Tafsir Surat : MUHAMMAD

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

::Home:: | Indonesia | English | Dutch | Sejarah | Hadist | Al Qur'an? | Adab | Al-Ma'tsurat | TAJWID | Artikel | Free Mobile Aplications | Sms Quran & Hadist
Radio-FajriFm | Pendidikan | Menyimak & Mengkaji | The Noble Quran | Memahami Quran | eBooks | Kisah Muallaf | *HadistWeb* | Tanda2 Bagi yg Ber-Akal
Tafsir Al-Azhar | Ponsel Quran | Belajar Baca | Qr.Recitation | Qr.Explorer | QuranTools | Qur’an Flash | Qurany.net | {Radio Dakwah/TV} | QuranTV-Mp3

Gunakan browser internet explorer untuk dapat mendengarkan Murotal (Audio)

Cari dalam "TAFSIR" Al Qur'an        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [TAFSIR] : MUHAMMAD
Ayat [38]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:1/2
 
1 Orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menghapus perbuatan-perbuatan mereka.(QS. 47:1)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 1 - 2
الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ أَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (1) وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ (2)
Dalam ayat ini Allah SWT. membagi manusia atas dua golongan, yaitu:
1. Golongan kafir, yaitu orang-orang yang mengingkari kekuasaan dan ke-Esaan Allah, menyembah tuhan-tuhan yang lain selain Dia, menghalangi manusia beribadat kepada-Nya, membuat-buat cara beribadat kepada-Nya menurut pendapat dan keinginan diri sendiri, mencela dan menghalangi manusia beriman kepada Allah dan kepada Muhammad Rasul-Nya. Seluruh amal dan perbuatan `golongan ini tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Allah yang termuat di dalam Alquran dan hadis Rasul-Nya, tetapi mengikuti keinginan diri sendiri dan mengikuti petunjuk setan. Semua amal dan perbuatan yang berdasarkan perbuatan setan tidak ada artinya di sisi Allah walaupun perbuatan itu adalah perbuatan yang baik bagi manusia dan kemanusiaan. Amal perbuatan itu seolah-olah buih yang timbul di permukaan air, kemudian hilang tanpa bekas sedikit pun. Karena itu semua amal dan perbuatan yang dikerjakan oleh orang-orang musyrik tidak ada arti dan pahalanya di sisi Allah di akhirat nanti. Mereka hanya mendapat balasan dan imbalan di dunia saja yang mereka peroleh dari manusia. Amal dan perbuatan ini ialah seperti budi pekerti yang mulia, mengadakan hubungan dengan orang lain (silaturahmi), memberi makan orang miskin, memelihara anak yatim, membuat usaha-usaha kemanusiaan, memelihara dan mendirikan mesjid. Pekerjaan seperti ini adalah pekerjaan yang pernah dikerjakan oleh orang-orang musyrik Mekah, seperti memakmurkan Masjidilharam, melindungi orang-orang yang memerlukan perlindungan, membantu orang-orang yang mengerjakan tawaf dan sebagai nya. Allah SWT. berfirman:

وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا (23)
Artinya:
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. (Q.S. Al Furqan: 23)
2. Golongan yang beriman, yaitu orang-orang yang mengakui kekuasaan dan keesaan Allah, memurnikan ketaatan dan kepatuhan hanya kepada-Nya saja, tidak membuat-buat cara-cara beribadat kepada Allah menurut kemauan dan menjauhi larangan-larangannya, mereka beriman kepada Alquran yang dibawa Nabi Muhammad saw. menolong dan membantu manusia melaksanakan ibadat kepada-Nya. Golongan ini adalah golongan yang diridai Allah. Amal dan perbuatannya diterima Allah, diampuni segala dosanya, mereka mendapat pahala di dunia sedang di akhirat akan mendapat kebahagiaan yang abadi
Menurut Ibnu Abbas, ayat pertama diturunkan berhubungan dengan orang orang yang memberi makanan pada perang Badar. Mereka itu ada dua belas orang yaitu; Abu Jahal, Haris bin Hisyam, Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Ubay bin Khalaf, Umayyah bin Khalaf, Munabbih bin Hajjaj, Nubaih bin Hajjaj, Abul Bakhtari bin Hisyam, Zum'ah bin Aswid, Hakim bin Hazam dan Haris bin Aing bin Naufal. Semua mereka itu mempunyai amal kebaikan pada masa Arab Jahiliah, seperti menyediakan minuman jemaah haji, memberi makan Pam tamu yang datang ke Masjidilharam, melindungi dan menjaga hak tetangga dan sebagainya. Semua amal mereka itu dibatalkan Allah pahalanya, seakan-akan mereka tidak pernah berbuat sesuatupun, karena mutlak diterimanya suatu amal dan perbuatan adalah iman kepada Allah SWT. dan iman kepada Nabi Muhammad saw. Sedangkan ayat kedua diturunkan berhubungan dengan orang Ansar di Madinah. Mereka beriman kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad saw. membantu orang-orang Muhajirin yang baru saja datang dari Mekah hijrah bersama Nabi Muhammad saw. mengikuti perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.


2 Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan amal-amal saleh dan beriman (pula) kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang hak dari Rabb mereka, Allah mengahpus kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.(QS. 47:2)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


