Tafsir Surat : AL-QALAAM

Get 100MB Free Web Hosting at Jabry.com

type=text/javascript> vBulletin_init();

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

::Home:: | Indonesia | English | Dutch | Sejarah | Hadist | Al Qur'an? | Adab | Al-Ma'tsurat | TAJWID | Artikel | Free Mobile Aplications | Sms Quran & Hadist
Radio-FajriFm | Pendidikan | Menyimak & Mengkaji | The Noble Quran | Memahami Quran | eBooks | Kisah Muallaf | *HadistWeb* | Tanda2 Bagi yg Ber-Akal
Tafsir Al-Azhar | Ponsel Quran | Belajar Baca | Qr.Recitation | Qr.Explorer | QuranTools | Qur’an Flash | Qurany.net | {Radio Dakwah/TV} | QuranTV-Mp3

Gunakan browser internet explorer untuk dapat mendengarkan Murotal (Audio)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : AL-QALAAM
Ayat [52]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:1/3
 
1 Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,(QS. 68:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 1
وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (1)
Nun, termasuk huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan beberapa surah Alquran. Ada dua hal yang perlu dibicarakan tentang huruf-huruf abjad yang disebutkan pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu, yaitu apa yang dimaksud dengan huruf ini, dan apa hikmahnya menyebutkan huruf-huruf ini?
Tentang soal pertama, maka para mufassir berlainan pendapat, yaitu:
1. Ada yang menyerahkan saja kepada Allah, dengan arti mereka tidak mau menafsirkan huruf-huruf itu. Mereka berkata, "Allah sajalah yang mengetahui maksudnya." Mereka menggolongkan huruf-huruf itu ke dalam golongan ayat-ayat mutasyabihat.
2. Ada yang menafsirkannya. Mufassirin yang menafsirkannya ini berlain-lain pula pendapat mereka, yaitu:
a. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah isyarat (keringkasan dari kata-kata), umpamanya Alif Lam Mim. Maka "Alif" adalah keringkasan dari "Allah", "Lam" keringkasan dari "Jibril", dan "Mim" keringkasan dari Muhammad, yang berarti bahwa Alquran itu datangnya dari Allah, disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad. Pada Alif Lam Ra; "Alif" keringkasan dari "Ana", "Lam" keringkasan dari "Allah" dan "Ra" keringkasan dari "Ar-Rahman", yang berarti: Saya Allah Yang Maha Pemurah.
b. Ada yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu adalah nama dari surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu.
c. Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad ini adalah huruf-huruf abjad itu sendiri. Maka yang dimaksud dengan "Alif" adalah "Alif", yang dimaksud dengan "Lam" adalah "Lam", yang dimaksud dengan "Mim" adalah "Mim", dan begitu seterusnya.
d. Huruf-huruf abjad itu untuk menarik perhatian.
Menurut para mufassir ini, huruf-huruf abjad itu disebut Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim, hikmahnya adalah untuk "menantang". Tantangan itu bunyinya kira-kira begini: Alquran itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Lam Mim Ra, Ka Ha Ya Ain Shad, Qaf, Tha Sin dan lain-lainnya. Maka kalau kamu sekalian tidak percaya bahwa Alquran ini datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Alquran ini. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya."
Maka ada "penantang", yaitu Allah, dan ada "yang ditantang", yaitu bahasa Arab, dan ada "alat penantang", yaitu Alquran. Sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab itu menurut naluri mereka, karena di antara mereka itu adalah pujangga-pujangga, penyair-penyair dan ahli-ahli pidato, namun demikian mereka tidak bisa menjawab tantangan Alquran itu dengan membuat ayat-ayat seperti Alquran. Ada juga di antara mereka yang memberanikan diri untuk menjawab tantangan Alquran itu, dengan mencoba membuat kalimat-kalimat seperti ayat-ayat Alquran itu, tetapi sebelum mereka ditertawakan oleh orang-orang Arab itu, lebih dahulu mereka telah ditertawakan oleh diri mereka sendiri.
Para mufassir dari golongan ini, yakni yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquran untuk menantang bangsa Arab itu, mereka sampai kepada pendapat itu adalah dengan "istiqra" artinya menyelidiki masing-masing surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu. Dengan penyelidikan itu mereka mendapat fakta-fakta sebagai berikut:
1. Surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad ini adalah surah-surah Makiyah (diturunkan di Mekah), selain dari dua buah surah saja yang Madaniyah (diturunkan di Madinah), yaitu surah Al-Baqarah yang dimulai dengan Alif Lam Mim dan surah Ali Imran yang dimulai dengan Alif Lam Mim juga. Sedang penduduk Mekah itulah yang tidak percaya bahwa Alquran itu adalah dari Tuhan, dan mereka mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata.
2. Sesudah menyebutkan huruf-huruf abjad itu ditegaskan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah, atau diwahyukan oleh-Nya. Penegasan itu disebutkan oleh Allah secara langsung atau tidak langsung. Hanya ada 9 surah yang dimulai dengan huruf-huruf abjad itu yang tidak disebutkan sesudahnya penegasan bahwa Alquran itu diturunkan dari Allah.
3. Huruf-huruf abjad yang disebutkan itu adalah huruf-huruf abjad yang banyak terpakai dalam bahasa Arab.
Dari ketiga fakta yang didapat dari penyelidikan itu, mereka menyimpulkan bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Alquranul Karim itu adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Alquran itu, bila mereka tidak percaya bahwa Alquran itu, datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Alquran itu buatan Muhammad semata-mata sebagai yang disebutkan di atas. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa para mufassir yang mengatakan bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan Allah untuk "tahaddi" (menantang) adalah memakai tariqah (metode) ilmiah, yaitu "menyelidiki dari contoh-contoh, lalu menyimpulkan daripadanya yang umum". Tariqah ini disebut "Ath-Thariqat Al-Istiqra'iyah" (metode induksi).
Ada mufassir yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad ini didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah-surah Alquranul Karim untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, karena itu maka hal ini menarik perhatian mereka.
Tinjauan terhadap pendapat-pendapat ini:
1. Pendapat yang pertama yaitu menyerahkan saja kepada Allah karena Allah sajalah yang mengetahui, tidak diterima oleh kebanyakan mufassirin ahli-ahli tahqiq (yang menyelidiki secara mendalam). (Lihat Tafsir Al-Qasimi j.2, hal. 32)
Alasan-alasan mereka ialah:
a. Allah sendiri telah berfirman dalam Alquran:

بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)
Artinya:
Dengan bahasa Arab yang jelas.
(Q.S. Asy Syu'ara': 195)
Maksudnya Alquran itu dibawa oleh Jibril kepada Muhammad dalam bahasa Arab yang jelas. Dari ayat ini dapat dipahami bahwa ayat-ayat dalam Alquran itu adalah "jelas", tak ada yang tidak jelas, yang tak dapat dipahami atau dipikirkan, yang hanya Allah saja yang mengetahuinya.
b. Di dalam Alquran ada ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Alquran itu menjadi petunjuk bagi manusia. Di antaranya firman Allah:

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2)
Artinya:
Kitab Alquran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
(Q.S. Al-Baqarah: 2)
Firman-Nya lagi:

قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (97)
Artinya:
....dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman.
(Q.S. Al-Baqarah: 97)
Firman-Nya lagi:

هَذَا بَيَانٌ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِلْمُتَّقِينَ (138)
Artinya:
(Alquran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
(Q.S. Ali Imran: 138)
Dan banyak lagi ayat-ayat yang menerangkan bahwa Alquran itu adalah petunjuk bagi manusia. Sesuatu yang fungsinya menjadi "petunjuk" tentu harus jelas dan dapat dipahami. Hal-hal yang tidak jelas tentu tidak dijadikan petunjuk.
c. Dalam ayat yang lain Allah berfirman pula:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ (17)
Artinya:
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?
(Q.S. Al-Qamar: 17, 22, 32, dan 40)
2.
a. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad itu adalah keringkasan dari suatu kalimat. Pendapat ini juga banyak para mufassir yang tidak dapat menerimanya.
Keberatan mereka ialah: tidak ada kaidah-kaidah atau patokan-patokan yang tertentu untuk ini, sebab itu para mufassir yang berpendapat demikian berlain-lainan pendapatnya dalam menentukan kalimat-kalimat itu. Maka di samping pendapat mereka bahwa Alif Lam Mim artinya ialah: Allah, Jibril, Muhammad, ada pula yang mengartikan "Allah, Latifun, Maujud" (Allah Maha Halus lagi Ada). (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)
b. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan beberapa surah ini adalah nama surah, juga banyak pula para mufassir yang tidak dapat menerimanya. Alasan mereka ialah: bahwa surah-surah yang dimulai dengan huruf-huruf itu kebanyakannya adalah mempunyai nama yang lain, dan nama yang lain itulah yang terpakai. Umpamanya surah Al-Baqarah, Ali Imran, Maryam dan lain-lain. Maka kalau betul huruf-huruf itu adalah nama surah, tentu nama-nama itulah yang akan dipakai oleh para sahabat Rasulullah dan kaum muslimin sejak dari dahulu sampai sekarang.
Hanya ada empat buah surah yang sampai sekarang tetap dinamai dengan huruf-huruf abjad yang terdapat pada permulaan surah-surah itu, yaitu: Surah Thaha, surah Yasin, surah Shad dan surah Qaf. (Dr. Mahmud Syaltut, Tafsir al Qur'anul Karim, hal. 73)
c. Pendapat yang menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad itu sendiri, dan abjad-abjad ini didatangkan oleh Allah ialah untuk "menantang" (tahaddi). Inilah yang dipegang oleh sebahagian mufassirin ahli tahqiq. (Di antaranya: Az Zamakhsyari, Al Baidawi, Ibnu Taimiah, dan Hafizh Al Mizzi, lihat Rasyid Rida, Tafsir Al Manar jilid 8, hal. 303 dan Dr Shubhi As Salih, Mabahis Ulumi Qur'an, hal 235. Menurut An Nasafi: pendapat bahwa huruf abjad ini adalah untuk menantang patut diterima. Lihat Tafsir An Nasafi, hal. 9)
d. Pendapat yang menafsirkan bahwa huruf-huruf abjad ini adalah untuk "menarik perhatian" (tanbih) pendapat ini juga diterima oleh ahli tahqiq. (Tafsir Al Manar jilid 8 hal. 209-303)
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa "yang dimaksud dengan huruf-huruf abjad yang disebutkan oleh Allah pada permulaan beberapa surat dari Alquran hikmahnya adalah untuk "menantang" bangsa Arab serta menghadapkan perhatian manusia kepada ayat-ayat yang akan dibacakan oleh Nabi Muhammad saw."
Dalam ayat ini Allah SWT bersumpah dengan kalam (pena) dan segala macam yang ditulis dengan kalam itu.
Suatu sumpah dilakukan adalah untuk meyakinkan pendengar atau orang yang diajak berbicara bahwa ucapan atau perkataan yang disampaikan itu adalah benar, tidak diragukan sedikitpun. Tetapi sumpah itu kadang-kadang mempunyai arti yang lain yaitu untuk mengingatkan orang yang diajak berbicara atau pendengar bahwa yang dipakai untuk bersumpah itu adalah suatu yang mulia, bernilai, bermanfaat dan berharga. Karena itu perlu dipikirkan dan direnungkan agar dapat menjadi iktibar dan pengajaran dalam kehidupan dunia yang fana ini. Sumpah dalam arti kedua ini adalah sumpah-sumpah Allah SWT yang terdapat dalam surah-surah Alquran, seperti "Wal As ri" (demi masa), "was sama'i" (demi langit), "walfajri" (demi fajar) dan sebagainya. Seakan-akan dengan sumpah itu Allah SWT mengingatkan kepada manusia agar memperhatikan masa, langit, fajar dan sebagainya, karena segala sesuatu yang berhubungan dengan masa, langit, fajar dan sebagainya itu perlu diperhatikan, karena ada kaitannya dengan hidup dan kehidupan manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Sehubungan dengan ini Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir Juz Amma yang dikarangnya, dalam menafsirkan ayat : "wan nazi'ah garqan", (Demi malaikat-malaikat yang mencabut nyawa dengan keras) beliau menerangkan, "Apabila kita memperhatikan semua yang disebut Allah dalam sumpahnya, maka yang disebut itu ada kalanya berhubungan dengan sesuatu yang diingkari manusia atau dibencinya karena tidak mengetahui faedahnya, atau menganggapnya tidak rasional lalu menyatakannya salah. Atau untuk menyatakan keesaan-Nya kepada orang yang mengingkari-Nya atau menyatakan keagungan-Nya kepada orang yang meremehkan-Nya, atau untuk mengingatkan sesuatu yang dilupakan atau untuk menimbulkan keyakinan pada hati orang yang ragu-ragu atau belum memahami".
Dalam ayat ini, Allah SWT bersumpah dengan kalam dan segala sesuatu yang ditulis dengan kalam itu untuk menyatakan bahwa kalam itu termasuk nikmat yang besar yg dianugerahkan Allah SWT kepada manusia, di samping nikmat pandai berbicara dan menjelaskan sesuatu kepada orang lain. Alangkah besarnya nikmat kalam yang dianugerahkan Allah itu. Dengan kalam orang dapat mencatat ajaran agama Allah yang disampaikan kepada para Rasul Nya, orang dapat mencatat pengetahuan-pengetahuan Allah yang bara ditemukannya. Dengan surah yang ditulis dengan kalam orang dapat menyampaikan berita gembira dan berita duka kepada keluarga dan teman akrabnya. Dengan kalam orang dapat mencerdaskan dan mendidik bangsanya; dan banyak lagi nikmat yang diperoleh manusia dengan kalam itu.
Yang dimaksud dengan kalam dalam ayat ini, bukanlah kalam sebagai benda yang terkenal itu, tetapi adalah kalam sebagai alat yang banyak kegunaannya bagi manusia, yang dapat menuliskan buah pikiran, keinginan dan perasaan seseorang.
Ayat:

الم (1)
(Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis), adalah ungkapan bahasa Arab yang indah dan dalam artinya, seperti indahnya ungkapan ayat:

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (8)
Artinya:
Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (Q.S An Nahl: 8)
Ayat ini menerangkan bahwa kuda, bagal dan keledai pada saat turunnya ayat ini adalah binatang-binatang yang dijadikan sebagai alat kendaraan yang utama dan juga dijadikan sebagai perhiasan serta kebanggaan bagi yang mempunyainya. Kemudian Allah SWT menerangkan bahwa Dia akan menciptakan barang-barang yang lain pada masa-masa mendatang yang berfungsi sebagai kendaraan, perhiasan dan kebanggaan bagi siapa yang memilikinya. Atau dengan perkataan yang lain, Allah SWT mengisyaratkan dengan ayat di atas:
1. Pada masa-masa yang akan datang Allah SWT akan menciptakan bentuk bentuk kendaraan yang lain yang berguna bagi manusia. Di samping berfungsi sebagai kendaraan, juga merupakan perhiasan dan kebanggaan bagi siapa yang memilikinya, seperti mobil, kapal pesiar, pesawat pribadi dan sebagainya.
2. Dengan isyarat itu, seakan-akan Allah SWT menyuruh manusia berpikir, merenung dan berdaya cipta untuk menghasilkan kendaraan-kendaraan yang dimaksud itu, karena Allah SWT akan mengilhamkan kepada manusia yang mau memikirkannya. Pada masa sekarang telah ditemukan bentuk dan kemampuan suatu kapal ruang angkasa. Tentu saja bentuk dan kemampuan yang diperoleh itu akan disempurnakan, sehingga betul-betul merupakan alat atau kendaraan yang menjadi kebanggaan manusia.
Demikian pula ayat ini, Allah SWT menyebut kalam dan apa yang akan ditulis manusia dengan kalam itu. Pada masa Rasulullah SAW telah dikenal dengan nama dan kegunaan kalam itu, yaitu untuk menulis segala sesuatu yang terasa, yang terpikir dan yang akan disampaikan oleh seorang manusia kepada manusia yang lain. Sekalipun demikian belum berapa manusia yang mempergunakannya pada waktu itu karena masih banyaknya mereka yang buta huruf dan belum berkembangnya ilmu pengetahuan yang ada pada mereka, begitu juga pada masa sekarang. Pada masa Rasulullah SAW kegunaan kalam sebagai sarana menyampaikan agama Allah sangat dirasakan. Dengan kalam ayat-ayat Alquran ditulis di pelepah-pelepah kurma dan tulang-tulang binatang atas perintah Rasulullah. SAW. Demikian pula beberapa orang sahabat Nabi menulis hadis-hadis dengan kalam. Rasulullah SAW sendiri sangat menghargai orang-orang yang pandai menulis dan membaca. Hal ini nampak pada ketetapan Nabi Muhammad SAW pada perang Badar, yaitu seorang kafir yang ditawan kaum muslimin dapat membebaskan dirinya dengan cara membayar uang tebusan atau mengajar kaum muslimin menulis dan membaca.
Dengan ayat ini, seakan-akan Allah SWT mengisyaratkan kepada kaum muslimin bahwa ilmu-Nya sangat luas, tiada batas dan tiada terhingga. Karena itu carilah dan tuntutlah ilmu Nya yang sangat luas itu agar dimanfaatkan manusia untuk kepentingan duniawi. Untuk mencatat dan menyampaikan ilmu itu kepada orang lain dan agar tidak hilang karena lupa atau seseorang meninggal dunia, dipergunakanlah kalam sebagai alat untuk menuliskannya. Karena itu, kalam erat hubungannya dan tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan ilmu, kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia.
Ayat ini berdekatan masa turunnya dengan ayat Alquran yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw, yaitu ayat pertama sampai dengan ayat ke 5 surah Al 'Alaq. Setelah Rasulullah saw menerima ayat permulaan surah Al 'Alaq itu, beliau pulang ke rumahnya dalam keadaan gemetar dan kedinginan. Setelah hilang rasa gentar dan dingin beliau, beliau dibawa Khadijah, istri beliau, ke rumah Waraqah bin Naufal, anak dari saudara ayah Khadijah (saudara sepupu). Maka disampaikanlah semua yang terjadi atas diri Rasulullah di gua Hira' itu kepada Waraqah: "Yang datang kepada Muhammad itu adalah seperti yang pernah datang kepada nabi-nabi sebelumnya; karena itu yang disampaikan malaikat Jibril itu adalah agama yang benar-benar berasal dari Allah SWT. Kemudian Waraqah mengatakan bahwa ia akan mengikuti agama yang dibawa Muhammad itu jika umurnya dipanjangkan Allah SWT.
Setelah orang-orang Quraisy mengetahui pernyataan Waraqah bin Naufal itu dan Rasulullah saw menyampaikan agama Islam kepada mereka, maka mereka menuduh bahwa Muhammad dihinggapi penyakit gila, tukang tenung, ingin memalingkan orang-orang Quraisy dari agama nenek moyang mereka. Karena itu mereka memerintahkan kepada kaum mereka agar jangan sekali-kali mendengar ucapan Muhammad, dan jangan dipercayai bahwa yang diterimanya benar-benar agama dari Allah. Mungkinkah seorang manusia, atau seorang gila atau seorang tukang tenung, dipercayai Allah menyampaikan agama Nya?
Sehubungan dengan sikap Orang-orang Quraisy itu turunlah ayat ini, untuk menguatkan risalah Muhammad SAW, menguatkan hati beliau, mengingatkan karunia yang telah dilimpahkan kepadanya. Seakan-akan Allah SWT mengisyaratkan bahwa agama yang benar dan berasal dari Allah, ialah agama yang mendorong manusia mencari dan menuntut ilmu Nya yang luas itu, kemudian memanfaatkan ilmu itu untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan. Setiap ilmu Allah SWT yang diperoleh itu harus ditulis dengan pena, agar dapat dipelajari dan dibaca oleh orang lain, sehingga ilmu itu berkembang dan manusia dengan ilmu itu akan mencapai kemajuan. Karena itu belajar membaca dan menulis dengan pena itu adalah pangkal kemajuan suatu umat. Seandainya manusia ingin maju, maka galakkanlah belajar menulis dan membaca itu?. Dengan turunnya ayat ini hati Rasulullah SAW bertambah mantap tenang dan kuat untuk melaksanakan tugasnya menyampaikan agama Allah dan beliau mempunyai argumentasi yang kuat pula dalam menghadapi sikap orang orang Quraisy.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qalam 1
وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (1)
(Nun) adalah salah satu dari huruf hijaiah, hanya Allahlah yang mengetahui arti dan maksudnya (demi qalam) yang dipakai untuk menulis nasib semua makhluk di Lohmahfuz (dan apa yang mereka tulis) apa yang ditulis oleh para malaikat berupa kebaikan dan kesalehan.


