[ASBABUN NUZUL] Surat : AL-AHZAB

Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 )

HOME|Radio-FajriFm|Pendidikan|Adab|Muallaf Center|QuranTerjemah|eBooks|Tafsir Al-Azhar|HadistWeb|Artikel|SMSQURAN
Cari dalam "Asbabun Nuzul"        

    Bahasa Indonesia    English Translation    Dutch
No. Pindah ke Surat Sebelumnya... Pindah ke Surat Berikut-nya... [Asbabun Nuzul] : AL-AHZAB
Ayat [73]   First Previous Next Last Balik Ke Atas  Hal:3/4
41 Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama Allah), zikir yang sebanyak-banyaknya.(QS. 33:41)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


42 Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.(QS. 33:42)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


43 Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampun untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.(QS. 33:43)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 43
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)
Ibnu Jarir mengetangahkan sebuah hadis melalui Ikrimah dari Hasan Al Bashri, yang keduanya menceritakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, yaitu firman-Nya, "Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang." (Q.S. Al Fat-h, 2), lalu segolongan orang-orang Mukmin berkata, "Selamatlah bagimu, wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui apa yang dilakukan oleh-Nya terhadapmu, maka apakah yang akan dilakukan oleh Allah terhadap kami?" Allah menurunkan firman-Nya, "...supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga." (Q.S. Al Fat-h, 5); Di dalam surah Al Ahzab Allah menurunkan firman-Nya, "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah." (Q.S. Al Ahzab, 47). Imam Baihaqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah mengetengahkan sebuah hadis melalui Rabi' ibnu Anas yang menceritakan bahwa ketika turun firman-Nya, "...dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak (pula) terhadap kalian." (Q.S. Al Ahqaf 9) sesudah itu turun pula firman-Nya yang lain, yaitu, "...supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang." (Q.S. Al Fat-h, 2), para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah! Kami telah mengetahui apa yang Dia lakukan terhadap dirimu, maka apakah yang akan Dia lakukan terhadap kami?" Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang Mukmin, bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah." (Q.S. Al Ahzab, 47). Yang dimaksud karunia yang besar adalah surga; demikianlah menurut Ibnu Jarir.


44 Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: `Salam`; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka.(QS. 33:44)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


45 Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,(QS. 33:45)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


46 dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi.(QS. 33:46)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


47 Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.(QS. 33:47)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 47
وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ بِأَنَّ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ فَضْلًا كَبِيرًا (47)
Imam Tirmizi mengetengahkan sebuah hadis yang dia nilai hasan, demikian pula Imam Hakim, tetapi menilainya sebagai hadis sahih, melalui jalur Saddi yang ia terima dari Abu Saleh kemudian ia menerimanya dari Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abbas menerimanya dari Umu Hani' binti Abu Thalib yang menceritakan, "Rasulullah saw. telah melamarku, lalu aku meminta maaf tidak dapat menerima lamarannya, ia memaafkan aku. Kemudian Allah swt. menurunkan firman-Nya, 'Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu...' (Q.S. Al Ahzab 50). sampai dengan firman-Nya, '...yang turut hijrah bersamamu.' (Q.S. Al Ahzab, 50). Aku masih belum dihalalkan untuknya karena aku tidak ikut serta berhijrah dengannya." Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ismail ibnu Abu Khalid yang diterima dari Abu Saleh, Abu Saleh menerimanya dari Umu Hani' yang menceritakan, "Ayat berikut ini diturunkan berkenaan dengan diriku, yaitu firman-Nya, '...dan anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu, dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu.' (Q.S. Al Ahzab, 50). Pada mulanya Nabi saw. bermaksud untuk mengawiniku tetapi ia dilarang mengawiniku disebabkan aku tidak turut hijrah ke Madinah." Firman Allah swt., "dan perempuan Mukmin..." (Q.S. Al Ahzab, 50). Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui jalur Ikrimah sehubungan dengan firman-Nya, "...dan perempuan yang Mukmin..." (Q.S. Al Ahzab, 50). Ikrimah menceritakan, bahwa ayat tadi diturunkan berkenaan dengan Umu Syarik Ad Dausiyyah. Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Munir ibnu Abdullah Ad Dua'ali, bahwasanya Umu Syarik, nama sesungguhnya Ghaziyyah binti Jabir ibnu Hakim Ad Dausiyyah menyerahkan dirinya kepada Nabi saw. untuk dikawini, dia adalah seorang wanita yang cantik, Nabi saw. menerimanya, tetapi Siti Aisyah r.a. berkata, "Tiada kebaikan dalam diri seorang wanita yang menyerahkan dirinya kepada seorang lelaki". Umu Syarik berkata, "Akulah orangnya yang berbuat demikian". Maka Allah menamakannya sebagai wanita yang mukmin, untuk itu Dia berfirman, "...dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada nabi..." (Q.S. Al Ahzab, 50). Ketika ayat ini diturunkan, Siti Aisyah berkata (mengungkapkan rasa cemburunya, pent.), "Sesungguhnya Allah selalu cepat tanggap kepada apa yang kamu inginkan".


