Tafsir Surat : AL-AHZAB

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

HOME|Radio-FajriFm|Pendidikan|Adab|Muallaf Center|QuranTerjemah|eBooks|Tafsir Al-Azhar|HadistWeb|Artikel|SMSQURAN
Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-AHZAB
Ayat [73]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:2/4
 
21 Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS. 33:21)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21)
Pada ayat ini Allah SWT memperingatkan orang-orang munafik. bahwa sebenarnya mereka dapat memperoleh teladan yang baik dari Nabi saw. Rasulullah saw adalah seorang yang kuat imannya, berani, sabar, tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya dengan sepenuhnya kepada segala ketentuan-ketentuan Allah dan beliaupun mempunyai akhlak yang mulia. Jika mereka bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, tentulah mereka akan mencontoh dan mengikuti Nabi. Tetapi perbuatan dan tingkah laku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan keridaan Allah dan segala macam bentuk kebahagiaan hakiki itu.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 21
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا (21)
(Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan bagi kalian) dapat dibaca iswatun dan uswatun (yang baik) untuk diikuti dalam hal berperang dan keteguhan serta kesabarannya, yang masing-masing diterapkan pada tempat-tempatnya (bagi orang) lafal ayat ini berkedudukan menjadi badal dari lafal lakum (yang mengharap rahmat Allah) yakni takut kepada-Nya (dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah) berbeda halnya dengan orang-orang yang selain mereka.


22 Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:` Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita `. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.(QS. 33:22)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 22
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا (22)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan sikap dan tindakan kaum. Muslimin dalam menghadapi perang Ahzab Mereka bekerja dan berjuang semata-mata karena Allah mengikuti perintah Nabi, bukan karena kepentingan diri sendiri, seluruh harta bahkan jiwa raga mereka, mereka serahkan kepada Nabi untuk kepentingan perjuangan. Mereka berjuang dengan tabah dan sabar. Semakin besar bahaya mengancam, semakin kuat iman dan ketabahan mereka. Ketika mereka melihat keadaan tentara yang bersekutu jumlahnya sangat besar yang akan menyerbu mereka sedang jumlah mereka hanya berjumlah sedikit, mereka berkata: "Inilah yang telah dijanjikan Allah dan Rasul Nya kepada kita, berupa ujian dan cobaan, sebagai pendahuluan dari kemenangan yang akan datang, karena itu kita haruslah tabah dan sabar dalam menghadapinya.
Pada ayat yang lain diterangkan syarat-syarat kebahagiaan dan kemenangan yang akan diperoleh orang-orang yang beriman. Allah SWT berfirman

أم حسبتم أن تدخلوا الجنة ولما يأتكم مثل الذين خلوا من قبلكم مستهم الباساء والضراء وزلزلوا حتى يقول الرسول والذين ءامنوا معه متى نصر الله إلا أن نصر الله قريب
Artinya:
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang yang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta diguncangkan (dengan bermacam-macam cobaan), sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amal dekat. (Q.S. Al Baqarah: 214)
Dan firman Nya lagi:

أحسب الناس أن يتركوا أن يقولوا آمنا وهم لا يفتنون
Artinya:
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji (lagi). (Q.S. Al Ankabut: 2)
Diriwayatkan oleh Ibnu Kasir bahwa pada waktu menggali parit sebelum tentara yang bersekutu datang, Rasulullah saw pernah menyampaikan bahwa Jibril mengatakan kepadanya bahwa kerajaan Persia, Romawi akan takluk di bawah kekuasaan kaum Muslimin". Mendengar kabar berita itu, kaum Muslimin sangat senang, karena mereka percaya bahwa itu adalah janji Allah. Tatkala datang tentara yang bersekutu mengepung mereka maka mereka menganggap bahwa kedatangan tentara yang bersekutu itu adalah ujian dan cobaan bagi mereka sebelum memperoleh kemenangan dan sebelum mereka menaklukkan Persia dan Romawi, sehingga mereka mengucapkan:
Sesungguhnya benarlah yang dijanjikan Allah itu dengan meluaskan agama Islam ke seluruh penjuru dunia di kemudian hari, dan benar pula apa yang diisyaratkan Allah untuk mencapai kemenangan dan kebahagiaan itu, yaitu bertawakkal dan sabar dalam menerima cobaan dan halangan.


23 Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya),(QS. 33:23)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 23
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا (23)
Allah SWT menerangkan bahwa di antara kaum Muslimin yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul Nya, ada orang-orang yang menepati janjinya. Mereka telah berjuang dengan seluruh jiwa dan hartanya, sebagian mereka ada yang mati syahid di perang Badar, di perang Uhud, di perang Khandaq ini dan di peperangan-peperangan lainnya, sedang sebagian yang lain ada yang menunggu-nunggu dipanjangkan umurnya, menunggu ketetapan Allah Yang Maha Esa. Dan orang-orang yang masih hidup ini, sekali-kali tidak akan berubah janjinya kepada Allah, akan tetapi ditepatinya janjinya selama hayat dikandung badan.
Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, At Timizi, An Nasa'i dan imam-imam hadis yang lain dari sahabat Anas, ia berkata: "Pamanku Anas bin Nadar, tidak ikut perang Badar, maka ia merasa sedih dan kecewa. Ia berkata: "Aku tidak hadir pada peperangan yang pertama kali Rasulullah saw ada di dalamnya. Sesungguhnya jika Allah memberikan kesempatan kepadaku menghadiri peperangan bersama Rasululalh sesudah ini, tentulah Allah Ta'ala akan melihat apa yang akan aku lakukan". Maka pamanku kata Aus dapat ikut serta dalam perang Uhud. Dalam perjalanan menuju Uhud itu, pamanku itu bertemu dengan Saad bin Muaz, dan Saad bertanya kepadanya: "Hai Abu 'Amr, hendak kemanakah engkau?". Pamanku menjawab: "Mencari bau surga yang akan aku peroleh di perang Uhud nanti". Maka pamanku terus ke Uhud dan gugur sebagai syuhada' di sana. Pada tubuhnya terdapat kira-kira 80 bekas pukulan, tusukan tombak dan lubang anak panah". Maka turunlah ayat ini.
Menurut Tafsir Al Kasysyaf bahwa beberapa orang sahabat ada yang bernazar; jika mereka ikut perang bersama Rasulullah, mereka tidak akan mundur dan tetap bertahan sampai gugur sebagai syuhada'. Di antara sahabat yang berjanji itu ialah Usman bin Affan, Talhan bin Ubaidillah, Saad bin Zaid, Hamzah, Mas'ub bin Umair dan sahabat-sahabat yang lain.