3 Yang demikian adaah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang hak dari Rabb mereka. Demikianlah Allah membuat untuk menusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.(QS. 47:3)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 3
ذَلِكَ بِأَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا اتَّبَعُوا الْبَاطِلَ وَأَنَّ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّبَعُوا الْحَقَّ مِنْ رَبِّهِمْ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ لِلنَّاسِ أَمْثَالَهُمْ (3)
Dalam ayat ini diterangkan sebab dihapusnya pahala amal dan perbuatan orang-orang kafir, diterima serta diberi pahala amal dan perbuatan orang-orang yang beriman. Allah SWT. membatalkan pahala amal dan perbuatan orang-orang kafir karena mereka memilih kesesatan dari kebenaran, mengikuti godaan setan, mengikuti hawa nafsunya, tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kunci diterimanya suatu amal dan perbuatan ini ialah beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, sedangkan orang-orang yang beriman tunduk dan patuh kepada Allah, seluruh amal dan perbuatannya dilakukan semata-mata mencari keridaan Allah. Karena itu Allah SWT. menenangkan hati dan pikiran mereka serta membimbing mereka menempuh jalan yang lurus.
Demikianlah Allah SWT. sebagaimana Dia menerangkan dengan tegas sikap dan tindakan-Nya terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang beriman. demikian pula Dia telah membuat perumpamaan, tamsil dan ibarat bagi manusia dengan mengemukakan sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan keyakinan seseorang dalam hidup dan kehidupannya. Sebenarnya orang-orang yang mengerti dan memahami, maka dengan perumpamaan, tamsil dan ibarat itu mereka tentu beriman kepada Allah, tetapi karena orang-orang kafir itu, hati, pendengaran dan penglihatannya telah tertutup dan terkunci mati karena kejahatan yang lelah dilakukannya, maka semuanya itu tidak berarti sedikit pun bagi mereka.
Dari ayat ini dapat diambil suatu asas, yaitu; telan menjadi Sunatullah (hukum Allah) yang tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun, bahwa dasar semua amal dan perbuatan seseorang yang diridai Allah ialah iman kepada-Nya, kepada Muhammad sebagai Rasul-Nya, kepada semua yang dibawa oleh Rasul itu dan mengerjakan semua perintah-perintah-Nya serta menjauhi semua larangan-Nya Itulah amal dan perbuatan yang benar dan diberi pahala, sedangkan amal dan perbuatan yang tidak didasari dengan iman, takwa dan taat kepada-Nya itu tidak ada pahalanya di sisi Allah, ibarat buih yang terapung di permukaan air yang timbul dan hilang tanpa meninggalkan bekas.