48 Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang-orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.(QS. 33:48)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


49 Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan-perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya.(QS. 33:49)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


50 Hai Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba-sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu, anak-anak perempuan dari sudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 33:50)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 50
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً مُؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَنْ يَسْتَنْكِحَهَا خَالِصَةً لَكَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (50)
Syaikhain mengetengahkan sebuah hadis melalui Siti Aisyah r.a. bahwasanya ia berkata, "Apakah tidak malu bila seorang wanita menyerahkan dirinya (kepada lelaki untuk dikawini)?" Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki..." (Q.S. Al Ahzab, 51). Siti Aisyah r.a. berkata, "Menurutku Allah selalu cepat menanggapi apa yang kamu inginkan". Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Razin yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. pernah bermaksud untuk menjatuhkan talak kepada istri-istrinya. Maka, ketika mereka (istri-istri nabi) merasakan adanya gejala tersebut, mereka merelakan kepada Nabi saw. untuk memilih siapa yang dikehendakinya dan meninggalkan siapa yang dikehendakinya dalam gilirannya. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya, "...sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu istri-istrimu..." (Q.S. Al Ahzab, 50). sampai dengan firman-Nya, "Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (istri-istrimu)..." (Q.S. Al Ahzab, 51).


51 Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. Dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang telah kamu cerai, maka tidak ada dosa bagimu. Yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang telah kamu berikan kepada mereka. Dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.(QS. 33:51)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 51
تُرْجِي مَنْ تَشَاءُ مِنْهُنَّ وَتُؤْوِي إِلَيْكَ مَنْ تَشَاءُ وَمَنِ ابْتَغَيْتَ مِمَّنْ عَزَلْتَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكَ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ تَقَرَّ أَعْيُنُهُنَّ وَلَا يَحْزَنَّ وَيَرْضَيْنَ بِمَا آتَيْتَهُنَّ كُلُّهُنَّ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَلِيمًا (51)
Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Ikrimah yang menceritakan, bahwa Rasulullah saw. menyuruh istri-istrinya untuk memilih (apakah mereka mau tetap menjadi istrinya atau ditalak), mereka memilih Allah dan Rasul-Nya. lalu Allah swt. menurunkan firman-Nya, "...tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan istri-istri (yang lain)." (Q.S. Al Ahzab, 52).


