, supaya pahalamu menjadi besar.


52 Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al quran dengan jihad yang besar.(QS. 25:52)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 52
فَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَجَاهِدْهُمْ بِهِ جِهَادًا كَبِيرًا (52)
Oleh karena itu Allah melarang Nabi Muhammad saw mengikuti orang-orang kafir yang mengajaknya supaya menyetujui atau mengadakan kompromi dengan mereka dalam hal-hal yang pokok dalam agama. Hendaklah ia tetap bersikap tegas dan konsekwen dalam melaksanakan dakwah kepada mereka dan berjihad dengan Alquran dengan sungguh-sungguh. Seperti firman Allah:

يا أيها النبي جاهد الكفار والمنافقين واغلظ عليهم
Artinya:
Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. (Q.S. At Taubah: 73)
Nabi Muhammad saw diperintahkan Allah supaya menyampaikan risalahnya dengan sungguh-sungguh, melaksanakan jihad dan perjuangan dengan penuh kebijaksanaan, kesabaran. ketabahan dan jangan takut atau gentar oleh ancaman dari musuh yang manapun. bahkan harus tenang dan yakin, bahwa Allah SWT pasti menolongnya, sehingga kemenangan terakhir berada di tangan Nabi dan kaum mukminin, agama Islam unggul mengatasi agama yang lain, walaupun kaum musyrikin tidak menyukainya


53 Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.(QS. 25:53)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 53
وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا (53)
Tanda kekuasaan Allah yang keempat, yaitu Dialah yang membiarkan dua laut mengalir berdampingan, yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit, seperti yang terjadi di muara sungai-sungai besar, tetapi anehnya walaupun berdekatan rasa airnya tidak bercampur seolah-olah ada dinding yang membatasi diantara keduanya, sehingga yang satu tidak merusak rasa yang lainnya. Walaupun menurut pandangan mata kedua lautan itu bercampur, namun pada kenyataannya yang tawar terpisah dari yang asin dengan kekuasaan Allah SWT seperti dalam firman-Nya:

مرج البحرين يلتقيان بينهما برزخ لا يبغيان
Artinya:
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. (Q.S. Ar Rahman: 19-20)
Di antara ahli tafsir ada yang berpendapat bahwa kalimat "layabgiyan" maksudnya: masing-masing tidak menghendaki. Dengan demikian maksud ayat tersebut ialah bahwa pada dua laut yang keduanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidaklah dikehendaki (tidak diperlukan) sehingga pada akhirnya tanah genting itu dibuang (digali sebuah terusan untuk keperluan lalu lintas) maka bertemulah kedua lautan itu seperti terusan Suez dan terusan Panama.


54 Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa.(QS. 25:54)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 54
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا (54)
Tanda kekuasaan Allah yang kelima, yaitu Dialah yang menciptakan dari air sperma, sehingga air itu termasuk salah satu unsur yang keempat, menjadi sebagian dari tubuh manusia, agar dapat menerima bermacam-macam bentuk dan corak yang diperlukan menyusun insan kamil, lalu Dia jadikan manusia mempunyai keturunan dari yang berkelamin laki-laki dan musaharah atau hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan dengan pihak perempuan seperti menantu, ipar, mertua, dan sebagainya sesuai dengan firman Allah:

ألم يك نطفة من مني يمنى ثم كان علقة فخلق فسوى فجعل منه الزوجين الذكر والأنثى
Artinya:
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan daripadanya sepasang laki-laki dan perempuan. (Q.S. Al Qiyamah: 37-39)
Tuhanmu Maha Kuasa Dia menciptakan manusia yang sangat ajaib susunan tubuhnya dilengkapi dengan pancaindra yang serba lengkap, disempurnakan dengan kemampuan untuk berpikir dengan diberi segala fasilitas sehingga semua yang berada di atas permukaan bumi, diperuntukkan bagi manusia, sesuai dengan firman Allah:

ألم تروا أن الله سخر لكم ما في السموات وما في الأرض وأسبغ عليكم نعمه ظاهرة وباطنة
Artinya:
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. (Q.S. Luqman: 20)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 54
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا (54)
(Dan Dia pula yang menciptakan manusia dari air) yakni dari air mani; lafal Basyar adalah sinonim dari lafal Insaan (lalu Dia jadikan manusia itu punya keturunan) punya hubungan nasab (dan mushaharah) punya hubungan mushaharah, misalnya seorang lelaki atau perempuan melakukan perkawinan dengan pasangannya untuk memperoleh keturunan, maka hubungan kekeluargaan dari perkawinan ini dinamakan hubungan Mushaharah (dan adalah Rabbmu Maha Kuasa) untuk menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.


55 Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat kepada mereka dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Adalah orang-orang kafir itu penolong (syaitan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya-xx(QS. 25:55)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 55
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُهُمْ وَلَا يَضُرُّهُمْ وَكَانَ الْكَافِرُ عَلَى رَبِّهِ ظَهِيرًا (55)
Orang-orang musyrikin itu menyembah selain Allah, mereka menyembah patung-patung dan berhala yang tidak memberi manfaat kepada mereka. Mereka menyembahnya hanya sekadar mengikuti hawa nafsu dan melangsungkan tradisi nenek moyang mereka saja, dan mereka meninggalkan ibadah kepada Allah SWT yang menciptakan mereka yang telah melimpahkan berbagai-bagai kenikmatan kepada mereka. Di samping itu mereka telah membuat kemungkaran yaitu membiasakan diri membantu setan dalam tindakannya memusuhi Allah, Rasul-Nya dan kaum mukminin, seperti dalam firman-Nya:

وإخوانهم يمدونهم في الغي
Artinya:
Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan. (Q.S. Al A'raf: 202)
Kata "zahir" dalam ayat lain diartikan penolong. Sebagian ahli tafsir mengartikan terhina atau tersia-sia sehingga artinya jadi begini: Dan orang-orang kafir pada sisi Tuhannya sangat hina dan sia-sia.


56 Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan.(QS. 25:56)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 56
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (56)
Mengapa kaum musyrikin itu membantu setan berbuat durhaka terhadap Tuhannya, padahal Allah telah mengutus Rasul-Nya memberi peringatan kepada mereka, dan mereka mengetahui bahwa Rasul itu diutus untuk membawa kabar gembira dan memberi peringatan. Alangkah bodohnya orang-orang yang memusuhi Rasul.


57 Katakanlah:` Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhannya.(QS. 25:57)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 57
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا (57)
Allah SWT memerintahkan Nabi saw supaya menerangkan kepada kaumnya, bahwa walaupun beliau diutus untuk keselamatan mereka, namun beliau sama sekali tidak mengambil keuntungan untuk diri pribadinya, beliau berkata: "Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah ini, hanya saja ada orang yang dengan kemauannya sendiri ingin berbuat amal saleh untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan mengeluarkan derma atau bantuan sukarela, itulah yang baik baginya. Kemudian setelah Allah SWT menerangkan bahwa kaum musyrikin dengan setan saling bantu membantu menentang dan menyakiti Rasulullah saw beliau diperintahkan supaya tetap bertawakal kepada Allah.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 57
قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِلَّا مَنْ شَاءَ أَنْ يَتَّخِذَ إِلَى رَبِّهِ سَبِيلًا (57)
(Katakanlah! "Aku tidak meminta kepada kalian dalam menyampaikan hal ini) yakni menyampaikan apa yang aku diutus untuk menyampaikannya (upah sedikit pun, melainkan) tetapi hanya mengharapkan kepatuhan (orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Rabbnya) dengan cara menginfakkan harta bendanya ke jalan keridaan-Nya, maka untuk hal ini aku tidak mencegahnya.