4 Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.(QS. 47:4)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 4
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ (4)
Ayat ini menerangkan cam menghadapi orang-orang kafir dalam peperangan. Allah SWT. menerangkan, "Apabila kamu, wahai kaum Muslimin, menghadapi orang-orang kafir dalam peperangan, maka curahkanlah kesanggupan dan kemampuanmu untuk menghancurkan musuh-musuhmu, penggallah leher mereka di mana saja kamu temui dalam peperangan itu. Utamakanlah kemenangan yang akan dicapai pada setiap medan pertempuran dan janganlah kamu mengutamakan penawanan dan harta rampasan dari pada mengalahkan mereka. Penawanan dilakukan setelah kamu mengalahkan mereka, karena orang-orang kafir itu setiap saat berkeinginan membunuh dan menghancurkan kamu dan mereka tidak dapat dipercaya. Mereka seakan-akan ingin berdamai dengan kamu, tetapi hati dan keyakinan mereka tetap untuk menghancurkan kamu dan agama Islam pada setiap kesempatan yang mungkin mereka lakukan. Setelah selesai peperangan yang kamu menangkan itu, kamu boleh memilih salah satu dari dua hal, mana yang paling baik bagimu dan bagi agamamu, yaitu apakah kamu akan membebaskan tawanan yang telah kamu tawan atau kamu akan membebaskannya dengan membayar tebusan oleh pihak musuh atau dengan cara pertukaran tawanan.
Dalam ayat yang lain diterangkan batas, sampai di mana kaum Muslimin harus memerangi orang-orang kafir Mekah itu, yaitu sampai tidak ada lagi fitnah. Allah SWT. berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِينَ (193)
Artinya:
Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi) kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (Q.S. Al Baqarah: 193)
Berkata Ibnu Abbas r.a, "Tatkala jumlah kaum muslimin bertambah banyak dan kekuatannya semakin bertambah pula, Allah SWT. menurunkan ayat ini dan Rasulullah saw. bertindak sesuai dengan ayat ini, begitu pula para khalifah yang datang sesudahnya".
Dari ayat di atas dan perkataan Ibnu Abbas r.a. dapat dipahami hal-hal sebagai berikut
1 Ayat ini diturunkan setelah perang Badar karena pada perang Badar itu Rasulullah saw. lebih mengutamakan tebusan, seperti menebus dengan harta atau dengan menyuruh tawanan itu mengajarkan tulis baca kepada kaum Muslimin.
2. Ayat ini merupakan pegangan bagi Rasulullah saw. dan pam sahabat dalam menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan peperangan dun tawanan perang.
3. Perintah membunuh orang-orang kafir dalam ayat ini dilakukan dalam peperangan, bukan di luar peperangan. Karena itu, wajarlah Allah SWT. memerintahkan kepada kaum Muslimin membunuh musuh-musuh mereka dalam peperangan yang sedang berkecamuk karena musuh sendiri bertindak demikian pula terhadap mereka. Jika Allah tidak memerintahkan demikian, tentulah kaum Muslimin ragu-ragu menghadapi musuh yang akan membunuh mereka sehingga musuh berkesempatan menghancurkan mereka.
4. Allah SWT. tidak memerintahkan kaum Muslimin membunuh orang-orang kafir di mana saja mereka temui, tetapi Allah hanya memerintahkan kaum Muslimin memerangi orang-orang kafir yang bermaksud merusak, memfitnah dan menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, maka kaum Muslimin wajib pula bersikap memusuhi mereka. Terhadap orang kafir yang mempunyai sikap baik terhadap agama Islam dan kaum Muslim, maka kaum muslimin wajib pula bersikap baik terhadap mereka.
5. Kepala negara mempunyai peranan dalam mengambil keputusan dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan peperangan dan tawanan perang. Ia harus mendasarkan keputusannya kepada kepentingan agama, kaum Muslimin dan kemanusiaan serta kemaslahatan pada umumnya.
Para ulama Syafi'iyah berpendapat bahwa kepala negara boleh mengambil salah satu dari empat keputusan. Kepala negara boleh membunuh tawanan jika tawanan itu tidak mau memeluk agama Islam atau boleh membebaskannya tanpa tebusan atau dengan tebusan atau dengan penukaran tawanan perang, atau boleh menjadikannya budak. Mereka mendasarkan pendapat ini pada perbuatan Rasulullah saw. yang membebaskan Abu Izzah Al Jumahi dan Sumamah bin Usal. Pernah pula Rasulullah saw. membebaskan dua orang tawanan musyrikin sebagai tukaran seorang muslim yang ditawan dan pernah pula Rasulullah saw. membunuh sebagian tawanan seperti Nadar bin Haris dan Utbah bin Abu Mu'it.
Memaksa tawanan masuk agama Islam tidak dibolehkan karena tindakan itu bertentangan dengan firman Allah SWT. yang melarang kaum Muslimin memaksa orang lain memeluk agama Islam.
Allah SWT. berfirman:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيَِّ
Artinya:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat (Q.S. Al Baqarah: 256)
Dalam hal Rasulullah saw. membunuh tawanan yang ditawan kaum Muslimin, tentu ada dasarnya, tentu saja tawanan yang dibunuh itu bukan tawanan biasa, melainkan tawanan yang merupakan penjahat perang yang telah banyak melakukan perbuatan-perbuatan mungkar, atau kematiannya diperlukan karena bila ia hidup, maka kejahatannya dalam peperangan akan berlangsung dalam waktu yang lama.
Menjadikan tawanan sebagai budak adalah tindakan yang biasa dilakukan oleh bangsa-bangsa di dunia sebelum kedatangan Islam. Setelah datang agama Islam, maka musuh-musuh Islam menjadikan kaum Muslimin yang mereka tawan menjadi budak. Pada dasarnya perbudakan itu dilarang oleh agama Islam, tetapi sebagai imbangan dari tindakan orang kafir dan untuk menjaga hati kaum Muslimin, maka Rasulullah saw. membolehkan kaum Muslimin menjadikan budak orang-orang kafir yang ditawannya. Hal ini juga berarti jika orang-orang kafir tidak menjab1ikan kaum Muslimin yang ditawannya menjadi budak, tentulah kaum Muslimin tidak pula boleh menjadikan orang-orang kafir yang ditawannya menjadi budak. Dalam pada itu, seandainya terjadi perbudakan karena tawanan perang itu, maka dalam agama Islam banyak ketentuan hukum yang berhubungan dengan hal memerdekakan budak.
Agama Islam adalah agama perdamaian, bukan agama yang menganjurkan peperangan. Karena itu, seandainya-dalam sejarah Islam terdapat peperangan antara kaum Muslimin dengan orang-orang kafir, maka peperangan itu adalah peperangan yang tidak dapat dihindarkan terjadinya. Peperangan itu terjadi karena mempertahankan agama Islam yang hendak dimusnahkan orang-orang kafir itu, di samping mempertahankan diri dari kehancuran. Sejak Muhammad diangkat menjadi Rasul, sejak itu pula timbul reaksi dari orang-orang musyrik Mekah kepada beliau dan pengikut-pengikutnya. Berbagai cam yang mereka lakukan untuk menumpas agama Islam dan kaum Muslimin, sejak dari cara yang lunak sampai kepada cara yang paling keras. Puncak dari tindakan orang musyrik Mekah itu ialah mengadakan komplotan untuk membunuh Rasulullah saw. sehingga Allah SWT. memerintahkan Rasulullah agar berhijrah ke Madinah. Setelah Rasulullah saw. berada di Madinah tindakan-tindakan itu semakin keras, sehingga kaum Muslimin terpaksa memerangi mereka untuk mempertahankan agama dan diri mereka.
Sesampai Rasulullah saw. di Madinah, diadakan perjanjian damai dengan orang-orang Yahudi, tetapi perjanjian damai itu dilanggar oleh mereka, bahkan mereka melakukan percobaan untuk membunuh Nabi Muhammad saw. Karena itu Rasulullah saw. terpaksa memerangi orang Yahudi di Madinah.
Amat banyak contoh-contoh yang dapat dikemukakan yang membuktikan bahwa agama Islam tidak disiarkan melalui peperangan tetapi melalui dakwah yang penuh hikmah dun kebijaksanaan.
Terhadap tawanan perang, sikap Rasulullah saw. baik sekali. Dalam hadis yang dlriwayatkan oleh Bukhari diterangkan sikap beliau itu. Abu Hurairah berkata, "Rasulullah saw. mengirimkan pasukan berkuda ke Nejed, maka pasukan berkuda itu menawan seorang laki-laki dari Bani Hanifah yang bernama Sumamah bin Usal Ia diikat pada salah satu tiang mesjid. Maka Rasulullah saw datang kepadanya, lalu berkata, "Apa yang engkau punyai ya Sumamah Sumamah menjawab, "Aku mempunyai harta, jika engkau mau membunuhku, lakukanlah dan jika engkau mau membebaskanku maka aku berterima kasih kepadamu, jika engkau menghendaki harta, maka mintalah berapa engkau mau." Esok harinya Rasulullah saw. pun berkata kepadanya, "Apakah yang engkau punyai ya Sumamah?". Ia menjawab: "Aku mempunyai apa yang telah kukatakan kepadamu" Berkata Rasulullah saw. "Lepaskanlah ikatan Sumamah." Maka Sumamah pergi ke dekat pohon kurma yang berada di dekat mesjid, lalu mandi kemudian ia masuk ke mesjid. lalu menyatakan, "Aku mengakui bahwa tidak ada Tuhan yang selain Allah dan bahwa Muhammad itu adalah Rasul-Nya. Demi Allah, dahulu tidak ada orang yang paling aku benci di dunia ini selain engkau, sekarang jadilah engkau orang yang paling aku cintai, demi Allah, dahulu tidak ada agama yang paling aku benci selain agama engkau, maka jadilah sekarang agama engkau adalah agama yang paling aku cintai. Demi Allah, dahulu negeri yang paling aku benci adalah negerimu, maka jadilah negerimu itu negeri yang paling aku cintai. Sesungguhnya pasukan berku4a telah menangkapku, sedang aku bermaksud umrah, apa pendapatmu?". Maka Rasulullah memberi kabar gembira kepadanya dan menyuruhnya melakukan umrah. Tatkala ia sampai di Mekah, seorang mengatakan kepadanya: "Engkau merasa rindu?" Sumamah menjawab "Tidak, tetapi aku telah masuk Islam bersama Muhammad saw".
Dari hadis ini dapat dipahami bahwa Rasulullah saw. bersikap lemah lembut kepada Sumamah, seorang tawanan perang. Beliau memberi kebebasan kepadanya, sehingga ia tertarik kepada Rasulullah dan agama Islam, karena itu dia menyatakan dirinya masuk Islam.
Seandainya Rasulullah bersikap kasar kepadanya, tentulah dia tidak akan menyatakan seperti tersebut di dalam hadis itu, Ia akin menyimpan dendam kepada Rasulullah saw. dan pada setiap kesempatan ia akan berusaha membalaskan dendamnya itu.
Agama Islam datang untuk menegakkan prinsip-prinsip pokok yang harus ada dalam hidup dan kehidupan manusia, baik ia sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Prinsip-prinsip itu ialah ketauhidan, keadilan. kemanusiaan dan musyawarah sehingga dengan menegakkan prinsip-prinsip itu manusia akan berhasil dalam tugasnya sebagai khalifah Allah di muka bumi. Atas dasar semuanya itulah segala persoalan diselesaikan, termasuk persoalan-persoalan peperangan dan tawanan perang.
Di samping itu, manusia adalah makhluk Allah yang paling dimuliakan-Nya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Karena itu manusia harus pula memuliakan manusia yang lain apakah ia seorang muslim atau orang kafir. Tentu saja orang muslim adalah orang yang paling mulia di sisi Allah dan seorang muslim harus pula menyesuaikan dirinya dengan penilaian Allah itu. Allah SWT. berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا (70)
Artinya
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam. Kami angkat mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki dari yang baik baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Q.S. Al Isra: 70)
Di samping itu Allah SWT. menganugerahkan kepada manusia akal pikiran untuk mengetahui, menyelidiki, memahami segala sesuatu dan mempertimbangkan apa yang paling baik bagi dirinya dan bagi orang lain. Demikian pula perasaan sebagai pelengkap bagi manusia dalam menilai segala sesuatu. Kemudian Allah SWT. mengutus Rasul-rasul-Nya untuk menyampaikan petunjuk kepada manusia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Petunjuk itu harus disampaikan dengan hikmah dan kebijaksanaan dan dengan cara yang baik, tidak dengan paksaan dan peperangan. Karena manusia telah mempunyai akal dan perasaan, maka ia dapat memilih apakah ia akan mengikuti petunjuk itu atau tidak, terserah kepada mereka sendiri. Jika mereka mengikuti petunjuk Allah yang disampaikan oleh Rasul-Nya; berarti mereka telah menentukan pilihan yang paling baik. Jika mereka tidak menerimanya, mereka tetap dihormati sebagai manusia, selama mereka tidak mempunyai maksud untuk menghalangi orang lain mengikuti petunjuk Allah. Jika mereka menghalangi orang lain mengikuti petunjuk Allah, apalagi bermaksud menghancurkan Islam dan kaum Muslimin, maka Allah memerintahkan untuk memerangi mereka sampai tidak ada fitnah lagi.
Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa perintah-perintah untuk melaksanakan perang dalam Alquran, bukanlah maksudnya untuk memaksa orang lain memeluk agama Islam, melainkan untuk mempertahankan agama dan dari maksud-maksud buruk orang-orang kafir itu. Peperangan tidak akan ada selama maksud-maksud buruk itu juga tidak ada.
Mengenai orang musyrikin Arab, terutama penduduk Mekah, Agama Islam membedakannya dengan orang musyrik yang lain. Orang musyrik Mekah sejak agama Islam lahir telah bertindak di luar batas dan menganiaya orang-orang beriman sehingga Rasulullah saw. diperintahkan Allah hijrah ke Madinah. Setelah Rasulullah dan para sahabat sampai di Madinah, orang-orang musyrik itu masih tetap berusaha melaksanakan niat jahatnya, itu pun akan tetap dilaksanakannya pada setiap kesempatan dan keadaan yang memungkinkan. Karena itu, bagi mereka berlaku ketentuan Diperangi atau masuk Islam. Kaum musyrik Mekah inilah yang dimaksud dengan "manusia" dalam hadis Rasulullah yang bunyinya sebagai berikut, "Aku diperintahkan memerangi manusia sehingga ia mengucapkan "laa ilaaha illallah." Artinya ialah "Aku diperintahkan memerangi orang musyrik Mekah sampai ia mengucapkan Kalimat Syahadat.
Sekalipun demikian, dalam kenyataannya Rasulullah saw. tidak pernah memaksa orang-orang musyrik Arab memeluk agama Islam. Pada penaklukan Mekah, Rasulullah melindungi mereka dengan memerintahkan agar mereka berlindung di rumah Abu Sofyan. Setelah penaklukan selesai, Rasulullah saw tidak menawan mereka tetapi membiarkan mereka bebas sebagaimana biasa. Kemudian mereka masuk Islam dengan penuh kesadaran tanpa ada paksaan.
Itulah yang diperintahkan Allah kepada orang-orang yang beriman, yaitu membunuh setiap orang kafir yang dijumpai dalam peperangan, atau menawan mereka dan membebaskan mereka tanpa tebusan atau dengan tebusan sampai perang selesai. Itulah sunah Allah yang berlaku bagi hamba-hamba-Nya untuk menjaga agama-Nya, menegakkan keadilan dan mencari kemaslahatan.
Allah SWT. menyatakan bahwa sunah-Nya itu ditetapkan untuk menguji manusia dan sebagai cobaan bagi orang-orang yang beriman. Sebenarnya jika Dia menghendaki, tidaklah sukar bagi-Nya untuk menghancurkan orang-orang musyrik itu dengan menimpakan malapetaka kepadanya atau Dia menjadikan seluruh manusia menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. Tetapi Allah ingin membedakan siapa yang benar-benar beriman dan berjihad, siapa yang setengah-setengah imannya dan siapa pula yang kafir dan berbuat maksiat. Dengan demikian, maka Allah SWT. menetapkan balasan amal dan perbuatannya berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan, baik balasan itu berupa pahala maupun berupa siksaan yang sangat pedih.
Pada akhir ayat ini Allah SWT. menerangkan balasan apa yang akan diterima oleh orang-orang. yang beriman dan berjihad di jalan Allah dengan mengatakan: "Bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah untuk membela agama Islam. sekali-kali Allah tidak akin mengurangi pahala mereka sedikit pun, bahkan Dia akan mengganjarnya dengan pahala yang berlipat ganda. Mengenai pahala berjihad di jalan Allah disebutkan dalam suatu hadis sebagai berikut