2 berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.(QS. 68:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 2
مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ (2)
Dalam ayat ini, Allah SWT menyatakan dengan tegas kepada Nabi Muhammad SAW bahwa ia (Muhammad) tidak memerlukan suatu nikmatpun dari orang lain selain dari nikmat Allah. Mungkinkah Muhammad itu dikatakan seorang gila, karena ia memperoleh nikmat dan karunia yang sangat besar dari Allah?
Pada ayat lain dinyatakan:

وَقَالُوا يَا أَيُّهَا الَّذِي نُزِّلَ عَلَيْهِ الذِّكْرُ إِنَّكَ لَمَجْنُونٌ (6)
Artinya:
Mereka berkata, "Hai orang yang diturunkan Alquran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila". (Q.S Al Hijr: 6)
Dengan ayat ini, seakan-akan Allah SWT menjawab tuduhan orang-orang Quraisy itu, dengan menyuruh mereka mempelajari kembali sejarah hidup Nabi Muhammad SAW yang besar dan bertumbuh di hadapan mata kepala mereka sendiri. Bukankah ia sebelum diutus menjadi Rasul, orang-orang yang mengatakannya gila itu menghormati dan menjadikannya sebagai orang yang paling mereka percayai? Apakah mereka tidak ingat lagi bahwa di antara mereka pernah terjadi perselisihan tentang siapa yang berhak mengangkat Hajar Aswad dan meletakkannya pada tempat yang hampir menimbulkan penumpahan darah, tidak seorangpun yang dapat mendamaikannya. Lalu mereka minta kepada Muhammad agar bersedia menjadi juru pendamai di antara mereka, dan mereka menerima putusan Muhammad yang ditetapkan atas mereka, dan mereka menganggap bahwa keputusan yang diberikan Muhammad itu adalah keputusan yang paling adil.
Mungkinkah seorang yang semulanya baik, dianugerahi Allah kejujuran, kehalusan budi pekerti, selalu menolong dan membantu siapa saja yang memerlukannya dan menjadi contoh dan teladan bagi orang Quraisy, kemudian tiba-tiba menjadi gila, karena ia melaksanakan perintah Tuhan semesta alam, yaitu menyampaikan agama Allah dan berhijrah ke Madinah.
Jika diperhatikan susunan ayat ini ada suatu teladan yang harus ditiru oleh kaum muslimin, yaitu walaupun orang-orang Quraisy telah bersikap kasar dan menyakiti hati dan jasmani Rasulullah SAW, namun beliau membantah tuduhan-tuduhan mereka dengan cara yang baik dan dengan cara mendidik, yaitu dengan cara menyuruh mereka menggunakan akal pikiran yang benar dan menggunakan norma-norma yang baik.



3 Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.(QS. 68:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 3
وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (3)
Ayat ini menambah alasan yang telah dikemukakan pada ayat yang sebelumnya. Pada ayat sebelumnya dinyatakan bahwa perkataan yang mengatakan bahwa orang yang berbudi pekerti mulia dan orang yang memperoleh karunia Allah adalah seorang gila, merupakan perkataan yang tidak benar. Pada ayat ini dinyatakan bahwa perkataan orang yang mengatakan bahwa orang yang memperoleh pahala yang tidak putus-putusnya dari Allah adalah seorang gila, juga merupakan perkataan yang tidak benar. Seorang yang memperoleh pahala dari Allah adalah orang yang menggunakan pikirannya dengan baik, orang yang rajin berusaha, suka berbuat amal saleh, selalu berusaha menegakkan dan meninggikan kalimat Allah. Karena dasar pemberian pahala oleh Allah SWT kepada hamba-hamba Nya itu adalah iman, amal saleh dan berjihad di jalan Nya, tidak yang lain.
Ayat ini juga termasuk ayat yang menerangkan suatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, karena ayat ini mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad dan kaum muslimin akan memperoleh kemenangan besar nanti. Berkat pertolongan dan perlindungan Allah, usaha dan jerih payahnya membawa hasil dengan tersebarnya agama Islam di Jaziratul Arab pada mulanya, dan kemudian memancar ke seluruh penjuru dunia. Orang-orang Quraisy yang semula berkuasa dan menganut agama syirik dalam masa 22 tahun lebih menjadi mukmin dan menjadi pembela-pembela agama Islam; Hal ini merupakan kemenangan yang besar bagi Muhammad saw dan kaum muslimin, sedang di akhirat nanti mereka akan memperoleh balasan kenikmatan yang kekal di dalam surga.
Dengan pernyataan Allah yang demikian dan isyarat yang beliau pahami dari firman Nya itu, bertambahlah kekuatan hati, kebulatan tekad dan kesabaran beliau dalam melaksanakan dakwah, dengan tidak menghiraukan ejekan, tindakan orang-orang Quraisy.