52 Tidak halal bagimu mengawini perempuan-perempuan sesudah itu dan tidak boleh (pula) mengganti mereka dengan isteri-isteri (yang lain), meskipun kecantikannya menarik hatimu kecuali perempuan-perempuan (hamba sahaya) yang kamu miliki. Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.(QS. 33:52)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 52
لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ إِلَّا مَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا (52)
Mengenai hadis yang menyangkut Umar r.a. telah kami sebutkan di dalam surah Al Baqarah. Syaikhain mengetengahkan sebuah hadis melalui Anas r.a. yang menceritakan, "Ketika Nabi saw. nikah dengan Zainab binti Jahsy, Nabi saw. mengundang orang-orang, lalu memberinya makan. Setelah itu mereka masih tetap duduk-duduk sambil berbincang-bincang, maka Nabi saw. berlaku seolah-olah hendak berdiri akan tetapi mereka masih tetap duduk tidak mau berdiri, meninggalkan tempat itu. Ketika Nabi saw. melihat gelagat tersebut, maka terpaksa ia bangkit, lalu bangkitlah sebagian orang-orang yang ada di situ dan pergi tetapi masih ada tiga orang tetap duduk, hanya tidak berapa lama kemudian mereka pun pergi pula. Lalu aku datang menemui nabi dan memberitahukan kepadanya, bahwa mereka (orang-orang yang diundang menghadiri jamuan walimah) telah bubar. Kemudian Nabi saw. datang dan masuk ke dalam rumah dan aku pun masuk mengikutinya. Tiba-tiba ia memasang hijab antara aku dan dia (artinya aku tidak diperkenankan masuk), sesudah itu Allah menurunkan firman-Nya, 'Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah-rumah nabi...' (Q.S. Al Ahzab, 53). sampai dengan firman-Nya, 'Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.' (Q.S. Al Ahzab, 53)." Imam Tirmizi mengetengahkan sebuah hadis yang menurut penilaiannya hadis itu hasan sumbernya dari Anas r.a. yang menceritakan, "Pada suatu hari aku bersama Rasulullah saw. kemudian Rasulullah saw. mendatangi pintu rumah istri yang baru saja dikawinnya, tetapi beliau menjumpai bahwa di rumahnya masih banyak orang. Lalu Rasulullah pergi, kemudian kembali lagi, orang-orang pada saat itu telah keluar semuanya, kemudian Rasulullah saw. masuk rumah dan menurunkan kain penutup antara aku dan dia. Lalu aku ceritakan hal itu kepada Abu Thalhah, Abu Thalhah menjawab, 'Jika keadaannya memang seperti apa yang kamu katakan itu, sungguh nanti akan turun wahyu yang akan menjelaskannya', maka turunlah ayat hijab." Imam Thabrani mengetengahkan sebuah hadis dengan sanad yang sahih bersumber dari Siti Aisyah r.a. yang menceritakan, "Pada suatu hari aku sedang makan bersama dengan nabi dalam satu piring besar, tiba-tiba Umar lewat. Nabi saw. mengajaknya untuk ikut makan, lalu Umar pun makan bersama kami, ternyata ketika kami sedang makan jari telunjuk nabi mengenai jari telunjukku, lalu Nabi saw. mengaduh seraya berkata, 'Seandainya kalian taat, niscaya tidak ada mata yang melihat kalian'. Kemudian turunlah ayat hijab." Ibnu Murdawaih mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Abbas r.a. yang menceritakan, "Pada suatu hari seorang lelaki masuk menemui Nabi saw. lalu lelaki itu duduk lama sekali. Nabi saw. telah keluar sebanyak tiga kali supaya lelaki itu keluar, tetapi ternyata lelaki itu tidak juga mau keluar. Lalu Umar masuk menemui Nabi saw., Umar melihat pada wajah nabi adanya tanda tidak senang. Maka Umar berkata kepada lelaki itu, 'Mungkjn kamu telah membuat nabi tidak senang'. Nabi berkata, 'Sungguh aku telah pergi sebanyak tiga kali supaya ia mengikutiku, akan tetapi ternyata ia tidak juga mau mengikutiku'. Umar berkata kepada Nabi saw., 'Wahai Rasulullah! alangkah baiknya seandainya engkau membuat hijab, karena sesungguhnya istri-istrimu tidaklah seperti wanita-wanita biasa; dengan adanya kain penutup atau hijab itu, maka hal itu lebih membuat bersih hati