يعطى الشهيد ست خصال عند أول قطرة من دمه تكفر عنه كل خطيئة ويري مقعده من الجنة ويزوج من الحور العين ويأمن من الفزع الأكبر ومن عذاب القبر ويحلى حلة الإيمان
Artinya
Allah menganugerahkan kepada orang-6rang yang mati syahid enam perkara: pada waktu keluar tetesan darahnya yang pertama, Allah mengampuni segala kesalahannya, diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, dikawinkan dengan bidadari yang cantik rupawan, tidak mengalami ketakutan pada guncangan Hari Kiamat, terpelihara dari azab kubur dan diletakkan padanya pakaian iman. (H.R. Ahmad)
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Hatim dari Qaatadah, ia berkata, "Disampaikan kepada kami bahwa ayat ini turun pada perang Uhud dan Rasulullah saw. berada di sela-sela bukit berlindung. Waktu itu di antara kaum Muslimin banyak yang luka dan terbunuh dalam peperangan itu. Orang musyrikin menyerukan dengan suara keras, "Maha tinggi hubal" (nama patung mereka yang paling besar). Dan kaum Muslimin menyerukan, "Maha Tinggi Allah lagi Maha Mulia", berkata orang musyrikin, "Hari kekalahan kami pada perang Badar telah kami tebus dengan kemenangan kami hari ini. Perang itu silih berganti antara menang dan kalah." Maka berkatalah Rasulullah saw, "Katakanlah kepada mereka, tidak sama kamu dengan kami, kami terbunuh berarti hidup di sisi Allah dan diberi karunia, sedang kamu terbunuh akan diazab di dalam neraka. Berkata lagi orang-orang musyrikin, "Kami mempunyai tuhan uzza sedang kamu tidak mempunyainya." Berkata kaum Muslimin, "Allah pelindung kami, sedang kamu tidak mempunyai pelindung"