4 Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.(QS. 68:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 4
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ (4)
Ayat ini memperkuat alasan yang dikemukakan ayat di atas dengan menyatakan bahwa pahala yang tidak putus-putusnya itu diperoleh Rasulullah saw sebagai hasil akhlak yang agung, yang merupakan akhlak beliau. Pernyataan bahwa Muhammad mempunyai akhlak yang agung merupakan pujian Allah SWT kepada beliau, yang jarang diberikan Nya kepada hamba-hamba Nya yang lain. Dengan secara tidak langsung ayat ini juga menyatakan bahwa tuduhan-tuduhan orang musyrik bahwa Muhammad adalah seorang gila itu adalah tuduhan yang tidak mempunyai alasan sedikit pun, karena semakin baik budi pekerti seseorang semakin jauh ia dari penyakit gila. Sebaliknya semakin buruk budi pekerti seseorang semakin dekat pula ia kepada penyakit gila. Muhammad seorang yang berakhlak agung, karena itu ia terjauh dari perbuatan gila.
Ayat ini menggambarkan tugas Rasulullah saw sebagai seorang berakhlak agung. Beliau diberi tugas menyampaikan agama Allah kepada manusia agar manusia dengan menganut agama itu mempunyai akhlak yang agung. Beliau bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya:
Sesungguhnya aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan akhlak mulia (dari manusia). (HR. Ahmad, lihat Mu'jam Mufahras Li Alfazil Hadisin Nabawi, hal. 75, jilid I)


5 Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang) kafir pun akan melihat,(QS. 68:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 5 - 6
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ (5) بِأَيِّيكُمُ الْمَفْتُونُ (6)
Kedua ayat ini merupakan peringatan kepada kaum musyrikin dan menyatakan dengan pasti bahwa mereka benar-benar dalam keadaan sesat, karena tidak berapa lama lagi akan kelihatanlah kebenaran ajaran agama yang dibawa Muhammad. Akan kelihatan kekuatan Islam dan kelemahan mereka, kaum musyrikin itu. Kaum muslimin akan mengalahkan mereka, membunuh sebabagian dan menawan sebahagian yang lain.
Dengan demikian akan jelaslah kewarasan Muhammad dan kegilaan mereka. Mereka berpaling dari kebenaran dan mengikuti yang batil serta hawa nafsu. Inilah gila yang lebih berbahaya, gila yang membawa kepada kehancuran dan kehinaan. Apalagi pada hari kiamat nanti mereka pasti melihat kesesatan mereka itu.
Pada hari kiamat itu semua perbuatan manusia dihisab, ditimbang dan diperlihatkan kepada mereka sendiri, dan di saat itu mereka melihatnya dengan nyata, siapakah di antara mereka yang benar, apakah Rasul yang mereka tuduh gila ataukah mereka yang menuduh itu? Di sini nampak dengan jelas bahwa Muhammad yang benar, sedangkan mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahanam. Peringatan itu dinyatakan dengan mengatakan, "Hai Rasul, engkau akan mengetahui, demikian pula orang-orang yang mendustakan engkau, siapakah yang sebenarnya orang yang gila di antara kamu, apakah engkau sendiri hai Rasul atau mereka yang menuduh engkau itu, semuanya itu akan kamu ketahui dengan jelas nanti dan merekapun akan mengetahuinya pula.
Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah SWT:

سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ (26)
Artinya:
Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya yang amal pendusta lagi sombong. (Q.S Al Qamar: 26)
Dan firman Allah SWT:

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ (26)
Artinya:
Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui". (Q.S Saba': 26)


6 siapa di antara kamu yang gila.(QS. 68:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 5 - 6
فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ (5) بِأَيِّيكُمُ الْمَفْتُونُ (6)
Kedua ayat ini merupakan peringatan kepada kaum musyrikin dan menyatakan dengan pasti bahwa mereka benar-benar dalam keadaan sesat, karena tidak berapa lama lagi akan kelihatanlah kebenaran ajaran agama yang dibawa Muhammad. Akan kelihatan kekuatan Islam dan kelemahan mereka, kaum musyrikin itu. Kaum muslimin akan mengalahkan mereka, membunuh sebabagian dan menawan sebahagian yang lain.
Dengan demikian akan jelaslah kewarasan Muhammad dan kegilaan mereka. Mereka berpaling dari kebenaran dan mengikuti yang batil serta hawa nafsu. Inilah gila yang lebih berbahaya, gila yang membawa kepada kehancuran dan kehinaan. Apalagi pada hari kiamat nanti mereka pasti melihat kesesatan mereka itu.
Pada hari kiamat itu semua perbuatan manusia dihisab, ditimbang dan diperlihatkan kepada mereka sendiri, dan di saat itu mereka melihatnya dengan nyata, siapakah di antara mereka yang benar, apakah Rasul yang mereka tuduh gila ataukah mereka yang menuduh itu? Di sini nampak dengan jelas bahwa Muhammad yang benar, sedangkan mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahanam. Peringatan itu dinyatakan dengan mengatakan, "Hai Rasul, engkau akan mengetahui, demikian pula orang-orang yang mendustakan engkau, siapakah yang sebenarnya orang yang gila di antara kamu, apakah engkau sendiri hai Rasul atau mereka yang menuduh engkau itu, semuanya itu akan kamu ketahui dengan jelas nanti dan merekapun akan mengetahuinya pula.
Ayat ini sama maksudnya dengan firman Allah SWT:

سَيَعْلَمُونَ غَدًا مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشِرُ (26)
Artinya:
Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya yang amal pendusta lagi sombong. (Q.S Al Qamar: 26)
Dan firman Allah SWT:

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ (26)
Artinya:
Katakanlah: "Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui". (Q.S Saba': 26)


Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qalam 6
بِأَيِّيكُمُ الْمَفْتُونُ (6)
(Siapakah di antara kalian yang gila) yang tidak waras akalnya, kamukah atau mereka. Lafal al-maftuun ini wazannya sama dengan lafal al-ma`quul, berasal dari mashdar al-futuun, artinya gila.