mereka'. Kemudian turunlah ayat hijab." Hafiz ibnu Hajar memberikan komentarnya, kedua Asbabun Nuzul ini dapat disatukan, dengan anggapan bahwa hal ini terjadi sebelum peristiwa Siti Zainab, karena mengingat dekatnya masa turun antara kedua Asbabun Nuzul ini, maka kedua-duanya disebutkan sebagai Asbabun Nuzul ayat hijab. Tidaklah mengapa banyak Asbabun Nuzul sekalipun subjeknya satu. Abu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Muhammad ibnu Kaab yang menceritakan, "Apabila Rasulullah saw. bangkit lalu menuju ke rumahnya, mereka (para sahabat) segera mengikutinya, kemudian membentuk suatu majelis. Maka hal itu tidak menimbulkan reaksi apa-apa pada diri Rasulullah saw. karena tidak terlihat tanda-tanda yang tidak wajar pada roman muka beliau. Hanya saja beliau tidak mau mengulurkan tangannya untuk mengambil makanan karena merasa malu terhadap mereka. Lalu mereka ditegur atas perbuatan itu melalui firman-Nya, 'Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian memasuki rumah-rumah nabi..." (Q.S. Al Ahzab, 53). Firman Allah swt., "Dan tidak boleh bagi kalian ..." (Q.S. Al Ahzab, 53). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ibnu Zaid yang menceritakan bahwa telah sampai suatu berita kepada Nabi saw. di mana seorang laki-laki mengatakan, "Jika Nabi saw. benar-benar telah wafat, aku akan mengawini si Fulanah, jandanya". Lalu turunlah firman-Nya, "Dan tidak boleh kalian menyakiti (hati) Rasulullah..." (Q.S. Al Ahzab, 53). Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui lbnu Abbas r.a. yang menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki yang bermaksud menikahi sebagian istri-istri Nabi saw. sesudah Nabi saw. wafat. Sofyan mengatakan, "Mereka telah menyebutkan bahwa wanita yang dimaksud adalah Siti Aisyah". Ibnu Abu Hatim mengetengahkan pula hadis lain melalui Saddi yang menceritakan bahwa telah sampai kepada kami, bahwa Thalhah ibnu Ubaidillah pernah mengatakan, "Apakah Muhammad menghalang-halangi kami dari anak-anak perempuan paman kami sendiri, sedangkan dia sendiri telah mengawini perempuan-perempuan kami. Jikalau terjadi suatu hal terhadap dirinya, sungguh kami akan menikahi istri-istrinya sesudah ia wafat", maka turunlah ayat ini. Ibnu Saad mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Bakar ibnu Amr ibnu Hazm yang menceritakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Thalhah ibnu Ubaidillah, karena sesungguhnya ia pernah mengatakan, "Apabila Rasulullah saw. wafat, niscaya aku akan mengawini Siti Aisyah". Juwaibir mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a. bahwasanya ada seorang lelaki yang mendatangi sebagian istri-istri Nabi saw. lalu ia berbicara kepadanya, dia adalah anak paman dari istri nabi sendiri. Maka Nabi saw. berkata kepada lelaki itu, "Sungguh mulai sejak sekarang, kamu saya larang berada di tempat ini lagi". Lalu lelaki itu menjawab, "Sesungguhnya dia adalah anak pamanku sendiri, demi Allah, aku tidak mengatakan hal-hal yang mungkar kepadanya, dan dia sendiri pun tidak mengatakan apa-apa kepadaku". Nabi saw. bersabda, "Kamu telah mengetahui hal tersebut, yaitu bahwasanya tiada seorang pun yang lebih besar cemburunya daripada Allah dan bahwasanya tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripadaku", lalu lelaki itu pergi seraya berkata, "Dia (Nabi) telah melarangku untuk berbicara dengan anak pamanku sendiri, sungguh jika ia telah wafat aku akan mengawininya". Maka Allah swt. menurunkan ayat ini. Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa setelah turunnya ayat itu lelaki tersebut memerdekakan seorang budak, kemudian ia menanggung sepuluh ekor unta sebagai kendaraan untuk perang Sabilillah dan ia melakukan ibadah haji dengan berjalan kaki dari tempat tinggalnya. Kesemuanya itu dimaksudkan sebagai tobat darinya atas perkataan yang telah diucapkannya tadi.