5 Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka.(QS. 47:5)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 5 - 6
سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ (5) وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ (6)
Allah SWT. akan membimbing orang-orang yang beriman dalam melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang diridai-Nya sehingga pekerjaan itu berhasil dengan baik dan memelihara mereka agar tidak melakukan maksiat dan perbuatan dosa serta menyediakan bagi mereka tempat diam dalam surga yang telah mereka ketahui karena Allah menunjukkan tempat-tempat itu kepada mereka.


6 dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.(QS. 47:6)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


7 Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.(QS. 47:7)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 7
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7)
Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong Agama Allah dengan mengorbankan harta dan jiwamu, niscaya Allah akin menolongmu dari musuh-musuhmu. Dia akan menguatkan hati dan barisanmu dalam melaksanakan kewajibanmu mempertahankan Agama Islam dengan memerangi orang-orang kafir yang hendak meruntuhkannya, sehingga agama Allah itu tegak dengan kokohnya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Muhammad 7
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ (7)
(Hai orang-orang yang beriman! Jika kalian menolong Allah) yakni agama-Nya dan Rasul-Nya (niscaya Dia menolong kalian) atas musuh-musuh kalian (dan meneguhkan telapak kaki kalian) di dalam medan perang.


8 Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka.(QS. 47:8)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 8
وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (8)
Orang yang tidak beriman kepada Allah, mengingkari ke-Esaan Allah dan kekuasaan-Nya, maka mereka akin ditimpa kecelakaan yang besar, membatalkan semua pahala amal dan perbuatan mereka. Perbuatan mereka tidak akan mendapat hidayah dan taufiq dari Allah SWT. Dalam pada itu, Allah menggagalkan semua tipu daya mereka untuk menghancurkan kaum Muslimin.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Muhammad 8
وَالَّذِينَ كَفَرُوا فَتَعْسًا لَهُمْ وَأَضَلَّ أَعْمَالَهُمْ (8)
(Dan orang-orang yang kafir) dari kalangan penduduk Mekah; lafal ayat ini berkedudukan menjadi Mubtada, sedangkan Khabarnya, niscaya mereka celaka. Pengertian ini disimpulkan dari firman selanjutnya yaitu (maka kecelakaanlah bagi mereka) yakni kebinasaan dan kekecewaanlah yang akan mereka terima dari Allah (dan Allah menyesatkan amal perbuatan mereka) lafal ayat ini diathafkan pada Ta'isuu yang keberadaannya diperkirakan.


9 Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (al-Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka.(QS. 47:9)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 9
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (9)
Sebabnya Allah tidak memberi pahala bagi amal dan perbuatan mereka dan tidak memberi hidayah dan taufik itu ialah, karena mereka mengingkari petunjuk-petunjuk Alquran yang telah diturunkan-Nya kepada Nabi Muhammad saw. sebagai Rasul-Nya.

Tafsir / Indonesia / Jalalain / Surah Muhammad 9
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ (9)
(Yang demikian itu) kecelakaan dan penyesatan itu (adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah) yakni Alquran yang diturunkan-Nya, di dalamnya terkandung masalah-masalah taklif atau kewajiban-kewajiban (lalu Allah menghapuskan pahala amal-amal mereka.)


10 Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima (akibat-akibat) seperti itu.(QS. 47:10)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 10
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ دَمَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلِلْكَافِرِينَ أَمْثَالُهَا (10)
Sebenarnya orang-orang musyrik Mekah yang mendustakan kenabian dan kerasulan Muhammad saw, serta mengingkari kebenaran petunjuk Alquran sebagai kitab yang berasal dan Allah Yang Maha Kuasa, mempunyai bukti yang banyak untuk membenarkan kenabian dan kerasulan itu, karena negeri itu berada di sekitar negeri umat-umat yang dahulu pernah mendustakan dan mengingkari seruan Rasul-rasul-Nya. Bukankah mereka sering pergi ke Syria, sebelah utara negeri mereka dan Hadramaut, sebelah selatan negeri mereka. Begitulah pula ke Persia sebelah Timur dan ke Habsyah (Ethiopia) sebelah Barat Daya negeri mereka. Kepergian mereka ke negeri-negeri yang disebutkan itu adalah untuk melakukan perdagangan. Dalam perjalanan itu mereka melalui bekas-bekas negeri kaum Ad, kaum Samud, kaum Syuaib dan sebagainya yang telah dibinasakan Allah. Mereka masih dapat melihat bekas-bekas negeri itu yang berupa puing-puing, peninggalan-peninggalan dan sebagainya. Mereka dapat melihat dan menyaksikan bekas-bekas ini, karena memang negeri-negeri kaum Ad, Samud dan kaum Syuaib (orang-orang Madyan) dan sebagainya itu adalah pusat perniagaan di masa itu dan terletak pada jalur-jalur perniagaan yang menghubungkan dunia Barat dan dunia Timur. Mereka juga telah mengetahui bahwa umat-umat dahulu itu telah dihancurkan Allah karena durhaka kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Tetapi mereka tidak mau memperhatikan dan merenungkan bahwa Sunah Allah itu berlaku bagi setiap orang-orang mengingkari agama-Nya.
Karena itu orang-orang musyrik Mekah itu akan mengalami nasib seperti nasib yang telah dialami oleh umat-umat dahulu seandainya mereka tetap tidak mengindahkan seruan Muhammad saw. Sebagai bukti kebenaran janji Allah itu banyak orang musyrik Mekah yang mati terbunuh dalam perang Badar dan begitu juga pada peperangan-peperangan yang sesudahnya.