58 Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya,(QS. 25:58)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 58
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا (58)
Allah SWT memerintahkan agar bertawakal kepada-Nya yang hidup Kekal tidak mati, Tuhan seru sekalian alam, berserah diri kepada-Nya, dan bersabar dalam segala nasib yang menimpa dirinya, karena Tuhanlah yang memberi kecukupan kepadanya, yang menyampaikan kepada tujuan kebahagiaan, dan bertasbih dengan memuji-Nya, menyucikan-Nya dari segala sekutu, anak atau istri dari segala sifat yang tidak pantas yang dilemparkan oleh kaum musyrikin kepada-Nya. Perintah Allah bartawakal kepada-Nya itu bukan berarti bahwa manusia tidak perlu berusaha lagi, atau tidak perlu memikirkan sebab-sebab yang menimbulkan usaha itu, tetapi maksudnya ialah agar manusia ,menyerahkan kepada Allah segala sesuatu yang telah diusahakannya, sebab tawakal itu ditugaskan kepada hati, sedang usaha ditugaskan kepada tubuh anggota. Bidangnya barlainan yaitu bidang hakikat dan bidang syariat. dan cukuplah Dia Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. baik yang nampak maupun yang tidak. Oleh karena dalam ayat ini Allah memerintahkan supaya bertawakal hanya kepada Allah Yang Maha Hidup, maka jelas sekali bahwa semua makhluk akan mati, tidak patut bartawakal kepada selain-Nya. Hanya Allah lah Yang Maha Hidup Kekal, yang mengetahui segala amal perbuatan dan dosa-dosa hamba-Nya dan mampu memberi balasan amal-amalnya, yang baik dengan pahala dan yang buruk dengan siksa. Kesempurnaan kekuasaan Allah itu dijelaskan lagi dalam ayat berikutnya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 58
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ وَكَفَى بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا (58)
(Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup Kekal Yang tidak mati, dan bertasbihlah) seraya (memuji kepada-Nya) yakni, katakanlah, 'Subhanallah Wal Hamdulillah' yang artinya; Maha Suci Allah dan segala puji bagi Allah. (Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa hamba-hamba-Nya) lafal Bihi berta'alluq kepada lafal Dzunubi.


59 Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah tentang itu kepada Yang Maha Mengetahui.(QS. 25:59)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 59
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا (59)
Dalam ayat ini diterangkan bahwa Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa. Kalimat "yaum" biasanya diartikan hari, tetapi hari di sini bukanlah hari yang lamanya dua puluh empat jam tetapi dengan arti masa.
Kemudian Dia bersemayam di atas Arasy. Bersemayam di sini maksudnya seperti tersebut pada surat Al A'raf ayat 54, ialah selain satu sifat di antara sifat-sifat yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran dan kesucian-Nya. Seorang yang bertawakal kepada Allah karena meyakini bahwa Dialah Tuhan Yang Hidup Kekal, Tuhan Yang Maha Kuasa Yang menciptakan langit, bumi dan segala yang ada di antaranya dalam enam masa, niscaya akan bertambah pula tawakalnya kepada Allah, karena Tuhan yang seperti itulah yang patut semua makhluk berserah diri dan tawakal kepada-Nya. Dialah Yang Maha Pemurah, yang rahmat dan karunia-Nya amat besar kepada manusia oleh sebab itu maka hendaklah menanyakan hal itu jika dia masih belum jelas dan mantap. Maka tanyakanlah tentang itu kepada Yang Maha Mengetahui. Janganlah bertanya tentang hal itu kepada sembarangan orang mukmin yang memberi jawaban tidak memuaskan karena pengetahuannya serba terbatas, akan tetapi tanyakanlah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Mengetahui supaya sikap tawakkal dan berserah diri kepada-Nya itu bertambah kuat dan mantap lagi. Setelah Allah SWT menjelaskan betapa besar karunia dan nikmat-Nya yang dilimpahkan-Nya kepada mereka, Allah menerangkan pula sikap orang-orang kafir yang mestinya mereka bersyukur dan berterima kasih, tetapi malah sebaliknya.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 59
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ الرَّحْمَنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا (59)
Dia adalah (Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam hari) dari hari-hari dunia menurut perkiraan; karena pada masa itu masih belum ada matahari. Akan tetapi jika Dia menghendaki niscaya Dia dapat menciptakan kesemuanya dalam waktu sekejap saja. Sengaja Dia memakai cara ini dengan maksud untuk mengajari makhluk-Nya supaya berlaku perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa dalam segala hal (kemudian Dia berkuasa di atas Arasy) arti kata Arasy menurut istilah bahasa adalah singgasana raja. (yakni Allah Yang Maha Penyayang) lafal Ar-Rahmaan ini berkedudukan menjadi Badal dari Dhamir yang terkandung di dalam lafal Istawaa Makna Istawaa ialah bersemayam, karena ungkapan inilah yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya (maka tanyakanlah) hai manusia (tentang Dia) tentang Allah Yang Maha Pemurah (kepada orang yang mengetahui.") tentang-Nya, dia akan menceritakan kepada-Mu mengenai sifat-sifat-Nya.