24 supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 33:24)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 24
لِيَجْزِيَ اللَّهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِنْ شَاءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا (24)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan apa sebab adanya ujian dan cobaan bagi orang-orang yang beriman. Sebabnya ialah untuk membedakan yang keji dengan yang baik, yang benar-benar beriman dan yang kafir dan untuk menyatakan dan menampakkan apa yang berada dalam hati mereka yang sebenarnya, sebagaimana tersebut dalam firman Nya pada ayat yang lain:

ولنبلونكم حتى نعلم المجاهدين منكم والصابرين ونبلوا أخباركم
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu. (Q.S. Muhammad: 31)
Dan firman Allah SWT:

ما كان الله ليذر المؤمنين على ما أنتم عليه حتى يميز الخبيث من الطيب
Artinya:
Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dan yang baik (mukmin). (Q.S. Ali Imran: 179)
Kemudian setelah jelas keadaan mereka, maka Allah memberi pahala kepada orang-orang yang benar-benar menepati janjinya, dan mengazab orang-orang munafik yang tidak menepati janjinya itu. Sekalipun demikian pintu tobat masih terbuka bagi orang-orang munafik itu, yaitu jika mereka beriman; menepati janjinya dan mengerjakan amal saleh. Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuatnya dahulu.
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan kepada hamba-hamba Nya bahwa Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, menghapus segala dosa orang-orang yang benar-benar bertobat, seakan-akan dosa itu tidak pernah diperbuatnya. Dari ayat ini dipahami bahwa pintu tobat itu selalu terbuka, bagi setiap hamba yang akan melakukannya. Karena itu hendaklah kaum Muslimin selalu melakukannya.


25 Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.(QS. 33:25)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 25
وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا (25)
Pada ayat ini kembali Allah SWT menerangkan tentang nikmat yang besar yang telah dilimpahkan Nya kepada kaum Muslimin di perang Ahzab, sehingga mereka lepas dari bahaya kehancuran. Nikmat itu ialah Allah SWT telah mengirimkan kepada mereka balabantuan berupa angin kencang yang sangat dingin dan bala tentara malaikat yang tidak kelihatan. Akibatnya orang-orang yang ingkar kepada Allah dan Rasul Nya, yaitu kaum Quraisy beserta pengikut-pengikutnya, Gatfan dan pengikut-pengikutnya, golongan Yahudi dan kaum munafik yang tidak memperoleh yang mereka ingini, bahkan mereka lari tunggang langgang mencari keselamatan dirinya, kembali ke kampung halamannya masing-masing.
Diriwayatkan oleh Bukhari dun Muslim dari Abu Hurairah; bahwa Rasulullah saw bersabda:

لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده فلا شيء بعده.
Artinya:
Tidak ada Tuhan selain Allah sendiri janji Nya ditepati Nya. Dia menolong hamba Nya, memenangkan tentara Nya, menghancurkan tentara yang bersekutu dengan sendinnya maka tidak ada lagi sesuatupun sesudahnya.
Pada hadis yang lain Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abi Aufa, ia berkata: "Rasulullah saw berdoa kepada Allah atas tentara yang bersekutu:

اللهم منزل الكتاب سريع الحساب اهزم الأحزاب اللهم اهزمهم وزلزلهم.
Artinya:
Wahai Tuhan yang telah menurunkan Alquran, amat cepat hisabnya, hancurkanlah tentara yang bersekutu itu, wahai Tuhan, hancurkanlah mereka dan guncangkanlah mereka.
Menurut riwayat Muhammad bin Ishak, tatkala tentara yang bersekutu. telah lari dan meninggalkan parit itu, Rasulullah saw berkata:

لن تغزوكم قريش بعد عامكم هذا ولكنكم تغزوهم
Artinya:
Orang-orang Quraisy sekali-kali tidak akan memerangi kamu sesudah tahun ini, tetapi kamulah yang akan memerangi mereka.
Perkataan Rasulullah saw ini terbukti di kemudian hari, bahwa setelah perang Ahzab itu orang-orang musyrikin tidak pernah lagi memerangi kaum Muslimin, akan tetapi Nabi dan kaum Musliminlah yang memerangi mereka, sampai Mekah dapat ditaklukkan. Karena itu dapat dikatakan bahwa peperangan Ahzab itu merupakan titik puncak kesulitan yang dihadapi Nabi dan kaum Muslimin dalam menghadapi orang-orang musyrikin dan menyebarkan agama Islam Sekalipun kesulitan-kesulitan masih ada, tetapi tidaklah berarti bila dibanding dengan kesulitan-kesulitan sebelumnya.
Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa, tidak dapat ditandingi oleh sesuatupun. Karena itu dengan mudah Dia menghalau tentara yang bersekutu yang berjumlah banyak itu.