11 Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung`(QS. 47:11)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 11
ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ مَوْلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَأَنَّ الْكَافِرِينَ لَا مَوْلَى لَهُمْ (11)
Dalam ayat ini Allah SWT. menerangkan keadaan orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di dunia dan sebab orang-orang musyrik ditimpa malapetaka. Orang-orang musyrik tidak mempunyai seorang penolong pun untuk menolak azab yang datang menimpa mereka, sedangkan orang-orang mukmin mempunyai penolong, yaitu Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Penolong.


12 Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan neraka adalah tempat tinggal mereka.(QS. 47:12)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 12
إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ (12)
Dalam ayat ini Allah SWT. menerangkan keadaan orang-orang mukmin dan orang-orang kafir di akhirat nanti. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh diberi pahala berlipat ganda, berupa surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai sebagai balasan dari keimanan dan ketaatan mereka, sedangkan orang-orang yang mengingkari kekuasaan dan keesaan Allah dan mendustakan Rasul-Nya, terpengaruh oleh kenikmatan hidup di dunia yang hanya bersifat sementara, tidak mengambil pelajaran dari peristiwa-peristiwa yang telah menimpa umat-umat dahulu, mereka itu seperti hewan yang makan di kandang atau di padang rumput yang disediakan untuk mereka. Hewan-hewan itu tidak pernah memikirkan apakah makanan yang tersedia untuknya itu masih ada untuk dimakan besok atau telah habis, sehingga ia tidak mempunyai makanan yang dimakan lagi.
Ayat ini memberikan gambaran yang tepat tentang keadaan dan apa yang dipikirkan prang-orang musyrik itu. Mereka hanya memikirkan apa yang enak, apa yang dapat memenuhi keinginan hawa nafsu mereka saja, sedangkan mereka tidak mau memikirkan berapa lama yang enak dan keinginan hawa nafsu dapat mereka nikmati dan apa sumber dari keenakan dan kesenangan itu. Apakah mereka dapat terus-menerus menikmatinya, tidak pernah mereka pikirkan Mereka juga tidak memikirkan akibat-akibat yang akan mereka alami seandainya mereka tidak mampu merasakan kenikmatan itu lagi. Mereka merasakan kenikmatan memakan sesuatu makanan, tetapi tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa Allah SWT. telah menganugerahkan lidah kepada mereka untuk merasakan kenikmatan sesuatu yang dimakan. Bagaimanakah jadinya jika Allah menyakitkan lidah mereka itu, sehingga tidak dapat merasakan sesuatu lagi? Mereka tidak memikirkan sikap dan tindakan yang paling baik yang harus mereka lakukan terhadap sumber kenikmatan itu.
Orang-orang seperti yang digambarkan ayat di atas tempat kembalinya ialah neraka jahanam, karena itulah tempat kembali yang paling layak bagi orang orang yang tidak menggunakan pikirannya.


13 Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka.(QS. 47:13)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 13
وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلَا نَاصِرَ لَهُمْ (13)
Dalam ayat ini Allah SWT. memberikan lagi perumpamaan sebagai penghibur hati Rasulullah saw. yang telah digundahkan oleh sikap dan tindakan orang-orang musyrik Mekah itu.
Diterangkan bahwa berapa banyaknya negeri-negeri dahulu yang penduduknya lebih kokoh badannya, lebih banyak pengetahuannya, lebih mampu membangun negerinya, lebih banyak tentaranya sehingga dapat menaklukkan negeri-negeri sekitar negeri mereka dibandingkan dengan orang-orang musyrik Mekah. Semuanya itu telah dihancurkan Allah dengan berbagai macam malapetaka yang menimpa mereka dan negeri mereka. Dalam menghadapi malapetaka itu mereka tidak mempunyai seorang penolong pun. Semua kekuatan kekuasaan dan tentara yang gagah perkasa itu tidak ada artinya sedikit pun dalam menghadapi malapetaka itu. Orang-orang musyrik Mekah akan mengalami nasib yang demikian pula seandainya mereka tetap mengingkari seruan engkau hai Muhammad. Karena itu sabar dan tabahlah menghadapi sikap dan tindakan mereka itu dan Allah pasti menolongmu dan memenangkan hamba-hamba yang taat kepada-Nya.
Diriwayatkan oleh Abe bin Hamid dan Abu Ya'la dan Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Mardawih dan Ibnu Abbas, bahwa tatkala Nabi Muhammad akan meninggalkan Mekah, sebelum hijrah ke Madinah, beliau menoleh ke belakang melihat negeri Mekah dan berkata: "Engkau (Mekah) adalah negeri Allah yang paling aku cintai dan kalau tidaklah penduduknya yang telah mengusirku, tentu aku tidak akan meninggalkan engkau. maka turunlah ayat mi.


14 Maka apakah orang-orang yang berpegang pada keternagan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (syaitan) menjadikan mereka memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya(QS. 47:14)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 14
أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (14)
Dalam ayat ini Allah SWT. mengadakan perbandingan antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang yang kafir dengan mengatakan, "Apakah sama orang yang mau berpikir sehingga ia mempunyai pengertian, pemahaman dan keyakinan terhadap agama Allah dan Alquran yang diturunkan kepada Muhammad dengan orang-orang yang tidak mau menggunakan pikirannya. sehingga ia tidak percaya bahwa Allah akan memberi pembalasan yang setimpal kepada orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan godaan setan? Tentu saja kedua macam orang itu tidak sama, bahkan mempunyai perbedaan sangat besar.
Pada ayat yang lain Allah berfirman:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ (19)
Artinya:
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-Mu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (Q.S. Ar Ra'd: 19)
Dan firman Allah SWT.:

لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ (20)
Artinya:
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga, penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung. (Q.S. Al Hasyr: 20)