53 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah-rumah Nabi kecuali bila kamu diizinkan untuk makan dengan tidak menunggu-nunggu waktu masak (makanannya), tetapi jika kamu diundang maka masuklah dan bila kamu selesai makan, keluarlah kamu tanpa asyik memperpanjang percakapan. Sesungguhnya yang demikian itu akan mengganggu Nabi lalu Nabi malu kepadamu (untuk menyuruh kamu ke luar), dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. Dan tidak boleh kamu menyakiti (hati) Rasulullah dan tidak (pula) mengawini isteri-isterinya sesudah ia wafat selama-lamanya. Sesungguhnya perbuatan itu adalah amat besar (dosanya) di sisi Allah.(QS. 33:53)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Asbabun nuzul ayat (dari HR Muslim): Dari Anas ra, (hadist ini diriwayatkan pula oleh Bahzi ra.) katanya :” Ketika iddah Zainab (bekas isteri Zaid) telah habis, maka bersabda Rasulullah saw. kepada Zaid (anak angkat Nabi saw.), “Hai Zaid! Pergilah engkau melamar Zainab untukku!” Maka pergilah Zaid menemui Zainab; didapatinya zainab sedang mengaduk adonan kue. Kata Zaid, “Ketika aku melihat zainab, hatiku berdebar, sehingga tak kausalah aku rasanya hendak melihatnya, untuk menyampaikanpesanRasulullasaw.kepadanya.Oleh karena itu kubelakani dia sambil mundur dan berkata kepadanya, “Ya, Zainab! Aku diutus Rasulullah saw. melamarmu untukbeliau. Bagaimana tanggapanmu ?” Jawab Zainab, “Aku belum dapat membuat suatu putusan sebelum beroleh petunjuk dari Tuhanku,” Lalu dia pergi ke tempatnya shalat, melakukan shalat istikharah. Sementara itu Qur’an turun kepada Rasulullah saw. (memerintahkan beliau supaya mengawini Zainab, surat Al Ahzab ayat 37). Kata Anas, “Aku masih ingat, ketika itu kami dijamu dengan roti dan daging. Ketika hari telah agak tinggi, apra tamu sudah banyak yang pulang, hanya tinggal beberapa orang bercakap-cakap dalam rumah sesudah makan. Rasulullah keluar menuju ker rumah para isterinya yang lain dan aku mengikuti beliau dari belakang. Beliau memberi salam kepada mereka dan mereka menjawab salam beliau sambil bertanya, “Bagaiman halnya isteri baru anda?” Kata Anas, “Aku tidak ingat, apakah aku yang mengabarkan kepada Nabi saw., atau barangkali beliau yang memberitahukan kepadaku, bahwa tamu-tamu telah pulang semuanya. Maka Rasulullah saw pulang kembali kerumah Zainab, dan aku masuk pula bersama beliau. Sampai dirumah, beliau tutupkan tirai antaraku dengan beliau. Maka turun ayat hijab memberi pelajaran kepada kaum muslimin. Ibnu Rafi’ menambahkand alam hadistnya : “Janganlah kamu masuk kerumah Nabi, kecuali bila kamu telah diizinkan masuk untuk makan, tanpa menunggu lama makanan terhidang ... (hingga firman-Nya) Allah tidak malu mengatakan yang benar.” (Al Ahzab:53)