26 Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.(QS. 33:26)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 26
وَأَنْزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا (26)
Ayat ini menerangkan perang menghadapi Bani Quraizah salah satu dari suku-suku Yahudi Madinah yang telah membuat perjanjian damai dengan Nabi. Sebagaimana yang diterangkan terdahulu pada saat-saat krisis bagi kaum Muslimin dalam menghadapi tentara yang bersekutu di perang Ahzab itu, orang-orang Yahudi Bani Quraizah yang menjadi warga kota Madinah. mengkhianati kaum Muslimin dari dalam. Pemimpin mereka Kaab bin Asad dihasut oleh pemimpin-pemimpin Bani Nadir, yaitu Huyai bin Akhtab agar membatalkan perjanjian damai yang telah mereka buat dengan Nabi, serta menggabungkan diri dengan tentara yang bersekutu di perang Ahzab yang mengepung kota Madinah. Ajakan itu mula-mula ditolak oleh Ka'ab bin Asad, akan tetapi akhirnya diterimanya maka dikhianatinyalah Nabi dan tergabunglah Bani Quraizah itu kepada Ahzab.
Berita pengkhianatan Bani Quraizah ini menggemparkan kaum Muslimin, karena pengkhianatan itu berada dalam kota Madinah. Karena itu Rasulullah saw segera mengutus dua orang sahabatnya, yaitu Saad bin Muaz kepala suku Aus dan Saad bin Ubadah kepala suku Khazraj kepada suku Bani Quraizah untuk menasihati mereka agar jangan meneruskan pengkhianatan itu. Setiba kedua utusan itu ditempat Bani Quraizah, keduanya segera menyampaikan pesan-pesan Nabi saw. Akan tetapi permintaan Nabi itu ditolak mereka dengan sikap yang kasar dan penuh keangkuhan dan kesombongan, dan mereka meneruskan pengkhianatan mereka itu.
Setelah Allah menghalau pasukan sekutu, maka Dia mewahyukan kepada Nabi Nya Muhammad saw, agar kaum Muslimin segera menumpas Bani Quraizah, yang telah berkhianat itu. Karena itu Nabi dan kaum Muslimin segera membuat perhitungan dengan para pengkhianat itu, Nabi dan kaum Muslimin segera mendatangi kampung mereka untuk mengepungnya. Setelah mereka mendengar kedatangan Nabi dan kaum Muslimin, mereka segera memasuki benteng-benteng mereka untuk mempertahankan diri. Tentara kaum Muslimin waktu itu dipimpin oleh Ali bin Abu Talib. Setelah dua puluh lima hari lamanya mereka dikepung dalam benteng-benteng itu dengan penuh ketakutan, maka mereka mau menyerah kepada Nabi dengan syarat bahwa yang akan menjadi hakim atas perbuatan mereka ialah Saad bin Muaz kepala suku Aus. Penyerahan dan syarat itu diterima Nabi, maka turunlah mereka dari benteng-benteng mereka itu dan menyerah kepada Nabi. Setelah mempertimbangkan dengan matang, maka Saad menjatuhkan hukuman mati laki-laki mereka dibunuh, sedang wanita-wanita dan anak-anak ditawan
Hukuman yang demikian itu adalah wajar bagi pengkhianat-pengkhianat masyarakat yang sedang dalam keadaan perang, lebih-lebih pengkhianatan itu dilakukan ketika musuh sedang melancarkan serangannya. Masyarakat Islam di Madinah waktu itu ialah masyarakat yang baru tumbuh, masyarakat yang baru mulai melaksanakan hukum-hukum berdasarkan ketetapan Islam yana berbeda dengan hukum-hukum yang lama. Karena itu wajarlah kiranya hukuman yang telah diberikan kepada Bani Quraizah yang berkhianat di masa perang karena mereka yang berbuat semacam itu berlaku hukum perang. Dengan hukuman itu maka kota Madinah tetap kuat dan Nabi tetap berwibawa dan penduduk Madinah yang lain mengetahui dan menyadari bahwa. kepada setiap pengkhianat akan diberikan hukuman yang setimpal.


27 Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.(QS. 33:27)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 27
وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (27)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan tentang harta benda Bani Quraizah yang telah dijatuhi hukuman mati itu. yaitu Allah telah memberikan kepada kaum Muslimin segala kebun-kebun, rumah-rumah, harta benda, binatang ternak yang mereka miliki, bahkan dalam ayat ini Allah menjanjikan kepada kaum Muslimin, bahwa dia akan mewariskan kepada kaum Muslimin tanah-tanah yang lain, yang waktu itu belum dimasuki oleh tentara Islam, tetapi pasti akan mereka masuki dan mereka taklukkan
Pada akhir ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Dia berkuasa memberikan semuanya itu kepada kaum Muslimin untuk menolong kaum Muslimin dalam melaksanakan agama Nya dan untuk perluasan Islam itu sendiri adalah ketentuan yang pasti terlaksana.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 27
وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَمْ تَطَئُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا (27)
(Dan Dia mewariskan kepada kalian tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka dan demikian pula tanah yang belum kalian injak) sebelumnya, yaitu tanah Khaibar, yang direbut sesudah Quraizhah. (Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.)


28 Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu:` Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.(QS. 33:28)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 28
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28)
Allah SWT memerintahkan Rasulullah saw agar menyampaikan kepada istri-istrinya supaya mereka memilih apa yang mereka kehendaki dari dua hal. Pertama ialah; "Jika kamu hai istri-istriku menginginkan kehidupan dunia dengan segala kenikmatannya. Maka aku tidak mempunyai yang demikian itu, dan aku tidak mempunyai sesuatupun yang akan kuberikan untuk memenuhi keinginanmu itu. Karena itu aku akan mentalakmu dan aku memberi mutah, sebagaimana yang telah disyariatkan agama, dan aku akan menceraikan kamu secara baik-baik pula".
Menurut ketentuan Allah SWT seorang suami yang menceraikan istrinya memberi mutah yang berupa pakaian, uang, atau perhiasan secara sukarela kepada istrinya yang dicerainya itu, sesuai dengan kemampuannya; orang kaya sesuai dengan kekayaannya dan orang miskin sesuai dengan kemiskinannya, sebagaimana diterangkan dalam firman Nya:

ومتعوهن على الموسع قدره وعلى المقتر قدره متاعا بالمعروف حقا على المحسنين
Artinya:
Dan hendaklah kamu berikan suatu mutah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya, dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. (Q.S. Al Baqarah: 236)
Dan Allah juga menetapkan bahwa jika seorang suami menalak istrinya, maka hendaklah ia melepaskan mereka secara baik-baik dan ditalak pada waktu suci sebelum dicampuri, agar mereka dapat melaksanakan idah dalam masa yang pendek. Allah SWT berfirman:

يا أيها النبي إذا طلقتم النساء فطلقوهن لعدتهن واحصوا العدة واتقوا الله ربكم
Artinya:
Hai Nabi apabila kamu menceraikan istri-istrimu, maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) idahnya (yang wajar), dan hitunglah waktu idah itu, serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. (Q.S. At Talaq: 1)
Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Jabir r.a. ia berkata: "Abu Bakar r.a. minta izin kepada Rasulullah saw menghadap beliau, sedang banyak orang di muka pintu duduk menunggu izin menghadap beliau, dan Rasulullah saw belum mengizinkan Abu Bakar menghadapnya. Kemudian datang pula Umar r.a. minta izin menghadap pula dan Rasulullah belum pula mengizinkannya. Kemudian Rasulullah saw mengizinkan Abu Bakar dan Umar menghadapnya, maka keduanyapun masuk, waktu itu Rasulullah sedang duduk di kelilingi istri-istrinya, dan beliau dalam keadaan diam. Umar berkata kepada Rasulullah dengan maksud agar Rasulullah ketawa, ia bertanya : "Bagaimana pendapat engkau jika putri si Zaid (maksudnya istri Umar), minta nafkah kepadaku, lalu aku pukul kuduknya dengan tanganku?". Mendengar itu Rasulullah saw ketawa, hingga kelihatan geraham-gerahamnya yang paling belakang, dan beliau berkata: "Istri-istriku ini duduk di sekelilingku meminta nafkah". Mendengar ucapan Rasulullah itu maka Abu Bakar pergi kepada `Aisyah hendak memukulnya, dan Umar pergi kepada Hafsyah seraya berkata: "Kamu meminta kepada Rasulullah sesuatu yang tidak dimilikinya". Maka Rasulullah melarang keduanya. Para istri beliau itu menjawab: "Mulai saat ini kami tidak akan meminta kepada Rasulullah sesuatu yang tidak dimilikinya. Menurut riwayat Rasulullah saw menjauhkan dirinya sesudah itu dari istri-istrinya selama 29 hari atau satu bulan. Maka turunlah ayat 28 dan 29 surat ini. Maka Rasulullah memanggil istri-istrinya dan menyuruh memilih salah satu dari dua hal itu. Pertama kali disuruh memilih ialah `Aisyah r.a. beliau berkata: "Sesungguhnya aku ingin menyampaikan sesuatu, tetapi aku tidak ingin segera dijawab sebelum engkau menanyakan kepada ibu bapakmu". 'Aisyah menjawab: "Apakah yang hendak Rasulullah sampaikan itu?". Maka Rasulullah membaca ayat 28 dan 29 surat ini. Berkata `Aisyah ra: Apakah aku akan menanyakan pendapat ibu bapakku tentang engkau, Ya Rasulullah? Aku memilih Allah dan Rasul Nya dan aku mohon agar engkau tidak menyampaikan kepada istri-istri engkau yang lain pilihanku ini". Maka Rasulullah saw berkata:

إن الله تعالى لم يبعثني معنفا ولكن بعثني معلما ميسرا لا تسألني امرأة منهن عما اخترت إلا أخبرتها.
Artinya:
Sesungguhnya Allah Taala tidak mengutusku untuk mencerai, tetapi Dia mengutusku untuk memberi pelajaran dan kemudahan. Bila ada di antara istri-istriku yang lain itu menanyakan kepadaku tentang pilihanmu, maka akan kuceritakan kepadanya.
Pada waktu ayat ini turun Rasulullah mempunyai istri 9 orang. yaitu `Aisyah binti Abu Bakar, Hafsah binti Umar, Ummu Salamah Ummu Habibah Ramlah binti Sofyan, Saudah binti Zam'ah, Zainab binti Jahsy Maimunah binti Hart, Safiyah binti Huyai bin Akhtab dan Juwairiyah binti Al Hars. Dan istri beliau yang sembilan itu lima orang berasal dari suku Quraisy dan empat orang bukan dari suku Quraisy.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 28
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا (28)
(Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu) yang pada saat itu jumlah mereka ada sembilan orang; mereka meminta kepada Nabi saw. perhiasan duniawi yang tidak dipunyai oleh beliau: ("Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya diberikan kepada kalian mut`ah) yakni mut`ah talak (dan aku ceraikan kalian dengan cara yang baik) aku ceraikan kalian tanpa menimbulkan kemudaratan.


29 Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar.(QS. 33:29)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 29
وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا (29)
Pilihan yang kedua ialah: "Jika kamu, kata Rasulullah kepada istri-istrinya memilih keridaan Allah dan Rasul Nya dan pahala hari akhirat maka taatlah kepada Allah dan Rasul Nya. Allah SWT telah menyediakan pahala yang besar bagi para istri-istrinya yang baik dalam perkataan, perbuatan dan tingkah laku mereka. Mereka ditempatkan di dalam surga yang penuh kenikmatan.


30 Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah.(QS. 33:30)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 30
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ مَنْ يَأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ يُضَاعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا (30)
Pada ayat ini Allah SWT memperingatkan istri-istri Nabi agar selalu menjaga diri mereka. Karena mereka adalah ibu dari seluruh kaum Muslimin dan menjadi contoh teladan bagi mereka. Perintah Allah itu ialah: "Barangsiapa di antara istri Nabi yang mengerjakan perbuatan keji, perbuatan yang terlarang dan sebagainya, maka mereka akan memperoleh azab dua kali lipat dari azab yang diterima orang biasa.
Pemberian azab dua kali lipat kepada istri-istri Nabi ini ialah karena para istri Nabi termasuk orang-orang yang telah mengetahui dengan sebenarnya perintah-perintah dan larangan-larangan Allah, di samping mereka juga adalah penjaga rumah tangga Rasulullah dari segala perbuatan yang jahat yang mungkin terjadi di dalamnya.
Sebagian ulama menetapkan hukum berdasarkan ayat ini, bahwa untuk tindakan kejahatan yang sama jenisnya, maka hukuman yang akan diterima oleh orang-orang yang tahu itu lebih berat dari hukuman yang akan diterima oleh orang yang tidak tahu. Orang yang tahu telah tahu akibat dari suatu perbuatan. Jika ia melakukan perbuatan itu berarti ia melakukan dengan penuh kesadaran, sedang yang tidak tahu ia mengerjakan tindakan kejahatan itu, tidak berdasarkan kesadaran dalam arti yang sebenarnya. Karena itu wajiblah orang-orang tahu itu memperoleh hukuman dua kali lipat dari hukuman yang diperoleh orang yang tidak tahu.
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki berkata kepada Zainal Abidin r.a. Sesungguhnya kamu adalah keluarga Nabi yang telah memperoleh ampunan". Maka Zainal Abidin marah kepada orang itu dan berkata: "Apa yang telah ditetapkan Allah SWT terhadap istri-istri Nabi, lebih pantas untuk ditetapkan bagi kami dari apa yang kamu katakan itu. Kami berpendapat bahwa balasan kebaikan kami dilipat gandakan sebagaimana balasan kesalahan kami dilipat gandakan pula". Kemudian beliau membaca ayat ini.