15 (Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertaqwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka di dalamnya memperoleh segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam, dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya(QS. 47:15)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 15
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ (15)
Dalam ayat-ayat ini Allah SWT. menerangkan bahwa tidak sama ganjaran yang akan diperoleh oleh orang-orang yang beriman di akhirat nanti dengan ganjaran yang akan diperoleh oleh orang-orang yang tidak beriman. Orang-orang yang beriman akan dimasukkan ke dalam surga yang sifat-sifatnya sebagai berikut:
1. Di dalamnya mengalir sungai-sungai yang banyak dan tiap-tiap sungai mempunyai air yang bermacam-macam jenis dan rasanya yang enak diminum oleh penghuni-penghuninya, yaitu:
a. Ada yang airnya jernih lagi bersih, tidak dikotori oleh suatupun, karena itu tidak akan berubah rasa, warna dan baunya.
b. Ada sungai yang mengalirkan air susu. Susu yang mengalir itu ialah susu yang baik diminum. Susu itu tetap baik dan enak, tidak akan berubah rasanya karena rusak atau busuk. Di dunia, susu yang disukai manusia itu amat lekas berubah dalam beberapa hari saja dia telah menjadi busuk, berubah rasa, warna dan baunya walaupun telah diusahakan pengawetannya.
c. Ada sungai yang mengalirkan khamar yang enak diminum, menyehatkan dan menyegarkan tubuh dan perasaan peminumnya tidak seperti khamar di dunia. Sekali pun enak diminum oleh pecandunya, tetapi dapat merusak tubuh, akal dan pikiran. Karena itu, khamar di surga halal diminum, sedangkan khamar di dunia haram meminumnya. Ada sungai yang mengalirkan madu yang bersih, seperti madu yang telah disaring, enak rasanya dan menyehatkan badan peminumnya. Diriwayatkan oleh Ahmad, At Turmuzi dan lain-lain dan Muawiyah bin Haidah, Ia berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : في الجنة بحر اللبن وبحر الماء وبحر العسل وبحر الخمر ثم تشقق الأنهار منها بعد
Artinya:
Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, "Di surga ada lautan susu, lautan air, lautan madu dan lautan khmar. kemudian mengalirlah sungai sungai dan lautan-lautan itu. (Lihat Tafsir Al Maragi hal. 58 juz 26, jilid IX).
2. Di dalam surga terdapat buah-buahan yang beraneka ragam macam jenisnya, berbeda warna, bentuk dan rasanya. Semuanya merupakan makanan yang enak bagi setiap penghuni surga.
3. Penduduk surga itu adalah orang-orang bersih dari segala macam noda dan dosa, karena mereka itu telah diampuni Allah, Tuhan yang Maha Penyayang, Pelindung mereka.
Kemudian Allah SWT. menerangkan keadaan orang-orang yang hidup dalam neraka; mereka meminum air yang sangat panas yang menghancurkan ususnya dan api neraka yang membakar hangus muka mereka.


16 Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): `Apakah yang dikatakannya tadi` Mereka itulah yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.(QS. 47:16)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 16
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (16)
Allah SWT. menerangkan, "Di antara orang-orang yang mendengar bacaanmu, hai Muhammad, ada orang munafik yang mendengarkannya, tetap mereka tidak memahaminya. Setelah mereka pergi meninggalkan engkau, bertanyalah mereka kepada sahabat-sahabat engkau yang berilmu dan memahami semua perkataanmu". "Apakah yang dikatakan Muhammad dalam pertemuan tadi?'. Dia hanya mengatakan sesuatu yang tidak ada faedahnya".
Tujuan mereka melakukan yang demikian itu tidak lain hanyalah untuk memperolok-olokkan ucapan Rasulullah. Mereka seakan-akan memahami ucapan beliau, karena itu mereka bertanya dan memberikan tanggapan, dengan mengatakan bahwa yang diucapkan Rasulullah itu tidak ada artinya sedikit pun.
Diriwayatkan oleh Muqatil bahwa Nabi Muhammad berkhutbah dan menerangkan keburukan budi pekerti orang munafik itu dan di antara yang mendengar khutbah itu ada pula orang munafik. Setelah khutbah selesai, orang munafik itu keluar dan bertanya kepada Abdullah bin Mas'ud dengan maksud memperolok-olokkan dan merendahkan Rasulullah, di antaranya mereka mengatakan "Apa yang dikatakan Muhammad tadi?" Ibnu Abbas berkata, "Saya pun pernah ditanya dengan pertanyaan seperti itu."
Kemudian Allah SWT. menerangkan apa sebabnya orang-orang munafik melakukan yang demikian itu. Orang-orang yang telah diterangkan sifat sifatnya itu adalah orang-orang yang telah dicap dan dikunci mati hatinya sehingga mereka tidak dapat lagi menerima petunjuk dan kebenaran yang telah disampaikan kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah dikuasai oleh hawa nafsunya sendiri sehingga mereka tidak sanggup lagi mengendalikan dan mengarahkan diri mereka kebenaran.


17 Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketaqwaannya.(QS. 47:17)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 17
وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ (17)
Dalam ayat ini diterangkan keadaan orang yang berlawanan sifatnya dengan sifat orang munafik itu. Mereka adalah orang yang telah mendapat petunjuk, beriman, mendengar, memperhatikan dan mengamalkan ayat-ayat Alquran. Dada mereka dilapangkan Allah, hati mereka menjadi tenteram bila mendengarkan ayat-ayat Alquran atau bila mereka membacanya dan pengetahuannya semakin bertambah tentang agama Allah. Allah SWT. menambah petunjuk lagi bagi mereka dengan jalan ilham dan membimbing mereka untuk mengerjakan amal saleh serta memberi kesanggupan kepada mereka untuk menambah ketaatan dan ketakwaan mereka.


18 Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang(QS. 47:18)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 18
فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ (18)
Orang-orang yang telah dicap dan dikunci mati hatinya hingga tidak dapat lagi menerima kebenaran dan petunjuk, adalah orang-orang yang tidak ada lagi faedah hidup baginya. Mereka hanya menunggu-nunggu kematian dan kedatangan Hari Kiamat yang datang secara tiba-tiba. Apabila Hari Kiamat itu telah datang dan memang telah kelihatan tanda-tandanya, maka tidak ada lagi gunanya peringatan bagi mereka dan Allah tidak akan menerima tobat mereka, bahkan tidak ada lagi gunanya iman dan amal bagi mereka. Allah SWT. berfirman:

وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى (23)
Artinya:
Dan pada hari ini diperlihatkan neraka jahanam dan pada hari ini ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat ini baginya. (Q.S. Al Fajr: 23)


19 Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Ilah (Yang Haq) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.(QS. 47:19)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 19
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (19)
Apabila engkau, hai Muhammad, telah yakin dan mengetahui pahala yang akan diperoleh oleh orang-orang yang beriman, serta azab yang akan diperoleh oleh orang-orang kafir di akhirat nanti, maka hendaklah berpegang teguh kepada agama Allah yang mendatangkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Dan mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosa engkau dan dosa-dosa orang-orang yang beriman; hendaklah selalu berdoa dan berzikir kepada-Nya dan janganlah sekali-kali memberi kesempatan kepada setan untuk melaksanakan maksud buruknya kepadamu.
Sebuah hadis sahih mengatakan Rasulullah saw. selalu berdoa:

اللهم اغفرلي خطيئتي وجهلي وإسرافي في أمري وما أنت أعلم به مني، اللهم اغفرلي هزلي وجدي وخطئي وعمدي وكل ذلك عندي
Artinya
Wahai Tuhan, ampunilah kesalahan, kebodohan dan perbuatanku yang berlebih-lebihan dan dosaku yang engkau lebih mengetahuinya dari padaku, wahai Tuhanku, ampunilah dosa perkataanku yang tidak berguna dan perkataanku yang sungguh-sungguh, kesalahanku dan kesengajaanku dan semua yang ada padaku. (H.R. Bukhari Muslim)
Rasulullah sering berdoa pada akhir salatnya, sebelum mengucapkan salam:

اللهم اغفرلي ما قدمت وما أخرت وما أسررت وما أعلنت وما أسرفت وما أنت أعلم به مني، أنت إلهي لا إله إلا أنت
Artinya
Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku yang terdahulu dan terkemudian, yang tersembunyi dan yang nampak serta perbuatanku yang berlebihan dan dosaku yang engkau lebih mengetahui daripadaku. Engkau Tuhanku, tak ada Tuhan selain Engkau. (H.R. Bukhari Muslim)

ياأيها الناس توبوا إلى ربكم فإني أستغفر الله وأتوب إليه في اليوم أكثر من سبعين مرة
Artinya
Hai manusia, bertobatlah kamu kepada Tuhanmu, maka sesungguhnya akupun memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya setiap hari lebih dari tujuh puluh kali. (Lihat tafsir Al Maraghi hal 63 Juz 26 Jilid IX)
Abu Bakar Sidik berkata, "Hendaklah kamu membaca, Laa ilaaha illallaah dan istigfar. Bacalah keduanya berulang kali, maka sesungguhnya iblis berkata, Bahwasanya aku membinasakan manusia dengan perbuatan dosanya dan mereka membinasakan-ku dengan membaca, "Lailaha illallah" dan dengan "istigfar, maka tatkala aku mengetahui yang demikian itu, mereka aku hancurkan dengan hawa nafsunya, mereka mengira mendapat petunjuk.
Dalam suatu hadis diterangkan perkataan Iblis, "Demi keperkasaan dan keagungan-Mu, wahai Tuhan, aku senantiasa memperdayakan mereka selama nyawa mereka dikandung badan". Lalu Allah berfirman, "Demi keperkasaan dan keagungan-Ku Aku senantiasa mengampuni dosa mereka, selama mereka tetap memohon ampun kepada-Ku".
Selanjutnya Allah SWT. mendorong manusia melaksanakan perintah-perintah Nya dan menjauhi larangan-Nya dan mendorong mereka agar selalu berusaha untuk mencari rezeki dan kebahagiaan hidupnya, dengan menerangkan `Bahwa Dia mengetahui segala usaha, perilaku dan tindak-tanduk mereka di siang hari begitu pula tempat mereka berada di malam hari. Karena itu, bertakwa dan minta ampunlah kepada-Nya.
Dalam ayat yang lain Allah SWT. berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ (6)
Artinya.
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah lah yang memberi rezekinya dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (Q.S. Hud: 6)
Dan firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (60)
Artinya:
Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari kemudian Dia membangunkan kamu di siang hari untuk disempurnakan umurmu yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan. (Q.S. Al An'am: 60)


20 Dan orang-orang yang beriman berkata: `Mengapa tiada diturunkan suatu surat` Mak apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.(QS. 47:20)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / DEPAG / Surah Muhammad 20
وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُورَةٌ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَأَوْلَى لَهُمْ (20)
Orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bersedia mengorbankan harta dan jiwa mereka di jalan Allah; mereka menunggu-nunggu turunnya wahyu Allah, terutama wahyu yang berhubungan dengan perintah jihad; mereka berkata "Mengapa Allah tidak menurunkan kepada kita ayat-ayat yang tegas dan jelas maksudnya yang di dalamnya disebutkan bahwa berperang membela Agama Allah itu adalah suatu perintah wajib yang harus dilaksanakan oleh setiap orang yang beriman". sebaliknya orang-orang munafik bersikap lain. Bila diturunkan ayat yang tegas dan jelas maknanya yang berisi perintah Jihad, melihat kepada engkau. Hai Muhammad, dengan pandangan keingkaran dan ketakutan. Hati mereka kecut, tubuh mereka gemetar mendengarnya dan mereka bungkam, seperti orang yang sedang menghadapi saat kematiannya.
Dalam ayat yang lain Allah SWT. berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا (77)
Artinya
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Tahanlah tanganmu (dari perang), dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat!". Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi ?". Katakanlah, "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun". (Q.S. An Nisa: 77)
Demikianlah orang-orang munafik. Dari jawaban dan sikap mereka itu, tergambar apa yang tersirat dalam relung hati mereka. Orang yang demikian itu lebih baik mati bagi mereka daripada hidup. Seseorang itu hidup untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu menjadi hamba Allah yang taat kepada-Nya, ingin mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Orang munafik tidak melaksanakan ketaatan itu, mereka seakan-akan tidak memikirkan kebahagiaan hidup sesudah mati nanti, karena itu, tidak ada arti hidup bagi mereka selain untuk melipat gandakan perbuatan dosa yang menyebabkan mereka diazab di akhirat nanti. Jika mereka mati waktu itu juga, azab mereka tidak akan bertambah di akhirat nanti.
Sebagian ahli tafsir menafsirkan perkataan fa aula lahum" dengan "mudah mudahan Allah membinasakan mereka".


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [2]
Ayat 1 s/d 20 dari [38]

[Download AUDIO] Tanda-Tanda Bagi Yang Ber-AKAL...(Akal Mencari TUHAN), 3Mb...Sip, mantap!
[E-BOOK] Tanda-tanda Bagi yg Ber-Akal 1 Mb


'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka'.''

 

Rasullullah berkata: "Alangkah rugi dan celakanya orang-orang yang membaca ini dan tidak memikir dan merenungkan kandungan artinya".

(Ali 'Imran: 190-191).





Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sibinmr@gmail.com] [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani

AYO..BACK TO MASJID | Waspadai Ajaran Sesat & Antek2nya | Berita Islam & Aliran Sesat - Nahimunkar.com | Detikislam.com | TV Islam | VOA ISLAM : Voice of Al Islam
Counter Powered by  RedCounter
free counters
Bloggerian Top Hits