7 Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. 68:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 7
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (7)
Pada ayat ini Allah SWT menegaskan lagi pernyataan Nya pada ayat dahulu dengan mengatakan kepada Nabi Muhammad bahwa orang-orang musyrik itu pasti mengetahui perbuatan-perbuatan nyata yang telah dilaksanakannya. (Muhammad) dan Allah lebih mengetahui siapa yang menyimpang dari jalan yang lurus yang telah dibentangkan untuknya sehingga mereka memperoleh kesengsaraan hidup di dunia dan di akhirat. Allah mengetahui pula siapa yang mengikuti jalan yang lurus sehingga memperoleh segala yang mereka inginkan yaitu kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat; tindakan orang-orang yang menyimpang dari jalan yang lurus, karena itu mereka akan merasakan kesengsaraan di dunia, seperti kekalahan dalam peperangan dan kehancuran kepercayaan mereka dan di akhirat mereka mendapat azab yang pedih.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qalam 7
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (7)
(Sesungguhnya Rabbmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang Paling mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk) lafal a`lamu di sini bermakna 'aalimun, yakni Dia mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.


8 Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).(QS. 68:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 8
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ (8)
Ayat ini memerintahkan Rasulullah SAW, agar tetap menolak segala macam tawaran, ajakan dan keinginan-keinginan orang-orang musyrik Mekah yang tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah, bahkan merek mendustakannya. Jangan sekali-kali mengikuti mereka, karena mereka berada di jalan yang sesat sedang Rasulullah telah berada di jalan yang lurus.


9 Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).(QS. 68:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 9
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ (9)
Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang musyrik ingin agar Rasulullah SAW, mengikuti dan memenuhi permintaan mereka, dan memperkenankan ajakan mereka, yaitu agar Rasulullah bersikap lunak terhadap mereka. Jika mereka mau bersikap lunak terhadap mereka, mereka akan bersikap lunak pula terhadap beliau dan kaum muslimin.
Menurut suatu riwayat bahwa orang-orang Quraisy pernah menawarkan kepada Rasulullah agar beliau bersedia mengurangi kegiatan dakwahnya, tidak lagi mencela berhala-berhala mereka.
Pada permulaannya, Rasulullah SAW menyampaikan agama Allah kepada orang-orang musyrik Mekah dengan terang-terangan dan penuh keberanian walaupun pada waktu itu kaum Muslimin dalam keadaan lemah dan musuh dalam keadaan kuat. Seluruh alasan-alasan yang dikemukakan Rasulullah yang berhubungan dengan bukti kebenaran risalahnya tidak dapat dijawab oleh orang-orang musyrik, bahkan jawaban mereka itu menunjukkan kelemahan kepercayaan yang mereka anut. Karena itu mereka minta kepada Rasulullah agar bersikap lunak terhadap mereka dan menghentikan celaan-celaan beliau kepada berhala-berhala yang mereka sembah itu. Jika Rasulullah SAW bersedia menerima tawaran mereka, mereka bersedia pula memenuhi keinginan keinginan Rasulullah, seperti bersikap lunak terhadap Rasulullah dan kaum muslimin, dan mereka bersedia ikut menyembah Allah di samping mereka tetap dibolehkan menyembah tuhan-tuhan mereka dan melaksanakan kebiasaan kebiasaan nenek moyang mereka. Mereka juga bersedia mencarikan istri yang disenangi Nabi atau mengumpulkan harta yang diinginkannya.
Karena ingin untuk meringankan penderitaan yang sedang dialami sahabat-sahabat beliau akibat siksaan yang dilakukan orang-orang musyrik terhadap mereka, maka oleh karena itu terlintas dalam pikiran beliau hendak bersikap lunak terhadap orang-orang musyrik itu dengan menerima sebahagian tawaran mereka itu. Maka turunlah ayat ini yang memperingatkan Rasulullah agar jangan sekali-kali bersikap lunak terhadap mereka melainkan tetaplah seperti biasa, dan tetap bersikap keras terhadap mereka.
Ayat ini senada dengan firman Allah SWT:

وَلَوْلَا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلًا (74) إِذًا لَأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لَا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (75)
Artinya:
Dan kalau Kamu tidak memperkuat (hati) mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami. (Q.S Al Isra': 74-75)
Jika dikaji maksud ayat ini, akan diketahui bahwa ada sesuatu tujuan tertentu dari orang-orang musyrik dalam mengemukakan tawaran mereka itu kepada Rasulullah SAW. Dan mereka ingin agar tujuan itu tidak diketahui oleh Rasulullah. Tujuan mereka ialah hendak menipu Rasulullah SAW dengan ajakan itu. Jika ajakan itu diterima, akan berakibat agama Islam yang baru disampaikan itu bercampur dengan unsur-unsur syirik akan terdapat nanti saling mempengaruhi antara kedua macam kepercayaan itu, sehingga agama Islam tidak lagi mempunyai akidah tauhid yang murni.
Teguran Allah SWT kepada Rasulullah SAW ini juga merupakan teguran kepada seluruh kaum Muslimin, agar mereka berhati-hati dalam soal akidah. Jangan sekali-kali memasukkan ke dalam akidah Islam unsur syirik walaupun sedikit.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Al Qalam 9
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ (9)
(Mereka menginginkan) mengharapkan (supaya) merupakan mashdariyah (kamu bersikap lunak) bersikap lembut terhadap mereka (lalu mereka bersikap lunak) pula terhadapmu; diathafkan kepada lafal tudhinu. Seandainya dijadikan sebagai jawab dari tamanni yang tersimpulkan dari lafal wadduu, maka sebelum huruf fa diperkirakan adanya lafal hum. Yakni, seandainya kamu bersikap lunak terhadap mereka, maka mereka pun akan bersikap lunak pula terhadapmu.


10 Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina,(QS. 68:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 10 - 13
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ (10) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (11) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (12) عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ (13)
Dalam ayat-ayat berikut ini, Allah SWT memerintahkan agar Nabi Muhammad SAW waspada dan hati-hati terhadap orang-orang yang mempunyai sifat-sifat berikut, yakni:
1. Jangan sekali-kali mengikuti keinginan orang-orang yang mudah mengucapkan sumpah, karena yang suka bersumpah itu hanyalah orang pendusta. Sedang dusta itu pangkal kejahatan dan sumber segala macam perbuatan maksiat, karena itu pulalah agama Islam menyatakan bahwa dusta itu salah satu dari tanda-tanda orang munafik. Nabi Muhammad SAW bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَّبَ وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ
Artinya:
"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga perkara jika ia berbicara ia berdusta, jika ia dipercaya ia khianat dan jika ia berjanfi ia menyalahi janjinya itu". (HR. Bukhari, lihat Mujam Mufahras Li Alfazil Hadis Nabawi, hal 433, jilid I)
Orang yang suka bersumpah adalah orang yang tidak baik pikirannya, maksudnya kepada orang lain ia menyangka bahwa orang lain demikian pula kepadanya. Karena itu untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran dirinya, iapun bersumpah.