31 Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (isteri-isteri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahalanya dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezki yang mulia.(QS. 33:31)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 31
وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا (31)
Pada ayat ini Allah SWT menerangkan, bahwa barangsiapa di antara istri-istri Nabi saw itu tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mengerjakan amal yang saleh, maka pasti Allah akan memberikan kepada mereka pahala dua kali lipat, sebagai penghargaan karena mereka berkedudukan selaku "Ummahatul mukminin", yaitu ibu kehormatan dari segenap kaum Mukminin, dan karena mereka berada di rumah Nabi saw, tempat turun wahyu Ilahi, cahaya hikmah dan petunjuk ke jalan yang lurus. Dan selain pahala yang berlipat ganda, Allah SWT akan memberikan pula rezeki yang mulia di dunia dan di akhirat. Adapun di dunia karena mereka menjadi pusat perhatian seluruh wanita mukminat yang memandang kepada mereka dengan penuh penghormatan dan kewibawaan dan di akhirat karena mereka adalah istri-istri Nabi saw akan ditempatkan oleh Allah SWT pada derajat yang tinggi dalam surga Jannatun Na'im.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 31
وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا (31)
(Dan barang siapa yang tetap taat) tetap setia (di antara kalian kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dua kali lipat) dua kali lipat pahala yang diterima oleh wanita-wanita yang taat selain kalian. Dan menurut suatu qiraat lafal Ta'malu dan Nu'tihaa dibaca Ya'malu dan Yu'tihaa (dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia) di surga sebagai tambahan pahalanya.


32 Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik,(QS. 33:32)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 32
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32)
Dalam ayat ini Allah SWT memperingatkan kepada istri-istri Nabi saw, bahwa mereka dengan julukan "Ummahatul Mukminin" sama sekali tidak dapat dipersamakan dengan wanita mukminat yang mana pun dalam segi keutamaan dan penghormatan mereka, jika mereka betul-betul bertakwa. Tidak ada seorang wanita pun yang dapat menyerupai kedudukan mereka apalagi melebihi keutamaan mereka karena suami mereka adalah "Sayyidul Anbiya Wal Mursalin" saw. Oleh karena itu, jika mereka mengadakan pembicaraan dengan orang lain, maka mereka dilarang merendahkan suara yang dapat menimbulkan perasaan kurang baik terhadap kesucian dan kehormatan mereka, terutama jika yang dihadapi oleh mereka itu orang-orang fasik atau munafik yang diragukan iktikad baiknya. Istri-istri Nabi saw itu, setelah beliau wafat tidak boleh dinikahi oleh siapa pun, sesuai dengan firman Allah:

وما كان لكم أن تؤذوا رسول الله ولا أن تنكحوا أزواجه من بعده أبدا إن ذلكم كان عند الله عظيما
Artinya:
Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) menikahi istri-istrinya selama-lamanya sesudah ia wafat. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah. (Q.S. Al Ahzab: 53)


33 dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.(QS. 33:33)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 33
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)
Pada ayat ini Allah memerintahkan supaya para istri Nabi tetap berdiam di rumah mereka masing-masing dan jangan ke luar kecuali bila ada keperluan. Perintah ini berlaku terhadap istri-istri Nabi saw dan ummul mukminat lainnya. Mereka dilarang memamerkan perhiasannya, dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliah yang dahulu sebelum zaman Nabi Muhammad saw. Perhiasan dan kecantikan seorang istri itu adalah untuk suaminya dan bukan untuk dipamerkan kepada orang lain. Segala perbuatan yang menjurus ke arah perzinaan atau mendekatkan kepadanya dilarang keras oleh agama Islam sesuai dengan firman Allah:

ولا تقربوا الزنى إنه كان فاحشة وساء سبيلا
Artinya:
Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (Q.S. Al Isra': 32)
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Masud Nabi saw bersabda:

إن المرأة عورة فإذا خرجت من بيتها استشرفها الشيطان وأقرب ما تكون من رحمة ربها وهي في قعر بيتها.
Artinya:
Sesungguhnya wanita itu adalah aurat. Jika ia keluar dari rumahnya, maka dia diincar-incar oleh setan, dan ia paling dekat dengan rahmat Allah, jika ia berada di rumahnya.
Setelah mereka dilarang mengerjakan keburukan, mereka diperintahkan mengerjakan kebaikan. yaitu supaya mereka mendirikan salat yang lima waktu sesuai dengan ketentuan syarat dan rukun-rukunnya dan menunaikan zakat harta bendanya. Dan telah menjadi kebiasaan, jika disebut salat maka juga selalu digandengkan dengan zakat, sebab keduanya menghasilkan kebersihan diri dan harta. Hikmah dari keduanya supaya tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena hal itu adalah pelaksanaan dari isi dua kalimat syahadat yang menjadi jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Kemudian Allah SWT menerangkan sebab dikeluarkannya perintah itu, ialah karena Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa-dosa dari mereka disertai panggilan: "Hai ahlul bait, yaitu semua keluarga rumah tangga Rasulullah, dan karena Allah bermaksud akan membersihkan mereka dari kekotoran kefasikan dan kemunafikan yang biasa menempel kepada orang yang berdosa. Maka Allah SWT akan membersihkan mereka sebersih-bersihnya. Dan Abdullah bin Abbas dalam rangka menerangkan siapa yang dimaksud dengan ahlul bait dalam ayat ini meriwayatkan demikian dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu `Abbas "Kami menyaksikan Rasulullah saw selama sembilan bulan, beliau datang ke rumah Ali bin Abu Talib pada tiap waktu salat, beliau mengucapkan Assalamu'alaikum wr. wb. "Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya". Salat itu adalah lima kali dalam sehari", semoga Allah memberi rahmat kepadamu.