60 Dan apabila dikatakan kepada mereka: `Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Penyayang`, mereka menjawab: `Siapakah Yang Maha Penyayang itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?`, Dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).(QS. 25:60)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Furqaan 60
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا (60)
Dan apabila dikatakan kepada mereka yang menyembah selain Allah itu: "Sujudlah kamu sekalian kepada Tuhan Yang Maha Penyayang". Mereka menjawab: "Siapakah Tuhan Yang Maha Penyayang?". Pertanyaan mereka seperti pertanyaan Firaun kepada Musa ketika ia mengatakan: "Sesungguhnya aku adalah seorang utusan dari Rabbul 'Alamin". Firaun bertanya: "Siapakah Rabbul 'Alamin itu?". Kaum musyrikin itu dalam bantahannya mengatakan: "Apakan kami akan sujud kepada Tuhan yang dikatakan Maha Penyayang tetapi kami belum kenal sama sekali?". Dan perintah sujud itu menambah mereka ingkar dan jauh dari iman.
Diriwayatkan oleh Ad Dahhaq, bahwa Nabi Muhammad saw beserta para sahabat bersujud ketika selesai membacakan ayat ini, dan ayat ini termasuk di antara ayat-ayat yang disunahkan bersujud bagi para pembaca dan pendengarnya, ketika selesai membacanya dan sujudnya dinamakan "sujud tilawat". Ayat-ayat yang disunahkan sujud tilawat ada 14 buah, dua buah di antaranya berada dalam surat Al Hajj dan yang 12 lagi tersebar dalam surat-surat: "Al A'raf, Ar Ra'd, An Nahl, Al Isra', Maryam, Al Furqan, An Naml, Alif Lam Mim, As Sajdah, Fussilat, An Najm, Insyiqaq dan Isra', Yang berada dalam surat Sad bukan saja sujud tilawat akan tetapi sujud syukur. Setelah Allah SWT menerangkan sikap orang-orang kafir yang menjauhkan diri daripada sujud, maka Allah SWT menerangkan beberapa sifat keutamaan-Nya, dan bila dijadikan bahan pemikiran, pasti mereka tertarik untuk melakukan sujud itu.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Furqaan 60
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا (60)
(Dan apabila dikatakan kepada mereka) yaitu penduduk Mekah ("Sujudlah kamu sekalian kepada Yang Maha Pemurah", mereka menjawab, "Siapakah Yang Maha Pemurah itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan yang kamu perintahkan kami bersujud kepada-Nya?") lafal Ta`muruuna dapat dibaca Ya`muruuna dan yang memerintahkan kepada mereka untuk bersujud adalah Nabi Muhammad. Makna ayat; kami tidak mengetahui-Nya, maka kami tidak mau bersujud kepada-Nya (dan makin menambah mereka) perintah bersujud yang ditujukan kepada mereka itu menambah mereka (semakin jauh) dari iman. Maka Allah swt. berfirman,


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [4]
Ayat 41 s/d 60 dari [77]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).





Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
Counter Powered by  RedCounter
free counters
Bloggerian Top Hits