2. Jangan mengikuti orang yang berpikiran hina dan menyesatkan.

3. Jangan mengikuti orang yang selalu mencela orang lain, menyebut-nyebut keburukan orang lain baik secara langsung atau tidak.

4. Jangan mengikuti orang-orang yang suka memfitnah seperti menghadang seorang agar tidak senang kepada seseorang yang lain, usaha menimbulkan kekacauan. Allah SWT menyatakan bahwa fitnah itu lebih besar akibatnya dari pembunuhan.

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ
Artinya:
Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah), dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (Q.S Al Baqarah: 191)

5. Jangan mengikuti orang-orang yang selalu melarang, dan menghalangi orang lain berbuat kebaikan atau dia sendiri tidak akan berbuat baik lagi.
Abu Bakar pernah bersumpah tidak akan memberi nafkah Mistah bin Usasah lagI, karena Mistah termasuk orang yang ikut menuduh Aisyah berbuat zina dengan Sofwan. Tidak akan memberi nafkah seseorang lagi termasuk tidak akan berbuat kebaikan lagi, karena itu turun ayat 224 surah Al Baqarah yang memerintahkan Abu Bakar segera melanggar sumpahnya itu dengan membayar kifarat sumpah.
Ayat 224 AlBaqarah itu ialah:

وَلَا تَجْعَلُوا اللَّهَ عُرْضَةً لِأَيْمَانِكُمْ أَنْ تَبَرُّوا وَتَتَّقُوا وَتُصْلِحُوا بَيْنَ النَّاسِ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (224)
Artinya:
Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebaikan, bertakwa dan mengadakan islah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S Al Baqarah: 224)

6. Dilarang mengikuti orang yang biasa mengerjakan perbuatan yang melampaui batas, seperti orang-orang yang suka melanggar perintah Allah dan tidak menghentikan perbuatan-perbuatan yang dilarang-Nya.
Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ (14)
Artinya:
Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan. (Q.S An Nisa': 14)

7. Dilarang mengikuti orang-orang yang biasa mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa dan maksiat. Orang yang biasa mengerjakan perbuatan dosa dan maksiat adalah orang yang tidak mempunyai harga diri dan akhlak yang baik, karena perbuatan dosa itu akan menghilangkan harga diri dan bertentangan dengan akhlak yang mulia. Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa. Dia berfirman:

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ أَنْفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا (107)
Artinya:
Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa. (Q.S An Nisa': 107)
8. Dilarang mengikuti orang-orang yang suka berbuat kejam dan tidak mempunyai sifat belas kasihan. Allah SWT Maha Pemurah lagi Maha Penyayang kepada hamba-hamba Nya. Karena itu sifat kejam dan tidak mempunyai rasa belas kasihan adalah berlawanan dengan sifat-sifat Allah. Salah Satu sebab agama Islam tersiar dengan cepat di Jazirah Arab, ialah karena sikap Nabi Muhammad SAW yang yang lemah lembut, seandainya Nabi Muhammad SAW bersikap kasar dan kejam, niscaya orang akan menghindari beliau.
Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ
Artinya:
Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. (Q.S Ali Imram: 159)

9. Dilarang mengikuti orang-orang yang tidak diketahui asal usulnya. Yang dimaksud dengan orang yang tidak diketahui asal-usulnya ialah:
a. Orang-orang yang tidak diketahui keadaannya, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, bagaimana budi pekertinya dan sebagainya.
b. Orang yang tidak diketahui asal keturunannya.
Sehubungan dengan huruf b di atas, maka agama Islam mensyariatkan perkawinan, sehingga dengan adanya perkawinan itu keadaan seseorang dapat diketahui dengan mudah, demikian pula asal kampung halamannya. Jika tidak ada perkawinan maka sukar untuk mengetahui asal usul seseorang, siapa ayah dan ibunya dan sebagainya.


11 yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,(QS. 68:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


12 yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,(QS. 68:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


13 yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,(QS. 68:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


14 karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.(QS. 68:14)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 14
أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ (14)
Dalam ayat ini, Allah SWT memperingatkan Nabi Muhammad SAW dan kaum muslimin, bahwa jangan sekali-kali mengikuti orang-orang yang mempunyai sifat-sifat di atas, sekalipun ia mempunyai harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, kekuasaan yang besar atau ia merasakan suatu kenikmatan dan kesenangan daniawi yang sifatnya sementara saja. Karena semua itu tidak akan ada manfaatnya di sisi Allah pada hari kiamat nanti.
Allah SWT berfirman:

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا (11) وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا (12) وَبَنِينَ شُهُودًا (13) وَمَهَّدْتُ لَهُ تَمْهِيدًا (14) ثُمَّ يَطْمَعُ أَنْ أَزِيدَ (15) كَلَّا إِنَّهُ كَانَ لِآيَاتِنَا عَنِيدًا (16) سَأُرْهِقُهُ صَعُودًا (17) إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ (18) فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (19) ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ (20) ثُمَّ نَظَرَ (21) ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ (22) ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ (23)
Artinya:
Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku lapangkan baginya (rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, kemudian dia ingin sekali supaya Aku menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Alquran). Aku akan membebaninya mendaki pendakian yang memayahkan. Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celaka lah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?; kemudian celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, kemudian dia memikirkan, sesudah itu dia bermasam muka dan merengut, kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. (Q.S Al Mudassir: 11-23)
Dan firman Allah SWT:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89) وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ (90) وَبُرِّزَتِ الْجَحِيمُ لِلْغَاوِينَ (91)
Artinya:
(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan (di hari itu)didekatkanlah surga kepada orang-orang yang bertakwa, dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat. (Q.S Asy Syu'ara':88-91)


15 Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata:` (Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. `(QS. 68:15)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 15
إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (15)
Ayat ini menerangkan sikap orang-orang musyrik Mekah, bila mereka mendengarkan bacaan ayat-ayat Alquran, mereka mengatakan bahwa Alquran itu tidak lain adalah perkataan Muhammad saja yang berisi dongeng-dongeng orang dahulu kala, bukan sekali-kali wahyu yang disampaikan Allah kepadanya.
Ayat yang lain yang sama artinya dengan ayat ini ialah.