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 33
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33)
(Dan hendaklah kalian tetap) dapat dibaca Qirna dan Qarna (di rumah kalian) lafal Qarna pada asalnya adalah Aqrarna atau Aqrirna, yang diambil dari kata Qararta atau Qarirta. Kemudian harakat Ra dipindahkan kepada Qaf, selanjutnya huruf Ra dan hamzah Washalnya dibuang sehingga jadilah, Qarna atau Qirna (dan janganlah kalian berhias) asalnya berbunyi Tatabarrajna kemudian salah satu huruf Ta dibuang sehingga jadilah Tabarrajna (sebagaimana orang-orang jahiliah yang dahulu) sebagaimana berhiasnya orang-orang sebelum Islam, yaitu kaum wanita selalu menampakkan kecantikan mereka kepada kaum lelaki. Adapun yang diperbolehkan oleh Islam adalah sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya, "..dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak daripadanya." (Q.S. An-Nur, 31). (dan dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian) yakni dosa-dosa, hai (ahlul bait) yakni istri-istri Nabi saw. (dan membersihkan kalian) daripada dosa-dosa itu (sebersih-bersihnya.)


34 Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.(QS. 33:34)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 34
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34)
Kemudian pada ayat ini Allah SWT menerangkan sebab-sebab mereka mendapat karunia yang besar itu, karena rumah kediaman istri-istri Nabi itu adalah tempat-tempat turunnya wahyu. Allah SWT memerintahkan kepada istri-istri Nabi saw supaya mengajarkan apa yang dibacakan di ruman mereka itu dari ayat-ayat Allah dan hikmah yaitu Sunah Nabi, yang oleh mereka disampaikan kepada orang lain apa yang mereka saksikan tentang kehidupan Nabi dalam lingkungan rumah tangga ada hubungannya dengan syariat Islam.


35 Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.(QS. 33:35)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 35
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (35)
Pada ayat ini Allah SWT menjelaskan sifat-sifat hamba-Nya yang akan diampuni segala dosanya dan kesalahannya dan dimasukkan ke dalam surga. Sifat-sifat mereka itu adalah sepuluh macam:
1. Taat dan tunduk kepada hukum agama Islam, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatan.
2. Membenarkan dan mempercayai ajaran Allah dan Rasul-Nya.
3. Selalu melaksanakan perintah-perintah agama dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan.
4. Selalu benar dalam ucapan dan perbuatan, hal mana menjadi tanda keimanan yang sempurna, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis yang sahih, bahwa Rasulullah saw bersabda "Peganglah kebenaran, bahwa kebenaran itu membawa kebaikan, dan kebaikan akan membawa surga, dan jauhilah dusta, sebab dusta itu membawa kedurhakaan dan kedurhakaan itu membawa ke neraka.
5. Sabar dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam melaksanakan perintah Allah dan menahan syahwat dan hawa nafsu.
6. Khusyuk dan tawadu kepada Allah baik jasmani maupun rohani dalam melaksanakan semua tugas dan kewajiban dan keikhlasan semata-mata untuk mencari keridaan Allah SWT.
7. Bersedekah dengan harta dan memberi bantuan kepada mereka yang serba kekurangan dan tidak mempunyai penghasilan.
8. Berpuasa yang dapat membantu menundukkan syahwat hawa nafsu sebagaimana tercantum di dalam hadis, sabda Rasulullah saw: "Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk kawin silahkan kawin, karena perkawinan itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barangsiapa yang belum mampu, supaya berpuasa, karena berpuasa itu dapat membendung syahwatnya".
9. Menjaga kemaluan dari segala perbuatan yang haram dan keji, sesuai dengan firman Allah:

والذين هم لفروجهم حافظون إلا على أزواجهم أو ما ملكت أيمانهم فإنهم غير ملومين فمن ابتغى وراء ذلك فأولئك هم العادون
Artinya:
Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (Q.S. Al Mu'minun: 5-7)
10. Selalu ingat kepada Allah dengan lidah dan hati dan sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Mujahid yang menyatakan, bahwa seorang itu belum dinamakan orang yang banyak mengingati Allah kecuali bila sudah dapat mengingat-Nya sambil berdiri, duduk dan berbaring. Abu Said Al-Khudri telah meriwayatkan sebuah hadis, sabda Rasulullah saw:

إذا أيقظ الرجل امرأته من الليل فصليا ركعتين كان تلك الليلة من الذاكرين الله كثيرا وذاكراته.
Artinya:
Apabila seorang suami membangunkan seorang istrinya di malam hari lalu mereka salat tahajud. maka mereka berdua pada malam tersebut termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.
Dalam hadis yang lain dari Sahal bin Muaz Al Juhani dari ayahnya diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw:

أي المجاهدين أعظم أجرا يا رسول الله? قال صلى الله عليه وسلم: أكثرهم لله عز وجل ذكرا. قال: أي الصائمين أكثر أجرا? قال صلى الله عليه وسلم: أكثرهم لله عز وجل ذكرا ثم ذكر الصلاة والزكاة والحج والصدقة, كل ذلك يقول رسول الله صلى الله عليه وسلم أكثرهم ذكرا. فقال أبو بكر لعمر رضي الله عنه: ذهب الذاكرون بكل خير, فقال صلى الله عليه وسلم: أجل.
Artinya:
Pejuang-pejuang manakah yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah? Nabi saw menjawab: "Yang paling banyak ingatnya kepada Allah. Lalu ia bertanya lagi: Cara orang yang berpuasa manakah yang paling besar pahalanya? Nabi saw menjawab: "Yang paling banyak ingat kepada Allah. Kemudian dia menyebutkan pula orang yang salat, berzakat, naik haji dan bersedekah, dan pada kesemuanya itu Nabi saw mengatakan: Mereka yang paling banyak ingatnya kepada Allah, sehingga Abu Bakar berkata kepada Umar: "Orang yang banyak ingatnya kepada Allah telah membawa semua kebaikan. Dan Nabi saw menambahkan: "Memang demikianlah.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 35
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا (35)
(Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya) (laki-laki dan perempuan yang benar) dalam keimanannya (laki-laki dan perempuan yang sabar) di dalam menjalankan ketaatan (laki-laki yang khusyuk) yang merendahkan diri (dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya) dari hal-hal yang diharamkan (laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan) dari perbuatan-perbuatan maksiat yang pernah mereka lakukan (dan pahala yang besar) bagi amal ketaatan mereka.