54 Jika kamu melahirkan sesuatu atau menyembunyikannya, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. 33:54)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


55 Tidak ada dosa atas isteri-isteri Nabi (untuk berjumpa tanpa tabir) dengan bapak-bapak mereka, anak-anak laki-laki mereka, saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka, anak laki-laki dari saudara mereka yang perempuan, perempuan-perempuan yang beriman dan hamba sahaya yang mereka miliki, dan bertakwalah kamu (hai isteri-isteri Nabi) kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.(QS. 33:55)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


56 Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.(QS. 33:56)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


57 Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan.(QS. 33:57)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 57
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57)
Imam Bukhari mengetengahkan sebuah hadis yang bersumber dari Siti Aisyah r.a. yang menceritakan bahwa Siti Saudah setelah ayat hijab diturunkan, pergi keluar untuk suatu keperluan, ia adalah seorang wanita yang bertubuh besar sehingga pasti di kenal oleh orang yang telah mengetahuinya. Kemudian Umar melihatnya, lalu berkata, "Hai Saudah! Ingatlah demi Allah, kamu tidaklah samar bagi kami (sekalipun kamu sudah memakai hijab), maka dalam keadaan bagaimana pun kamu keluar (aku tetap mengenalimu)" Selanjutnya Siti Aisyah r.a. meneruskan ceritanya, setelah itu Siti Saudah kembali. Sedangkan Rasulullah saw. pada waktu itu sedang berada di rumahku, beliau sedang menyantap makan malam, di tangannya terdapat keringat. Lalu Saudah masuk dan berkata kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku telah keluar untuk suatu keperluan, (di tengah jalan) Umar mengatakan demikian dan demikian kepadaku". Siti Aisyah kembali melanjutkan kisahnya, kemudian Allah menurunkan wahyu kepada Nabi saw. Setelah wahyu selesai, kulihat tangannya masih berkeringat dan beliau tidak mengusapnya. Lalu beliau berkata, "Sesungguhnya Allah telah memberi izin kepada kalian semua untuk keluar bila memang kalian mempunyai keperluan". Ibnu Saad di dalam kitab Thabaqat-nya mengetengahkan sebuah hadis melalui Abu Malik yang menceritakan bahwa istri-istri Nabi saw. selalu keluar di malam hari untuk sesuatu keperluan mereka. Segolongan orang-orang munafik menggoda mereka, sehingga membuat mereka sakit hati. Lalu mereka mengadukan hal tersebut kepada Nabi saw. Kemudian ditanyakan kepada orang-orang munafik, maka orang-orang munafik menjawab, "Sesungguhnya kami melakukan hal itu hanya dengan memakai isyarat (yakni bukan dengan perkataan)". Maka Allah swt. menurunkan firman-Nya, "Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu...' (Q.S. Al Ahzab, 59)." Selanjutnya Ibnu Saad mengetengahkan hadis yang sama, hanya kali ini ia mengetengahkannya melalui Hasan dan Muhammad ibnu Kaab Al Qurazhi.


58 Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.(QS. 33:58)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


59 Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: `Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka`. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. 33:59)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Tafsir / Indonesia / Sebab turun / Surah Al Ahzab 59
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (59)
Ibnu Abu Hatim mengetengahkan sebuah hadis melalui Ali Ibnu Rabbah yang menceritakan, si Polan menceritakan kepadaku, bahwa Farwah ibnu Masik Al Ghathafani datang menghadap kepada Rasulullah saw. lalu ia berkata, "Hai nabi Allah! Sesungguhnya kaum Saba di masa jahiliah memiliki kejayaan dan aku merasa khawatir mereka murtad dari Islam. Apakah aku diperbolehkan memerangi mereka?" Rasulullah saw. menjawab, "Aku belum mendapat perintah apa-apa mengenai perihal mereka." Lalu turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya, "Sesungguhnya bagi kaum Saba di tempat kediaman mereka..." (Q.S. As Saba, 15).


60 Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar,(QS. 33:60)
::Terjemahan:: ::Tafsir:: ::Asbabun Nuzul::
Maaf, Belum tersedia ...atau lihat pada ayat sebelumnya...


Halaman  First Previous Next Last Balik Ke Atas   Total [4]
Ayat 41 s/d 60 dari [73]

Pustaka

Yuk kita bangun generasi qur'ani...

Create by : Muhammad Ihsan

Silahkan kirim Kritik & Saran ke : [sinchan_mail@yahoo.com]  [sibin_mr@yahoo.com]

The Next Generation » Generasi-ku » Generasi 1 » Generasi Qur'ani
Last updated: 18 September 2007.

Halaman Utama | Author | Risalah Islam | Fenomena Alam Ghoib ( JIN / Kesurupan / Ruqyah , dll...)