فَقَالَ إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ يُؤْثَرُ (24) إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ (25)
Artinya:
Lalu ia berkata, "(Alquran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia". (Q.S Al Mudassir: 24-25)
Banyak lagi tuduhan-tuduhan yang dikemukakan orang-orang musyrik terhadap Alquran, seperti perkataan mereka bahwa Alquran itu adalah sihir yang dikemukakan seorang tukang sihir dan sebagainya. Tetapi dari semua tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan itu dapat dipahami bahwa hal itu mereka lakukan semata-mata karena mereka telah kehilangan akal mencari alasan-alasan yang akan mereka kemukakan untuk membantah kebenaran Alquran itu. Setiap mereka renungkan semakin timbul kepercayaan dalam kepada Alquran itu. Namun nafsu mereka masih mengalahkan kebenaran yang telah timbul dalam lubuk hati mereka.


16 Kelak akan Kami beri tanda dia di belalai- (nya).(QS. 68:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 16
سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ (16)
Dalam ayat ini Allah SWT menegaskan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang benar-benar sesat dan Allah akan menjadikan mereka hina di dunia. Untuk menyatakan kehinaan mereka itu Allah akan memberi tanda di hidung mereka seakan-akan belalai gajah, sehingga setiap orang mengetahui keadaan mereka yang sebenarnya. Maksud memberi tanda di hidung mereka ialah semua orang mengetahui bahwa mereka adalah orang jahat dan banyak dosa, sehingga mereka mudah dikenal, seakan-akan mereka telah diberi tanda di hidung mereka.


17 Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil) nya di pagi hari,(QS. 68:17)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 17 - 18
إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (17) وَلَا يَسْتَثْنُونَ (18)
Ayat ini menerangkan bahwa Allah SWT telah memberi orang-orang musyrik Mekah nikmat yang banyak yang berupa kesenangan hidup di dunia dan kemewahan-kemewahan dengan maksud untuk mengetahui apakah mereka mau mensyukuri nikmat yang telah diberikan itu dengan mengeluarkan hak-hak orang miskin, memperkenankan seruan Rasul SAW ywg menyeru mereka mengikuti jalan yang benar, tunduk dan taat kepada Allah atau mereka dengan nikmat ini ingin menumpuk harta, menantang seruan Rasul dan menyimpang dari jalan yang benar? Allah akan menimpakan kepada mereka azab yang pedih dan melenyapkan nikmat-nikmat itu dari mereka seandainya mereka tetap ingkar, sebagaimana Allah telah menampakan azab dengan mencabut nikmatnya kepada pemilik-pemilik kebun.
Pemilik kebun itu adalah seorang laki-laki saleh, taat dan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Ia mempunyai sebidang kebun sebagai sumber penghidupannya. Jika ia akan memetik hasil kebunnya itu diberitahukannyalah kepada fakir dan miskin agar mereka datang ke kebunnya, dan langsung memberikan hak-hak mereka yang terdapat dalam hasil kebun itu. Setelah Ia meninggal dunia kebun itu diwarisi oleh anak-anak mereka dan mereka menggarapnya. Pada waktu akan memetik hasil kebun itu mereka pun bermusyawarah apakah mereka tetap melakukan seperti yang telah dilakukan bapak mereka atau mereka membuat rencana baru. Salah seorang dari mereka mengusulkan agar tetap melakukan apa yang biasa dilakukan bapak mereka, yaitu memberitahukan kepada fakir miskin agar mereka datang pada waktu hari memetik. Tetapi usul saudara mereka ini ditolak oleh saudara-saudaranya yang lain, sehingga mereka tidak mau memberikan hasil kebun mereka sedikitpun kepada fakir miskin sebagaimana yang telah dilakukan oleh bapaknya. Sekalipun telah diperingatkan oleh saudara yang seorang itu akan bahaya yang mungkin menimpa, tetapi mereka tetap dengan keputusan itu, yaitu memetik kebun itu tanpa memberi tahu lebih dahulu kepada fakir miskin dan seluruh hasil kebun itu akan mereka miliki sendiri tanpa mengeluarkan hak-hak orang lain yang ada di dalamnya. Cerita dilanjutkan pada ayat-ayat berikut:
Maka putra-putra ahli waris pemilik kebun yang mengingkari ketentuan-ketentuan yang biasa dilakukan bapaknya, semasa ia masih hidup, setelah mereka melihat kesuburan tanamannya dan lebatnya buah yang akan mereka petik, mereka pun yakin bahwa semua itu pasti akan menjadi miliknya. Karena itu mereka bersumpah akan memetiknya pagi-pagi benar agar tidak diketahui oleh seorang pun, dan mereka telah berketetapan hati pula tidak akan memberikan hasil kebun itu kepada orang lain walaupun sedikit.


18 dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin),(QS. 68:18)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


19 lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur,(QS. 68:19)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 19 - 20
فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (19) فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ (20)
Ketentuan dan kehendak Allah pasti berlaku dengan tidak seorangpun yang dapat menghalanginya Maka pada malam hari datanglah ketetapan dan kehendak Allah itu berupa petir yang membakar seluruh kebun mereka itu. Tidak ada satu pun yang tinggal, semua hangus terbakar. Padahal waktu itu pemilik-pemilik kebun itu sedang tidur nyenyak, tidak seorang pun yang tahu bahwa kebunnya telah habis terbakar. Mereka lalai dan tidak ingat kepada Allah, Tuhan yang memberi mereka rezeki.


20 maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,(QS. 68:20)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Al Qalam 19 - 20
فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (19) فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ (20)
Ketentuan dan kehendak Allah pasti berlaku dengan tidak seorangpun yang dapat menghalanginya Maka pada malam hari datanglah ketetapan dan kehendak Allah itu berupa petir yang membakar seluruh kebun mereka itu. Tidak ada satu pun yang tinggal, semua hangus terbakar. Padahal waktu itu pemilik-pemilik kebun itu sedang tidur nyenyak, tidak seorang pun yang tahu bahwa kebunnya telah habis terbakar. Mereka lalai dan tidak ingat kepada Allah, Tuhan yang memberi mereka rezeki.


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [3]
Ayat 1 s/d 20 dari [52]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).





Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
Counter Powered by  RedCounter
free counters
Bloggerian Top Hits