36 Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS. 33:36)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 36
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)
Pada ayat ini Allah menjelaskan bahwa tidak patut bagi orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan ketentuan, mereka memilih ketentuan lain yang bertentangan dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Menentukan pilihan sendiri yang tidak sesuai dengan ketentuan dari Allah dan Rasul-nya berarti mendurhakai perintah Allah dan Rasul-Nya, dan telah tersesat dari jalan yang benar. Hal seperti itu diancam pula oleh Allah dengan firman-Nya:

فليحذر الذين يخالفون عن أمره أن تصيبهم فتنة أو يصيبهم عذاب أليم
Artinya:
Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (Q.S. An Nur: 63)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 36
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)
(Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada) Yakuuna dapat dibaca Takuuna (bagi mereka pilihan yang lain) (tentang urusan mereka) yang berbeda dengan apa yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah bin Jahsy beserta saudara perempuannya yang bernama Zainab; Nabi saw. melamarnya untuk dikawinkan kepada Zaid bin Haritsah, lalu keduanya tidak menyukai hal tersebut ketika keduanya mengetahui bahwa Nabi melamar saudara perempuannya bukanlah untuk dirinya sendiri, melainkan untuk anak angkatnya yaitu Zaid bin Haritsah. Akan tetapi setelah turun ayat ini keduanya menjadi rela. (Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata) nyata sesatnya. Kemudian Nabi mengawinkan Zainab binti Jahsy dengan Zaid. Akan tetapi sesudah beberapa waktu dalam diri Zaid timbul rasa tidak senang terhadap istrinya itu, lalu ia berkata kepada Nabi saw. bahwa ia bermaksud untuk menalaknya. Maka Nabi saw. menjawab, "Peganglah istrimu itu di dalam pemeliharaanmu" sebagaimana yang disitir oleh firman selanjutnya.


37 Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: `Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah`, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.(QS. 33:37)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 37
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا (37)
Sebab turunnya ayat ini ialah karena ada hubungannya dengan pernikahan Zaid bin Harisah binti Jahsy anak bibi Rasulullah saw. Rasulullah saw pernah melamar Siti Zainab binti Jahsy seorang bangsawan Quraisy untuk dinikahkan dengan Zaid bin Harisah bekas seorang hamba sahaya yang sudah dimerdekakan dan telah dipungut oleh Rasulullah saw sebagai anak angkat. Lamaran itu ditolak oleh Zainab dan saudaranya karena dipandang tidak kufu dan sederajat di antara keduanya. Yang satu bekas seorang hamba sahaya dan yang seorang lagi seorang wanita bangsawan keturunan Quraisy. Maka turunlah ayat ke 36 dari surat Al Ahzab ini yang menyebabkan lamaran Rasulullah oleh mereka diterima. Kemudian Zaid dinikahkan kepada Zainab dengan maskawin sebanyak 60 (enam puluh) dirham, kain kudung dan selimut, sebuah perisai, selendang, 50 mud gandung dan 30 kelah koma.
Adapun hikmah dari perkawinan ini, walaupun ada unsur ketidak senangan dari pihak wanita ialah untuk membatalkan suatu adat kebiasaan yang berlaku sejak zaman Jahiliah di kalangan orang-orang Arab yang ada hubungannya dengan keturunan dan kemuliaan. Kebiasaan itu ialah bahwa mereka mempersamakan antara anak angkat dengan anak kandung di dalam segi keturunan dan hukum pembagian harta pusaka dan tidak boleh menikahi istri bekas anak angkat seperti tidak boleh menikahi menantunya dari anak kandung. OIeh karena itu diturunkan pada permulaan surat ini bahwa Allah Taala tidak menjadikan anak-anak angkat sebagai anak kandung. Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja (ayat 4). Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya supaya membatalkan hukum Jahiliah itu dengan suatu tindakan yang tegas. Setelah Zainab di nikahi oleh Zaid bin Harisah atas perintah Nabi. ternyata di dalam kehidupan rumah tangganya tidak ada keserasian antara suami-istri, dan Zaid sering mengeluh dan menyampaikan keluhannya kepada Rasulullah bahwa istrinya (Zainab) kadang-kadang memperlihatkan kesombongannya sebagai seorang bangsawan. Rasulullah saw sendiri yang sudah mengetahui hikmah dari Allah itu memberi nasihat kepada Zaid: "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah". Karena Zaid tidak dapat menahan penderitaan hatinya lebih lama maka ia menceraikan istrinya Zainab, dan setelah selesai `idahnya ia dinikahi oleh Rasulullah saw, supaya tidak ada keberatan bagi seorang mukmin untuk mengawini bekas istri anak angkatnya.
Pada ayat ini Allah memperingatkan kepada Nabi-Nya bahwa apa-apa yang terjadi antara Zaid bin Harisah dengan Zainab binti Jahsy itu adalah untuk menguatkan keimanan beliau dengan menegaskan kebenaran dan menghilangkan keragu-raguan dari hati orang-orang yang lemah imannya. Allah SWT menyuruh Rasul-Nya supaya memperhatikan ucapannya ketika beliau berkata kepada Zaid bin Harisah yang telah dikaruniai nikmat (oleh Allah) dan kasih sayang serta berbagai pemberian dari Nabi "Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, dan janganlah berpisah dengan Zainab disebabkan kesombongannya atau keangkuhannya karena keturunan, karena perceraian itu akan mengakibatkan noda kepadanya yang sulit untuk diperbaikinya". Nabi sendiri telah mengetahui bahwa Zaid itu pada akhirnya pasti akan bercerai dengan Zainab, dan beliau merasa berat pula jika hal tersebut telah menjadi kenyataan sebab tentu akan menimbulkan bermacam-macam ocehan di kalangan masyarakat. Nabi menyembunyikan di dalam hatinya apa yang Allah nyatakan, karena Nabi sendiri menyadari bahwa beliau sendiri harus dijadikan suri teladan oleh sekalian umatnya untuk melaksanakan perintah Allah walaupun dengan korban perasaan. Menurut naluri, kebiasaannya manusia takut kepada sesama manusia, padahal Allah yang lebih berhak untuk ditakuti. Oleh beliau dibayangkan bahwa apabila beliau telah nikah dengan Siti Zainab bekas istri anak angkatnya. maka hal demikian pasti akan menjadi buah mulut di kalangan bangsa Arab, karena sejak zaman Jahiliah mereka memandang bahwa anak angkat itu dipersamakan dengan anak kandung. sehingga mereka diharamkan menikahi bekas istri anak angkatnya.
Nabi Muhammad saw diperintahkan oleh Allah Taala supaya jangan menghiraukan ocehan khalayak ramai sehubungan dengan pernikahan beliau dengan Siti Zainab. Tatkala Zaid telah menunaikan hajatnya terhadap istrinya dengan perceraian, maka Allah menikahkan Nabi saw kepada Zainab agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk menikahi bekas istri anak angkatnya, apabila anak angkat itu telah menceraikan istrinya. Dan ketetapan Allah tentang pernikahan Zainab dengan Nabi itu adalah suatu ketetapan yang sudah pasti. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Tirmizi ra bahwa Siti Zainab sering membangga-banggakan dirinya terhadap istri-istri Nabi lainnya dengan ucapan "Kamu, istri-istri Nabi dinikahkan oleh keluargamu sendiri tetapi saya dinikahkan oleh Allah SWT. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sya'bi bahwa Siti Zainab pernah berkata kepada Nabi saw: "Saya mempunyai kelebihan dengan tiga perkara yang tidak dimiliki oleh istri-istrimu yang lain, yaitu:
1. Kakekku dan kakekmu adalah sama yaitu Abdul Muttalib.
2. Allah menikahkan engkau denganku dengan perantaraan wahyu dari langit.
3. Pesuruh yang ditugaskannya adalah Malaikat Jibril.


38 Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,(QS. 33:38)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 38
مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيمَا فَرَضَ اللَّهُ لَهُ سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا (38)
Pada ayat ini Allah menguatkan hukum yang sebelumnya yaitu bahwa tidak ada suatu keberatan apa pun atas Nabi saw apa yang telah menjadikan ketetapan Allah baginya tentang mengawini perempuan bekas istri anak angkatnya setelah dijatuhi talak oleh suaminya dan habis masa idahnya. Dan orang-orang Yahudi sering mencela Nabi Muhammad saw banyak istrinya, padahal mereka mengetahui bahwa Nabi-nabi sebelumnya ada yang lebih banyak istrinya seperti Nabi Daud dan Nabi Sulaiman as.


39 (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.(QS. 33:39)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 39
الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا (39)
Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Rasul-rasul yang mendahului Nabi Muhammad itu telah melaksanakan Sunatullah Mereka adalah orang-orang yang penuh dengan ketakwaan dan keikhlasan dalam peribadatan mereka. Yaitu orang-orang yang menyampaikan syariat-syariat Allah, mereka sangat takut kepada Allah dan tidak merasa takut kepada seorang pun selain pada Allah. Sehingga Nabi Muhammad saw pun diperintahkan untuk menjadikannya suri teladan di dalam melaksanakan Sunatullah dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.


40 Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. 33:40)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Ahzab 40
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (40)
Tatkala Rasulullah saw nikah dengan Siti Zainab, banyak orang-orang munafikin yang mencela pernikahan itu karena dipandang sebagai menikahi bekas istri anaknya sendiri. Maka Allah menurunkan ayat ini yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw tidak usah khawatir tentang cemoohan dan kritikan orang-orang yang mengatakan bahwa beliau menikahi bekas istri anaknya, karena Zaid itu bukan anak kandung beliau pribadi tetapi hanya sebagai anak angkat saja. Dan Muhammad bukan sekali-kali bapak dari seorang laki-laki di antara umatnya akan tetapi ia adalah utusan Allah dan Nabi-Nya yang penutup. Tidak ada Nabi lagi setelah beliau. Dan Nabi Muhammad saw itu adalah bapak dari setiap orang kaum muslimin dalam segi kehormatan dan kesayangan, sebagaimana setiap Rasul pun adalah bapak dari sekalian umatnya Muhammad itu bukan bapak dari seorang laki-laki dan umatnya dengan pengertian "bapak" dalam segi keturunan yang menyebabkan haramnya musaharah, akan tetapi beliau adalah bapak dari segenap kaum mukminin dalam segi agama, sebagaimana beliau pula mempunyai rasa kasih sayang kepada seluruh umatnya untuk memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat seperti kesayangan seorang ayah terhadap anak-anaknya. Putra-putri Nabi saw dari Siti Khadijah tiga orang, yaitu Qasim, Tayyib dan Tahir di mana semuanya meninggal dunia sebelum balig. Dan dari Mariya Qibtiyah seorang anak laki-laki bernama Ibrahim yang juga meninggal ketika masih kecil. Dan empat anak perempuan dari Siti Khadijah yaitu Zainab, Rokayyah, Ummu Kalsum dan Fatimah. Yang tiga pertama meninggal setelah enam bulan Nabi wafat. Dan Allah Taala Maha Mengetahui segala sesuatu siapa yang diangkat sebagai Nabi-Nabi yang terdahulu dan siapa yang diangkat sebagai Nabi penutup.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Ahzab 40
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (40)
(Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kalian) dia bukan bapak Zaid, Zaid bukanlah anaknya, maka tidak diharamkan baginya untuk mengawini bekas istri anak angkatnya yaitu Zainab (tetapi dia) adalah (Rasulullah dan penutup nabi-nabi) artinya tidak akan lahir lagi nabi sesudahnya. Dan menurut suatu qiraat dibaca Khataman Nabiyyiina, sama dengan alat untuk mencap atau cincin, yang maksudnya sesudah dia para nabi dilak atau ditutup. (Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) antara lain Dia mengetahui bahwa tidak akan ada nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw. seumpama Nabi Isa turun nanti, maka ia akan memerintah dengan memakai syariat Nabi Muhammad.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [4]
Ayat 21 s/d 40 dari [73]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).

Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
free counters